IMG-20190420-WA0005

Beragama Dengan Akal Sehat

IMG-20190420-WA0006

Prof. Dr. H. Khaerul Wahidin, M.Ag

   Akal merupakan anugerah Allah SWT yang membawa kepada martabat manusia, bilamana akal tersebut digunakan selaras dengan kehendakNya, bukan akal menurut nafsu kemanusiaan yang cenderung akal-akalan untuk membenarkan  dirinya sendiri dan senang menyalah-nyalahkan  orang lain.

   Ibnu Sina dalam falsafah tentang akal menyatakan bahwa al-Aqlu al-Awwal sebagai penuntun (emanasi) dalam penciptaan alam dan tertibnya alam. Oleh karena akal itu telah dicerahkan dengan tuntunan wahyu Tuhan, yang berisikan tentang kebenaran (al-Haq).

   Para mahasiswa melakukan studi di perguruan tinggi, dilatih akalnya untuk bergerak (al-Aqlu al-Mutaharriqoh) dengan mengikuti hukum-hukum alam (sunnatullah) baik secara causalitas dengan metode deduktif ataupun induktif dan melahirkan narasi yang bersesuaian dengan akal sehat.

   Pandangan al-Qur’an tentang akal sehat terlihat dari pertanyaan yang berulang kali agar akal menjadi pertimbangan dalam melakukan tindakan (seperti afala ta’qilun), dari segi ontologi yang perlu difikirkan adalah tentang manusia dan alam yang sekiranya membawa manfaat bagi kemajuan IPTEK.

   Dengan demikian agama memberikan arah kepada manusia dalam petualangan intelektualnya bagi tercapainya kebenaran dan dalam prakteknya pencarian kebenaran tersebut diawali dengan asumsi atau hipotesa dan dibangunnyalah paradem yang berujung memproduk tentang dalil (teori).

   Proses petualangan intelektual seharusnya dapat mengeluarkan “kegelapan” hipotetik menjadi “kejelasan” dalil  (teori).  Untuk itu diperlukan data dan analisa yang disebutnya dengan metode scientifik.

   Keampuhan mahasiswa sebagai kaum intelektual adalah terletak pada integritas yang disebutnya dalam scientificly sebagai desire for truth (naluri untuk jujur) dan secara pribadi mereka adalah kaum intelektual honesty yaitu orang-orang yang memiliki kejujuran intelektual dan selanjutnya mereka pekerja keras kaum intelektual (courageous) (berani) atau researcher (para peneliti).

   Dalam aplikasi sosiologis para sarjana adalah orang-orang yang mampu memproduk narasi-narasi yang membawa kedamaian di tengah-tengah masyarakat.

Cirebon, 15 April 2019

Penulis

 

IMG_9808

Wisuda XXII Universitas Muhammadiyah Cirebon Menghadirkan Islam Dalam Konteks Millenial

Prof. DR. H. Khaerul Wahidin, M.Ag (Rektor UMC)

Prof. DR. H. Khaerul Wahidin, M.Ag (Rektor UMC)

  Bahwa gerakan Islam berjalan terkadang perlahan tapi pasti, terkadang cepat tapi tetap terkendali yaitu ketika pergerakan berbingkai Al-Qur’an dan Hadits, maka jaminannya adalah menghadirkan sebuah tatanan masyarakat yang tercerahkan dalam lintas zaman dan peradaban.

  Dalam buku yang pernah populer tahun 1966 seorang penulis Barat (Amerika Serikat) yaitu Lotrop Studdar dengan judul The New World of Islam, dan diterjemahkan menjadi Dunia Baru Islam, terdapat frase yang menyatakan bahwa Islam sejak awal kelahirannya merubah dari kehidupan yang gelap gulita menjadi terang benderang. Bagaikan kemerlip lampu cempor dengan cahaya kerlap-kerlip yang terkadang “pet-byar” (antara ada dan tidak ada), menjadi matahari yang menyinari siang dan bulan menerangi malam beserta bintang-bintangnya. Dan tidak hanya itu, juga memanjatkan peradaban ke seantero jagat raya di lima benua dan ke setiap penjuru lorong-lorong kehidupan manusia, karena munculnya para mujahid dakwah dan daripadanya berubahlah kehidupan dari Zero menjadi Hero. Inilah esensi suatu pergerakan yang melekat pada entitas Muhammadiyah.

  Bagi UMC bergerak lambat hal yang difahami sebagai kejumudan. Bergerak radikal juga kurang membawa maslahat, maka garis UMC dalam bergerak adalah tawassuth, dalam pemahaman teks Al-Qur’an tercermin dalam surat Al-Baqarah 143 yang dikaitkan dengan surat Al-Imron : 104.

  Secara kontekstual pergerakan Islam berkemajuan ditopang dengan kecintaan warga UMC dalam berkhidmat secara sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan bukan kepura-puraan bagi sebesar-besarnya kemajuan bangsa, maka Islam moderat (tawassuth) adalah berteman (toleran) dengan semua golongan dan kalangan karena sejatinya Islam tidak menyukai (mencintai) umatnya bercerai-berai, konflik  dan bermusuh-musuhan (QS. Al-Hujurat : 11-12).

  UMC sebagai amal usaha PP Muhammadiyah mesti memulai dengan exallance service, dalam hadits Nabi SAW disebutkan : “Tabassam fainnahu ibadatun minal ibadah”, yaitu tersenyumlah sebagai bagian ibadah, maka ketika senyuman bertebar  berarti menjauhkan kebencian dan tergoda oleh nafsu syaitan dan terlena oleh indahnya dunia. Lebih lanjut Nabi SAW, mengisyaratkan didiklah mahasiswa dengan ilmu yang benar dan hiasilah mereka dengan adab. Ilmu dan adab ternyata dua syarat utama naiknya martabat dan kemuliaan, disisi Allah SWT; sebutan dari adab adalah kecerdasan manusia, sebaliknya ketiadaan adab menyirnakan ilmu secara substantional menebar kesesatan bagi kemanusiaan.

  Menebar ilmu yang sesat (salah) mengakibatkan mahasiswa gagal faham tentang keislaman dan ilmu yang sungguhpun benar, tanpa dibarengi dengan adab, tidak akan mendatangkan  kemuliaan, maka sejatinya mendidik manusia adalah mengembalikan kepada kodrat dan fitrah kemanusiaan secara harmoni dan serasi bukan setara dan sama dalam keragamannya mereka. Laki-laki tidak mesti sama dengan perempuan, inilah fitrah kemanusiaan. Pandangan menyamaratakan manusia adalah faham yang radikal yang tidak cocok dengan filsafat pendidikan Islam.

  Peradaban zaman millenial berbeda dengan zaman kolonial. Manusia yang hidup dalam era millenial lebih suka santai tapi berbobot, mereka lebih suka bersenang-senang tanpa menghilangkan essensi belajar. Disinilah letak managemen budaya akademik dan SDM yang relevan dengan zamannya. Hal ini sesuai dengan ucapan Ali bin Abi Thalib : “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya”.

  Islam itu juga mengajarkan agar tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, maka UMC harus memiliki kampus yang megah dan gagah, UMC wajib berusaha tampil gagah dengan mengembangkan usaha-usaha produktif supaya bisa memberi dan menjaga marwahnya tidak menjadi peminta-minta, maka berdirilah kampus yang megah (menghadirkan surga di dunia), dimanjanya mahasiswa mencari ilmu pengetahuan dan menginginkan keridhaan Tuhan, maka mahasiswa adalah Tholib dan sekaligus murid.

  Nilai-nilai moral Islam, jika diterapkan dalam managemen perguruan tinggi  dan didukung oleh seluruh civitas akademika disertai dengan kemampuan bergerak dan melompat kearah kemajuan meniscayakan perguruan tinggi lebih banyak memberikan manfaatnya untuk bangsa ini.

  Tantangan millenial yang lebih menyukai humanis, atraktif dan efektif sejatinya juga Islam telah memberikan inspirasinya, bukankah Islam lebih suka keragaman daripada satu pilihan, bukankah  Allah juga mencintai dialog dengan hamba-hambaNya daripada memberi instruksi tanpa disertai argumentasi, maka berislamlah, menjadikan masa depan tercerahkan dan menghadirkan kedamaian ruhaniah, para pencari ilmu adalah manusia-manusia yang paling mulia dihadapan Khalik dan makhlukNya, karena cita-cita mereka adalah memberikan sebesar-besarnya kemakmuran bagi bangsa dari mereka adalah Inni Asaluka Ilman Nafian setelah berilmu berbakti kepada Tuhannya dan membahagiakan orang tuannya serta member manfaat bagi sesamanya.

  Semoga Allah memberi tambahan hidayah kepada wisudawan untuk mengamalkan ilmu yang diperoleh dari Universitas Muhammadiyah Cirebon, dan mampu merubah mainsetnya bahwa memberi pekerjaan kepada orang lain lebih baik dari mencari pekerjaan, lulusan Universitas Muhammadiyah Cirebon mudah-mudahan dicari orang untuk bekerja karena soft skill dan hard skill – nya unggul, dan akhirnya reteplah istiqomah dalam beribadah dan beristikhlaf untuk menjadikan Indonesia yang aman, damai dan berkemajuan.

H. Khaerul Wahidin

Materi kuliah subuh, dan 2 materi FGD

sdfsadtfgawdfWFADF

Hari ini kita memasuki bulan Rajab, bulan kemuliaan, Bulan yang menjadi nama telaga di makhsyar, nama terjadinya peristiwa besat , Isra Mi’raj, Nabi SAW.
1. Bulan Haram ( attaubah ; 39 ), mengingatkan waktu, yang menyertai kita, kapanpun dan dimanapun, seiring dengan perjalanan bulan dan matahari yang berjalan mengikuti kehendak ilahi.
2. Mengingatkan akan datangnya suatu hari kebangkitan dan berkumpulnya manusia di padang mahsyar ( Yasin 52)
3. Isra Mi’raj ( Al isra 1 ) kata Mi’raj itu sendiri berarti meningkat, setelah mendatar, meningkatnya keimanan setelah lulus ujian keduniaan ( Al-Insyirah 5 – 6) , ( Al-Ankabut 2 ) mengatasinya dengan sabar dan shalat ( Al-Baqorah 45)

Dengan demikian hidup yang realistis, seraya berharap bahagia dunia akherat, dengan mentalitas yang kuat ( konsisten) , disitu pasti terdapat jalan yang mudah meraih kemulyaan . Amiin.

Rajabiyah dan Imamiyah

Bulan Rajab yang didalamnya terdapat peristiwa Isra Mi’raj, merupakan persiapan menuju kepemimpinan ( Nabi Muhammad ) sebagai pemimpin Negara Madinah, maka di dalamnya terdapat inspirasi terkait dengan imamiah. Setidaknya ada 4 dimensi prioritas seorang imam.

1. Memiliki moralitas yang kuat, sebagai modalitas pemimpin. Disaat perstiwa Isra Miraj terjadi, disebutlah dalam sejarah sebagai ammul hujni, tahun kesedihan dalam kehidupan nabi saw, ketika istrinya dan disusul pamannya. Hal ini menunjukkan ketangguhan mental dalam menghadapi berbagai kesulitan.
2. Perjalanan Isra dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha melewati Yasrib, kota yang menjadi pusat pemerintahan dikemudian hari, seorang pemimpin harus memiliki wawasan tentang obyek yang akan dipimpinnya

3. Miraj merupakan penjelajahan Spiritual dari langit ke langit sampai Sidratul Muntaha, maka seorang leader menyadari, makhluk Tuhan sangat beragam ( Al-Mutanawwiat/sangat bineka), karakternya juga beragam, maka kolaboratif merupakan sikap utama, semua mengayomi dan mencintai, bukan arogansi dan konfrontasi.
4. Prilaku pemimpin adalah akrualisasi shalat dalam kehidupan sehari-hari.

Kita adalah pemimpin dan pemimpin adalah kita, semua manusia ditaqdirkan menjadi pemimpn. Inni jailun fil ardhi khalifah. Semoga terinspirasi dari Rajabiyah menuju Imamiyah yang adil dan memakmurkan.

 

fad86d13-f410-4162-a77b-47f18dad03e6

Membangun Optimisme

dbfe146b-107b-44b0-b742-64f3e661173a

  Menjadi generasi milenial memerlukan ketangguhan Spritual, makhluk Tuhan secra fisik kecil, tetapi energi pasitif yang dimiliki berdaya dahsyat, seperti yang diumpamakan Al-Qur’an kepada lebah , dijelaskan dalam surat An-Nahl 68 – 69.

     Kehidupan lebah tidak mengandalkan semata-mata ototnya dan fisiknya, tetapi jiwa daya juangnya tangguh, dari pagi ia mencri rizqi dibawah naungan hidayah Allah, hidupnya kolaboratif dalam komunitasnya, saling menolong diantara mereka, rizkinya yang dimakan tidak cara brutal dan ugal-ugalan, saling memberi hidup dan menjaga lingkungan bagi keturunannya dan manfaatnya besar bagi sesama makhluk Tuhan. Inilah generasi milenial yang kreatif dan cerdas.

Mengikuti pesantren adalah mempersiapkan masa depan dan menambah ilmu :

MENAMBAH ILMU

Muhammad Chirzin

Islam sangat menekankan kepada Muslim agar giat menuntut ilmu, karena dengan ilmu seseorang akan dapat menunaikan tugas-tugas dengan baik dan benar.

      Apakah kaum musyrik yang lebih beruntung, ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada azab akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, ”Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sungguh, hanya orang-orang yang berakal sehatlah yang dapat menerima pelajaran. (QS 39:9).

      Hai orang-orang yang beriman, jika dikatakan kepadamu berilah tempat dalam pertemuan, berilah tempat, Allah akan memberi tempat yang lapang kepadamu, dan bila dikatakan berdirilah, maka berdirilah. Allah akan mengangkat derajat orang beriman di antara kamu dan mereka yang diberi ilmu. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS 58:11).

  “Siapa yang menghendaki kebaikan dunia, hendaklah dengan ilmu; siapa yang menghendaki kebaikan akhirat hendaklah dengan ilmu; siapa yang menghendaki kebaikan keduanya hendaklah dengan ilmu.” (Nabi Muhammad saw).

    “Siapa yang meninggalkan kampung halamannya untuk mencari ilmu, ia berada di jalan Allah.” (Nabi Muhammad saw).

   Pada suatu hari Shafwan ibn Assal al-Muradi menghadap Nabi saw di masjid dan berkata. “Wahai Rasul, saya datang untuk menuntut ilmu.” Nabi saw menjawab, “Selamat datang, wahai penuntut ilmu! Sungguh, para malaikat turun mendoakan para penuntut ilmu dengan melebarkan sayap-sayapnya, bersama-sama mengelilinginya, sampai mereka mencapai langit pertama, karena cintanya terhadap apa yang dicari orang itu. (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim).

     Seorang muslim hendaklah menjadi pengajar atau penuntut ilmu. Belajar berarti meningkatkan pengetahuan hari demi hari.

“Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS 20:114).

    Para pendahulu kita tak pernah berhenti meningkatkan pengetahuan sampai akhir hayat. Pengetahuan akan berkembang jika dikaji secara aktif. Sebaliknya, akan layu dan mati jika diabaikan dan ditinggalkan.

Pendidikan kalbu tidak kalah penting daripada pendidikan akal.

   Imam ibnu Abdul Barr meriwayatkan bahwa Ibn Abi Ghassan berkata, “Selama kamu menuntut ilmu, kamu berpengetahuan; begitu kamu berhenti, kamu menjadi bodoh.”

Imam Malik berkata, “Tak seorang pun yang berilmu akan berhenti menuntut ilmu.”

   Imam Abu Amr ibn al-A’la ditanya, “Berapa lama waktu yang diperlukan bagi seseorang untuk menuntut ilmu ?” Dia menjawab, “Selama dia hidup.”

    Seseorang bertanya kepada Imam Sufyan ibnu Uyainah, ”Siapakah orang yang paling membutuhkan ilmu pengetahuan?” Jawabnya, “Orang yang paling banyak ilmunya.” “Mengapa?” “Sebab, jika dia membuat kesalahan akibatnya lebih buruk.”

Orang yang menuntut ilmu lebih dekat kepada Allah dan ridha-Nya.

   Yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah mereka yang berpengetahuan. (QS 35:28).

      Rasulullah saw masuk masjid dan menemukan dua kelompok majelis di dalamnya: majelis dzikir, dan majelis ilmu. Rasulullah saw bersabda, “Kedua majelis ini baik, tetapi aku lebih menyenangi salah satu daripada yang lain. Majelis pertama orang-orang yang berdzikir dan memohon kepada Allah; Allah mungkin mengabulkan doa mereka atau menolaknya. Majelis kedua orang-orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya, dan saya sendiri diutus sebagai guru.” Lalu Rasulullah saw duduk di majelis ilmu. (Abdullah ibn Umar ra).

Ilmu itu adalah tenaga
Tanpa ilmu tiada berdaya
Barang siapa rajin membaca
Jendela dunia akan terbuka
Ilmu itu harta abadi
Tak mungkin dapat dicuri
Menuntut ilmu jangan berhenti
Karena ilmuwan berderajat tinggi
Di masa muda malas belajar
Di hari tua hidup terlantar
Menuntut ilmu baru berakhir
Jika nyawa sudah menyingkir.
(Sulaiman Yusuf)

• Dasar kemanusiaan seseorang adalah akalnya; dasar kemuliaannya adalah agamanya; dasar harga dirinya adalah akhlaqnya. (Umar bin Khaththab).

• Kejarlah ilmu, karena dengan ilmu Anda dapat hidup selama-lamanya. Manusia pasti mati, tetapi orang yang berilmu tetap hidup. (Ali bin Abi Thalib).

• Dengan ilmu hidup menjadi mudah; dengan seni hidup menjadi indah; dengan agama hidup menjadi terarah. (A. Mukti Ali).

• Siapa yang rendah hati karena ilmunya, Allah memuliakannya dengannya. Ilmu itu ada tiga jengkal. Siapa yang menguasai satu jengkal akan sombong dan angkuh serta menduga telah berilmu. Siapa yang menguasai dua jengkal ia rendah hati dan mengetahui bahwa ia belum berilmu. Adapun jengkal ketiga hanya Allah sajalah yang mengetahuinya. (Asy-Sya’bi).

• Selayaknya manusia tidak sombong dalam bidang yang dikuasainya, dan tidak pula berpura-pura mampu dalam bidang yang tidak dikuasainya. (Al-Mawardi).

• Membaca itu memperkaya perbendaharaan jiwa, oleh karena itu sangat membahagiakan. (Goethe).

• Hati akan mati bila tak berhasrat kepada ilmu pengetahuan. (Fathul Mausuli).

• Kehebatan daya cipta adalah berkat rajin membaca, hingga kekayaan dan kebahagiaan yang berupa apa pun dapat dicapai oleh manusia yang banyak pengetahuannya. (Bernard Shaw).

• Hanya orang yang halus perasaannya keindahan dan rahasia alam ini dibukakan Tuhan untuknya. Kehidupan adalah kitab yang indah, tetapi tidak bermanfaat bagi orang yang tidak membacanya.

#Menulis untuk mengabdi dan mengabadi.( Tulisan disumbang oleh prof. Muhammad chirzin )

a2b94e4e-b144-4ca1-b6b2-2a3c6f670cbb

Pengembangan Kepribadian Mahasantri Internship UMC

73b6e23f-7efd-4c55-b214-b06472bb15aa

     Salah satu program pesantren mahasiswa UMC adalah pengembangan kepribadian melalui kelas kepribadian. Maksud dan tujuan kegiatan ini adalah menggali dan mengembangkan potensi kepribadian yang dimiliki mahasiswa untuk dapat produktif dan berperan aktif dalam kemajuan masyarakat dan dunia kerja. Kelas kepribadian ini dipimpin oleh salah satu dosen UMC, M Azka Maulana M.Psi,Psikolog. Pendekatan kepribadian yang digunakan untuk menggali kepribadian mahasiswa adalah tipologi DISC. Mahasiswa diajak untuk menilai dirinya sendiri yang nantinya akan ditempatkan ke dalam 4 tipologi kepribadian (D I S C). Setelah itu mahasiswa diajak untuk mendapatkan insight mengenai pekerjaan dan tanggung jawab seperti apa yang cocok bagi karir mereka ke depannya.

929cee3a-1e3d-4a92-8ce5-e22dd0e27fa8

Sosialisasi Pemilu 17 April 2019 (Kerjasama UMC dan RRI Cirebon)

 

78142932-5283-4359-9427-873abdb3168e

 Tanggal 28 Februari UMC menyelenggarakan Sosialisasi Pemilu 2019, didukung mitranya yaitu KPU, RRI, BNI-Syariah, Bukopin, BRI , BRI, Muammalat, BJB, BJB-Syariah dan LSM pegiat demokrasi.

 Dalam sambutannya Rektor UMC, menggambarkan kaitan Negara Maju (baldatun thiyyibatun wa rabbun ghofur) dengan kesadaran warga negara nya yang Cerdas dan Berkedaban.

   Warga masyarat yang baik menentukan terwujudnya yang baik sebagai aksioma dan postulasi yang teruji kebenarannya. Maka janganlah berharap tinggal di good city bila warganya bad cityzenship.

 Penanda warga yang baik adalah mememelihara pranata bernegara dengan kesadaran dan mengupayakan kedaulatan berbangasa dan bernegara serta mencintai dengan segenap hati tanah air dan bangasanya (hubbul wathan minal iman)

    Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dan Anggota Legislatif, menjadi penting karena menentukan arah bernegara dalam kurun lima tahunan, dalam uu Pemilu 2017 yang dijadikan dasar pemilu 2019, ditapkan regulasi penyelenggara, peserta pemilu dan pemilih itu sendiri, dengan segala sangsi atas pelaku pelanggaran.

      Harapan seluruh warga Indonesia adalah terselenggaranya pemilu yang Cerdas dan Berkualitas, Jujur dan Adil yang penting lagi adalah aman dan damai yang memberikan legitimasi kepemimpinan Indonesia yang kuat. Pemimpin yang kuat akan mengantarkan masyarakat yang berkeadilan dan berkesejateraan. Maka tidak boleh golput, mari berpartisipasi yang partisipatif yaitu ikut merencanakan , membiayai, memilih, dan mengevalusi hasilnya. Inilah yang disebut good cityzen. Semoga pemilu ini diridlai Allah SWT.

e7c63899-127a-47ed-b988-d89408c5ea6f

Pelatihan Preceptorship

628a994d-62fa-4fc1-a231-f2fdc1db77ed

       Universitas Muhammadiyah Cirebon menyelnggarakan pelatihan penting bagi Praktisi Kesehatan utamanya keperawatan tanggal 25 – 26 Februari 2019 di Meting Room Universitas Muhammadiyah Cirebon

 

asdfgfd

Memahami Surat An-Nur ayat 35

sdagfsdgsdfg

Rektor bersama Mahasantri Pesantren Internship UMC

  Dalam suasana warga persyarikatan melaksanalan musyawarah Tanwir di bengkulu, ayat tersebut menjadi spirit yg luar biasa, ketika dalam pembukaannya Qori mengumandangan lantunan ayat tersebut dalam kesahduan diiringi getaran qolbu yang syahdu.

   Ayat tersebut dikemas dengan perumpamaan orang yang beriman yang didalam hatinya tertancap dudukan yang kokoh sebagai basis pelita kehidupan, kemudia disambungkan dengan sumbu yg disebut Al-Misbah, suatu pertautan dengan kenabian dalam mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada pencerahan, dibingkai dengan kaca tipis transparan yang memantulkan cahaya bagai bintang-bintang di langit, basis energinya dari minyak zaitun berkualitas super yang memancarkan cahaya pula, sehingga terjadi akumulasi cahaya yang menerangi dunia. Itulah miniatur bangunan serta konstruk jati diri mukmin sejati.

             Mukmin sejati tetbentuk dari 5 jenis adonan 1). Modal Spiritual 2. Modal Sosial 3) Modal Intelektual 4) Modal Biologikal dan 5)Modal Psyikho Behavioral yang secara kasabiyah dilakukan atas daya dan ikhtiar manusia, dengan Rajin Ibadah, Berteman, belajar, Al-Ahwal, Al-Syahsiyah Bil Makruf, dan scara praksis berprilaku ihsan.
Kelima karakter Tanwiriyah tersebut, meniscayakan memperoleh emanasi dalam kehidupan, Dunia, ketika masyakarat, ketika barjah, ketika baats, dan kecermelangan dalam syurga.

               Dalam konteks kebangasaan warga Muslim adalah warga bangsa yang sangat menentukan eksistensi negeri ini, jika Muslim Hati dan Fikirannya Jernih, Ibadahnya Ikhlas, berteman sebagai warga bangsa yang toleran dan merahimi perjalanan kebangsaan tanpa dibarengi fitnah dan kedustaan (hoak), menjdi keluarga besar orang Indonesia yang makruf, dan secara praksis hasratnya berihsan atas dasar cinta dan kemanusiaan, seperti yang pernah dilakukan founding father, bangsa ini, pasti warga bangsa secara bersama-sama dapat membangun surga Indonesia dan meraihnya pula kelak diakherat. Amiin.

17e393d6-47ef-42b1-9c3d-1736290e08ec

Pelatihan Preceptorship bersama Fakultas Ilmu Keshatan & Fakultas Keperawatan

ddf60852-d668-48da-8d56-f57c09f0ded5

Civitas Akademika FIKES UMC & Fakultas Keperawatan Univ Padjadjaran

 

    Program Profesiners merupakan kelanjutan pendidikan sarjana keperawatan. Program profesi t ersebut bertujuan menghasilkan ners yang mempunyai pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam memberikan layanan kesehatan dengan menerapkan prinsip-prinsip keperawatan. Pemberian layanan tersebut mengutamakan keselamatan  diri, klien dan lingkungan dengan mengacu pada sistem pelayanan kesehatan nasional dan menunjukan penampilan profesional yang dibutuhkan oleh pemakai jasa ners profesional.

          Salah  satu  model pembelajaran  untuk meningkatkan kemampuan  peserta didik ners menjadiseorang perawat profesional melalui pendekatan preceptorship. Preceptorshiptelah dikenal sebagai strategiyang sangat pentingdalam meningkatkan kemampuan peserta didik untukmenjadiseorang perawatyang profesional. Melalui model tersebut akan memberikankesempatan pendampingan dan bimbingan kepada peserta didik untuk dapat beradaptasi dengan baik terhadap situasi klinik dan  lingkunganklinik, terjadi transfer pengetahuan, sikap dan keterampilan preceptor kepada precepteenya terkait peran dan tugas seorang perawat,  mendapatkan role model, mendapatkan feedback pembelajaran klinik serta memberikan kesempatan pendelegasian kewenangan secara bertahap kepada peserta didik.

        Pembelajaran klinik preceptorship diharapkan dapat  mengurangi stress situasi klinik, meningkatkan kepercayaan diri peserta didik,  menampilkan prilaku profesional yang diharapkan oleh profesi keperawatan. Kekuatan dari preceptorship adalah mempersiapkan peserta didik untuk menjadi perawat profesional dan melindungi masyarakat dari pelayanan para praktisi pemula yang tidak berpengalaman. Dalamrangka meningkatkan penguasaandalammetode pembelajaranklinik khususnya preceptorship maka AIPNI regional VI bermaksud mengadakan “Pelatihan Preseptor Regional VI” yangakan dilaksanakan padatanggal 25 dan 26 Februari 2019Dalamrangka meningkatkan penguasaan pembelajaran klinik khususnya preceptorship maka AIPNI regiona lVI bermaksud mengadakan“Pelatihan Preceptorship bagi Dosen dan pembimbing klinik di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Cirebon

f84dd802-205b-4d11-8f38-1eeeffabdd4f

Bangun Literasi Media di Era Milinea

 

be60453b-2b54-42be-8b27-abedc1acbd57

Zaman millenea dalam wacana Ronggo wasito disamakan dengan zaman kalabendu atau zaman Edan.  Banyak prilaku yang aneh-aneh, untuk memperoleh keseangan duniawi, sehingga lupa daratan dan lupa lautan.  Namun sebagai ning sing lali, luwih bagja wong eling kalawan waspada.

Memang orang yang mempu meningkatan tingkat “kemekan” bermedia berbeda dengan yang “buta” bermedia. Perbedaan itu terletak pada skill memperoteksi , memiliki daya,jelajah, aksestable, analisis, dan mengunggah pesan selektif dan cerdas. Singkatnya ” Tabayyun” ( QS alhujurat : 6 ). Kemampuan literasi media dapat diraih dengan mengikuti lima dalil-dalil umum sebagaimana difahmi masyarakat.

Pertama menanamkan niat kebajikan, karena media apapun tdk bebas nilai, Kedua, alat media dikonstruk untuk kemaslahatan, tdk untuk menarik perhatian, iseng dan tidak berlandaskan moral (maniak), ketiga , Disertai perasaan kemanusiaan.

Perasaan manusia umumnya sama senang terhadap yang positif dan tidak senang terhasap negatif. Maka bila berbohong hal yang negatif , solusinys tdk memperbanyak pesan bohong (hooks).

Keempat kesadaran atas hukum semesta ( sunnatullah). Kebaikan dibalas dg kebaikan dan kejahatan bertemu dengan pelakunya sendiri dan kelima meningkatkan skill sesuai dengan kebutuhan zamannya. Maka belajar tentang ilmu zaman dan budaya, bererti mempelajari ketrampilan yang benar dan efeknya membawa kemanfaatan untuk kenajuan taraf hidup mayarakatnya.