SONY DSC

Muhammadiyah Dalam Dinamika Politik Pilpres Dan Pileg 2019

  1. Pendahuluan

Bahwa Muhammadiyah tidak hanya telah berkontribusi mewujudkan Indonesia merdeka, melainkan juga mengisi kemerdekaan untuk terwujudnya bangsa yang maju, cerdas dan disegani dunia.

Spirit Islam yang didakwahkan Muhammadiyah adalah Islam Berkemajuan dan untuk menjadi Muslim Hadlariyyah, memerlukan pendidikan yang berkualitas. Coba kita lihat negara-negara yang telah mengalami kemajuan, mereka mendidik  karakter bangsanya dengan kepribadian yang unggul. Maka amal usaha Muhammadiyah sejak awal pendiriannya adalah memberikan pendidikan unggul dan usaha-usaha lainnya. Selama diupayakan Muhammadiyah wajib memenuhi target unggul sehingga dapat mengambil peran kontributif kebangsaan.

Dalam Buku Konstruksi Pemikiran Politik Ki Bagus Hadikusumo (2018 : 236) dalam pandangannya dinyatakan bahwa bangsa Indonesia terbentuk karena hasil perjuangan umat Islam yang tiada mengenal lelah, ajaran Islam adalah sumber pemersatu bangsa dan sebagai pijakan dalam berkehidupan kebangsaan, sungguhpun demikian Islam tetap menjaga toleransi,  tujuh kata dalam rumusan sila pertama telah ditiadakan secara tekstual, akan tetapi umat Islam tidak lantas berhenti berjuang, melainkan terus berusaha menegakkan syariat Islam kultural, melalui usaha di parlemen, penegakkan perintisan syariah dalam berbagai aspeknya dan kenyataannya sekarang dirasakan manfaatnya seperti Ekonomi Syariah, Wisata Syariah dan lain-lain, dan pada akhirnya secara kultural (perlahan tapi pasti) syariat Islam diterima oleh segenap masyarakat Indonesia.

Pertanyaannya adalah bagaimana upaya umat Islam menuju kearah tersebut, apakah cukup hanya dengan melalui amal usaha pendidikan?, serta bagaimana memberi counter terhadap anggota parlemen yang melarang seluruh Perda Syariah diusulkan menjadi RUU untuk menjadi hukum mengikat setelah ditetapkan parlemen. Bagaimana pula kontribusi Muhammadiyah ketika RUU yang akan ditetapkan di parlemen justru bertentangan dengan syariat Islam.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi kerisauan bagi sebagian warga muslim Indonesia, yang memerlukan solusinya. Hal tersebut menjadi mustahil bilamana umat Islam diarahkan menjadi warga bangsa yang mati rasa dan buta terhadap politik.

 

  1. Konsep Politik dalam Islam

Pandangan Ki Bagus Hadikusumo diamini para ulama yang tergabung dalam PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), namun usaha-usaha mewujudkan kekuatan umat Islam Indonesia dalam aspek politik masih belum membuahkan hasil yang maksimal, padahal Allah SWT menegaskan dalam surat al-Anfal : 60 bahwa kekuatan umat (termasuk bidang politik) agar terus-menerus diupayakan, yaitu dengan menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu, memfungsikan otak secara maksimal, memperbanyak skill literasi, kemauan, inisiatif,  semangat, percaya diri, disiplin, menjaga solidaritas yang keseluruhannya merupakan pribadi yang kuat sehingga  dapat mengelola negara dan memajukan bangsa, sebaliknya ketika umat Islam lemah dalam membangun gagasan dan “solusinya”, maka selamanya umat Islam Indonesia akan dimarjinalkan, dibodohi dan dijahati oleh musuh-musuhnya.

Disinilah letak strategis pendidikan terutama menumbuhkan akal sehat dan keberanian mengemukakan kebenaran, jika selama ini hanya berfikir kesenangan dan berebut “duit”, maka selama itu pula umat Islam menjadi bangsa kuli yang mudah dikibuli. Tegasnya ketika Islam instrumental yang brutal dan ugal-ugalan menjadi faham umat, selamanya kemajuan hanya fatamorgana.

 

  1. Bulan Ramadhan sebagai Muhasabah

Allah SWT menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan perenungan sekaligus pergerakan dalam kerangka mempersiapkan masa depan yang lebih baik untuk kepentingan individual (prifat) dan sekaligus kepentingan kebangsaan, secara prifati kita dianjurkan untuk memperbanyak membaca al-Qur’an dan ibadah-ibadah lainnya, karena di bulan inilah pertama kali diturunkan al-Qur’an dengan ayat pertamanya agar umat Islam membaca.

Dalam arti yang lebih luas membaca adalah mengoptimalkan potensi akal  disertai niat yang suci dan bersih, sehingga dapat memproduksi gagasan-gagasan bagi kemaslahatan umat manusia.

Ternyata Ramadhan tidak hanya untuk berdiskusi dan olah fikir, tetapi juga dibangun usaha-usaha dan gerakan-gerakan nyata dalam bentuk program-program yang baik (amal sholeh) serta dilaksanakan program tersebut dengan bersama-sama (berjama’ah) sehingga fungsi eduksi Ramadhan menjadi efektif untuk memperkokoh kekuatan umat Islam dalam mengisi nilai-nilai kebangsaan dalam bingkai NKRI.

 

Cirebon,    April 2019

Penulis

Prof. DR. H. Khaerul Wahidin, M.Ag

IMG-20180310-WA0021

Gagasan Rekonstruksi Aik Pada Program Konsentrasi S2/S Pendidikan Agama Islam Di Perguruan Tinggi Muhammadiyah

  1. Pendahuluan

   Bahwa Mata Kuliah AIK sebagai IKON PTM, disepakati dalam bingkai 4 pilar Perguruan Tinggi Muhamamdiyah, seiring dengan tuntutan kebutuhan Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang rata-rata telah mengalokasikan 8 SKS bahkan lebih pada masing-masing Perguruan Tinggi Muhammadiyah dengan karakteristiknya, sudah tentu memerlukan SDM yang memenuhi kompetensi pendidikan pada perguruan tinggi.

   Pada sisi lain, PTAI pada umumnya juga memiliki program andalan yaitu mengupayakan tiada henti dalam integrasi Keislaman dengan ilmu pengetahuan pada umumnya dan pada sisi kebangsaan diperlukan pandangan-pandangan tentang Islam wasyathiyah yang menjadi subtansi gerakan Muhammadiyah yang mengusung paham Keislaman dan ke Indonesiaan bagi terwujudnya kemaslahatan sebesar-besarnya bagi rakyat dan umat.

  Dengan demikian, dalam kaitan ini tulisan singkat dimaksudkan menjawab, 2 (dua) tema utama bagaimana rekonstruksi AIK dalam relevansinya dengan ilmu dan sekaligus bagi kebangsaan yang menjadi kajian utama konsentrasi AIK pada S2/S3 Perguruan Tinggi Muhammadiyah.

  1. Integrasi AIK dengan IPTEK

  Seperti dimaklumi bersama bahwa Perguruan Tinggi Muhamadiyah identik dan PTN dalam pengembangan IPTEK, ilmu-ilmu yang dikembangkan di PTN juga dikembangkan di Perguruan Tinggi Muhamadiyah, mungkin berbeda terletak pada status penyelenggaraannya yang satu di selenggarakan pemerintah dan satunya diselenggarakan swasta (masyarakat).

  Adanya keragaman dalam kajian keilmuan, maka AIK yang diajarkan kepada para mahasiswa dibahasnya juga islam beragam sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuni mahasiswa.

  Prinsip AIK sejatinya memberikan wawasan tentang Al-Islam sebagai Al-Din yang mengandung nilai-nilai scientific dengan nilai-nilai etika ilmuan dalam berbagai disiplin ilmu, maka filosopi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan sekaligus sejarah intelektual muslim dunia menjadi bahan kajian dalam pengembangan AIK sebagai kontens kurikulum konsentrasi S2/S3 AIK.

  Pada sisi lain, kemajuan mengembangkan AIK dalam perspektif ortodiksi Islam juga unsur penting agar Dosen pengampu AIK mampu mengakses narasi ilmuan dan intelektual muslim dari bahan-bahan berbahasa Arab atau bahasa asing lainnya seperti bahasa Inggris, Persia dan India dan termasuk Mandarin, agar mahasiswa dalam menelusuri naskah-naskah klasik Keislaman dan bahkan aktif menelusurinya melalui rihlah ilmiah.

  Tentu tentatif kontens kurikulum kosentrasi AIK bagi S2/S3 dapat bervariasi, yang paling penting adalah lulusannya dapat mengatasi stagnasi pembelajaran AIK di Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang selama ini terjadi, sehingga Dosen AIK di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dapat mengembangkan literasi komprehenship dalam mewujudkan jati diri dan cita-cita Muhamadiyah sesuai dengan level pembelajaran dan tuntutan zaman dalam lintas peradaban dan mendorong Islam berkemajuan selaras dengan amanat Muktamar 47 Makasar.

  1. Integrasi AIK dengan Kebangsaan

  Identitas AIK adalah Islam sebagai Agama Rahmat bagi sekalian Alam Semesta, maka dari itu pembelajaran AIK mestinya relevan dengan kondisi lokal dimana Islam itu diumat maysarakat pengikutnya, dengan kata lain, AIK mesti dipromosikan dan konteks ke Indonesiaan.

  Narasi tersebut sebagai hal yang lazim karena ketika Islam turun pada masa permulaan dari sejarahnya bukan sebagai ajaran yang terlepas dari budaya masyarakat, artinya Islam tidaklah hadir dalam kehampaan budaya lokalnya.

  Pada sisi lain, konsep-konsep Islam yang diundang Muhammadiyah terus menyelami dinamika seiring dengan pemikiran para pengikutnya, maka pemikiran Islam dari zaman ke zaman terus dicermati oleh para ahli AIK lulusan kosentrasi S2/S3 bidang tersebut, intinya adalah metodologi pembelajaran sebagai sarana informasi itu AIK dikembangkan sedemkian rupa sehingga lulusan konsentrasi ini bukan hanya  mengingat dan menghapal kontens, tetappi memiliki kemampuan tingkat tinggi sebagai peneliti dan pemikir yang mampu memproduksi gagasan-gagasan penting tentang Keislaman dan Kemuhammadiyahan.

  1. Penutup

  Demikian butir-butir gagasan yang sekiranya bermanfaat dalam revitalisasi dan kontekstualisasi pembelajaran AIK di Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang dikembangan melalui S2/S3 dengan konsentrasi AIK.

  Pendapat sederhana ini disusun dalam rangka menyambut gembira Wrokshop konsentrasi AIK S2/S3 di Universitas Muhammadiyah Malang 26-28 April 2019.

  Semoga setiap PTM dapat mengikuti sentakan para dosen utuk berpartisipasi akti sebagai pembelajar sesuai dengan kapasitasnya sehingga AIK sebagai ikon Perguruan Tinggi Muhammadiyah, menjadi mata kuliah yang diminai mahasiswa di seluruh Perguruan Tinggi Muhammadiyah.

Cirebon, 18 April 21018

Penulis

IMG-20190420-WA0005

Beragama Dengan Akal Sehat

IMG-20190420-WA0006

Prof. Dr. H. Khaerul Wahidin, M.Ag

   Akal merupakan anugerah Allah SWT yang membawa kepada martabat manusia, bilamana akal tersebut digunakan selaras dengan kehendakNya, bukan akal menurut nafsu kemanusiaan yang cenderung akal-akalan untuk membenarkan  dirinya sendiri dan senang menyalah-nyalahkan  orang lain.

   Ibnu Sina dalam falsafah tentang akal menyatakan bahwa al-Aqlu al-Awwal sebagai penuntun (emanasi) dalam penciptaan alam dan tertibnya alam. Oleh karena akal itu telah dicerahkan dengan tuntunan wahyu Tuhan, yang berisikan tentang kebenaran (al-Haq).

   Para mahasiswa melakukan studi di perguruan tinggi, dilatih akalnya untuk bergerak (al-Aqlu al-Mutaharriqoh) dengan mengikuti hukum-hukum alam (sunnatullah) baik secara causalitas dengan metode deduktif ataupun induktif dan melahirkan narasi yang bersesuaian dengan akal sehat.

   Pandangan al-Qur’an tentang akal sehat terlihat dari pertanyaan yang berulang kali agar akal menjadi pertimbangan dalam melakukan tindakan (seperti afala ta’qilun), dari segi ontologi yang perlu difikirkan adalah tentang manusia dan alam yang sekiranya membawa manfaat bagi kemajuan IPTEK.

   Dengan demikian agama memberikan arah kepada manusia dalam petualangan intelektualnya bagi tercapainya kebenaran dan dalam prakteknya pencarian kebenaran tersebut diawali dengan asumsi atau hipotesa dan dibangunnyalah paradem yang berujung memproduk tentang dalil (teori).

   Proses petualangan intelektual seharusnya dapat mengeluarkan “kegelapan” hipotetik menjadi “kejelasan” dalil  (teori).  Untuk itu diperlukan data dan analisa yang disebutnya dengan metode scientifik.

   Keampuhan mahasiswa sebagai kaum intelektual adalah terletak pada integritas yang disebutnya dalam scientificly sebagai desire for truth (naluri untuk jujur) dan secara pribadi mereka adalah kaum intelektual honesty yaitu orang-orang yang memiliki kejujuran intelektual dan selanjutnya mereka pekerja keras kaum intelektual (courageous) (berani) atau researcher (para peneliti).

   Dalam aplikasi sosiologis para sarjana adalah orang-orang yang mampu memproduk narasi-narasi yang membawa kedamaian di tengah-tengah masyarakat.

Cirebon, 15 April 2019

Penulis

 

IMG_9808

Wisuda XXII Universitas Muhammadiyah Cirebon Menghadirkan Islam Dalam Konteks Millenial

Prof. DR. H. Khaerul Wahidin, M.Ag (Rektor UMC)

Prof. DR. H. Khaerul Wahidin, M.Ag (Rektor UMC)

  Bahwa gerakan Islam berjalan terkadang perlahan tapi pasti, terkadang cepat tapi tetap terkendali yaitu ketika pergerakan berbingkai Al-Qur’an dan Hadits, maka jaminannya adalah menghadirkan sebuah tatanan masyarakat yang tercerahkan dalam lintas zaman dan peradaban.

  Dalam buku yang pernah populer tahun 1966 seorang penulis Barat (Amerika Serikat) yaitu Lotrop Studdar dengan judul The New World of Islam, dan diterjemahkan menjadi Dunia Baru Islam, terdapat frase yang menyatakan bahwa Islam sejak awal kelahirannya merubah dari kehidupan yang gelap gulita menjadi terang benderang. Bagaikan kemerlip lampu cempor dengan cahaya kerlap-kerlip yang terkadang “pet-byar” (antara ada dan tidak ada), menjadi matahari yang menyinari siang dan bulan menerangi malam beserta bintang-bintangnya. Dan tidak hanya itu, juga memanjatkan peradaban ke seantero jagat raya di lima benua dan ke setiap penjuru lorong-lorong kehidupan manusia, karena munculnya para mujahid dakwah dan daripadanya berubahlah kehidupan dari Zero menjadi Hero. Inilah esensi suatu pergerakan yang melekat pada entitas Muhammadiyah.

  Bagi UMC bergerak lambat hal yang difahami sebagai kejumudan. Bergerak radikal juga kurang membawa maslahat, maka garis UMC dalam bergerak adalah tawassuth, dalam pemahaman teks Al-Qur’an tercermin dalam surat Al-Baqarah 143 yang dikaitkan dengan surat Al-Imron : 104.

  Secara kontekstual pergerakan Islam berkemajuan ditopang dengan kecintaan warga UMC dalam berkhidmat secara sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan bukan kepura-puraan bagi sebesar-besarnya kemajuan bangsa, maka Islam moderat (tawassuth) adalah berteman (toleran) dengan semua golongan dan kalangan karena sejatinya Islam tidak menyukai (mencintai) umatnya bercerai-berai, konflik  dan bermusuh-musuhan (QS. Al-Hujurat : 11-12).

  UMC sebagai amal usaha PP Muhammadiyah mesti memulai dengan exallance service, dalam hadits Nabi SAW disebutkan : “Tabassam fainnahu ibadatun minal ibadah”, yaitu tersenyumlah sebagai bagian ibadah, maka ketika senyuman bertebar  berarti menjauhkan kebencian dan tergoda oleh nafsu syaitan dan terlena oleh indahnya dunia. Lebih lanjut Nabi SAW, mengisyaratkan didiklah mahasiswa dengan ilmu yang benar dan hiasilah mereka dengan adab. Ilmu dan adab ternyata dua syarat utama naiknya martabat dan kemuliaan, disisi Allah SWT; sebutan dari adab adalah kecerdasan manusia, sebaliknya ketiadaan adab menyirnakan ilmu secara substantional menebar kesesatan bagi kemanusiaan.

  Menebar ilmu yang sesat (salah) mengakibatkan mahasiswa gagal faham tentang keislaman dan ilmu yang sungguhpun benar, tanpa dibarengi dengan adab, tidak akan mendatangkan  kemuliaan, maka sejatinya mendidik manusia adalah mengembalikan kepada kodrat dan fitrah kemanusiaan secara harmoni dan serasi bukan setara dan sama dalam keragamannya mereka. Laki-laki tidak mesti sama dengan perempuan, inilah fitrah kemanusiaan. Pandangan menyamaratakan manusia adalah faham yang radikal yang tidak cocok dengan filsafat pendidikan Islam.

  Peradaban zaman millenial berbeda dengan zaman kolonial. Manusia yang hidup dalam era millenial lebih suka santai tapi berbobot, mereka lebih suka bersenang-senang tanpa menghilangkan essensi belajar. Disinilah letak managemen budaya akademik dan SDM yang relevan dengan zamannya. Hal ini sesuai dengan ucapan Ali bin Abi Thalib : “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya”.

  Islam itu juga mengajarkan agar tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, maka UMC harus memiliki kampus yang megah dan gagah, UMC wajib berusaha tampil gagah dengan mengembangkan usaha-usaha produktif supaya bisa memberi dan menjaga marwahnya tidak menjadi peminta-minta, maka berdirilah kampus yang megah (menghadirkan surga di dunia), dimanjanya mahasiswa mencari ilmu pengetahuan dan menginginkan keridhaan Tuhan, maka mahasiswa adalah Tholib dan sekaligus murid.

  Nilai-nilai moral Islam, jika diterapkan dalam managemen perguruan tinggi  dan didukung oleh seluruh civitas akademika disertai dengan kemampuan bergerak dan melompat kearah kemajuan meniscayakan perguruan tinggi lebih banyak memberikan manfaatnya untuk bangsa ini.

  Tantangan millenial yang lebih menyukai humanis, atraktif dan efektif sejatinya juga Islam telah memberikan inspirasinya, bukankah Islam lebih suka keragaman daripada satu pilihan, bukankah  Allah juga mencintai dialog dengan hamba-hambaNya daripada memberi instruksi tanpa disertai argumentasi, maka berislamlah, menjadikan masa depan tercerahkan dan menghadirkan kedamaian ruhaniah, para pencari ilmu adalah manusia-manusia yang paling mulia dihadapan Khalik dan makhlukNya, karena cita-cita mereka adalah memberikan sebesar-besarnya kemakmuran bagi bangsa dari mereka adalah Inni Asaluka Ilman Nafian setelah berilmu berbakti kepada Tuhannya dan membahagiakan orang tuannya serta member manfaat bagi sesamanya.

  Semoga Allah memberi tambahan hidayah kepada wisudawan untuk mengamalkan ilmu yang diperoleh dari Universitas Muhammadiyah Cirebon, dan mampu merubah mainsetnya bahwa memberi pekerjaan kepada orang lain lebih baik dari mencari pekerjaan, lulusan Universitas Muhammadiyah Cirebon mudah-mudahan dicari orang untuk bekerja karena soft skill dan hard skill – nya unggul, dan akhirnya reteplah istiqomah dalam beribadah dan beristikhlaf untuk menjadikan Indonesia yang aman, damai dan berkemajuan.

H. Khaerul Wahidin

Materi kuliah subuh, dan 2 materi FGD

sdfsadtfgawdfWFADF

Hari ini kita memasuki bulan Rajab, bulan kemuliaan, Bulan yang menjadi nama telaga di makhsyar, nama terjadinya peristiwa besat , Isra Mi’raj, Nabi SAW.
1. Bulan Haram ( attaubah ; 39 ), mengingatkan waktu, yang menyertai kita, kapanpun dan dimanapun, seiring dengan perjalanan bulan dan matahari yang berjalan mengikuti kehendak ilahi.
2. Mengingatkan akan datangnya suatu hari kebangkitan dan berkumpulnya manusia di padang mahsyar ( Yasin 52)
3. Isra Mi’raj ( Al isra 1 ) kata Mi’raj itu sendiri berarti meningkat, setelah mendatar, meningkatnya keimanan setelah lulus ujian keduniaan ( Al-Insyirah 5 – 6) , ( Al-Ankabut 2 ) mengatasinya dengan sabar dan shalat ( Al-Baqorah 45)

Dengan demikian hidup yang realistis, seraya berharap bahagia dunia akherat, dengan mentalitas yang kuat ( konsisten) , disitu pasti terdapat jalan yang mudah meraih kemulyaan . Amiin.

Rajabiyah dan Imamiyah

Bulan Rajab yang didalamnya terdapat peristiwa Isra Mi’raj, merupakan persiapan menuju kepemimpinan ( Nabi Muhammad ) sebagai pemimpin Negara Madinah, maka di dalamnya terdapat inspirasi terkait dengan imamiah. Setidaknya ada 4 dimensi prioritas seorang imam.

1. Memiliki moralitas yang kuat, sebagai modalitas pemimpin. Disaat perstiwa Isra Miraj terjadi, disebutlah dalam sejarah sebagai ammul hujni, tahun kesedihan dalam kehidupan nabi saw, ketika istrinya dan disusul pamannya. Hal ini menunjukkan ketangguhan mental dalam menghadapi berbagai kesulitan.
2. Perjalanan Isra dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha melewati Yasrib, kota yang menjadi pusat pemerintahan dikemudian hari, seorang pemimpin harus memiliki wawasan tentang obyek yang akan dipimpinnya

3. Miraj merupakan penjelajahan Spiritual dari langit ke langit sampai Sidratul Muntaha, maka seorang leader menyadari, makhluk Tuhan sangat beragam ( Al-Mutanawwiat/sangat bineka), karakternya juga beragam, maka kolaboratif merupakan sikap utama, semua mengayomi dan mencintai, bukan arogansi dan konfrontasi.
4. Prilaku pemimpin adalah akrualisasi shalat dalam kehidupan sehari-hari.

Kita adalah pemimpin dan pemimpin adalah kita, semua manusia ditaqdirkan menjadi pemimpn. Inni jailun fil ardhi khalifah. Semoga terinspirasi dari Rajabiyah menuju Imamiyah yang adil dan memakmurkan.

 

fad86d13-f410-4162-a77b-47f18dad03e6

Membangun Optimisme

dbfe146b-107b-44b0-b742-64f3e661173a

  Menjadi generasi milenial memerlukan ketangguhan Spritual, makhluk Tuhan secra fisik kecil, tetapi energi pasitif yang dimiliki berdaya dahsyat, seperti yang diumpamakan Al-Qur’an kepada lebah , dijelaskan dalam surat An-Nahl 68 – 69.

     Kehidupan lebah tidak mengandalkan semata-mata ototnya dan fisiknya, tetapi jiwa daya juangnya tangguh, dari pagi ia mencri rizqi dibawah naungan hidayah Allah, hidupnya kolaboratif dalam komunitasnya, saling menolong diantara mereka, rizkinya yang dimakan tidak cara brutal dan ugal-ugalan, saling memberi hidup dan menjaga lingkungan bagi keturunannya dan manfaatnya besar bagi sesama makhluk Tuhan. Inilah generasi milenial yang kreatif dan cerdas.

Mengikuti pesantren adalah mempersiapkan masa depan dan menambah ilmu :

MENAMBAH ILMU

Muhammad Chirzin

Islam sangat menekankan kepada Muslim agar giat menuntut ilmu, karena dengan ilmu seseorang akan dapat menunaikan tugas-tugas dengan baik dan benar.

      Apakah kaum musyrik yang lebih beruntung, ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada azab akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, ”Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sungguh, hanya orang-orang yang berakal sehatlah yang dapat menerima pelajaran. (QS 39:9).

      Hai orang-orang yang beriman, jika dikatakan kepadamu berilah tempat dalam pertemuan, berilah tempat, Allah akan memberi tempat yang lapang kepadamu, dan bila dikatakan berdirilah, maka berdirilah. Allah akan mengangkat derajat orang beriman di antara kamu dan mereka yang diberi ilmu. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS 58:11).

  “Siapa yang menghendaki kebaikan dunia, hendaklah dengan ilmu; siapa yang menghendaki kebaikan akhirat hendaklah dengan ilmu; siapa yang menghendaki kebaikan keduanya hendaklah dengan ilmu.” (Nabi Muhammad saw).

    “Siapa yang meninggalkan kampung halamannya untuk mencari ilmu, ia berada di jalan Allah.” (Nabi Muhammad saw).

   Pada suatu hari Shafwan ibn Assal al-Muradi menghadap Nabi saw di masjid dan berkata. “Wahai Rasul, saya datang untuk menuntut ilmu.” Nabi saw menjawab, “Selamat datang, wahai penuntut ilmu! Sungguh, para malaikat turun mendoakan para penuntut ilmu dengan melebarkan sayap-sayapnya, bersama-sama mengelilinginya, sampai mereka mencapai langit pertama, karena cintanya terhadap apa yang dicari orang itu. (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim).

     Seorang muslim hendaklah menjadi pengajar atau penuntut ilmu. Belajar berarti meningkatkan pengetahuan hari demi hari.

“Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS 20:114).

    Para pendahulu kita tak pernah berhenti meningkatkan pengetahuan sampai akhir hayat. Pengetahuan akan berkembang jika dikaji secara aktif. Sebaliknya, akan layu dan mati jika diabaikan dan ditinggalkan.

Pendidikan kalbu tidak kalah penting daripada pendidikan akal.

   Imam ibnu Abdul Barr meriwayatkan bahwa Ibn Abi Ghassan berkata, “Selama kamu menuntut ilmu, kamu berpengetahuan; begitu kamu berhenti, kamu menjadi bodoh.”

Imam Malik berkata, “Tak seorang pun yang berilmu akan berhenti menuntut ilmu.”

   Imam Abu Amr ibn al-A’la ditanya, “Berapa lama waktu yang diperlukan bagi seseorang untuk menuntut ilmu ?” Dia menjawab, “Selama dia hidup.”

    Seseorang bertanya kepada Imam Sufyan ibnu Uyainah, ”Siapakah orang yang paling membutuhkan ilmu pengetahuan?” Jawabnya, “Orang yang paling banyak ilmunya.” “Mengapa?” “Sebab, jika dia membuat kesalahan akibatnya lebih buruk.”

Orang yang menuntut ilmu lebih dekat kepada Allah dan ridha-Nya.

   Yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah mereka yang berpengetahuan. (QS 35:28).

      Rasulullah saw masuk masjid dan menemukan dua kelompok majelis di dalamnya: majelis dzikir, dan majelis ilmu. Rasulullah saw bersabda, “Kedua majelis ini baik, tetapi aku lebih menyenangi salah satu daripada yang lain. Majelis pertama orang-orang yang berdzikir dan memohon kepada Allah; Allah mungkin mengabulkan doa mereka atau menolaknya. Majelis kedua orang-orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya, dan saya sendiri diutus sebagai guru.” Lalu Rasulullah saw duduk di majelis ilmu. (Abdullah ibn Umar ra).

Ilmu itu adalah tenaga
Tanpa ilmu tiada berdaya
Barang siapa rajin membaca
Jendela dunia akan terbuka
Ilmu itu harta abadi
Tak mungkin dapat dicuri
Menuntut ilmu jangan berhenti
Karena ilmuwan berderajat tinggi
Di masa muda malas belajar
Di hari tua hidup terlantar
Menuntut ilmu baru berakhir
Jika nyawa sudah menyingkir.
(Sulaiman Yusuf)

• Dasar kemanusiaan seseorang adalah akalnya; dasar kemuliaannya adalah agamanya; dasar harga dirinya adalah akhlaqnya. (Umar bin Khaththab).

• Kejarlah ilmu, karena dengan ilmu Anda dapat hidup selama-lamanya. Manusia pasti mati, tetapi orang yang berilmu tetap hidup. (Ali bin Abi Thalib).

• Dengan ilmu hidup menjadi mudah; dengan seni hidup menjadi indah; dengan agama hidup menjadi terarah. (A. Mukti Ali).

• Siapa yang rendah hati karena ilmunya, Allah memuliakannya dengannya. Ilmu itu ada tiga jengkal. Siapa yang menguasai satu jengkal akan sombong dan angkuh serta menduga telah berilmu. Siapa yang menguasai dua jengkal ia rendah hati dan mengetahui bahwa ia belum berilmu. Adapun jengkal ketiga hanya Allah sajalah yang mengetahuinya. (Asy-Sya’bi).

• Selayaknya manusia tidak sombong dalam bidang yang dikuasainya, dan tidak pula berpura-pura mampu dalam bidang yang tidak dikuasainya. (Al-Mawardi).

• Membaca itu memperkaya perbendaharaan jiwa, oleh karena itu sangat membahagiakan. (Goethe).

• Hati akan mati bila tak berhasrat kepada ilmu pengetahuan. (Fathul Mausuli).

• Kehebatan daya cipta adalah berkat rajin membaca, hingga kekayaan dan kebahagiaan yang berupa apa pun dapat dicapai oleh manusia yang banyak pengetahuannya. (Bernard Shaw).

• Hanya orang yang halus perasaannya keindahan dan rahasia alam ini dibukakan Tuhan untuknya. Kehidupan adalah kitab yang indah, tetapi tidak bermanfaat bagi orang yang tidak membacanya.

#Menulis untuk mengabdi dan mengabadi.( Tulisan disumbang oleh prof. Muhammad chirzin )

35125a89-ef71-47ca-b8ff-06ab1874fa01

ISLAM DAN AGRARIA

a5c8808f-9b61-4903-ad9f-0a1cf81cb3f1

UMC Kerjasama dengan Kementrian Agraria lakukan Sosialisasi Reforma Agraria Berbasis Perpres 86 tahun 2018 tentang Reforma Agraria

A. Pendahuluan

      Bahwa Islam merupakan agama sempurna, seperti dikemukakan Al Mawardi, dalam al-Muwafaqot dan kitab Dhuhal Islam, Ahmad Ali, juga dalam buku sprit Islam, syad Amir , ditegaskan sebagai khirasatud din , sekaligus Syiasatuddnya, artinya umat Islam tidak sekedar memperhatikan aspek-aspek ibadah, tetapi juga persoalan muamalat, trmasuk persoalan tanah.

         Berbagai urusan hidup tidak lepas dari hal ihwal pertanahan, efek dari masalah tanah berdampak dengan politik, ekonomi, sosial, budaya dan juga Agama.

Pembahsan ini terkait dengan UUPA no 5 1960 sebagai bagian dari konsep pembaharuan Agraria. Ada 3 aspek penting dalam mengkaji landreform di Indonesia yg akan diuraikan, (1) askar sejarah dan filosofi

(2) prinsip dan teori (3) implementasi dan masalahnya.

B.       Akar sejarah dan filosofi Agraria

       Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduknya Muslim, maka adat yang menjdi pranata kehidupannya bersentuhan dengan pranata Keislaman dalam konteks great tradition. Sebagai konfigurasi menuju terbentuknya sebesar-besarnya kemakmuran bangsa.

        Sejak kemunculanya, Islam sebagai pencerah dari kegelapan manusia. Bermula dari pencerahan teologis, kemudian membongkar tradisi diskriminatif, keadilan hukum, pemerataan ekonomi, sampai memanjatkan peradaban adiluhung ke seantero dunia.

   Maka dapat diasumsikan kehadiran UUPA sejalan dengan praktek pengelolaan yang pernah dilakukan salafussholihin sebagai suatu ikhtiar mewujudkan masyarakat pendukungnya.

           Masyakat dimanapun menghendaki terpeliharanya kemaslahatan dan Isalam meletakkn kemaslahan itu pada 5 ciri utama, yaitu justice, profitable, humanities , spritualities and ordereble yang dingkai dalam filsafat hukum yang disebut Addloruriyah Al-Khomsah.

C.       Implementasi dan problematikanya

        Manusia ditempatkan pada posisi sentral dr perspektif hukum, sebagai subyek hukum dan landrefom sebagai obyeknya, tercapainya fungsi landreform, terletak pada hsrmonisasi, sehingga terhindar dari sikap dan prilaku sebagai berikut;

  1. Keikhlasan untuk menjankan landreform bagi bangsa sehingga terhindar dari sikap koruptif yang merugikan bangsa dan negara. Eksperimentasi landreform mengalami perjalan yang sangat panjang, dari mulai menjadi buruh kolonial, buruh republik sampai sekarang masih menjadi buruh kapitalistik.
  2. Menghindari sikap dzolim, dengan alasan umum ataupun individu, sehingga rakyat kehilangan hak-hak esensialnya sebagai pemilik syah negri
  3. Menghindari sikap tamak dan rakus, karena sikap ini jelas-jelas bertentangan dengan
  4. Menjauhkan prilaku mubazir, supaya menjadi manusia
  5. Menjaukan watak fasik sehingga menjdikan bumi ini tidak hanya subur dan membawa makmur, tapi juga rakyatnya

       Maka sejatinya jika kita manpu menjaga kedaulatan agria dapat mewujukan kedaulatan-kedaulatan lainnya dalam mewujudkan marwah dan jati diri bangsa. Pengalaman-pengalaman pahit masa silam hendaknya menjadi pelajaran jangan sampai terulang di masa kolonial, kita pernah, ibarat kelaparan di lumbung padi, menjadi jongos di negeri sendiri, lebih senang hujan batu di negeri orang, betapan terdapat hujan emas, hidup bagai timun bongkok, adanya sama dengan tidak adanya, karena hanya besar ototnya, bekerja sekuat apapun tidak menemukan bejo, memang urip di zaman edan kude edan, nek ora edan rak kaduman. Tapi sebejo-bejone wong edan luwih bejo wong sing eling.

D.        Kesimpulan

        Dalam teori pertanahan terdapat 3 fungsi yaitu privasi ( komersialisasi/kepentingan profit), fungsi sosial mempertimbangkan kemanusiaan ( people ) dan fungsi Umum ( perintah planet/istikhlaf). Ketiganya dijalankan secara seimbang dan harmonis.

            UUPA no. 5 tahun 1960 sebagai produk founding father NKRI, yang didalamnya berkontribusi tokoh- tokoh bangsa, memikirkan dengan pengaturan hak pertanahan dapat mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, satu tarikan nafas dengan UUD pasal 33 dan akhirnya terwujud sebesar-besarnya kemakmuran bangsa Indonesia.

Cirebon, 08 Maret 2018

Prof. DR.H. Khaerul Wahidin, M.Ag

GB Humaniora dan Peradaban Islam

Kepemilikan Tanah Menjadi Hajat Hidup Manusia

f0ac987d-e5ce-4471-b7ce-834981259b8a

Parenting bersama Lab School UMC

Pentingnya pendidikan keluarga

Keluarga sebagai Madrasatul Ula, Gurunya adalah bapak dan ibu sebagai center unggulan, bagi anak-anaknya sebagai muridnya. Basic kurikulum pendidikan keluarga adalah keteladanan, apa yang diinginkan tahap anak dimata orang tua lakukan saja oleh bapak dan ibunya.

Tidak ada kedudukan paling tinggi kecuali surga

929cee3a-1e3d-4a92-8ce5-e22dd0e27fa8

Sosialisasi Pemilu 17 April 2019 (Kerjasama UMC dan RRI Cirebon)

 

78142932-5283-4359-9427-873abdb3168e

 Tanggal 28 Februari UMC menyelenggarakan Sosialisasi Pemilu 2019, didukung mitranya yaitu KPU, RRI, BNI-Syariah, Bukopin, BRI , BRI, Muammalat, BJB, BJB-Syariah dan LSM pegiat demokrasi.

 Dalam sambutannya Rektor UMC, menggambarkan kaitan Negara Maju (baldatun thiyyibatun wa rabbun ghofur) dengan kesadaran warga negara nya yang Cerdas dan Berkedaban.

   Warga masyarat yang baik menentukan terwujudnya yang baik sebagai aksioma dan postulasi yang teruji kebenarannya. Maka janganlah berharap tinggal di good city bila warganya bad cityzenship.

 Penanda warga yang baik adalah mememelihara pranata bernegara dengan kesadaran dan mengupayakan kedaulatan berbangasa dan bernegara serta mencintai dengan segenap hati tanah air dan bangasanya (hubbul wathan minal iman)

    Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dan Anggota Legislatif, menjadi penting karena menentukan arah bernegara dalam kurun lima tahunan, dalam uu Pemilu 2017 yang dijadikan dasar pemilu 2019, ditapkan regulasi penyelenggara, peserta pemilu dan pemilih itu sendiri, dengan segala sangsi atas pelaku pelanggaran.

      Harapan seluruh warga Indonesia adalah terselenggaranya pemilu yang Cerdas dan Berkualitas, Jujur dan Adil yang penting lagi adalah aman dan damai yang memberikan legitimasi kepemimpinan Indonesia yang kuat. Pemimpin yang kuat akan mengantarkan masyarakat yang berkeadilan dan berkesejateraan. Maka tidak boleh golput, mari berpartisipasi yang partisipatif yaitu ikut merencanakan , membiayai, memilih, dan mengevalusi hasilnya. Inilah yang disebut good cityzen. Semoga pemilu ini diridlai Allah SWT.

e7c63899-127a-47ed-b988-d89408c5ea6f

Pelatihan Preceptorship

628a994d-62fa-4fc1-a231-f2fdc1db77ed

       Universitas Muhammadiyah Cirebon menyelnggarakan pelatihan penting bagi Praktisi Kesehatan utamanya keperawatan tanggal 25 – 26 Februari 2019 di Meting Room Universitas Muhammadiyah Cirebon