Hidup Mencerahkan

  Hidup yang paling indah adalah bercahaya dan cahaya itu menyinari dunia baik siang maupun malam, di kala senang ataupun susah, ia terus memberi manfaat tiada henti, terhadap alam dan manusia sekitarnya (Al-Imran 134)   bila seseorang memiliki hati yang fitri (qolbun salim) pasti memberikan makna terindah bagi hidupnya dan orang lain di akherat maupun di dunia (As-Syaro 89 ), dalam pepatah jawa urip “urup” dalam bahasa sunda “dikawit mani janten manah”, yaitu Allah menciptakan manusia pada mulanya gelap, kemudian Allah melimpahkan cahaya menjadilah hidup terang dan menyala, dari tidak kelihatan ( bahasa Cirebon “peteng” menjadi “murub”).

  Manusia pada awal diciptakn lemah (dho’fin) dalam fisik, akal dan hati, kemudian Allah memberinya kuat (quwwatin), maka cahaya (obor) kehidupan yaitu kuasa, raksa, karsa raga wajib dijaga dengan “ahsanu amala” maka itulah orang yang dapat memelihara kesucian jiwanya, karena itulah mereka menjdi unggul (ngarawuh bagja).

  Dalam konsep negara maju (rice state), masyarakatnya makmur dan sejahatieta, penduknya memiliki akal budi yang sehat (health people), sebaliknya negara jahat (evil country) pasti negri itu dihuni orang-orang jahat (evil people) masyarakat sakit yang berhati sakit dan terlebih bila negara itu hancur dan gagal sebenarnya timbul dari masyarakat yang mati hatinya (qolbun mayyit) dan lahirnya pemimpin di suatu negeri adalah cermin dari kondisi sebenarnya dari masyarakatnya inilah yang dikatakan “assyatibi annasu ala diini mulukihim” (pemimpin adalah gambar dari rakyat)  rakyat yang sehat pasti memilih pemimpinnya yang sehat, rakyat yang gila pasti memilih pemimpin yang gila.

  Tugas setiap warga negara adalah mewujudkan mayarakat yang sehat melalui pendidikan yang unggul yang dapat melahirkan generasi yang kuat, gagah dan berwibawa.

halaaaaallllllllllllllllllllllllll

Menyatukan Niat Dengan Perbuatan

  Berangkat dari surat Al-Baqarah 220, dari segala sesuatu berjodoh menuju angka 0 sebagai simbol keikhlasan, dan bisa juga dibaca dari kanan bermula dari 0 yaitu hati yang tulus kemudian berbuat sebanyak-banyaknya kebaikan di dunia sebagai ladang amal, tempat kediaman temporal, untuk menyelesaikan berbagai persoalan , membangun wasail (bekal) agar sampai kepada Al-Akhir yaitu kebahagiaan otentik bukan yang semu dan bukan yang palsu.

  Tulisan ini menggunakan manhajul fikri (metode / penekanan eksistensialisme, dengan merujuk pada naqli dalam mengoptimalkan kekutan berfikir dengan asumsi bahwa semakin luas pengetahuan seseorang, beragama semakin ringan, seperi dalam kaidah fikih tentang pengamalan rukhshah dan meninggalkan yang azimah bila terdapat masyaqah (kedaruratan yang akut) jika dilaksakan azimah atas pertimbangan akal budi yang sehat.

Dalam pemahaman umum atas surat Al-Baqarahsetidaknya ada beberapa muqobalah berikut

  1. Antara dunia dan akherat
  2. Antara pencampuran harta anak yatim & walinya
  3. Antara maslahat dan mafsadat
  4. Antara taysir dan kharj

  Dalam Islam urusan dunia tidak dapat dipisahkn antara dunia dan akherat, ketika orang mengisi kehidupan dunia dengan segala kemewahannya, Allah mengingatkan ada kemewahan lain yang melebihi kemewahn dunia (Al-Imran 14 ), dan ketika mempersiapkan kehidupan akhirat tidak boleh melupakan dunia (Al-Qoshos 77). Dunia sama sekali tidak boleh diabaikan dengan hanya sekedar mengejar akherat, bahkan dengan menguasai dunia mengejar akherat menjadi ringan dan mudah, dan relatif orang yang menguasai dunia, dapat memungkinkan mendapatkn banyak bonus keutamaan akherat, maka sungguh keliru orang membenci dunia, tetapi juga Allah sngt benci pemuja dunia sampai melupakan akherat, urusan dunia adalah urusan yang sepenuhnya diserahkan kepada kecerdasan akal manusia, maka jika kalah dalam keduniawian penyebabnya pasti karena tidak cerdas, baik intelektualnya maupun kecerdasan sosialnya.

  Keberhasilan dunia dipicu oleh etos Keislaman yang disebut al ghirah addiniyah, cemburu yang bisar yang dipicu ajaran agama, yaitu merasa tidak mau kalah dengan kelompok lain, terlebih spirit dan etos Keislaman sebagaiai khoiru ummatin, yang diperintah menyeru kepada Al-Khaer (tidak hanya baik, tetapi bentuk superlatif / terbaik), semangat inilah mendorong kita kepada kemajuan, dan Idul Fitri sebagai momentum kebangkitan dan kemenangan, pada hari raya kesuciaan intinya umat Muslim berdoa dan saling mendoakan untuk keselamatan mandapatkan rahmat dan keberkahan seperti dalam ucapan salam, kemudian ditambah dengan doa tahniah yaitu semoga cita-citanya dikabulkan dan memperoleh kemenangan, kemudian sebelumnya berdoa ketika melepas Ramadln seperti yang dicontohkan Nabi,  Allahumma la taj’al Ramdlani aakhiran li’ibadati, wa in Ramanii akhiran fi sanatii, waj’al minal marhumiin, wala taj’al mial mahariumiin, ya Allah jangan Engkau jadikan Ramadlan (kemarin) sebagai yang terakhir untuk diriku, jika memang harus yang akhir dari umurku, maka jadikanlah aku orang Engkau kasihi, jangan menjadi orang yang Engkau benci, doa- doa hari kesucian sangat indah, bila dihayati, maka bagaimana doa-doa itu benar-benar menjadi berkemajuan lahir dan bathin (no nomery only but quality/kuantitas sekaligus kualitas) dan jika doa-doa itu memenuhi syarat, maka pasti menjadi kenyataan yaitu menjadi umat yang unggul, dalam surat Al-Baqarah187 , waidza sa’alaka ibadii disitu sampai akhir ayat, maka syarat untuk diberi selamat, ramat, berkah, panjang umur, dan lebih banyak rizqi yang berkuslitas dan unggul dari ayat tersebut ada 2 yaitu

  1. Istijabah memenuhi atau menjawab semua yang dikendaki Allah SWT (merespon qudariah dan iradahnya Allah)
  2. Menghindari banyak konflik, permusuhan, dan toleransi sebagai otentisitas keimanan yaitu memperbanyak usaha-usaha memberdayakan orang yang beruntung dalam hidupnya mereka anak yatim, fakir miskin, dan orang-orang mustadlafin, seperti yang diperintahkan dalam surat Al-Maun dan Al-Balad, dengan berbagai kegiatan yang sekiranya maslahat dan menghadari mudharat dengan kecerdasan sosial manusia. Inilah implementasi 220 Al-Baqarah, mulai dari 0 atau dari 22 menuju 0, pasti Allah meridhaimu. Amin.
df964a04-384b-446d-9e00-85881443391e

Jiwa Memiliki Budi

  Dalam surat As-Syams ayat ke 7 , Allah bersumpah tentang jiwa (An-Nafs) sebagai rangkaian akhir dari 7 sumpah tentang masa dari 7 penjuru peredaran alam semesta, yang intinya pada diri manusia yang sangat perlu diperhatikan mendapat asupan disamping asupan jasmani adalah asupan hati agar menjadi lentara kehidupan sehingga dapat menginspirasi / menerangi kehidupan bagai matahari yang diiringi bulan sebagai sejoli yang tidak pernah lelah, tidak pernah mengeluh dan tidak pernah putus asa siang dan malam agar jiwa/hatinya memiliki akal budi memberi manfaat untuk dirinya dan sekitarnya.

  Dalam sebuah syair memelihara hati yang berakal budi membawa   semangat / spirit serta gairah hidup yang terus menyala membara bagai api abadi yang tiada pernah redup dan padam sepanjang usia manusia, syair itu ditulis syauqi bey “ikhfadz linafsika dzikraha, faidza fzikraka faumrukassan” jaga mata hatimu sehingga ada yang merindukanmu, jika sudah ada orang rindu padamu, maka mendapatkan umur kedua, yaitu umurmu dan umur yang merindukanmu, Itulah umur abadimu.

  Kerinduan yang hakiki pada seseorang ditimbulkan perasaan positif karena akal budi yang menghasilkan pikiran, karya, jasa yang tak terhingga yang membuat manusia menemukan jalan kehidupan yang baik, contohnya Nabi Muhammad dirindukan ummatnya karena jasa-jasanya. Umurnya hanya 63 tahun, tapi umur keduanya lebih dari 1400 tahun. Para tokoh intelektual pendidikan mengalmi proses pembelajaran berbasis interaksi jiwa dengan akal budi. Yang dalam metode pendidikan Islam disebut al asyirh fi manhaji tarbiyatul Islam, kesepuluh manhaj itu meliputi , attajamu, assabat, attadhahi, al fahmu, atta’ ah, al jamaah, al ukhuwah, al jihad, attarahum dan attaisir.

  Attajamu (bangga/menyeangi) tugas mengangajar (Al-Imran 14), assabat (taat/disiplin) dalam mengajar (Al-Maidah 10), attadhahi (rela berkorban) guru sebagai pahlawan ( Al-Baqarah 124) alfahmu (emati dan memahami ) kondisi siswa, As-Sajadah 17. Al-Jamaah (solidaritas /  kebersamaan) Ar-Ra’du 11, Al-Ukhuwah (mengghindari konflik) Al-Maidah 48, Al-Jihad (niat mewudkan bangsa yang sejahatera) Al-Hasyr 7, At-Tarahum ( berbasis cinta dan kasih sayang) Al-Hayr 9 dan At-Taisir (Al-Baqarah 286)

93a1506b-16f2-46d5-81bb-b41559c200a1

Nuzulul Qur’an Mahasiswa Pesantren UMC

cd466893-ade9-4609-a960-dff9d6df750e

Rektor UMC, Prof. DR. H. Khaerul Wahidin. M.Ag,

  Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) menyelenggarakan Kajian Islam dengan tema Nuzulul Qur’an, dengan pelaksana pesantren UMC, bekerjasama dengan masyarakat sekitar.

  Kajian Islam tersebut disertai pula dengan pemberian bingkisan dan santunan kepada 50 anak yatim dan mustadafiin.

  Nara sumber dalam kajian ini langsung disampaikan Rektor UMC, Prof. DR. H. Khaerul Wahidin. M.Ag, dan ditutup ceramahnya dengann iftthor jama’i beserta civitas dan masyarakat sekitar.

  Dalam taushiyahnya Rektor menjelaskn ajaran Islam tentang filantropi, sebagai esensi Al-Qur’an. Sebagaimana dalam surat Al-Anbiya 110,/bahwa di utusnya Muhammad dengan Al-Qur’an nya agar manusia meraskan rahmah/kesejahatieraan lahir,batin, jamani, rahani, dunia dan akherat.

  Islam mengecam pemeluknya kenyang dan senang sendiri sementara tetangganya kelaparan. Maka gerakan taawun merupakan misi utama Al-Qur’an.

  Pada sisi lain tergeraknya umat Islam menolong sesamanya timbul dari hati yang jernih, hati manusia yang terkontaminasi oleh sifat-sifat yang madzmumah, akan sulit menjadi sosok filantropi maka sebelum orang mau beraqobah, berjihad dengan hartanya dan melepas yang dicintainya untuk berbagi, harus trlebih dahulu membersihkan hati dari kikir dan dengki, (Al-Hasyr 9 dan 10).

  Filantopi merupakan mofalitas dakwah, karena jika dai mendawahkn Islam, tidak disertai memberi pertolongan, maka dakwahnya tidak menarik, maka dalam surat Al-Dzariat 19, memberi pertolongan kepada sesama, terlebih yang sangat dibutuhkn, menjdi motivasi untuk diterimanya dakwah tersebut.

 

Kajian Ramadhan dalam Acara Baitul Arqom Stkip Dan Stikes Muhammadiyah Kuningan

  Pak. AR. Ketika ditanya tentang apa itu Muhammadiyah , beliu menjawab yaitu Berislam dengan Gagah, Gembira dan Gentle (G3) ketiganya itu tidak akan tercipta kecuali dengan Z yaitu Zakkannafsi Min Ladzzati Assyahawat. Membersihkan jiwa dari tipu daya kenikmatan jasmaniyah yang sesaat.

  Manusia dalam kaitannya dengan duniawiyah dan harta benda digambarkannya , cinta dan tergila-gila (tuhibbunal mala hubban jamma/ Al-Fajr 20, maka membersihkan diri merupakan amal sholeh yang utama, terlebih dibulan Ramadlan (Al-Syam 1-9) setelah 7x bersumpah beru bertitah, yaitu sungguh beruntunglah orang- orang yang membersikan dirinya, dan surat Al-Hasyr 9, disebutkan pula beruntunglah orang-orang yang membersikan jiwanya dari kikir.

  Kikir salah satu contoh saja, tentunya jiwa harus dibersihkan dari sisi-sisi gelap yang negatif dan energi jahat (min radail madzmumah) termasuk sifat benci (Al-Gil),/Al-hqad / dendam, bakhil, hasad, putus asa, keluh kesah, pengecut, curang, ghibah, namimah, hoaks dan sebagainya.

  Berislam yang gagah adalah memberi, berupa sesuatu yang didasari semngat Tawaun, Tanwir, Ihsanul Insaniyah. Dan sesungguhnya karakter banga ini lebih mencintai kegotong-royongan dari pada individualis, gaduh lagi konflik. Maka Islam yang damai , selamat serta berkemajuan menjdi cita- cita Bermuhammadiyah.

  Strategi dakwah / dalam mengajak warga dengan cara yang sekiranya sampai kepada yang dicita-citakan yaitu atthoriqah alladzi yuashilu ila mardlatillah.

  Sebagai organisasi dakwah, maka cara yang ditempunya atau yang diikhtiarkannya adalah dengan cara bil hikmah, (Ud’u Ila Sabili Rabbika Bil Hikmah).

  Kita tentu ingat betapa doa Nabi SAW, untuk pamannya Abu Tholib, orang yang melindungi dari kejahatan kaafir arab jahiliyyah, namun apa dikata Allah mengingatkan dalam surat Al-Qoshos 56, bahwa ketulusan menerima dienul Islam adalah berkat rahmat dan hidayah Allah semata, tidak dapat diinterpretasi oleh apapun juga.

  Kita pun ingat betapa Nabi Nuh As, berhasrat agar keluarganya mengikuti dakwahnya (Hud 46) dengan kalimat hai Nuh kamu jangan berharap tentang sesuatu yang bukan kewenanganmu. Memang hal itu tragis dan menyedihkan, namun kita sadar bahwa mengajak manusia kejalan Allah hanyalah ikhtiar untuk sampai kpd RidhoNya.

  Yang paling penting berdakwah itu tidak menjustic apalagi memfonis atau prejudis, berasumsi dirinya yang benar, yang tidak sependapat denggnya ditakfir, ditabid, ditadllil dan sebagainya, dituduh sebagai garis lembek, ayam sayur  dan sebagainya.

  Sesungguhnya kalau mau jujur dakwah itu memang harus lembut (qoulan layyinan) lihat An-Nahl 25, yaitu bil hikmah. Menurut Al-Jurjani hikmah itu kata-kata yang indah, baik, bersih keluar dari hati dan pikiran yang damai tidak disertai emosional dan kebencian dan tipu daya. Omongan-omongan yang menang sendiri disertai menekan dan menakut-nakuti, mengancam serta memprovokasi terhadap timbulnya fasad.

  Pada saat ini, umat manusia benar-benar dalm bencana, dari perdebatan apalah namanya isinya hanya bermain kata-kata, mengolah lidah dan mulutnya hanya. Untuk berebut harta dan kuasa.

  Nilai yang diajarkan Muhamnadiyah selama ini banyak bekerja sedikit bicara, bila berbicara mengandung inspirasi, tidak hanya bersilat lidah hanya membuat fitnah dan hoaks itulah keadaban publik dan medsos, terlebih para figur moral, tokoh nasional, berhati-hatilah terhadap kata, karena kata akan menjadi nyata dan merendahkan nasib bangsa, bila mulut tidak dikendalikan dengan etika.

  Dalam berita Tempo 3/4/2019 dikabarkan tentang pemain sepak bola Inggris dari club Liverpool yang berasal dari warga negara Mesir, sepak terjangnya sebagai penyerang lini tengah, membawanya pada posisi Super Star Dunia, dimana-mana dielun-elun dengan lagu dan terakan salah we need you, ia bernama Mohamed Salah.

  Tidak hanya hebat dilapangan hijau, tetapi juga hebat di ladang amal demikian kesan pelatihnya, Jurgen Klopp terhadap anak asuhannya.

  Pada setiap kunjungannya ia menjauhkan dari gaya hidup glamour, dari minuman keras, sex bomm, night club, seperti yang di lakukan orang-orang terkenal dari artis dan pejabat, Mohamed Salah tidak hanya paham tentang agamanya tetapi ia konsisten mengamalkannya, maka sporter inggris sendiri kehadiran Salah sebagai gift for God.

  Sikap dan prilkunya itulah yang membawa penggemarnya menyukai permainan bolanya tetapi sekaligus menjadi rool model (teladan hidup), maka sejatinya Salah telah berdakwah melalui prestasi dan reputasinya.

  Bilamana kita simak narasi tentang peran Muhamammdiyah dalam perjuangan keummatan dan kebangsaan dan dirasakan umat dan bangsa melampaui satu abad, adalah konsistensi menegakan khitto-khitah atau landasn berfikir yang digali dari gugus pemikiran para tokoh sejak masa-masa awal dan dipedomi dalam gerak amal usaha, ditengah-tengah situasi yang terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Hal inilah yang wajib difahami dari berbagai ide dan gagasan yang lahir dari pemikiran kolektif dan diputuskan dalam kerja-kerja organisasi.

  Adapun yang peling fondamental adalah Muhammadiyah konsisten sebagi organisasi dakwah dan tajdid, dalam upayanya berkontribusi kepada kemajuan Keislaman dan Keindonesiaan.

Cirebon, 19 Mei2019

SONY DSC

Bonus Demografi dan peran Islam dalam peningkatan kesejahteraan Masyarakat

  1. Bonus demogafi merupakan kondisi masyarakat usia produktif lebih besar jumlahnya dibandingkan non produktif (0-15 dan usia diatas 64), pada tahun 2020- 2030 penduduk Indonesia 270 juta, dengan non produktif 60 jt.
  2. Kondisi tersebut berdampak positif bila SDM dapat dikelola dengan baik, yaitu terlahirnya generasi yang lratif, inovatif, dan produktif, serta integritas.
  3. Islam merupakan dinul hadlariyah, membawa masyarakat menjadikan asset bagi kemajuan bangsa.
  4. Dalam Islam hidup bukan sekedar eksis, tapi hidup adalah dipersembahkan kepada Yang Maha Hidup, maka aktivitas apapun termasuk aspek ekonomi, hanyalah untuk meninggikan syiar agama, sebagai bentuk pertanggungan jawab kepada Allah Swt, selaku wakil-Nya di muka bumi.
  5. Dalam Islam manusia bukan hanya homo ekonomik yang hanya mengejar kebendaan, tetapi juga homo Religio, maka dengan jumlah penduduk yang banyak dan dibingkai dengan niliai-nilai dasar kebajikan, maka mengelola SDM menemukan momentumnya , sehingga dapat mengelimir dampak negatif adanya bonus demografis tersebut.

Dikisahkan syahdan disebuah negeri ada seorang raja dzolim, yang menggap bahwa kekuasaan yang dipundaknya adalah pulung dari drinya semata, maka diperlakukanlh rakyatnya semena mena, yang melawan dihukum, yang patuh dibikin aman.

 

Hari-harinya hanya melakukan pencitraan, yang tidak lain tipu-menipu, bekingnya adalah tukang sihir yang dibelakangnya tidak lain adalah syaitan, sampai pada suatu saat datang pemuda bernama Gulam yang menganut ajaran Tauhid, maka 70 ribu rakyat bragama tauhid.

Betapa marahnya raja karena rakyat tidak percaya lagi kepada rajanya, kemarahan itulah yang membuat raja semakin represif dengan membuat parit yang besar dan didalam parit dibuat api unggun dari kayu bakar, maka 70 rb rakyatnya dimasukkan kedalam parit. Tersisa seorang wanita dg 4 anaknya, dia menangis dan berbicara kepada anak-anaknya. Dalam keteguhannya sang ibu berdoa agar anak-anaknya selamat. Maka kekuatan tauhidnya dapat mengatasi kesulitan yang sebesar apapun.

 

Qutila ashabul uhdud (Al-Buruj) celakalah pembuat parit (raja yaman), mereka yang menyakiti orang-orang beriman mendapt adzab yang besar, sedang mereka yang kuat imannya tidak takut kepada raja dzolim, pasti diselamatkan.

Disampaikan dalam Semiloka Nasional Kaderisasi Muhammadiyah

Prof. DR. H. Khaerul Wahidin, M.Ag

Sabtu, 26 April 2019 di CH UMC

Khutbah Jumat

Masjid syafii, 26 april 2019

H. Khaerul Wahidin

Marilah kita tingkatn ketqwaan kepada Allah SWT sehingga hidup kita dan kehidupan bangsa kita dapat merasakan berlimpahnya karunia-Nya, seperti yang dijanjikan dalam QS Al-Araf 96. Dalam Tafsir Al-Muyassar kata barakat dimaksudkan sahlan fi thalabil khoer ( dimudahkan Allah untuk meraih  yang terbaik). Taqwa dalam pengertian awam terkandung dimensi ilahiyat dan insaniyyat, maka kesalehan juga ditemukan sebagai kesalehan individual yaitu imtisalu awamirihi wajtinabu nawahihi, sedangkan kesalehan sosial tersimpul pada ahsinul insaniyah ( kemanusiaan)

Pada kesempatan khutbah ini, dibahas nilai-nilai taqwa dalam dimensi sosial / kemanysiaan, berdasrkan QS. Al-Baqoroh 177

Pertama, penuhi janji

Berbuat baik bukanlah sekedar kata-kata, tetapi bukti nyata. Ibnu taimiyah berkata bahwa kebenaran itu bukan angan-angan tetapi realita. Menepati janji-janji menghindari kepalsuan, kebohongan, dan kecurangan kata AlGghozali adalah tipu daya syaitan. Kerena syaitan setiap saat menipu manusia agar menjadi temannya di neraka.

Kedua kesabaran, dijelaskan arti kesabaran dalam QS. Al-Imron 110 dipraktekkan dalam 3 keadaan yaitu

  1. Fil ba’sai yaitu disaat mengalami kesulitan yang luar biasa seperti rasa kekurangan lahir maupun bathin, maka kita tidak hanya berdiam diri untuk melawannya dengan beraktivitas sehingga terhidar dari kekufuran dan kepuasaan.
  2. Addharra yaitu sabar ketika dihadapkan pada penyakit yang menimpa, baik sakit fisik maupun mental. Maka berilah nutrisi terhadap jasmani dan rohani secara.rutin. terkait dengan penyakit hati (qolbun marid), diobati dengan mencri teman, sahabat, guru dan lain-lain yang saling nasehat-menasehati, jika penyakit dibiarkan maka hidup akan sia-sia dan merugi.
  3. Kondisi hiinal baats yaitu dalam perjuangan. Hidup tidak hanya makan dan bersenang-senang (tanaim), tapi berjuang menegakkan keadilan dan kebenaran. Disaat kecurangan dan kedzaliman meraja lela, umat Islam haram berdiam, dan wajib berusaha menghilangkannya. Umat Islam adalah umat yang kuat, gagah dan berani.

 

Sebentar lagi kita akan mamasuki bulan Ramadlan tentunya bulan yang penuh berkah itu tidak hanya diramaikan dengan kesibukan ritual semata, marilah kita tegakkan kesalehan soaial menuju kemenangan umat dan bangsa. Barakallah.

   ALLAHUMMAQFINIHIM BIMA SYI’TA, ya Allah berikan kecukupan bagi diriku dari mereka sebagaimana yang Engkau Kehendaki. Doa untuk mendapat kekuatan IMAN, sebagai saripati surat Al-Buruj.

Dikisahkan syahdan disebuah negri ada seorang raja dzolim, yang menggap bahwa kekuasaan yang dipundaknya adalah pulung dari drinya semata, maka diperlakukanlah rakyatnya semena mena, yang melawan dihukum, yang patuh dibikin aman.

 

Hari-harinya melakukan pencitraan, yang tidak lain tipu menipu, bekingnya adalah tukang sihir yang dibelakangnya tidak lain adalah syaitan, sampai pada suatu saat datang pemuda bernama Gulam yang menganut ajaran Tauhid, maka 70 ribu rakyat beragama tauhid.

Betapa marahnya raja karena rakyat tidak percaya lagi kepada rajanya, kemarahan itulah yang membuat raja semakin represif dengan membuat parit yang besar dan didalam parit dibuat api unggun dari kayu bakar, maka 70 ribu rakyatnya dimasukkan kedalam parit. Tersisa seorang wanita dengan 4 anaknya, dia menangis dan berbicara kepada anak-anaknya. Dalam keteguannya sang ibu berdoa agar anak-anaknya selamat. Maka kekuatan tauhidnya dapat mengatasi kesulitan yang sebesar apapun.

   Qutila ashabul uhdud ( Al-Buruj) celakalah pembuat parit (raja yaman), mereka yang menyakiti orang-orang beriman mendapt adzab yang besar, sedang mereka yang kuat imannya tidak takut kpada raja dzolim, pasti diselamatkn.

 

SONY DSC

Posisi Muhammadiyah Dalam Konstalasi Faham Keagamaan ( Islam ) di Indonsia

Pada tahun 1950-an, seorang antropologi dari Canada Meneliti Islam di Jawa, kemudian dibukukan penerbit Pustaka Jakarta, dengan judul Religion of Java, buku ini menjadi bacaan wajib bagi mahasiswa yang melakukan kajian sosiologi/antropologi terutama di UI.

Ciffort Geets peneliti tersebut memetakan idiologi muslim Indonesia pada 3 kategori yaitu, santri, priyayi dan abangan.

Pada ketiga kategori tersebut, terdepan varian-varian yang beragam, dan walau tidak secara keselurahannya, sampai saat ini masih relevan, walaupun disana sini tentunya terdapat corak yang mengalami infiltrasi dan korvergensi bahkan membentuk entitas yang militan.

Faham keagamaan sebai fenomena budaya tidak lain merupakan bluprint yang mempengaruhi sistem kehidupan para penganutnya.

Kategori dan varian-varian tersebut mengejarkan dalam sikap dan prilaku, serta pengelompokan-pengelompokan dalam satuan-satuan tertentu.

Secara garis besar satuan sosial tersebut adalah

  1. Islam puritan ( santri), terdiri Muhammadiyah, dan ormas keagaamaan dalam mainstrem paham wasyatiyah ( modernis )
  2. Islam puritan dalam mainstreem gerakan salafiyah, yang menciptakan kehidupan keagamaan

fondamentalis.

  1. paham keagamaan Islam intrumentalis, dan singkritis yang diwakili oleh kelompok priyayi dan abangan.

Dalam kelompok ketiga ini secara ritual keagamaan relatif ada kesamaan dalam sistem teologinya, bahkan kelompok abangan ini mempatronkan diri kepafa priyayi, maka secara sosial potik , merekapun cenderung sebagai satu entitas.

Sementara itu, kalangan muslim yang merupakan mayoritas diprihatinkan dengan kondisi sebagai berikut.

  1. Masih banyaknya jumlah yang miskin dan bodoh sebagai kegagalan negara mewujudkn cita-cita kebangsaannya, walaupun sudah ada gejala munculnya kelas menengah dari kalangan salaf.
  2. Kuatnya kecenderungan turut klaim dari masing-masing varian.
SONY DSC

Sambutan Rektor Dalam Pebukaan Idiopolitor Se – Jawa Barat

   Islam sebagai Agama terbesar jumlah pemeluknya di Indonesia, telah berabad-abad meresap dalam kultur kebangasaan, dan berinteraksi dengan banyak Idiologi lokal maupun internasional yang sangat beranekaragam, memstikan kedamaian, dan bila terjadi gesekan, disitulah Muslim memberikan solusi untuk meredamnya semata-mata untuk menjaga moral kemanusiaan agar tidak tercabik-cabik oleh segelintir orang yang dirasuki nafsu keduniaan. Itulah sejatinya entitas dinurrahmah wassalamah (Al-Anbiya 107, saba 18)

   Potensi Indonesia untuk membawa bangsa Indonesia menjadi negara termaju di kawasan Asia, bahkan sangat mungkin di tingkat dunia, adalah ada pada denyut jantung dan nafas kehidupan umat Islamnya, jikalau mereka memfungsikan akal-kalbunya sehingga beragama tidak sekedar instrumen memelihara warisan lama dan mengambilnya membabi buta tanpa disertai nalar islami yg berbasis nilai-nilai samawi, itulah sejatinya Islam sebagai dinul aqli

   Pada sisi lain, dalm perspetif sejarah, kesesuaian bergama di bumi indonesia sudah sejak lamanyaitu sejak awal kedatangannya, masa raja-raja Islam, pergerakan umat Islam mengusir kolonialisme, sampai kemerdakaan dan seterusnya mengisi kemerdekaan. Adanya keyakinan yang kuat bahwa Islam yang diamalkan tidak melulu mengandung ajaran dan amalan ukhrowiyah, walupun banyak orang gagal paham tentang Islam, atau pura-pura gagal paham, tidak ada sedikitpun indikasi untuk merusak idealisasi nilai kemanusiaan dengan cara bertindak brutal , karena sesungguhnya Islam yang sebenarnya adalah berada dijalan tengah (dinul wasatiyyah) Al-Baqorah 143

   Keseluruhan narasi tentang dinurrahmah, dinul aqlil hadlaiyah, dinul wasyatiyah sejatinya merupakan idiologi islam warga muhammadiyah sebagaimana yang ada pada pranata sosio relgio Bermuhammadiyah. Seperti yang termasuk dalam AD/ART termasuk mukoddimahnya,  yang muaranya adalah mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, dengan cara aarruju’ ilallah warrasul, terus brinovasi, ( bertajdid), berkepribadian sesuai dengan alakhlak annubwwah, sebagai identitas assholhin yang memiliki kesalehan individual dan sosial.

   Perjuangan mewujudkan masyarakat Islam dalam dinamika sosial politik indonsia, di wujudkan dengan cara-cara kontekstual dan elegan.

   Sisi kecil dari itu, menyongsong ramadhan ini marilah kita bersiap dengan sekuat tenaga agar warga Muhammadiyah mengisinya dengan berjihad melalui peningkatan kesalehan tersebut.

Cirebon,    April 2019

Penulis

Prof. DR. H. Khaerul Wahidin, M.Ag