IMG_20190213_141018

Beragama Yang Mencerahkan Berbasis Tauhid

 

IMG_20190213_135238

Pengajian dalam menyongsong Tanwir 2019 dimaksudkan untuk memberikan spirit dan inspirasi sekaligus meneguhkan komitmen warga Muhammadiyah untuk memiliki energi tauhid dalam menggerakkan faham keagamaan yang moderat (tawassuth) (QS/2, Al-Baqarah : 143).

Dalam semiotika fenomena keagamaan dapat ditafsirkan dalam tiga dimensi penandaan yaitu : 1) makna detonatif, 2) makna konotatif dan 3) makna mitos.

Pemahaman detonative tentang Tanwir dimaksudkan bahwa terjadinya suatu peristiwa penting dalam organisasi Muhammadiyah sebagai forum tertinggi setelah Muktamar. Forum Tanwir sebagai bukti Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia berfikir universal tentang kemajuan bangsa. Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh bangsa itu sendiri (QS/13, Arro’du : 11). Hal ini tercermin dari keyakinan dalam basis tauhid, bahwa seluruh aktivitas dipersembahkan untuk mendapatkan keridlaan Allah SWT (QS/6, Al-An’am : 162).

Sementara itu warga Muhammadiyah diharapkan mengutamakan integritas dalam budaya kerja dan daripadanya memunculkan karakteristik keagamaan warga Muhammadiyah dalam beragama  disertai  dengan sikap-sikap terpuji dalam bingkai tauhidullah. Tegasnya moralitas sebagai hasil dari bertauhid dan beribadah ditunaikan secara konsisten. Itulah sebagai wujud beragama yang mencerahkan

agrehyewr

Penguatan Idiologi Bermuhammadiyah

619b98cb-0223-4e3b-a1ca-c642cd7f99b7

Penutupan pesantren umc gelombang VI Bersama Rektor UMC (Prof. DR. H. Khaerul Wahidin, M.Ag)

               Muhammadiyah merupakan gerakan Keislaman sekaligus Kemanusiaan. Ajaran pokok Islam adalah Tauhid, bila dipahami secara praksis, maka sebagai paham aqidah najiah, maka ketauhidan merupakan basis untuk bekerja karena Allah SWT dan memanfaatkan hasil kerjanya untuk menolong Agama Allah SWT. Kajian ini tercermin dari ayat Al-Qur’an Al-Maidah ; 8 dan surat Asshof ; 10. Maka dalam Islam bekerja mementingkan Integritas

e7f9065b-92de-48e8-a971-93e9d1f963a6

Memelihara Keislaman yang Mencerahkan

Kuliah Subuh

(materi kuliah subuh di Universitas Muhammadiyah Cirebon, bersama santri unggulan./ oleh Rektor, 8/2/2019)

   Islam dianut tanwiriyah dalam berbagai aspek kehidupan manusia, oleh karena itu umat Islam wajib memelihara keislamannya secara syumuliah wa kafaah.
Dalam beraqidah dan ubudiyah berusaha menjadikan jiwa qolbun salim, menyembuhkan qolbun mariid, dan menghidupkan qolbun mayyit, sehingga rumah hati menjadi saliim, Qs. yunus : 25. Dalam naungan hidayah Allah yang dikehendakiNya.

            Dalam penegakan hukum membangun kepastiaan dan keadilan, Qs. Almaidah : 8. Keadilan yang ditegakan secara proposional menjamin ketertiban, seperti yang dilakukan Nabi SAW, merubah masyarakat feodalistik dan permissif menjadi masyarakat yang tertib dan berkesadaran hukum ( yukhrijuhum min adhulumail Faudhi ila nuril hukmi) Membangun ekonomi yang mencerahkan dalam teologi Al-Maun, terciptanya kemakmuran karena umat memiliki kesadaran hidup kolektif dan kolaboratif, Qs Al-Hsyr : 7, sistem ekonomi trikkel down effek diganti dengan sistem gotong royong untuk terjadinya pemerataan.
Politik yang mencerahkan dibangun dengan cinta bangsa , pada kalangan elitnya. Assulthon hubbul wathon, la hubbul maal faqot. Mencerahkan rakyat bukan menyesatkan rakyat. Penguasa yang berkeadilan terhadap rakyatnya di jamin masuk surga barisan pertama, sebaliknya penguasa yang menyesatkan rakyat lebih jahat dari dajjal, Qs .Al-Baqorah : 14, dijelaskan Fakhruddin Arrazi, penguasa penyesat rakyat sebagai sulthonussayathin.
Pencerahan budaya , menjdikan tradisi dan pranata sosial sebagai penyanggah datangnya hidayah, yukhrizum min adzulumatid dlalalah ila nuril huda, yaitu hidup berteman, toleran dan santun. Qs Al-Hujurat 11 – 13.
Dengan demikin hidup dibawah naungan Al-Qur’an merupakan keharusan umat Islam, mewujudkan baldatun thoyyiibatun wa robbun ,ghofur.

 

IMG_3267

Muda Berwirausaha Universitas Muhammadiyah Cirebon Mendidik Interpreneurship

IMG_3275

 

Era teknologi informatika identik dengan kreativitas kalangan muda dari unsur mahasiswa, sejak 2004 Universitas Muhammadiyah Cirebon sudah menggalang aktivitas ekonomi kreatif untuk mengenalkan ekonomi digital dengan menghadirkan Dirjen Pengembangan Pos dan Informatika Bapak Prof. Dr. Ahmad Ramli, kini para mahasiswa UMC telah banyak yang tertarik melakukan bisnis melalui teknologi.

Ayu mahasiswa PGSD telah menjadi pengusaha home industri dengan memanfaatkan  batang pohon pisang menjadi makanan ringan dan pemasarannya  melalui bantuan gadget/smartphone/telepon pintar dengan omset yang mencukupi kebutuhan sehari-harinya dan membayar kuliah sendiri yang dapat meringankan beban orang tuanya.

Demikian pula Emi, mahasiswa Ilmu Komunikasi dengan teknologi informatika ia telah membuka usaha katering dengan keuntungan tiap bulan rata-rata Rp. 5.000.000,- (Lima juta rupiah). Hal ini terungkap ketika seminar pemanfaatan media social dengan cerdas.

UMC juga telah berkolaborasi dengan komunitas wali murid Lab School SD dan TK, melalui parenting telah melakukan dakwah efektif agar mereka mempersiapkan generasi mendatang yang kreatif, inovatif dan produktif.

Banyak ragam dan corak emosi beragama dilihat pada aspek energi, imajinasi dan atensi beragama pada anak usia dini; ada yang terlihat agresif pemisive dan bahkan pasif. Benih-benih ini berpengaruh dalam fase pertumbuhannya sampai mereka menginjak usia dewasa.

Dalam Al-Qur’an (QS. Al-A’raf : 172) dijelaskan bahwa potensi beragama telah ada ketika usia kandungan dalam perut ibu seseorang menginjak usianya ke 4 bulan, maka ketika lahir manusia sudah berkehendak untuk beribadah kepada Tuhan. “Tiap manusia terlahir dalam keadaan “fitrah”, maka orangtuanyalah yang menjadikan anak mengikuti cara-cara beribadah Yahudi atau Nasrani (Hadis).

Hal ini berarti peran orangtua sangat penting atau lebih luas lagi adalah aspek penting yang membentuk faham keagamaan apakah radikal, tradisional atau moderat ditentukan oleh lingkungan dimana mereka tumbuh, berkembang dan berinteraksi.

Sikap moderat dalam beragama menjadi penting dalam konteks mengantarkan anak-anak untuk menjadi dewasa dan prilakunya dikonfirmasi dengan agama, atas dasar  keyakinan dan pengetahuan yang dimilikinya, bahkan beragama karena  motif-motif kesenangan individual yang bersifat duniawiyah.

Memang pertumbuhan keberagamaan anak tidak dapat secara langsung untuk memiliki keyakinan dan pengetahuan yang cukup, tetapi sesuai dengan ritme perkembangan usianya dibawalah keberagamaan dimana anak usia dini dengan konfirmasi hadiah, perasaan aman (tidak dicela temannya), berlanjut hasrat untuk berkepantasan melalui mengikuti aturan-aturan yang ada dan pada akhirnya seiring dengan kematangan psikologisnya, beragama didasarkan pada keyakinan dan pengetahuan sehingga kewajiban-kewajiban agama ditunaikannya sebagai kebutuhan hidupnya.

Peran orangtua sangat penting dalam memberikan bentuk imitasi beragama, karena pada dasarnya anak usia dini mengikuti apa saja yang dilakukan kedua orang tuanya dan gurunya, maka penting pula menginformasikan kepada orangtua dan guru tentang pentingnya uswatun hasanah, dalam prilaku beragama, faham beragama dan keyakinan beragama.

Inti dari keberagamaan adalah harmoni dalam agamis-humanis yaitu tuntutan ke sektor individual dan sosial, kepatuhan ritual dan menghindari dosa sosial, ketika pembiasaan ini dilakukan dan dilanjutkan dengan proses internalisasi dan kristalisasi beragama pada anak, maka terlahirlah sosok islamistis yang moderat dengan melihat ukiran-ukiran keberagamaan secara kamil dan kafah dan menjadikan dengan islamnya itu sebagai rahmatan lil ‘alamin, dan inilah yang disebutnya sebagai orang-orang yang beruntung (QS. 28 : 67) bukan sebaliknya menjadi orang-orang yang rugi (QS. 18 : 103) atau orang-orang yang tertipu (QS. 4 : 142) dan jangan sampai mereka terlahir hanya untuk menjadi orang-orang yang bangkrut (QS. 49 : 11-12).

adsgdsfgsrfaeg

Simulasi Kolaborasi Orangtua dan Guru dalam Menumbuhkan Emosi Keagamaan pada Anak Usia Dini

dsghysrtfsdh

 

Banyak ragam dan corak emosi beragama dilihat pada aspek energi, imajinasi dan atensi beragama pada anak usia dini; ada yang terlihat agresif pemisive dan bahkan pasif. Benih-benih ini berpengaruh dalam fase pertumbuhannya sampai mereka menginjak usia dewasa.

Dalam Al-Qur’an (QS. Al-A’raf : 172) dijelaskan bahwa potensi beragama telah ada ketika usia kandungan dalam perut ibu seseorang menginjak usianya ke 4 bulan, maka ketika lahir manusia sudah berkehendak untuk beribadah kepada Tuhan. “Tiap manusia terlahir dalam keadaan “fitrah”, maka orangtuanyalah yang menjadikan anak mengikuti cara-cara beribadah Yahudi atau Nasrani (Hadis).

Hal ini berarti peran orangtua sangat penting atau lebih luas lagi adalah aspek penting yang membentuk faham keagamaan apakah radikal, tradisional atau moderat ditentukan oleh lingkungan dimana mereka tumbuh, berkembang dan berinteraksi.

Sikap moderat dalam beragama menjadi penting dalam konteks mengantarkan anak-anak untuk menjadi dewasa dan prilakunya dikonfirmasi dengan agama, atas dasar  keyakinan dan pengetahuan yang dimilikinya, bahkan beragama karena  motif-motif kesenangan individual yang bersifat duniawiyah.

Memang pertumbuhan keberagamaan anak tidak dapat secara langsung untuk memiliki keyakinan dan pengetahuan yang cukup, tetapi sesuai dengan ritme perkembangan usianya  dibawalah keberagamaan dimana anak usia dini dengan konfirmasi hadiah, perasaan aman (tidak dicela temannya), berlanjut hasrat untuk berkepantasan melalui mengikuti aturan-aturan yang ada dan pada akhirnya seiring dengan kematangan psikologisnya, beragama didasarkan pada keyakinan dan pengetahuan sehingga kewajiban-kewajiban agama ditunaikannya sebagai kebutuhan hidupnya.

Peran orangtua sangat penting dalam memberikan bentuk imitasi beragama, karena pada dasarnya anak usia dini mengikuti apa saja yang dilakukan kedua orang tuanya dan gurunya, maka penting pula menginformasikan kepada orangtua dan guru tentang pentingnya uswatun hasanah, dalam prilaku beragama, faham beragama dan keyakinan beragama.

Inti dari keberagamaan adalah harmoni dalam agamis-humanis yaitu tuntutan ke sektor individual dan sosial, kepatuhan ritual dan menghindari dosa sosial, ketika pembiasaan ini dilakukan dan dilanjutkan dengan proses internalisasi dan kristalisasi beragama pada anak, maka terlahirlah sosok islamistis yang moderat dengan melihat ukiran-ukiran keberagamaan secara kamil dan kafah dan menjadikan dengan islamnya itu sebagai rahmatan lil ‘alamin, dan inilah yang disebutnya sebagai orang-orang yang beruntung (QS. 28 : 67) bukan sebaliknya menjadi orang-orang yang rugi (QS. 18 : 103) atau orang-orang yang tertipu (QS. 4 : 142) dan jangan sampai mereka terlahir hanya untuk menjadi orang-orang yang bangkrut (QS. 49 : 11-12).

PDFtoJPG.me-1

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru UMC

PDFtoJPG.me-2

 

Kemajuan zaman ditentukan oleh anak zaman yang memiliki peradaban. Universitas Muhammadiyah Cirebon mendidik dengan semangat zaman yang tiada henti mengalami perubahan.

Spirit Universitas Muhammadiyah Cirebon tidak pernah lekang dan lapuk dalam lintas zaman yaitu menganut amanah dengan niat pengabdian namun tetap profesional, sehingga terlihat hasilnya berupa kepercayaan public, untuk studi semakin besar dengan pilihan prodi-prodi unggulan menjadi pilihan.

Perkuliahan di Universitas Muhammadiyah Cirebon menganut 4 pilar utama Learning to know, learnin, to do, learning to be,, learning to life together.

Pembentukan karakter adalah hasil utama agar mahasiswa berilsam dengan benar sesuai semangat dan jiwa Al-Qur’an dan As-Sunah, maka komitmen terhadap Islam sebagai agama kasih sayang (Dinul Rahmah.), agama penuh kedamaian (diunul salamah), agama penuh kemudahan (dinulteaser), agama kemajuan (dinul hadhariyah), agama kerja fisik dan hati (al-mal al jasmaniyah wal qalbiyah), meniscayakan lulusan Universitas Muhammadiyah Cirebon menjadi sarjana yang mampu menghasilkan produk-produk kebajikan dan menebar kemaslahatan bagi umat dan bangsa.

IMG_9692

Universitas Muhammadiyah Cirebon Rencanaka Pembangunan Taman Literasi Muhammadiyah

IMG_20181111_173426_1

Bersama : – DR. H. Haedar Nashir (Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah) – Prof. DR. H. Khaerul Wahidin (Rektor UMC) – Mahasantri UMC

 

Kreativitas dan inovasi di lingkungan Universitas Muhammadiyah Cirebon terus bergulir, tidak hanya dalam pemunculan strategi pembelajaran baru, dan model-model pembelajaran atraktif, seperti memadukan metode tahfidz dengan bahasa Inggris agar mahasiswa meningkat ketrampilan spiritualitas dan akademisnya yang pada ujungnya menjadi model untuk menebar kebaikan bagi kemanusiaan.

Kini Universitas Muhammadiyah Cirebon mengembangkan inovasi baru, mendekatkan masyarakat akademis pra-perguruan tinggi dengan aktualitas dinamika keilmuan mahasiswa dalam sebuah konsep “Taman Literasi Muhammadiyah” sebagai arena wisata edukasi yang dapat menambah energi siswa maupun mahasiswa bereksperimentasi mewujudkan kemajuan bangsa.

Kemajuan bangsa akan dicapai bilamana warganya menguasai literasi data, literasi teknologi informatika dan terutama literasi manusia.

Dengan demikian kemampuan literasi memungkinkan suatu bangsa lebih berperadaban.

IMG_0001

Bersama : Prof. Dr. H. Khaerul Wahidin, M.Ag (Rektor UMC) DR. M Hasbi, M.Pd (Direktud PAUDNI Mendikbud RI)

Mendidik Anak Usia Dini Antara Untuk Berkolaborasi Atau Berkompetisi

2

Semua orang tahu dan semua orang faham bahwa anak adalah amanat dan titipan Allah SWT, sebagai rahmat dan qurota a’yunin bahkan serpihan dari cinta Tuhan dalam diri manusia, makanya anak wajib dididik sesuai dengan kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

Bila melihat alam semesta yang sedemikian indah-menawan serta serasi-harmonis, maka sejatinya yang Tuhan inginkan dalam mendidik anak untuk mampu berkolaborasi.

Pertanyaan  utama yang akan dijawab dalam diskusi ini, sudahkah kita mendidik anak usia dini dengan senyum penuh kasih dan mengajaknya mereka berkolaborasi?.

Mendidik adalah mengubah mainset (otak) yang tiada lain otak manusia itu berisi potensi untuk selalu terbarukan (Neo Cortex) sebagai emosi besar, otak anak kecil sama saja dengan otak dewasa;  ada imajinasi, cita-cita, nilai, moral dan agama. Dalam filsafat agama disebut masyiah (hasrat) dan irodah (daya), tugas guru adalah potensi atau emosi besar itu, supaya aktus dalam bingkai hidayah Tuhan dari sejak dalam kandungan sampai kematian. Itulah sebabnya dalam Islam pendidikan itu dari mulai buaian sampai kematian, yaitu mencapai khusnul khotimah.

Orientasi mendidik ala Indonesia telah terjebak dan berputar-putar dalam lokus administrasi yang berujung pada akreditasi, maka muncullah prilaku-prilaku homo-homoni-lupus yaitu manusia adalah srigala bagi manusia (Thomas Hobes), bukan lagi sebagai homo sapien yaitu manusia bernaluri manusia dalam hal ini untuk bisa bertahan hidup manusia harus berkolaborasi, sementara lupus berhasrat untuk berkompetisi (Darwin).

Maka pemandu arah pendidikan sebenarnya adalah guru, mereka adalah kunci pembuka peradaban. Untuk itu mereka harus dilatih dengan benar, mereka wajib tahu apa namanya habit forming product, dan juga wajib tahu tentang uswatun hasanah dan mengetahui metodologi praktis mendidik anak.

Kalau guru harus berada bersama siswa 8 jam sehari, belumlah cukup untuk mengantarkan karakter kolaboratif jika keberadaan guru seharian itu hanya konten tidak disertai kreatif dan inovatif, dengan begitu pantaslah guru sebagai warosatul anbiya karena meneruskan risalah untuk menyempurnakan akhlak manusia.