IMG-20190420-WA0005

Beragama Dengan Akal Sehat

IMG-20190420-WA0006

Prof. Dr. H. Khaerul Wahidin, M.Ag

   Akal merupakan anugerah Allah SWT yang membawa kepada martabat manusia, bilamana akal tersebut digunakan selaras dengan kehendakNya, bukan akal menurut nafsu kemanusiaan yang cenderung akal-akalan untuk membenarkan  dirinya sendiri dan senang menyalah-nyalahkan  orang lain.

   Ibnu Sina dalam falsafah tentang akal menyatakan bahwa al-Aqlu al-Awwal sebagai penuntun (emanasi) dalam penciptaan alam dan tertibnya alam. Oleh karena akal itu telah dicerahkan dengan tuntunan wahyu Tuhan, yang berisikan tentang kebenaran (al-Haq).

   Para mahasiswa melakukan studi di perguruan tinggi, dilatih akalnya untuk bergerak (al-Aqlu al-Mutaharriqoh) dengan mengikuti hukum-hukum alam (sunnatullah) baik secara causalitas dengan metode deduktif ataupun induktif dan melahirkan narasi yang bersesuaian dengan akal sehat.

   Pandangan al-Qur’an tentang akal sehat terlihat dari pertanyaan yang berulang kali agar akal menjadi pertimbangan dalam melakukan tindakan (seperti afala ta’qilun), dari segi ontologi yang perlu difikirkan adalah tentang manusia dan alam yang sekiranya membawa manfaat bagi kemajuan IPTEK.

   Dengan demikian agama memberikan arah kepada manusia dalam petualangan intelektualnya bagi tercapainya kebenaran dan dalam prakteknya pencarian kebenaran tersebut diawali dengan asumsi atau hipotesa dan dibangunnyalah paradem yang berujung memproduk tentang dalil (teori).

   Proses petualangan intelektual seharusnya dapat mengeluarkan “kegelapan” hipotetik menjadi “kejelasan” dalil  (teori).  Untuk itu diperlukan data dan analisa yang disebutnya dengan metode scientifik.

   Keampuhan mahasiswa sebagai kaum intelektual adalah terletak pada integritas yang disebutnya dalam scientificly sebagai desire for truth (naluri untuk jujur) dan secara pribadi mereka adalah kaum intelektual honesty yaitu orang-orang yang memiliki kejujuran intelektual dan selanjutnya mereka pekerja keras kaum intelektual (courageous) (berani) atau researcher (para peneliti).

   Dalam aplikasi sosiologis para sarjana adalah orang-orang yang mampu memproduk narasi-narasi yang membawa kedamaian di tengah-tengah masyarakat.

Cirebon, 15 April 2019

Penulis

 

Posted in Agenda, Berita, Pengumuman, Sambutan Rektor.