Filantropi Pilar Utama Penyucian Diri

   Islam adalah Dinul Maslahah untuk menginspirasi Umatnya meujudkan kehidupan adil-makmur, sejahtera dunia akherat.

   Kesejahteraan bersama tidak akan terwujud tanpa hadirnya filantropis (para dermawan) yang mau berbagi harta dan kegembiraan. Didalam harta orang-orang yang mapan terdapat hak orang-orang yang tidak mampu (Az-Zariyat 19, wafi amwalihim haqqussail wal mahrum).

   Bulan Ramadhan adalah bulan penyucian duri (syahrun gufron), dan ujung dari berpuasa adalah dibersihkannya kedirian manusia sehingga manusia kembali kepada asal kejadiannya (Al-Uns), kembali kepada kesuciaannya (fitrah).

   Kembali kepada agamanya (hanif). Maka makna kedermawaan bila dikaitkan maqosidnya (niat liridlaillah), disamping dibangun diatas ubudiyah (dzikir, do’a), juga terdapat pilar tarhiim (ihsaniyatul insan),  itulah sebabnya setiap perintah Al-Shalat disambung dengan Al-Zakah, dan dalam surat Al-Kautsar kata shalat dilanjutkan dengan berkurban, untuk terus berkembang rizki dan keutamaan manusia serta tidak pernah putus (terus mengalir yang dijanjikan Allah SWT).

   Adapun pilar dari segala bentuk filantropi (sedekah, zakat, nafkah, atensi, empati, memahami, tidak menyakiti dan sebagainya) didasarkan pada pilar kesucian diri sebagai bentuk konsekwensi kemanusiaan, sifat-sifat yang sebaliknya seperti sadis, brutal , ugal-ugalan, membabi buta, kasar, menyakitkan adalah bukan keditian manusia.

   Bulan Ramadlan diharapkan manusia dapat kembali menjadi manusia, yang telah luruh dan larut dlam sifat-sifat kebinatangan dan syaitan.

Misteri Lailatul Qadar

   Nabi SAW, mengisyratkan di dalam bulan Ramadhan terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu malam Lailatul Qadar yaitu malam kepastian.

   Dari berbagai dimensi yang mengandung misteri, dari segi konsep, waktu, aktivitas, momentum, ciri, dan effeknya. Terdapat gugusan pemkiran dari para ahli dan ulama, dalam mengklarifikasi dari rahasia yang terdapat didalamnya

   Semua gugus pemaknaan tentang Lailatul Qadar ( QD ) mengarah kepada satu titik sentral yaitu apapun yang dilakukan kita, pastikan menjadi kebaikan yang musti kita raih dan kita wujudkan

   Bila Qodar (QD) identik dengan Nujul Quran (NQ) maka memastikan kebaikan yang berlimpah itu hanyalah adanya di dalam Al-Qur’an yaitu terlihat dari ayat-ayat nya yang turun pertama untuk Iqra dan Qalam, berawal dari usaha untuk berinfestasi dengan menyiapkan generasi yang Qurani, kemudian mereka kelak mengajak manusia untuk berpedoman dengan Al-Qur’an dalam kehidupannya (fi dzilalil Qur’an) dengan Qalam dan kalamnya. Inilah misteri QD yang mesti diraih, tegasmya mempersiapkn anak-anak agar meteka menjadi generasi Qur’ani.

   Kebajikan diwariskan dari satu generasi kepada kegenerasi berikutnya menjdi infestasi yang tidak pernah terputus selamanya dan menjadi keabadian amal manusia , dalam pribahasa Indonesia, “badan mati berkalang tanah, budi baik terkenang jua,” budi baik itu tiada lain Qolbun saliim. Yang oleh Syekh Mustafa Al Gulayani seorang pujangga mesir, menyatakan wabi qolbin salim faumrukassan aula min umrukal uula (orang yang mempunyai qolbun salim diberikan umur kedua dan umur yang kedua itu lebih panjang dari umur pertama) inilah yang di jelaskan Allah dalam surat As-Suara 88, bahwa tiadalah berarti harta dan anak-anak jika kita kembali dengan tanpa qolbun salim, dan dalam surat As-Shoffat 84, idz jaa rabbuhu bi qolbin salim, dalam tafsir muyassar di jelaskan bahwa kemanapun perginya orang yang memiliki qolbun salim pasti disisinya bersama Allah, menolongnya dengan RahmatNya.

  Apa dan siapa yang disebut qolbun salim itu, dalam tafsir Ibnu Katsir bawa orang yang diberikan qolbun salim adalah orang-orang yang bersih hatinya dari menghujat, memfitnah dan dengki dengan sesamanya.

  Bulan Ramadhan ini momentum melepaskan simpul-simpul dan tali yang membelenggu sifat dan prilaku syaitan dan prilakunya ahli neraka, sehingga hati yang mati bisa mulai segar kembali dan hati yang sakit mejadi sehat sehingga merasakan bahagianya hati yang fitri ( Qs. 30:30)

Idul Fitri Momentum Membangun Umat Terbaik

 

Assalamuaikum wr. wb.

Allahu Akbar 3x Walillahilham

   Seraya memanjatkan puji syukur kepada Allah, pada hari ini kita telah menyempurnakan bilangan hari-hari Ramdhan sebulan penuh dan bertemu dengan /Syawal Idul Fitri. Sejak matahari terbenam di ufuk barat kemarin, terdengar suara takbir bergemuruh, diseantero jagat raya ini, di desa/kota, di keramain pasar/dikesunyian lembah, di pinggir samudra, dibawah gunung, semuanya menuju Kalimatussawa Yaitu Takbir , Tahlil , dan Tahmid.

   Umat Islam seluruh bumi ini melepas Ramadhan dengan kalimat Allahu Akbar artinya dengan sebuah optimisme bahwa sesulit apapun, segenting apapun yang sedang dihadapi bangsa da ummat ini, kita mimiliki keyakinan bahwa Allah SWT Maha Besar pertolongannya, maha besar kekutannya oleh karena itu kita pasti dapat mengatasi semua problematika dengan mengikuti/taat kepada sunnatullahNya. Allah berfirman dalam surat An-Nisa 69 – 70 ” bahwa barang siapa yang taat kepada Allah dan RasulNya maka mereka diberi nikmat dan anugerahNya yang besar yang menjadi perantara kesuksesan dan kebahagiaan.

   Kemudian kita melepas Ramdhan dengan mengucapkan “lailaha illallah” yaitu dengan suatu tekad meyatukan hati dalam persahabatan, gotong royong, sebagai satu kesatuan yang tunggal, inilah makna sebenarnya dari Wahdatul Kalimat. Karena manusia sejatinya berasal dari Allah dan kembali kepada Allah, segala sesuatu urusan pada akhirnya kepada Allah Yang Maha berkehendak dan Maha menentukan. Perbedaan adalah suatu keniscayaan dan diterima sebagai anugrah dan rahmaNya : Kalau sekiranya Aku menghendaki maka tidak akan ada perbedaan itu (Qs. Al-Maidah 48). Oleh karena dalam keumatan dan kebangsaan wajib menyatukan barisan untuk satu tujuan yaitu mewujudkan masyarakat muslim yang sebenatnya Baldatun Thoyyibah.

   Dalam pikiran kita yang dimaksud maju adalah “masyarakatnya sejahtera, aman damai, makmur dan bahagia hanyalah dapat diwujudkan di atas keadilan, kejujuran, persaudaraan dan gotong royong, bertolong tolongan dengan bersendikan hukum Alloh yang sebenar-benarnya, lepas dari pengaruh syaitan dan hawa nafsu”

Allahu Akbar 3x walillahilhm

Saudara… Rahimakumullah

   Idul Fitri secara harfiyah paraning dumadi, kawit kedaden atau asal kejadian atau awal kejadian manusia itu, yakni dari tanah, sedangkan syaitan dari api, maka sifat manusia dasarnya, senang kedamaian, menumbuhkn, mendidik, bukan sikap-sikap syaitan yang senang membakar, mengopori, memanas-manasi dengan ujaran-ujaran kebencian yang pada akhirnya menimbulkan kekacauan dan huru hara dimasyarakat, jelas hal tersebut merupakan salah ke dalam diri manusia.

   Disamping itu menimbulkan konflik,  perpecahan, dan permusuhan. Maka sifat dari awal terkait syaitan tidak disukai manusia, terlebih dalam bahasa arabnya manusia itu disebut insan dari kata Uns, yang berarti harmonis, kasih sayang dan damai. Maka jati diri manusia adalah makhluk yang baik (fitrah), dan setelah dilatih serta dididik sebulan lamanya menjadi orang yang paling baik yaitu muttaqin.

Allahu Akbar 3x walillahilhm

   Orang yang bertaqwa adalah orang-orang yang paling mulia , dimudahkan semua urusannya dan diberi rizqi yang mencukupi hidupnya, bangsa yang taqwa adalah bangsa yang diberkahi yaitu diturunkan kepadanya rizqi yang melimpah, berupa keamanan, keadilan, dan kemakmuran bagi segenap warganya.

   Dengan demikian setelah Ramadlan disuburkan dalam diri setiap orang yang beriman. Berdasrkan surt Al-Baqorah 177, disamping kesalehan individual berupa shalat, zakat, puasa dan haji, kesalehan sosial wajib lebih dipentingkan, terlbih disaat-saat bangsa ini telah tergerus keadaban sosialnya, akibat dari hawa nafsu manusia dan bujukan setan, sehingga tidak mengindahkan lagi rasa keberagamaan, gotong royong, berbuat kebaikan, bakan lebih parah lagi mereka menjadi homo-homoni lupus, (manusia srigala pemakan sesama manusia) “demi kekayaan dan harta, tidak segan-segan mereka memangsa, mengikuti mendzalami, saudaranya sendiri” ada lagi golongan manusia yang  disebut homo ludent ( bersenang-senang sendiri dengan membuat sengsara saudaranya sendiri), maka hidup hanya untuk berhura-hura dan bersenang-sengan diatas penderitaan orang lain (Hipo Maniak) dalam Psikologi Psikopat.

   Kondisi-kondisi tersebut mengakibatkan hilangnya kebijakan dan kearifan dalam diri manusia unhomo sapien, unjustic dan unhumanity), terlebig dizaman milenial ini seringkali disebut post truth (pasca kebenaran) maka kebenaran menjadi hal yang aneh bin ajaib; orang yang berjuang untuk kebenaran dan keadilan dianggap penjahat, sebaliknya orang yang curang dan berkhianat dianggap pahlawan.

   Maka dengan berpuasa kita menjadi ibsan kaniil yaitu yang mempu menggunakan akal hatinya untuk membangun kemanusiaan yang bermartabat, maka setelah shalat Idhul Fitri kita disunnahkan menunaikan tahniah. Hal ini terkandung maksud bahwa orang mukmin mampu menegakkan barisan yang kuat bagaikan saf-saf shalat (As-Shaf 2) (dan membangun tali batin sesamanya dengan sepenuh kasih sayang, mereka itu adalah golongan-golongan sebagaimana para penghuni syurga.

  Islam adalah agama yang penuh kasih sayang dan agama yang cinta perdamain (dinurrahmah wassalamah), dan tiada akan tercipta kedamaian bila tidak sisertai keadilan (dinul adalah), dan keadilan itu membawa kpada kemajuan suatu bangsa (dinul hadlariyyah) bangsa beda diisi oleh warganya yng mampu membuktikan dalam kenyataannya (dinussyahadah)

Allahu Akbar 3x walillahilhm

Didalam surat Al-Baqarah ayat 177 Alah berfirman :

Surat Al-Baqarah Ayat 177 Arab, Latin, Terjemahan Arti dsvsBahasa Indonesia

   Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

   Pada ayat tersebut Allah SWT menekankan agar kita memastikan suatu  kebenaran berdasarkan tuntunan Allah bukan atas dasar selera dan kepentingan manusia yang disebut post trut, kebenaran diputar balikan yang benar dianggap Hoaks yang Hoaks dianggap benar tergantung selera dan keinginan manusia bila ini terjadi maka bencana akan menimpa manusia; karena kesalehan seseorang diukur bukan dari hati murninya tetapi diukur oleh yang paling member kesenangan duniawiyah, jika post truth menjadi gaya hidup milenial maka bersiap-siaplah agama apapun namanya akan ditinggalkan manusia, hal ini seperti yang terjadi di Negara-negara yang mengeklaim sebagai Negara maju.

   Maka dalam ayat tersebut, Allah menegaskan bahwa kebenaran adalah kebenaran ilahiyyah dan sekaligus insaniyyah, secara ilahiyah mereka taat menjalankan ibadah dan secara insaniyyah mereka adalah orang-orang yang meninggikan adab dalam kehidupan yang pada akhirnya dapat membangun peradaban

   Marilah dipagi yang penuh berkah ini kita bersimpuh di naungan ridhanya seraya memohon kemurahannya berupa ampunan, rizqi dan kekuatan sehingga hidup ini diraskan atasnya dalam mewujudkan kemakmuran dan keadilan, melalui kesadaran ikhtiar secara kreatif sehingga mampu menembus awan hitam sebagai mana terkabulnya cita-cita kita, umat Islam dan bangsa Indonesia. Amiiin ya mujibassailin.

Allahumma Sholli Ala Muhammad Wa Ali Muhammad

   Ya Allah ya Rohman ya Rahim hambamu pada hari ini bersimpuh dihadapanMu seraya meyakini dengan sepenuh hati kami bahwa sesungguhnya dalam genggamanMu segala urusan kami, untuk itu ya Allah mudahkanlah dan berikanlah kekuatan atas segala aktivitas hari Idul Fitri ini untuk memenuhi sunnah Rasul-Mu bersilaturahim, bertahniah dan berbagi kebahagiaan bersama-sama sanak-kerabat, keluarga dan para shohib, teman sejawat dan sesama manusia.

Ya Rozak ya Ghofar

   Anugerahilah diri kelapangan dada kami dalam membahagiakan kedua ibu/bapak kami anak-anak dan cucu kami, dan sesungguhnya semua itu memerlukan keikhlasan dalam menunaikan tanggung jawab kami .

   Berikanlah ampunan atas segala dosa-dosa kami, Engkaulah maha pengampun lagi maha pengasih, amin ya rabbal alamin.

 

Barakallah Lii Walakum Wajaalana Minal A’idin Wal Faizhin.

Cirebon, 20 Mei 2019

Penulis

(Prof. DR. H. Khaerul Wahidin, M.Ag)

Kajian Ramadhan dalam Acara Baitul Arqom Stkip Dan Stikes Muhammadiyah Kuningan

  Pak. AR. Ketika ditanya tentang apa itu Muhammadiyah , beliu menjawab yaitu Berislam dengan Gagah, Gembira dan Gentle (G3) ketiganya itu tidak akan tercipta kecuali dengan Z yaitu Zakkannafsi Min Ladzzati Assyahawat. Membersihkan jiwa dari tipu daya kenikmatan jasmaniyah yang sesaat.

  Manusia dalam kaitannya dengan duniawiyah dan harta benda digambarkannya , cinta dan tergila-gila (tuhibbunal mala hubban jamma/ Al-Fajr 20, maka membersihkan diri merupakan amal sholeh yang utama, terlebih dibulan Ramadlan (Al-Syam 1-9) setelah 7x bersumpah beru bertitah, yaitu sungguh beruntunglah orang- orang yang membersikan dirinya, dan surat Al-Hasyr 9, disebutkan pula beruntunglah orang-orang yang membersikan jiwanya dari kikir.

  Kikir salah satu contoh saja, tentunya jiwa harus dibersihkan dari sisi-sisi gelap yang negatif dan energi jahat (min radail madzmumah) termasuk sifat benci (Al-Gil),/Al-hqad / dendam, bakhil, hasad, putus asa, keluh kesah, pengecut, curang, ghibah, namimah, hoaks dan sebagainya.

  Berislam yang gagah adalah memberi, berupa sesuatu yang didasari semngat Tawaun, Tanwir, Ihsanul Insaniyah. Dan sesungguhnya karakter banga ini lebih mencintai kegotong-royongan dari pada individualis, gaduh lagi konflik. Maka Islam yang damai , selamat serta berkemajuan menjdi cita- cita Bermuhammadiyah.

  Strategi dakwah / dalam mengajak warga dengan cara yang sekiranya sampai kepada yang dicita-citakan yaitu atthoriqah alladzi yuashilu ila mardlatillah.

  Sebagai organisasi dakwah, maka cara yang ditempunya atau yang diikhtiarkannya adalah dengan cara bil hikmah, (Ud’u Ila Sabili Rabbika Bil Hikmah).

  Kita tentu ingat betapa doa Nabi SAW, untuk pamannya Abu Tholib, orang yang melindungi dari kejahatan kaafir arab jahiliyyah, namun apa dikata Allah mengingatkan dalam surat Al-Qoshos 56, bahwa ketulusan menerima dienul Islam adalah berkat rahmat dan hidayah Allah semata, tidak dapat diinterpretasi oleh apapun juga.

  Kita pun ingat betapa Nabi Nuh As, berhasrat agar keluarganya mengikuti dakwahnya (Hud 46) dengan kalimat hai Nuh kamu jangan berharap tentang sesuatu yang bukan kewenanganmu. Memang hal itu tragis dan menyedihkan, namun kita sadar bahwa mengajak manusia kejalan Allah hanyalah ikhtiar untuk sampai kpd RidhoNya.

  Yang paling penting berdakwah itu tidak menjustic apalagi memfonis atau prejudis, berasumsi dirinya yang benar, yang tidak sependapat denggnya ditakfir, ditabid, ditadllil dan sebagainya, dituduh sebagai garis lembek, ayam sayur  dan sebagainya.

  Sesungguhnya kalau mau jujur dakwah itu memang harus lembut (qoulan layyinan) lihat An-Nahl 25, yaitu bil hikmah. Menurut Al-Jurjani hikmah itu kata-kata yang indah, baik, bersih keluar dari hati dan pikiran yang damai tidak disertai emosional dan kebencian dan tipu daya. Omongan-omongan yang menang sendiri disertai menekan dan menakut-nakuti, mengancam serta memprovokasi terhadap timbulnya fasad.

  Pada saat ini, umat manusia benar-benar dalm bencana, dari perdebatan apalah namanya isinya hanya bermain kata-kata, mengolah lidah dan mulutnya hanya. Untuk berebut harta dan kuasa.

  Nilai yang diajarkan Muhamnadiyah selama ini banyak bekerja sedikit bicara, bila berbicara mengandung inspirasi, tidak hanya bersilat lidah hanya membuat fitnah dan hoaks itulah keadaban publik dan medsos, terlebih para figur moral, tokoh nasional, berhati-hatilah terhadap kata, karena kata akan menjadi nyata dan merendahkan nasib bangsa, bila mulut tidak dikendalikan dengan etika.

  Dalam berita Tempo 3/4/2019 dikabarkan tentang pemain sepak bola Inggris dari club Liverpool yang berasal dari warga negara Mesir, sepak terjangnya sebagai penyerang lini tengah, membawanya pada posisi Super Star Dunia, dimana-mana dielun-elun dengan lagu dan terakan salah we need you, ia bernama Mohamed Salah.

  Tidak hanya hebat dilapangan hijau, tetapi juga hebat di ladang amal demikian kesan pelatihnya, Jurgen Klopp terhadap anak asuhannya.

  Pada setiap kunjungannya ia menjauhkan dari gaya hidup glamour, dari minuman keras, sex bomm, night club, seperti yang di lakukan orang-orang terkenal dari artis dan pejabat, Mohamed Salah tidak hanya paham tentang agamanya tetapi ia konsisten mengamalkannya, maka sporter inggris sendiri kehadiran Salah sebagai gift for God.

  Sikap dan prilkunya itulah yang membawa penggemarnya menyukai permainan bolanya tetapi sekaligus menjadi rool model (teladan hidup), maka sejatinya Salah telah berdakwah melalui prestasi dan reputasinya.

  Bilamana kita simak narasi tentang peran Muhamammdiyah dalam perjuangan keummatan dan kebangsaan dan dirasakan umat dan bangsa melampaui satu abad, adalah konsistensi menegakan khitto-khitah atau landasn berfikir yang digali dari gugus pemikiran para tokoh sejak masa-masa awal dan dipedomi dalam gerak amal usaha, ditengah-tengah situasi yang terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Hal inilah yang wajib difahami dari berbagai ide dan gagasan yang lahir dari pemikiran kolektif dan diputuskan dalam kerja-kerja organisasi.

  Adapun yang peling fondamental adalah Muhammadiyah konsisten sebagi organisasi dakwah dan tajdid, dalam upayanya berkontribusi kepada kemajuan Keislaman dan Keindonesiaan.

Cirebon, 19 Mei2019

Sepekan Telah Menjalani Ramadhan

  Allah SWT. mengingatkan agar seiring dengan perjalanan waktu, kita wajib berupaya membangun kualitas amal (Ahsanu Amala), terlebih-lebih di bulan Ramadhan yang merupakan bulannya Al-Qur’an. Bahkan dapat dikatakan Ramadhan ini merupakan hadiah dari Al-Qur’an dalam artian bahwa kebaikan yang bertaburan di bulan ini dalam rangka merayakan Al-Qur’an.

  Al-Qur’an merupakan serat kehidupan umat Islam, umat Islam mengalami siklus kehidupan sejak masih dalam kandungan sampai datangnya ajal kematian tidak terlepas dari kalam-kalam Al-Qur’an.

  Nabi SAW mengibaratkan hati seperti besi yang terkadang bisa berkarat, maka pembersih dari karatnya hati adalah Al-Qur’an, hati terkadang sakit  maka penyembuhnya adalah Al-Qur’an, dan hati yang telah mati, dihidupkannya dengan Al-Qur’an (terapi Al-Qur’an). Artinya di bulan Ramadhan ini Al-Qur’an tidak sekedar dibaca, tetapi dimasukkan dalam hati (dihafal) dan sekaligus ditadaburi maknanya sehingga memberi pencerahan kepada manusia.

  Hal ini memberi isyarat bahwa kehidupan yang diharapkan dalam Islam adalah kehidupan yang tidak stagnant (jumud), akan tetapi kehidupan yang dinamis, berkembang dan berkemajuan.

  Dalam kaitan ini, Al-Qur’an menyebutkannya sebagai Khairu Ummah (Ali-Imran : 110), menurut Abduh ayat ini mengandung pengertian bahwa dalam diri umat Islam terdapat potensi besar berupa keutamaan-keutamaan  diatas rata-rata umat-umat dan bangsa-bangsa sedunia. Hal itu, karena umat Islam memiliki kitab suci yang syamliyah (lengkap, rasional dan mendoorng kepada kemajuan).

  Bersamaan dengan itu dalam perspektif sejarah kemajuan yang diraih umat-umat terdahulu berangkat dari kesungguhannya melepaskan umat Islam dari kehidupan yang dlollah (gelap) kepada kehidupan yang dzillah (dibawah naungan) Al-Qur’an, dari kehidupan yang bathil kepada kehidupan benar, inilah prinsip-prinsip yang dijalankan atas dasar kebanggaan dan kecintaannya terhadap kemanusiaan.

  Semoga nilai-nilai Al-Qur’an dapat meresap dalam hati sanubari umat Islam dalam berusaha membawa negeri ini kepada kemakmuran rakyatnya dan keadilan pemimpinnya. Amin

Kultum Dzuhur Masjid UMC

Term Jihad Dalam Al-Qur’an Perspektif Ali Imran : 142

“Apakah kamu mengira memasuki surga padahal kamu belum berjihad dan bersabar dengan bukti-bukti yang diketahui Allah SWT.”

 

   Surga adalah simbol kenikmatan agung menjadi dambaan setiap orang, kenikmatan tiada akan diperoleh kecuali dengan meninggalkan kenikmatan, mendapatkan ikan di laut tidak diperoleh kecuali dengan ikan yang kita umpankan. Dengan demikian seseorang tidak akan mencapai puncak kesenangan dan kenikmatan kecuali dengan menangguhkan kesenangan/kenikmatan itu sendiri, bahasa sederhananya kalau ingin bahagia wajib tirakat dan prihatin. Tiada akan sampai ke hari lebaran kecuali dengan berpuasa.

   Mencari kebahagiaan tanpa dilalui jalan yang terjal dan penuh kesulitan adalah suatu yang mustahil, dalam ayat tersebut diawali dengan pertanyaan tentang sesuatu yang tidak lazim (Istifhamul inkari / Am hasibtum).

   Orang yang menuju akhirat, tidak akan terjadi tanpa melewati dunia, ketika di dunia tidak mau bersusah-susah mencari kebahagiaan akhirat, maka mustahil kebahagiaan dunia itu didapat. Berfoya-foya dan bersenang-senang di dunia pertanda sulitnya menjadi penghuni surga (al-Kahfi (18) : 103-105).

   Pada ayat tersebut, Allah SWT. menyindir kaum kafirin, munafiqin dan orang-orang hedonis yang hanya mengejar dunia dengan segala caranya tanpa memperhatikan al-Haq (kebenaran) dengan sungguh-sungguh (jihad) dan jihad menegakkan al-Haq  merupakan jalan yang penuh kesulitan (masyaqoh).

   Menuju jalan keridlaan Allah SWT bagaikan orang yang berjalan memikul beban yang berat di pundaknya, menempuhnya diatas jalan berdaki, berbatu kerikil yang tajam menusuk-nusuk telapak kaki, karena keridlaan Ilahi merupakan a’dzom al-matholib (cita-cita yang paling besar dalam kehidupan), maka besar pula perangkat yang diperlukan untuk menggapainya.

   Jihad yang besar itu digambarkan Nabi SAW adalah jihadun nafs (mengontrol hawa nafsu), hidup dengan melampaui batas terhadap diri mereka sendiri. Wadah pengendalian tersebut adalah Asshiyam yang terdapat di dalamnya juhdil imsyak, juhdil istighfar, juhdil istirja’ dan juhdil isti’bar, bersamaan dengan itu  dirajut dengan isthobir maka Allah SWT mendekatkan rahmatNya kepada hamba-hambaNya berupa solusi (makhroja) sebagai outcome berpuasa Ramadhan.

 

Syahrul Juud Wal Quran

Bulan Ramadhan disamping Bulan Puasa (berlapang hati) Juga disebut Syahrul Juud (kasih sayang) kanannabiyu Ajuuda fi Ramadlan) bahwa Nabi sangat sayang pada bulan Ramadhan kepada sesamanya.

Ternyata Al-Quran menganjurkan kepada umatnya untuk menjaga jalinan harmonitas sosial

Di dalam Al-Quran terdapat ayat-ayat yang terkadung maksud agar menjaga hubungan baik dengan menyampaikan pesan yang menyejukkan (assalam arrahmah) seperti lafadz Al-Quran dalam Al-Imran 159 : qoulan afwan, qoulan istighfaron, dan dilain tempat disebutkan qaulan layyinan, qoulan kariman, qoulan ma’rufan, qoulan sadidan, qolantsaqilan, qoulan balighon, dan lainnya. Dengan demikian ungkapan-ungkapan yang timbul dari hati yang sehat (qolbun saliim), menjadi identitas muslim yang shoimiin. Bahkan hal itu juga dilakukan kepada orang-orang yang jahil, seperti dlm surat Al-Furqon 63.

Waibadurrahmani yamsuna fil Ardhi Haunan, waidza khotobahumul jahiluna qooluu salama (hamba-hamba Allah yang penyayang itu bilamana berjalan di muka bumi dengan rendah hati, dalam bilamana orang jahil menyapanya maka dibalasnya dengan kalimat yang tidak menyakitkan.

 

Berdasrkan Al-Furqon 63 tadi dapat difahami bahwa mukminat yang perfect adalah orang yang (1) ketika mengarungi balantika kehidupan yang beraneka ragam kelakuan manusia, maka dia dapat melakukan tindakan yang tepat (haunan) termasuk didalamnya membalas pesanny dengan muayyanan tepat/tegs/jitu. Yaitu mambalasnya denan SALAMAN, dalam ibnu kasir dijelaskn kata jawban salaman adalah jawaban seperlunya, wala yusrifu wala yaqturu bahasa gaulnya to the point dan dibarengi pointnya mengandung power, tidak berbahasa  yang membuang-buang pulsa, tapi bila terus berbalas pantun, maka itu berarti adanya harapan manfaat/bisnis  yang menguntungkan, lanjutkan hingga sampai ke tujuan akhir mendapatkan surga dunia maupun akherat. Semoga manfaat

Ramadlan Mubarok

  Sebuah nama yang populer menjadi ikon bagi umat Islam dunia, terkadang juga dipanggil Ramadhan Karim, memang 2 istilah itu berjodoh, sebagai bulan istimewa karena ada barokah

  Pertanyaannya apa barakah itu, yakni bertambah dan tumbuh, kebaikannya dalam segala sesuatu yang dikerjakan orang yang berpuasa Ramadhan

  Maka mumpung masih awal-awal lakukan langkah-langkah yang tepat dan strategis, sehingga tidak menjadi sia-sia yaitu menjdi keren karena puasnya.

Dalam surat Al-Furqon 63- 70

  1. Ada brainnya 2. Ada mabitnya 3. Sosial efeknya.

  Ketiganya (BMS) menjadi Ramadhan yang beda dibandingkan bulan lainnya dan membawa perubahan tranformatif yang luar bisa, maka dalam suatu hadist Rasullah mendapat kabar langsung dari Malaikat Jibril yang menyatakan, Sungguh terhina orang yang bertemu bulan Ramadhan, tetpi tidak mendapat ampunan lalu Nabi mengamininya.

  Agar kita tidak menjadi orang-orang yang terhina, marilah kita mengupayakan penghapusan dosa-dosa yang telah dilakukan dengan bertasyahud dan beristighfar dan berbuat ihsan. Hal ini sesuai dengan Al-Furqon  70 dan juga dipertegas surat Hud 114.

  Semoga kita tidak termasuk yang disinyalir nabi banyak yang bertemu ramadhan tetapi tidak mendapatkan karim dan berkahnya Ramadhan, kecuali lapar dan dahaga semata-mata

SONY DSC

Bonus Demografi dan peran Islam dalam peningkatan kesejahteraan Masyarakat

  1. Bonus demogafi merupakan kondisi masyarakat usia produktif lebih besar jumlahnya dibandingkan non produktif (0-15 dan usia diatas 64), pada tahun 2020- 2030 penduduk Indonesia 270 juta, dengan non produktif 60 jt.
  2. Kondisi tersebut berdampak positif bila SDM dapat dikelola dengan baik, yaitu terlahirnya generasi yang lratif, inovatif, dan produktif, serta integritas.
  3. Islam merupakan dinul hadlariyah, membawa masyarakat menjadikan asset bagi kemajuan bangsa.
  4. Dalam Islam hidup bukan sekedar eksis, tapi hidup adalah dipersembahkan kepada Yang Maha Hidup, maka aktivitas apapun termasuk aspek ekonomi, hanyalah untuk meninggikan syiar agama, sebagai bentuk pertanggungan jawab kepada Allah Swt, selaku wakil-Nya di muka bumi.
  5. Dalam Islam manusia bukan hanya homo ekonomik yang hanya mengejar kebendaan, tetapi juga homo Religio, maka dengan jumlah penduduk yang banyak dan dibingkai dengan niliai-nilai dasar kebajikan, maka mengelola SDM menemukan momentumnya , sehingga dapat mengelimir dampak negatif adanya bonus demografis tersebut.

Dikisahkan syahdan disebuah negeri ada seorang raja dzolim, yang menggap bahwa kekuasaan yang dipundaknya adalah pulung dari drinya semata, maka diperlakukanlh rakyatnya semena mena, yang melawan dihukum, yang patuh dibikin aman.

 

Hari-harinya hanya melakukan pencitraan, yang tidak lain tipu-menipu, bekingnya adalah tukang sihir yang dibelakangnya tidak lain adalah syaitan, sampai pada suatu saat datang pemuda bernama Gulam yang menganut ajaran Tauhid, maka 70 ribu rakyat bragama tauhid.

Betapa marahnya raja karena rakyat tidak percaya lagi kepada rajanya, kemarahan itulah yang membuat raja semakin represif dengan membuat parit yang besar dan didalam parit dibuat api unggun dari kayu bakar, maka 70 rb rakyatnya dimasukkan kedalam parit. Tersisa seorang wanita dg 4 anaknya, dia menangis dan berbicara kepada anak-anaknya. Dalam keteguhannya sang ibu berdoa agar anak-anaknya selamat. Maka kekuatan tauhidnya dapat mengatasi kesulitan yang sebesar apapun.

 

Qutila ashabul uhdud (Al-Buruj) celakalah pembuat parit (raja yaman), mereka yang menyakiti orang-orang beriman mendapt adzab yang besar, sedang mereka yang kuat imannya tidak takut kepada raja dzolim, pasti diselamatkan.

Disampaikan dalam Semiloka Nasional Kaderisasi Muhammadiyah

Prof. DR. H. Khaerul Wahidin, M.Ag

Sabtu, 26 April 2019 di CH UMC

Khutbah Jumat

Masjid syafii, 26 april 2019

H. Khaerul Wahidin

Marilah kita tingkatn ketqwaan kepada Allah SWT sehingga hidup kita dan kehidupan bangsa kita dapat merasakan berlimpahnya karunia-Nya, seperti yang dijanjikan dalam QS Al-Araf 96. Dalam Tafsir Al-Muyassar kata barakat dimaksudkan sahlan fi thalabil khoer ( dimudahkan Allah untuk meraih  yang terbaik). Taqwa dalam pengertian awam terkandung dimensi ilahiyat dan insaniyyat, maka kesalehan juga ditemukan sebagai kesalehan individual yaitu imtisalu awamirihi wajtinabu nawahihi, sedangkan kesalehan sosial tersimpul pada ahsinul insaniyah ( kemanusiaan)

Pada kesempatan khutbah ini, dibahas nilai-nilai taqwa dalam dimensi sosial / kemanysiaan, berdasrkan QS. Al-Baqoroh 177

Pertama, penuhi janji

Berbuat baik bukanlah sekedar kata-kata, tetapi bukti nyata. Ibnu taimiyah berkata bahwa kebenaran itu bukan angan-angan tetapi realita. Menepati janji-janji menghindari kepalsuan, kebohongan, dan kecurangan kata AlGghozali adalah tipu daya syaitan. Kerena syaitan setiap saat menipu manusia agar menjadi temannya di neraka.

Kedua kesabaran, dijelaskan arti kesabaran dalam QS. Al-Imron 110 dipraktekkan dalam 3 keadaan yaitu

  1. Fil ba’sai yaitu disaat mengalami kesulitan yang luar biasa seperti rasa kekurangan lahir maupun bathin, maka kita tidak hanya berdiam diri untuk melawannya dengan beraktivitas sehingga terhidar dari kekufuran dan kepuasaan.
  2. Addharra yaitu sabar ketika dihadapkan pada penyakit yang menimpa, baik sakit fisik maupun mental. Maka berilah nutrisi terhadap jasmani dan rohani secara.rutin. terkait dengan penyakit hati (qolbun marid), diobati dengan mencri teman, sahabat, guru dan lain-lain yang saling nasehat-menasehati, jika penyakit dibiarkan maka hidup akan sia-sia dan merugi.
  3. Kondisi hiinal baats yaitu dalam perjuangan. Hidup tidak hanya makan dan bersenang-senang (tanaim), tapi berjuang menegakkan keadilan dan kebenaran. Disaat kecurangan dan kedzaliman meraja lela, umat Islam haram berdiam, dan wajib berusaha menghilangkannya. Umat Islam adalah umat yang kuat, gagah dan berani.

 

Sebentar lagi kita akan mamasuki bulan Ramadlan tentunya bulan yang penuh berkah itu tidak hanya diramaikan dengan kesibukan ritual semata, marilah kita tegakkan kesalehan soaial menuju kemenangan umat dan bangsa. Barakallah.

   ALLAHUMMAQFINIHIM BIMA SYI’TA, ya Allah berikan kecukupan bagi diriku dari mereka sebagaimana yang Engkau Kehendaki. Doa untuk mendapat kekuatan IMAN, sebagai saripati surat Al-Buruj.

Dikisahkan syahdan disebuah negri ada seorang raja dzolim, yang menggap bahwa kekuasaan yang dipundaknya adalah pulung dari drinya semata, maka diperlakukanlah rakyatnya semena mena, yang melawan dihukum, yang patuh dibikin aman.

 

Hari-harinya melakukan pencitraan, yang tidak lain tipu menipu, bekingnya adalah tukang sihir yang dibelakangnya tidak lain adalah syaitan, sampai pada suatu saat datang pemuda bernama Gulam yang menganut ajaran Tauhid, maka 70 ribu rakyat beragama tauhid.

Betapa marahnya raja karena rakyat tidak percaya lagi kepada rajanya, kemarahan itulah yang membuat raja semakin represif dengan membuat parit yang besar dan didalam parit dibuat api unggun dari kayu bakar, maka 70 ribu rakyatnya dimasukkan kedalam parit. Tersisa seorang wanita dengan 4 anaknya, dia menangis dan berbicara kepada anak-anaknya. Dalam keteguannya sang ibu berdoa agar anak-anaknya selamat. Maka kekuatan tauhidnya dapat mengatasi kesulitan yang sebesar apapun.

   Qutila ashabul uhdud ( Al-Buruj) celakalah pembuat parit (raja yaman), mereka yang menyakiti orang-orang beriman mendapt adzab yang besar, sedang mereka yang kuat imannya tidak takut kpada raja dzolim, pasti diselamatkn.