dfsdgergh

Seminar Nasional dalam Rangka Wisuda 2019 “Membangun Mutu Pendidikan di Era 4.0 Menuju Pendidikan Islam Berkemajuan”

  1. Iftitah

    Panitia seminar memesan judul diatas saya kira sangat penting, bahkan saking pentingnya menjadi tema besar. Setidaknya ada 3 point kajian yaitu Budaya Literasi Era 4.0 dan pendidikan Islam progresif. Asumsi saya masih terdapat masalah yang dihapi dunia pada era ini yang  bermuara pada pertanyaan mengapa pendidikan Islam masih konsevatif diduga kuat penyebabnya masih lemahnya kebiasaan umat Islam meningkatkan skillnya dalam memenuhi tuntutan umatnya terutama dalam skill inovasi teknologi informasi, padahal sprit progresivitas dan perubahan minset, mestinya mendorong warga ummat dan bangsa ini memiliki ghiroh addiniyah sekaligus giroh Al-Wathaniyah, supaya tidak kalah dengan umat lain dan bangsa lain.

    Umat Islam dan bangsa Indonesia sudah terbiasa ( berbudaya) segalanya menjadi taken for grented, sudah establish sehingga stagnant, karena lemah dalam membudayakan keteraksaraan (berliterasi), inilah pokok pangkal lemahnya syahwat kecemburuan terhadap kemajuan.

  1. Jiwa Memiliki Budi

    Dalam surat Assayaam ayat ke 7 , Allah bersumpuh tentang jiwa ( annafs) sebagai rangkaian akhir dari ,7 sumpah tentang masa dari 7 penjuru peredaran alam semesta, yang intinya pada diri manusia yang sangat perlu diperhatikan mendapat asupan disamping asupan jasmani adalah asupan hati agar menjadi lentara kehidupan sehingga dapat menginspirasi / menerangi kehidupan bagai matahari yang diiringi bulan sebagai sejoli yang tidak pernah lelah, tidak pernah mengeluh dan tidak pernah putus asa siang dan malam agar jiwa/hatinya memiliki akal budi memberi manfaat untuk dirinya dan sekitarnya, dengan kata lain tarbiyatul islamiyyah esesnsinya tanwirul qulum, menjadikan jiwa yang cemerlang, disinari ilmu pengetahuan dan teknologi.

    Dalam Islam urusan dunia tidak dapat dipisahkan antara dunia dan akherat, ketika orang mengisi kehidupan dunia dengan segala kemewahannya, Allah mengingatkan ada kemewahan lain yang melebihi kemewahan dunia (Al-Imran 14), dan ketika mempersiapkan kehidupan akhirat tidak boleh melupakan dunia ( Al-Qashas 77), dunia sama sekali tidak boleh diabaikan dengan hanya sekedar mengejar akherat, bahkan dengan menguasai dunia mengejar akherat menjadi ringan dan mudah, dan relatif orang yang menguasai dunia, dapat memungkinkan mendapatkan banyak bonus keutamaan akherat, maka sungguh keliru orang membenci dunia, tetapi juga Allah sangat benci pemuja dunia sampai melupakan Akherat, rusan dunia adalah urusan yang sepenuhnya diserahkan kepada kecerdasan akal manusia, maka jika kalah dalam keduniawiahan penyebabnya pasti karena tidak cerdas, baik intelektualnya maupun kecerdasan sosialnya.

    Keberhasilan dunia dipicu oleh etos keislaman yang disebut Al-Ghirah addiniyah, cemburu yang besar yang dipicu ajaran agama, yaitu merasa tidak mau kalah dengan kelompok-kelompok lain, terlebih spirit dan etos Keislaman sebagai khoiru ummatin, yang diperintah menyeru kepada Al-Khaer (tidak hanya baik, tetapi bentuk superlatif/terbaik). Semangat inilah mendorong kita kepada kemajuan, dan Idul Fitri sebagai momentum kebangkitan dan kemenangan, “Allahumma la taj’al Ramdlani aakhiran li’ibadati, wa in Ramanii akhiran fi sanatii, waj’al minal marhumiin, wala taj’al mial mahrumiin”, Ya Allah jangan Engkau jadikan Ramadlan (kemarin) sebagai yang terakhir untuk diriku, jika memang harus yang akhir dari umurku, maka jadikanlah aku orang Engkau kasihi, jangan menjadi orang yang Engkau benci, doa- doa hari kesucian sangat indah, bila dihayati, maka bagaimana doa-doa itu benar-benar menjadi berkemajuan lahir dan bathin (no nomery only but quality/kuantitas sekaligus kualitas) dan jika doa-doa itu memenuhi syarat, maka pasti menjadi kenyataan yaitu menjadi umat yang unggul.

Dalam surat Al-Baqarah187 , waidza sa’alaka ibadii,. disitu sampai akhir ayat, maka sayaarat untuk diberi selamat, ramat, berkah, panjang umur, dan lebih banyak rizqi yang berkuslitas dan unggul dari ayat tersebut ada 2 yaitu ;

  1. Istijabah memenuhi atau menjawab semua yang dikendaki Allah SWT (merespon qudariah dan iradahnya Allah)
  2. Menghindari banyak konflik, permusuhan, dan intoleransi sebagaiai otentisitas keimanan yaitu memperbanyak usaha-usaha memberdayakan orang yang beruntung dalam hidupnya mereka anak yatim, fakir miskin, dan orang-orang mustadlafin, seperti yang diperintahkan dalam surat Al-Maun dan Al-Balad, dengan berbagai kegiatan yang sekiranya maslahat dan menghadiri mudharat dengan kecerdasan sosial manusia. Inilah implementasi 220 Al-Baqarah, mulai dari 0 atau dari 22 menuju 0, past Allah meridhaimu. Amin.

     Pendidikan Islam menempatkan mental peserta didik untuk ditumbuh kembangkan sebagai tujuannya yang paling penting, walaupun tidak berarti aspek lainnya tidak penting. “kullu mauludin yuladu alal fitrah“, pendidikan kesucian hati merupakan penumbuhan dan pembangunan karakter kemanusiaan yang dilakukan orang tua sejak pranatal sampai akhir hayat (long life education), seiring dengan ritme perkembangan anak, orang tua dan guru mengawal setiap fase perkembangan motorik dan psikologis anak sehingga mereka memiliki kecerdasan intelektual-spiritual dan sekaligus kecerdasa dan moral-sosial, tidak hanya memiliki hard skill tetapi sekaligus soft skill, menurut sayaekh Rahman Nashir dalam tafsir bayanil quran, ada 4 golongan manusia;

  1. Fasiidun yaitu orang yang beribadah batin tapi tidak beribadah lahir, uzlah dan menyendiri tapi tidak silaturahmi.
  2. Munafiqun bergiat dalam bersosial tapi tidak berzikir dan shlat.
  3. Musayarikun tidak bersosial dan tidak berdzikir (ikhwan sayaaiton).
  4. Mu’minun yaitu qoimuna dzohiran wa bathinan, orang yang bertanggung jawab lahir bathin, fisik dan hati. Inilah makna selamat hari raya lahir dan bathin , jadi yang selamat itu Al-Mukminun saja. Semoga setelah berhalal bi halal menjadi halalan bisa meningkatkan sejahtera dan selamat lahiriyah maupun bathiniyah . Amiin.

    Pendididikan Islam memastikan hadirnya manusia yang bertuhan (beriman) untuk menegakkan kesalehan spritual dengan menginat Allah dan mendekatkan diri kepadaNya, dan menegakkan kesalehan sosial dengan menunaikan tugas-tugas kekhalifahan di muka bumi. Pendidikan Islam tidak mengharapkan lahirnya generasi matrialistis, sekularistis dan atheis, yang terbukti telah gagal menciptakan keadilan, kemakmuran dan kedamaian masayaarakat, terbentuknya masyarakat Islam yang sebenarnya adalah masayarakat yang tidak hanya tekun beribadah , tetapi sekalus menunaikan kewajiban-kewajiban sosial untuk mendorong masayaakat yang unggul (khairu ummah). Dan untuk itu diperlukan guru-guru yang unggul, demikian pula unggul dalam kurikulum, sarana, leadership dan standar-standar lainnya sehingga mampu menciptakan budaya literasi yang mendukung tercapinya lulusan yang unggul pula.

    Terkait dengan budaya keaksaraan, maka ada 10 mentalitas pembelajar tangguh, kesepululuh manhaj itu meliputi , attajamu, assabat, attadhahi, al fahmu, atta’ ah, al jamaah, al ukhuwah, al jihad, attarahum dan attaisir, Attajamu (bangga/menyayangi) tugas mengangajar (Al-Imran 14), assabat ( taat/disiplin) dalam mengajar (Al-Maidah 10), attadhahi (rela berkrbn) guru sebagai pahlawan (Al-Baqarah124) alfahmu (amati dan memahami ) kondisi siswa, assajadah 17. Al jamaah (solidaritas,/ kebersamaan) arra’du 11, al ukhuwah (menghindari konflik) Al-Maidah 48, Al-Jihad (niat mewujudkan bangsa yang sejahtera) Al-Hasyr 7, attarahum (berbasis cinta dan kasih sayang) Al-Hasyr 9 dan attaisir (Al-Baqarah286)

    Nabi Muhammad merupakan rool model dalam pendidikan Islam, sebagai best educator, best making dan telah melahirkan lulusan terbaik dijelskan surat Attaubah 128 – 129 dalam penjelasan tafsir muyassar typologi profetic teaching meliputi hebatnya guru dalam mengajar karena ikhtitiar dan tawakal (mengajar dengan ragawi dan hati) maka melahirkan lulusan yang dahsayaat kekuratan fisik dan mentalnya.

  1. Pendikan Islam di era Revolusi 4.0

    Pendidikan dan peradaban manusia dalam lintas zaman tidak dapat dilepaskan dengan budaya literasi sejalan dengan tuntutan masayaarakat pendukungnya, bilamana stagnan maka pendidikan , akan ditinggalkan masayaarakatnya, mereka akan mencari model pendidikan yang memiliki relevansi dengan zamannya.

    Istilah Revolusi 4.0, merupakan perubahan dari masayaarakat tradisional kepada mesin yang diintegrasikan dengan listrik, Setelah ditemukan mesin komputer, maka manusia menuhankan mesin (we happy with mecin), maka pada thn 1960an, manusia mengintegrasikan komputer dengan internet sebagai suatu perubahan terdhasyat yang cenderung distruptif dan berdampak besar terhadap pola pikir dan kebutuhan manusia, terhadap hal-hal yang bersifat sosial, apakah dengan demikian generasi manusia tidak perlu lagi orang lain, karena dengan kesendirian manusia akan dapat memenuhi segala kebtuhannya. Manusia di zaman ini tidak lagi membutuhkan kuantitas, tapi lebih kepada kualitas.

    Manusia yang menguasi teknologi informasi akan menjadi pemenang dunia, duisinilah urgensitas literasi manusia dalam mengatasi mega problematika kehidupan manusia. Kemampuan literasi media , literasi data, disamping literasi buku merupakan keniscayaan , bila pendidikan Islam masih ingin dibutuhkan pendukungnya. Pendidikan Islam wajib mengintegrasikan hard skill dan soft skill, sungguhpun secara konsep telah lama ada, namun prksisnya memerlukan inovasi yang menuju proses dan hasinya kearah yang lebih baik dari sebelumnya. Spirit ini ditemukan dalam term-term keislaman, seperti ahsanu amala , isti’dadu bi quwwah, muhasabah, dan istijabah serta lain sebagainya melalui iqra bismi rabbika , iqra bil qalam dan iqra dengan cara serta model multy approach, Pendididikan Islam normatifnys hadir sebagai Sholihun (solitif) atas problem-problem kemanusiaan dalam lintas zaman dan peradaban, untuk itu, membutuhkan generasi para pendidik dan unsur aktivis pendidikan lainnya yang konsen mencitrakan dan sekaligus mengawal nuansa pendidikan yang relevan serta memberi narasi literatif yang dapat memajukan kebutuhan lahiriyah dan mentalitas yang terintegratif.

edsgergg sgsfrewg

 

Filantropi Pilar Utama Penyucian Diri

   Islam adalah Dinul Maslahah untuk menginspirasi Umatnya meujudkan kehidupan adil-makmur, sejahtera dunia akherat.

   Kesejahteraan bersama tidak akan terwujud tanpa hadirnya filantropis (para dermawan) yang mau berbagi harta dan kegembiraan. Didalam harta orang-orang yang mapan terdapat hak orang-orang yang tidak mampu (Az-Zariyat 19, wafi amwalihim haqqussail wal mahrum).

   Bulan Ramadhan adalah bulan penyucian duri (syahrun gufron), dan ujung dari berpuasa adalah dibersihkannya kedirian manusia sehingga manusia kembali kepada asal kejadiannya (Al-Uns), kembali kepada kesuciaannya (fitrah).

   Kembali kepada agamanya (hanif). Maka makna kedermawaan bila dikaitkan maqosidnya (niat liridlaillah), disamping dibangun diatas ubudiyah (dzikir, do’a), juga terdapat pilar tarhiim (ihsaniyatul insan),  itulah sebabnya setiap perintah Al-Shalat disambung dengan Al-Zakah, dan dalam surat Al-Kautsar kata shalat dilanjutkan dengan berkurban, untuk terus berkembang rizki dan keutamaan manusia serta tidak pernah putus (terus mengalir yang dijanjikan Allah SWT).

   Adapun pilar dari segala bentuk filantropi (sedekah, zakat, nafkah, atensi, empati, memahami, tidak menyakiti dan sebagainya) didasarkan pada pilar kesucian diri sebagai bentuk konsekwensi kemanusiaan, sifat-sifat yang sebaliknya seperti sadis, brutal , ugal-ugalan, membabi buta, kasar, menyakitkan adalah bukan keditian manusia.

   Bulan Ramadlan diharapkan manusia dapat kembali menjadi manusia, yang telah luruh dan larut dlam sifat-sifat kebinatangan dan syaitan.

Misteri Lailatul Qadar

   Nabi SAW, mengisyratkan di dalam bulan Ramadhan terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu malam Lailatul Qadar yaitu malam kepastian.

   Dari berbagai dimensi yang mengandung misteri, dari segi konsep, waktu, aktivitas, momentum, ciri, dan effeknya. Terdapat gugusan pemkiran dari para ahli dan ulama, dalam mengklarifikasi dari rahasia yang terdapat didalamnya

   Semua gugus pemaknaan tentang Lailatul Qadar ( QD ) mengarah kepada satu titik sentral yaitu apapun yang dilakukan kita, pastikan menjadi kebaikan yang musti kita raih dan kita wujudkan

   Bila Qodar (QD) identik dengan Nujul Quran (NQ) maka memastikan kebaikan yang berlimpah itu hanyalah adanya di dalam Al-Qur’an yaitu terlihat dari ayat-ayat nya yang turun pertama untuk Iqra dan Qalam, berawal dari usaha untuk berinfestasi dengan menyiapkan generasi yang Qurani, kemudian mereka kelak mengajak manusia untuk berpedoman dengan Al-Qur’an dalam kehidupannya (fi dzilalil Qur’an) dengan Qalam dan kalamnya. Inilah misteri QD yang mesti diraih, tegasmya mempersiapkn anak-anak agar meteka menjadi generasi Qur’ani.

   Kebajikan diwariskan dari satu generasi kepada kegenerasi berikutnya menjdi infestasi yang tidak pernah terputus selamanya dan menjadi keabadian amal manusia , dalam pribahasa Indonesia, “badan mati berkalang tanah, budi baik terkenang jua,” budi baik itu tiada lain Qolbun saliim. Yang oleh Syekh Mustafa Al Gulayani seorang pujangga mesir, menyatakan wabi qolbin salim faumrukassan aula min umrukal uula (orang yang mempunyai qolbun salim diberikan umur kedua dan umur yang kedua itu lebih panjang dari umur pertama) inilah yang di jelaskan Allah dalam surat As-Suara 88, bahwa tiadalah berarti harta dan anak-anak jika kita kembali dengan tanpa qolbun salim, dan dalam surat As-Shoffat 84, idz jaa rabbuhu bi qolbin salim, dalam tafsir muyassar di jelaskan bahwa kemanapun perginya orang yang memiliki qolbun salim pasti disisinya bersama Allah, menolongnya dengan RahmatNya.

  Apa dan siapa yang disebut qolbun salim itu, dalam tafsir Ibnu Katsir bawa orang yang diberikan qolbun salim adalah orang-orang yang bersih hatinya dari menghujat, memfitnah dan dengki dengan sesamanya.

  Bulan Ramadhan ini momentum melepaskan simpul-simpul dan tali yang membelenggu sifat dan prilaku syaitan dan prilakunya ahli neraka, sehingga hati yang mati bisa mulai segar kembali dan hati yang sakit mejadi sehat sehingga merasakan bahagianya hati yang fitri ( Qs. 30:30)

Idul Fitri Momentum Membangun Umat Terbaik

 

Assalamuaikum wr. wb.

Allahu Akbar 3x Walillahilham

   Seraya memanjatkan puji syukur kepada Allah, pada hari ini kita telah menyempurnakan bilangan hari-hari Ramdhan sebulan penuh dan bertemu dengan /Syawal Idul Fitri. Sejak matahari terbenam di ufuk barat kemarin, terdengar suara takbir bergemuruh, diseantero jagat raya ini, di desa/kota, di keramain pasar/dikesunyian lembah, di pinggir samudra, dibawah gunung, semuanya menuju Kalimatussawa Yaitu Takbir , Tahlil , dan Tahmid.

   Umat Islam seluruh bumi ini melepas Ramadhan dengan kalimat Allahu Akbar artinya dengan sebuah optimisme bahwa sesulit apapun, segenting apapun yang sedang dihadapi bangsa da ummat ini, kita mimiliki keyakinan bahwa Allah SWT Maha Besar pertolongannya, maha besar kekutannya oleh karena itu kita pasti dapat mengatasi semua problematika dengan mengikuti/taat kepada sunnatullahNya. Allah berfirman dalam surat An-Nisa 69 – 70 ” bahwa barang siapa yang taat kepada Allah dan RasulNya maka mereka diberi nikmat dan anugerahNya yang besar yang menjadi perantara kesuksesan dan kebahagiaan.

   Kemudian kita melepas Ramdhan dengan mengucapkan “lailaha illallah” yaitu dengan suatu tekad meyatukan hati dalam persahabatan, gotong royong, sebagai satu kesatuan yang tunggal, inilah makna sebenarnya dari Wahdatul Kalimat. Karena manusia sejatinya berasal dari Allah dan kembali kepada Allah, segala sesuatu urusan pada akhirnya kepada Allah Yang Maha berkehendak dan Maha menentukan. Perbedaan adalah suatu keniscayaan dan diterima sebagai anugrah dan rahmaNya : Kalau sekiranya Aku menghendaki maka tidak akan ada perbedaan itu (Qs. Al-Maidah 48). Oleh karena dalam keumatan dan kebangsaan wajib menyatukan barisan untuk satu tujuan yaitu mewujudkan masyarakat muslim yang sebenatnya Baldatun Thoyyibah.

   Dalam pikiran kita yang dimaksud maju adalah “masyarakatnya sejahtera, aman damai, makmur dan bahagia hanyalah dapat diwujudkan di atas keadilan, kejujuran, persaudaraan dan gotong royong, bertolong tolongan dengan bersendikan hukum Alloh yang sebenar-benarnya, lepas dari pengaruh syaitan dan hawa nafsu”

Allahu Akbar 3x walillahilhm

Saudara… Rahimakumullah

   Idul Fitri secara harfiyah paraning dumadi, kawit kedaden atau asal kejadian atau awal kejadian manusia itu, yakni dari tanah, sedangkan syaitan dari api, maka sifat manusia dasarnya, senang kedamaian, menumbuhkn, mendidik, bukan sikap-sikap syaitan yang senang membakar, mengopori, memanas-manasi dengan ujaran-ujaran kebencian yang pada akhirnya menimbulkan kekacauan dan huru hara dimasyarakat, jelas hal tersebut merupakan salah ke dalam diri manusia.

   Disamping itu menimbulkan konflik,  perpecahan, dan permusuhan. Maka sifat dari awal terkait syaitan tidak disukai manusia, terlebih dalam bahasa arabnya manusia itu disebut insan dari kata Uns, yang berarti harmonis, kasih sayang dan damai. Maka jati diri manusia adalah makhluk yang baik (fitrah), dan setelah dilatih serta dididik sebulan lamanya menjadi orang yang paling baik yaitu muttaqin.

Allahu Akbar 3x walillahilhm

   Orang yang bertaqwa adalah orang-orang yang paling mulia , dimudahkan semua urusannya dan diberi rizqi yang mencukupi hidupnya, bangsa yang taqwa adalah bangsa yang diberkahi yaitu diturunkan kepadanya rizqi yang melimpah, berupa keamanan, keadilan, dan kemakmuran bagi segenap warganya.

   Dengan demikian setelah Ramadlan disuburkan dalam diri setiap orang yang beriman. Berdasrkan surt Al-Baqorah 177, disamping kesalehan individual berupa shalat, zakat, puasa dan haji, kesalehan sosial wajib lebih dipentingkan, terlbih disaat-saat bangsa ini telah tergerus keadaban sosialnya, akibat dari hawa nafsu manusia dan bujukan setan, sehingga tidak mengindahkan lagi rasa keberagamaan, gotong royong, berbuat kebaikan, bakan lebih parah lagi mereka menjadi homo-homoni lupus, (manusia srigala pemakan sesama manusia) “demi kekayaan dan harta, tidak segan-segan mereka memangsa, mengikuti mendzalami, saudaranya sendiri” ada lagi golongan manusia yang  disebut homo ludent ( bersenang-senang sendiri dengan membuat sengsara saudaranya sendiri), maka hidup hanya untuk berhura-hura dan bersenang-sengan diatas penderitaan orang lain (Hipo Maniak) dalam Psikologi Psikopat.

   Kondisi-kondisi tersebut mengakibatkan hilangnya kebijakan dan kearifan dalam diri manusia unhomo sapien, unjustic dan unhumanity), terlebig dizaman milenial ini seringkali disebut post truth (pasca kebenaran) maka kebenaran menjadi hal yang aneh bin ajaib; orang yang berjuang untuk kebenaran dan keadilan dianggap penjahat, sebaliknya orang yang curang dan berkhianat dianggap pahlawan.

   Maka dengan berpuasa kita menjadi ibsan kaniil yaitu yang mempu menggunakan akal hatinya untuk membangun kemanusiaan yang bermartabat, maka setelah shalat Idhul Fitri kita disunnahkan menunaikan tahniah. Hal ini terkandung maksud bahwa orang mukmin mampu menegakkan barisan yang kuat bagaikan saf-saf shalat (As-Shaf 2) (dan membangun tali batin sesamanya dengan sepenuh kasih sayang, mereka itu adalah golongan-golongan sebagaimana para penghuni syurga.

  Islam adalah agama yang penuh kasih sayang dan agama yang cinta perdamain (dinurrahmah wassalamah), dan tiada akan tercipta kedamaian bila tidak sisertai keadilan (dinul adalah), dan keadilan itu membawa kpada kemajuan suatu bangsa (dinul hadlariyyah) bangsa beda diisi oleh warganya yng mampu membuktikan dalam kenyataannya (dinussyahadah)

Allahu Akbar 3x walillahilhm

Didalam surat Al-Baqarah ayat 177 Alah berfirman :

Surat Al-Baqarah Ayat 177 Arab, Latin, Terjemahan Arti dsvsBahasa Indonesia

   Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

   Pada ayat tersebut Allah SWT menekankan agar kita memastikan suatu  kebenaran berdasarkan tuntunan Allah bukan atas dasar selera dan kepentingan manusia yang disebut post trut, kebenaran diputar balikan yang benar dianggap Hoaks yang Hoaks dianggap benar tergantung selera dan keinginan manusia bila ini terjadi maka bencana akan menimpa manusia; karena kesalehan seseorang diukur bukan dari hati murninya tetapi diukur oleh yang paling member kesenangan duniawiyah, jika post truth menjadi gaya hidup milenial maka bersiap-siaplah agama apapun namanya akan ditinggalkan manusia, hal ini seperti yang terjadi di Negara-negara yang mengeklaim sebagai Negara maju.

   Maka dalam ayat tersebut, Allah menegaskan bahwa kebenaran adalah kebenaran ilahiyyah dan sekaligus insaniyyah, secara ilahiyah mereka taat menjalankan ibadah dan secara insaniyyah mereka adalah orang-orang yang meninggikan adab dalam kehidupan yang pada akhirnya dapat membangun peradaban

   Marilah dipagi yang penuh berkah ini kita bersimpuh di naungan ridhanya seraya memohon kemurahannya berupa ampunan, rizqi dan kekuatan sehingga hidup ini diraskan atasnya dalam mewujudkan kemakmuran dan keadilan, melalui kesadaran ikhtiar secara kreatif sehingga mampu menembus awan hitam sebagai mana terkabulnya cita-cita kita, umat Islam dan bangsa Indonesia. Amiiin ya mujibassailin.

Allahumma Sholli Ala Muhammad Wa Ali Muhammad

   Ya Allah ya Rohman ya Rahim hambamu pada hari ini bersimpuh dihadapanMu seraya meyakini dengan sepenuh hati kami bahwa sesungguhnya dalam genggamanMu segala urusan kami, untuk itu ya Allah mudahkanlah dan berikanlah kekuatan atas segala aktivitas hari Idul Fitri ini untuk memenuhi sunnah Rasul-Mu bersilaturahim, bertahniah dan berbagi kebahagiaan bersama-sama sanak-kerabat, keluarga dan para shohib, teman sejawat dan sesama manusia.

Ya Rozak ya Ghofar

   Anugerahilah diri kelapangan dada kami dalam membahagiakan kedua ibu/bapak kami anak-anak dan cucu kami, dan sesungguhnya semua itu memerlukan keikhlasan dalam menunaikan tanggung jawab kami .

   Berikanlah ampunan atas segala dosa-dosa kami, Engkaulah maha pengampun lagi maha pengasih, amin ya rabbal alamin.

 

Barakallah Lii Walakum Wajaalana Minal A’idin Wal Faizhin.

Cirebon, 20 Mei 2019

Penulis

(Prof. DR. H. Khaerul Wahidin, M.Ag)

Sepekan Telah Menjalani Ramadhan

  Allah SWT. mengingatkan agar seiring dengan perjalanan waktu, kita wajib berupaya membangun kualitas amal (Ahsanu Amala), terlebih-lebih di bulan Ramadhan yang merupakan bulannya Al-Qur’an. Bahkan dapat dikatakan Ramadhan ini merupakan hadiah dari Al-Qur’an dalam artian bahwa kebaikan yang bertaburan di bulan ini dalam rangka merayakan Al-Qur’an.

  Al-Qur’an merupakan serat kehidupan umat Islam, umat Islam mengalami siklus kehidupan sejak masih dalam kandungan sampai datangnya ajal kematian tidak terlepas dari kalam-kalam Al-Qur’an.

  Nabi SAW mengibaratkan hati seperti besi yang terkadang bisa berkarat, maka pembersih dari karatnya hati adalah Al-Qur’an, hati terkadang sakit  maka penyembuhnya adalah Al-Qur’an, dan hati yang telah mati, dihidupkannya dengan Al-Qur’an (terapi Al-Qur’an). Artinya di bulan Ramadhan ini Al-Qur’an tidak sekedar dibaca, tetapi dimasukkan dalam hati (dihafal) dan sekaligus ditadaburi maknanya sehingga memberi pencerahan kepada manusia.

  Hal ini memberi isyarat bahwa kehidupan yang diharapkan dalam Islam adalah kehidupan yang tidak stagnant (jumud), akan tetapi kehidupan yang dinamis, berkembang dan berkemajuan.

  Dalam kaitan ini, Al-Qur’an menyebutkannya sebagai Khairu Ummah (Ali-Imran : 110), menurut Abduh ayat ini mengandung pengertian bahwa dalam diri umat Islam terdapat potensi besar berupa keutamaan-keutamaan  diatas rata-rata umat-umat dan bangsa-bangsa sedunia. Hal itu, karena umat Islam memiliki kitab suci yang syamliyah (lengkap, rasional dan mendoorng kepada kemajuan).

  Bersamaan dengan itu dalam perspektif sejarah kemajuan yang diraih umat-umat terdahulu berangkat dari kesungguhannya melepaskan umat Islam dari kehidupan yang dlollah (gelap) kepada kehidupan yang dzillah (dibawah naungan) Al-Qur’an, dari kehidupan yang bathil kepada kehidupan benar, inilah prinsip-prinsip yang dijalankan atas dasar kebanggaan dan kecintaannya terhadap kemanusiaan.

  Semoga nilai-nilai Al-Qur’an dapat meresap dalam hati sanubari umat Islam dalam berusaha membawa negeri ini kepada kemakmuran rakyatnya dan keadilan pemimpinnya. Amin

Kultum Dzuhur Masjid UMC

Term Jihad Dalam Al-Qur’an Perspektif Ali Imran : 142

“Apakah kamu mengira memasuki surga padahal kamu belum berjihad dan bersabar dengan bukti-bukti yang diketahui Allah SWT.”

 

   Surga adalah simbol kenikmatan agung menjadi dambaan setiap orang, kenikmatan tiada akan diperoleh kecuali dengan meninggalkan kenikmatan, mendapatkan ikan di laut tidak diperoleh kecuali dengan ikan yang kita umpankan. Dengan demikian seseorang tidak akan mencapai puncak kesenangan dan kenikmatan kecuali dengan menangguhkan kesenangan/kenikmatan itu sendiri, bahasa sederhananya kalau ingin bahagia wajib tirakat dan prihatin. Tiada akan sampai ke hari lebaran kecuali dengan berpuasa.

   Mencari kebahagiaan tanpa dilalui jalan yang terjal dan penuh kesulitan adalah suatu yang mustahil, dalam ayat tersebut diawali dengan pertanyaan tentang sesuatu yang tidak lazim (Istifhamul inkari / Am hasibtum).

   Orang yang menuju akhirat, tidak akan terjadi tanpa melewati dunia, ketika di dunia tidak mau bersusah-susah mencari kebahagiaan akhirat, maka mustahil kebahagiaan dunia itu didapat. Berfoya-foya dan bersenang-senang di dunia pertanda sulitnya menjadi penghuni surga (al-Kahfi (18) : 103-105).

   Pada ayat tersebut, Allah SWT. menyindir kaum kafirin, munafiqin dan orang-orang hedonis yang hanya mengejar dunia dengan segala caranya tanpa memperhatikan al-Haq (kebenaran) dengan sungguh-sungguh (jihad) dan jihad menegakkan al-Haq  merupakan jalan yang penuh kesulitan (masyaqoh).

   Menuju jalan keridlaan Allah SWT bagaikan orang yang berjalan memikul beban yang berat di pundaknya, menempuhnya diatas jalan berdaki, berbatu kerikil yang tajam menusuk-nusuk telapak kaki, karena keridlaan Ilahi merupakan a’dzom al-matholib (cita-cita yang paling besar dalam kehidupan), maka besar pula perangkat yang diperlukan untuk menggapainya.

   Jihad yang besar itu digambarkan Nabi SAW adalah jihadun nafs (mengontrol hawa nafsu), hidup dengan melampaui batas terhadap diri mereka sendiri. Wadah pengendalian tersebut adalah Asshiyam yang terdapat di dalamnya juhdil imsyak, juhdil istighfar, juhdil istirja’ dan juhdil isti’bar, bersamaan dengan itu  dirajut dengan isthobir maka Allah SWT mendekatkan rahmatNya kepada hamba-hambaNya berupa solusi (makhroja) sebagai outcome berpuasa Ramadhan.

 

Syahrul Juud Wal Quran

Bulan Ramadhan disamping Bulan Puasa (berlapang hati) Juga disebut Syahrul Juud (kasih sayang) kanannabiyu Ajuuda fi Ramadlan) bahwa Nabi sangat sayang pada bulan Ramadhan kepada sesamanya.

Ternyata Al-Quran menganjurkan kepada umatnya untuk menjaga jalinan harmonitas sosial

Di dalam Al-Quran terdapat ayat-ayat yang terkadung maksud agar menjaga hubungan baik dengan menyampaikan pesan yang menyejukkan (assalam arrahmah) seperti lafadz Al-Quran dalam Al-Imran 159 : qoulan afwan, qoulan istighfaron, dan dilain tempat disebutkan qaulan layyinan, qoulan kariman, qoulan ma’rufan, qoulan sadidan, qolantsaqilan, qoulan balighon, dan lainnya. Dengan demikian ungkapan-ungkapan yang timbul dari hati yang sehat (qolbun saliim), menjadi identitas muslim yang shoimiin. Bahkan hal itu juga dilakukan kepada orang-orang yang jahil, seperti dlm surat Al-Furqon 63.

Waibadurrahmani yamsuna fil Ardhi Haunan, waidza khotobahumul jahiluna qooluu salama (hamba-hamba Allah yang penyayang itu bilamana berjalan di muka bumi dengan rendah hati, dalam bilamana orang jahil menyapanya maka dibalasnya dengan kalimat yang tidak menyakitkan.

 

Berdasrkan Al-Furqon 63 tadi dapat difahami bahwa mukminat yang perfect adalah orang yang (1) ketika mengarungi balantika kehidupan yang beraneka ragam kelakuan manusia, maka dia dapat melakukan tindakan yang tepat (haunan) termasuk didalamnya membalas pesanny dengan muayyanan tepat/tegs/jitu. Yaitu mambalasnya denan SALAMAN, dalam ibnu kasir dijelaskn kata jawban salaman adalah jawaban seperlunya, wala yusrifu wala yaqturu bahasa gaulnya to the point dan dibarengi pointnya mengandung power, tidak berbahasa  yang membuang-buang pulsa, tapi bila terus berbalas pantun, maka itu berarti adanya harapan manfaat/bisnis  yang menguntungkan, lanjutkan hingga sampai ke tujuan akhir mendapatkan surga dunia maupun akherat. Semoga manfaat

Ramadlan Mubarok

  Sebuah nama yang populer menjadi ikon bagi umat Islam dunia, terkadang juga dipanggil Ramadhan Karim, memang 2 istilah itu berjodoh, sebagai bulan istimewa karena ada barokah

  Pertanyaannya apa barakah itu, yakni bertambah dan tumbuh, kebaikannya dalam segala sesuatu yang dikerjakan orang yang berpuasa Ramadhan

  Maka mumpung masih awal-awal lakukan langkah-langkah yang tepat dan strategis, sehingga tidak menjadi sia-sia yaitu menjdi keren karena puasnya.

Dalam surat Al-Furqon 63- 70

  1. Ada brainnya 2. Ada mabitnya 3. Sosial efeknya.

  Ketiganya (BMS) menjadi Ramadhan yang beda dibandingkan bulan lainnya dan membawa perubahan tranformatif yang luar bisa, maka dalam suatu hadist Rasullah mendapat kabar langsung dari Malaikat Jibril yang menyatakan, Sungguh terhina orang yang bertemu bulan Ramadhan, tetpi tidak mendapat ampunan lalu Nabi mengamininya.

  Agar kita tidak menjadi orang-orang yang terhina, marilah kita mengupayakan penghapusan dosa-dosa yang telah dilakukan dengan bertasyahud dan beristighfar dan berbuat ihsan. Hal ini sesuai dengan Al-Furqon  70 dan juga dipertegas surat Hud 114.

  Semoga kita tidak termasuk yang disinyalir nabi banyak yang bertemu ramadhan tetapi tidak mendapatkan karim dan berkahnya Ramadhan, kecuali lapar dan dahaga semata-mata

SONY DSC

Bonus Demografi dan peran Islam dalam peningkatan kesejahteraan Masyarakat

  1. Bonus demogafi merupakan kondisi masyarakat usia produktif lebih besar jumlahnya dibandingkan non produktif (0-15 dan usia diatas 64), pada tahun 2020- 2030 penduduk Indonesia 270 juta, dengan non produktif 60 jt.
  2. Kondisi tersebut berdampak positif bila SDM dapat dikelola dengan baik, yaitu terlahirnya generasi yang lratif, inovatif, dan produktif, serta integritas.
  3. Islam merupakan dinul hadlariyah, membawa masyarakat menjadikan asset bagi kemajuan bangsa.
  4. Dalam Islam hidup bukan sekedar eksis, tapi hidup adalah dipersembahkan kepada Yang Maha Hidup, maka aktivitas apapun termasuk aspek ekonomi, hanyalah untuk meninggikan syiar agama, sebagai bentuk pertanggungan jawab kepada Allah Swt, selaku wakil-Nya di muka bumi.
  5. Dalam Islam manusia bukan hanya homo ekonomik yang hanya mengejar kebendaan, tetapi juga homo Religio, maka dengan jumlah penduduk yang banyak dan dibingkai dengan niliai-nilai dasar kebajikan, maka mengelola SDM menemukan momentumnya , sehingga dapat mengelimir dampak negatif adanya bonus demografis tersebut.

Dikisahkan syahdan disebuah negeri ada seorang raja dzolim, yang menggap bahwa kekuasaan yang dipundaknya adalah pulung dari drinya semata, maka diperlakukanlh rakyatnya semena mena, yang melawan dihukum, yang patuh dibikin aman.

 

Hari-harinya hanya melakukan pencitraan, yang tidak lain tipu-menipu, bekingnya adalah tukang sihir yang dibelakangnya tidak lain adalah syaitan, sampai pada suatu saat datang pemuda bernama Gulam yang menganut ajaran Tauhid, maka 70 ribu rakyat bragama tauhid.

Betapa marahnya raja karena rakyat tidak percaya lagi kepada rajanya, kemarahan itulah yang membuat raja semakin represif dengan membuat parit yang besar dan didalam parit dibuat api unggun dari kayu bakar, maka 70 rb rakyatnya dimasukkan kedalam parit. Tersisa seorang wanita dg 4 anaknya, dia menangis dan berbicara kepada anak-anaknya. Dalam keteguhannya sang ibu berdoa agar anak-anaknya selamat. Maka kekuatan tauhidnya dapat mengatasi kesulitan yang sebesar apapun.

 

Qutila ashabul uhdud (Al-Buruj) celakalah pembuat parit (raja yaman), mereka yang menyakiti orang-orang beriman mendapt adzab yang besar, sedang mereka yang kuat imannya tidak takut kepada raja dzolim, pasti diselamatkan.

Disampaikan dalam Semiloka Nasional Kaderisasi Muhammadiyah

Prof. DR. H. Khaerul Wahidin, M.Ag

Sabtu, 26 April 2019 di CH UMC

Khutbah Jumat

Masjid syafii, 26 april 2019

H. Khaerul Wahidin

Marilah kita tingkatn ketqwaan kepada Allah SWT sehingga hidup kita dan kehidupan bangsa kita dapat merasakan berlimpahnya karunia-Nya, seperti yang dijanjikan dalam QS Al-Araf 96. Dalam Tafsir Al-Muyassar kata barakat dimaksudkan sahlan fi thalabil khoer ( dimudahkan Allah untuk meraih  yang terbaik). Taqwa dalam pengertian awam terkandung dimensi ilahiyat dan insaniyyat, maka kesalehan juga ditemukan sebagai kesalehan individual yaitu imtisalu awamirihi wajtinabu nawahihi, sedangkan kesalehan sosial tersimpul pada ahsinul insaniyah ( kemanusiaan)

Pada kesempatan khutbah ini, dibahas nilai-nilai taqwa dalam dimensi sosial / kemanysiaan, berdasrkan QS. Al-Baqoroh 177

Pertama, penuhi janji

Berbuat baik bukanlah sekedar kata-kata, tetapi bukti nyata. Ibnu taimiyah berkata bahwa kebenaran itu bukan angan-angan tetapi realita. Menepati janji-janji menghindari kepalsuan, kebohongan, dan kecurangan kata AlGghozali adalah tipu daya syaitan. Kerena syaitan setiap saat menipu manusia agar menjadi temannya di neraka.

Kedua kesabaran, dijelaskan arti kesabaran dalam QS. Al-Imron 110 dipraktekkan dalam 3 keadaan yaitu

  1. Fil ba’sai yaitu disaat mengalami kesulitan yang luar biasa seperti rasa kekurangan lahir maupun bathin, maka kita tidak hanya berdiam diri untuk melawannya dengan beraktivitas sehingga terhidar dari kekufuran dan kepuasaan.
  2. Addharra yaitu sabar ketika dihadapkan pada penyakit yang menimpa, baik sakit fisik maupun mental. Maka berilah nutrisi terhadap jasmani dan rohani secara.rutin. terkait dengan penyakit hati (qolbun marid), diobati dengan mencri teman, sahabat, guru dan lain-lain yang saling nasehat-menasehati, jika penyakit dibiarkan maka hidup akan sia-sia dan merugi.
  3. Kondisi hiinal baats yaitu dalam perjuangan. Hidup tidak hanya makan dan bersenang-senang (tanaim), tapi berjuang menegakkan keadilan dan kebenaran. Disaat kecurangan dan kedzaliman meraja lela, umat Islam haram berdiam, dan wajib berusaha menghilangkannya. Umat Islam adalah umat yang kuat, gagah dan berani.

 

Sebentar lagi kita akan mamasuki bulan Ramadlan tentunya bulan yang penuh berkah itu tidak hanya diramaikan dengan kesibukan ritual semata, marilah kita tegakkan kesalehan soaial menuju kemenangan umat dan bangsa. Barakallah.

   ALLAHUMMAQFINIHIM BIMA SYI’TA, ya Allah berikan kecukupan bagi diriku dari mereka sebagaimana yang Engkau Kehendaki. Doa untuk mendapat kekuatan IMAN, sebagai saripati surat Al-Buruj.

Dikisahkan syahdan disebuah negri ada seorang raja dzolim, yang menggap bahwa kekuasaan yang dipundaknya adalah pulung dari drinya semata, maka diperlakukanlah rakyatnya semena mena, yang melawan dihukum, yang patuh dibikin aman.

 

Hari-harinya melakukan pencitraan, yang tidak lain tipu menipu, bekingnya adalah tukang sihir yang dibelakangnya tidak lain adalah syaitan, sampai pada suatu saat datang pemuda bernama Gulam yang menganut ajaran Tauhid, maka 70 ribu rakyat beragama tauhid.

Betapa marahnya raja karena rakyat tidak percaya lagi kepada rajanya, kemarahan itulah yang membuat raja semakin represif dengan membuat parit yang besar dan didalam parit dibuat api unggun dari kayu bakar, maka 70 ribu rakyatnya dimasukkan kedalam parit. Tersisa seorang wanita dengan 4 anaknya, dia menangis dan berbicara kepada anak-anaknya. Dalam keteguannya sang ibu berdoa agar anak-anaknya selamat. Maka kekuatan tauhidnya dapat mengatasi kesulitan yang sebesar apapun.

   Qutila ashabul uhdud ( Al-Buruj) celakalah pembuat parit (raja yaman), mereka yang menyakiti orang-orang beriman mendapt adzab yang besar, sedang mereka yang kuat imannya tidak takut kpada raja dzolim, pasti diselamatkn.