929cee3a-1e3d-4a92-8ce5-e22dd0e27fa8

Sosialisasi Pemilu 17 April 2019 (Kerjasama UMC dan RRI Cirebon)

 

78142932-5283-4359-9427-873abdb3168e

 Tanggal 28 Februari UMC menyelenggarakan Sosialisasi Pemilu 2019, didukung mitranya yaitu KPU, RRI, BNI-Syariah, Bukopin, BRI , BRI, Muammalat, BJB, BJB-Syariah dan LSM pegiat demokrasi.

 Dalam sambutannya Rektor UMC, menggambarkan kaitan Negara Maju (baldatun thiyyibatun wa rabbun ghofur) dengan kesadaran warga negara nya yang Cerdas dan Berkedaban.

   Warga masyarat yang baik menentukan terwujudnya yang baik sebagai aksioma dan postulasi yang teruji kebenarannya. Maka janganlah berharap tinggal di good city bila warganya bad cityzenship.

 Penanda warga yang baik adalah mememelihara pranata bernegara dengan kesadaran dan mengupayakan kedaulatan berbangasa dan bernegara serta mencintai dengan segenap hati tanah air dan bangasanya (hubbul wathan minal iman)

    Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dan Anggota Legislatif, menjadi penting karena menentukan arah bernegara dalam kurun lima tahunan, dalam uu Pemilu 2017 yang dijadikan dasar pemilu 2019, ditapkan regulasi penyelenggara, peserta pemilu dan pemilih itu sendiri, dengan segala sangsi atas pelaku pelanggaran.

      Harapan seluruh warga Indonesia adalah terselenggaranya pemilu yang Cerdas dan Berkualitas, Jujur dan Adil yang penting lagi adalah aman dan damai yang memberikan legitimasi kepemimpinan Indonesia yang kuat. Pemimpin yang kuat akan mengantarkan masyarakat yang berkeadilan dan berkesejateraan. Maka tidak boleh golput, mari berpartisipasi yang partisipatif yaitu ikut merencanakan , membiayai, memilih, dan mengevalusi hasilnya. Inilah yang disebut good cityzen. Semoga pemilu ini diridlai Allah SWT.

e7c63899-127a-47ed-b988-d89408c5ea6f

Pelatihan Preceptorship

628a994d-62fa-4fc1-a231-f2fdc1db77ed

       Universitas Muhammadiyah Cirebon menyelnggarakan pelatihan penting bagi Praktisi Kesehatan utamanya keperawatan tanggal 25 – 26 Februari 2019 di Meting Room Universitas Muhammadiyah Cirebon

 

asdfgfd

Memahami Surat An-Nur ayat 35

sdagfsdgsdfg

Rektor bersama Mahasantri Pesantren Internship UMC

  Dalam suasana warga persyarikatan melaksanalan musyawarah Tanwir di bengkulu, ayat tersebut menjadi spirit yg luar biasa, ketika dalam pembukaannya Qori mengumandangan lantunan ayat tersebut dalam kesahduan diiringi getaran qolbu yang syahdu.

   Ayat tersebut dikemas dengan perumpamaan orang yang beriman yang didalam hatinya tertancap dudukan yang kokoh sebagai basis pelita kehidupan, kemudia disambungkan dengan sumbu yg disebut Al-Misbah, suatu pertautan dengan kenabian dalam mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada pencerahan, dibingkai dengan kaca tipis transparan yang memantulkan cahaya bagai bintang-bintang di langit, basis energinya dari minyak zaitun berkualitas super yang memancarkan cahaya pula, sehingga terjadi akumulasi cahaya yang menerangi dunia. Itulah miniatur bangunan serta konstruk jati diri mukmin sejati.

             Mukmin sejati tetbentuk dari 5 jenis adonan 1). Modal Spiritual 2. Modal Sosial 3) Modal Intelektual 4) Modal Biologikal dan 5)Modal Psyikho Behavioral yang secara kasabiyah dilakukan atas daya dan ikhtiar manusia, dengan Rajin Ibadah, Berteman, belajar, Al-Ahwal, Al-Syahsiyah Bil Makruf, dan scara praksis berprilaku ihsan.
Kelima karakter Tanwiriyah tersebut, meniscayakan memperoleh emanasi dalam kehidupan, Dunia, ketika masyakarat, ketika barjah, ketika baats, dan kecermelangan dalam syurga.

               Dalam konteks kebangasaan warga Muslim adalah warga bangsa yang sangat menentukan eksistensi negeri ini, jika Muslim Hati dan Fikirannya Jernih, Ibadahnya Ikhlas, berteman sebagai warga bangsa yang toleran dan merahimi perjalanan kebangsaan tanpa dibarengi fitnah dan kedustaan (hoak), menjdi keluarga besar orang Indonesia yang makruf, dan secara praksis hasratnya berihsan atas dasar cinta dan kemanusiaan, seperti yang pernah dilakukan founding father, bangsa ini, pasti warga bangsa secara bersama-sama dapat membangun surga Indonesia dan meraihnya pula kelak diakherat. Amiin.

f84dd802-205b-4d11-8f38-1eeeffabdd4f

Bangun Literasi Media di Era Milinea

 

be60453b-2b54-42be-8b27-abedc1acbd57

Zaman millenea dalam wacana Ronggo wasito disamakan dengan zaman kalabendu atau zaman Edan.  Banyak prilaku yang aneh-aneh, untuk memperoleh keseangan duniawi, sehingga lupa daratan dan lupa lautan.  Namun sebagai ning sing lali, luwih bagja wong eling kalawan waspada.

Memang orang yang mempu meningkatan tingkat “kemekan” bermedia berbeda dengan yang “buta” bermedia. Perbedaan itu terletak pada skill memperoteksi , memiliki daya,jelajah, aksestable, analisis, dan mengunggah pesan selektif dan cerdas. Singkatnya ” Tabayyun” ( QS alhujurat : 6 ). Kemampuan literasi media dapat diraih dengan mengikuti lima dalil-dalil umum sebagaimana difahmi masyarakat.

Pertama menanamkan niat kebajikan, karena media apapun tdk bebas nilai, Kedua, alat media dikonstruk untuk kemaslahatan, tdk untuk menarik perhatian, iseng dan tidak berlandaskan moral (maniak), ketiga , Disertai perasaan kemanusiaan.

Perasaan manusia umumnya sama senang terhadap yang positif dan tidak senang terhasap negatif. Maka bila berbohong hal yang negatif , solusinys tdk memperbanyak pesan bohong (hooks).

Keempat kesadaran atas hukum semesta ( sunnatullah). Kebaikan dibalas dg kebaikan dan kejahatan bertemu dengan pelakunya sendiri dan kelima meningkatkan skill sesuai dengan kebutuhan zamannya. Maka belajar tentang ilmu zaman dan budaya, bererti mempelajari ketrampilan yang benar dan efeknya membawa kemanfaatan untuk kenajuan taraf hidup mayarakatnya.

IMG_20190213_141018

Beragama Yang Mencerahkan Berbasis Tauhid

 

IMG_20190213_135238

Pengajian dalam menyongsong Tanwir 2019 dimaksudkan untuk memberikan spirit dan inspirasi sekaligus meneguhkan komitmen warga Muhammadiyah untuk memiliki energi tauhid dalam menggerakkan faham keagamaan yang moderat (tawassuth) (QS/2, Al-Baqarah : 143).

Dalam semiotika fenomena keagamaan dapat ditafsirkan dalam tiga dimensi penandaan yaitu : 1) makna detonatif, 2) makna konotatif dan 3) makna mitos.

Pemahaman detonative tentang Tanwir dimaksudkan bahwa terjadinya suatu peristiwa penting dalam organisasi Muhammadiyah sebagai forum tertinggi setelah Muktamar. Forum Tanwir sebagai bukti Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia berfikir universal tentang kemajuan bangsa. Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh bangsa itu sendiri (QS/13, Arro’du : 11). Hal ini tercermin dari keyakinan dalam basis tauhid, bahwa seluruh aktivitas dipersembahkan untuk mendapatkan keridlaan Allah SWT (QS/6, Al-An’am : 162).

Sementara itu warga Muhammadiyah diharapkan mengutamakan integritas dalam budaya kerja dan daripadanya memunculkan karakteristik keagamaan warga Muhammadiyah dalam beragama  disertai  dengan sikap-sikap terpuji dalam bingkai tauhidullah. Tegasnya moralitas sebagai hasil dari bertauhid dan beribadah ditunaikan secara konsisten. Itulah sebagai wujud beragama yang mencerahkan

agrehyewr

Penguatan Idiologi Bermuhammadiyah

619b98cb-0223-4e3b-a1ca-c642cd7f99b7

Penutupan pesantren umc gelombang VI Bersama Rektor UMC (Prof. DR. H. Khaerul Wahidin, M.Ag)

               Muhammadiyah merupakan gerakan Keislaman sekaligus Kemanusiaan. Ajaran pokok Islam adalah Tauhid, bila dipahami secara praksis, maka sebagai paham aqidah najiah, maka ketauhidan merupakan basis untuk bekerja karena Allah SWT dan memanfaatkan hasil kerjanya untuk menolong Agama Allah SWT. Kajian ini tercermin dari ayat Al-Qur’an Al-Maidah ; 8 dan surat Asshof ; 10. Maka dalam Islam bekerja mementingkan Integritas

81aefeb6-7e89-44cf-92de-8f77525f05b9

Silaturahim bersama Tokoh Masyarakat Cirebon

Silaturahmi informal Rektor UMC bersama Sultan Sepuh Kesepuhan Pangeran Arief Natadiningrat dan PJ. Bupati Cirebon, H. Dicky Saromi dan Sesepuh Kabupaten Cirbon KH. Usamah Mansyur di Masjid sang Ciptarasa, dibahas di dalamnya beberapa aspek mewujudkan gerakan Cirebon Katon yang identik artinya dengan Cirebon mencerahkn, dan Cirebon Murub. Yang tidak lain menggali potensi Cirebon agar berkemajuan.

e7f9065b-92de-48e8-a971-93e9d1f963a6

Memelihara Keislaman yang Mencerahkan

Kuliah Subuh

(materi kuliah subuh di Universitas Muhammadiyah Cirebon, bersama santri unggulan./ oleh Rektor, 8/2/2019)

   Islam dianut tanwiriyah dalam berbagai aspek kehidupan manusia, oleh karena itu umat Islam wajib memelihara keislamannya secara syumuliah wa kafaah.
Dalam beraqidah dan ubudiyah berusaha menjadikan jiwa qolbun salim, menyembuhkan qolbun mariid, dan menghidupkan qolbun mayyit, sehingga rumah hati menjadi saliim, Qs. yunus : 25. Dalam naungan hidayah Allah yang dikehendakiNya.

            Dalam penegakan hukum membangun kepastiaan dan keadilan, Qs. Almaidah : 8. Keadilan yang ditegakan secara proposional menjamin ketertiban, seperti yang dilakukan Nabi SAW, merubah masyarakat feodalistik dan permissif menjadi masyarakat yang tertib dan berkesadaran hukum ( yukhrijuhum min adhulumail Faudhi ila nuril hukmi) Membangun ekonomi yang mencerahkan dalam teologi Al-Maun, terciptanya kemakmuran karena umat memiliki kesadaran hidup kolektif dan kolaboratif, Qs Al-Hsyr : 7, sistem ekonomi trikkel down effek diganti dengan sistem gotong royong untuk terjadinya pemerataan.
Politik yang mencerahkan dibangun dengan cinta bangsa , pada kalangan elitnya. Assulthon hubbul wathon, la hubbul maal faqot. Mencerahkan rakyat bukan menyesatkan rakyat. Penguasa yang berkeadilan terhadap rakyatnya di jamin masuk surga barisan pertama, sebaliknya penguasa yang menyesatkan rakyat lebih jahat dari dajjal, Qs .Al-Baqorah : 14, dijelaskan Fakhruddin Arrazi, penguasa penyesat rakyat sebagai sulthonussayathin.
Pencerahan budaya , menjdikan tradisi dan pranata sosial sebagai penyanggah datangnya hidayah, yukhrizum min adzulumatid dlalalah ila nuril huda, yaitu hidup berteman, toleran dan santun. Qs Al-Hujurat 11 – 13.
Dengan demikin hidup dibawah naungan Al-Qur’an merupakan keharusan umat Islam, mewujudkan baldatun thoyyiibatun wa robbun ,ghofur.

 

IMG_3267

Muda Berwirausaha Universitas Muhammadiyah Cirebon Mendidik Interpreneurship

IMG_3275

 

Era teknologi informatika identik dengan kreativitas kalangan muda dari unsur mahasiswa, sejak 2004 Universitas Muhammadiyah Cirebon sudah menggalang aktivitas ekonomi kreatif untuk mengenalkan ekonomi digital dengan menghadirkan Dirjen Pengembangan Pos dan Informatika Bapak Prof. Dr. Ahmad Ramli, kini para mahasiswa UMC telah banyak yang tertarik melakukan bisnis melalui teknologi.

Ayu mahasiswa PGSD telah menjadi pengusaha home industri dengan memanfaatkan  batang pohon pisang menjadi makanan ringan dan pemasarannya  melalui bantuan gadget/smartphone/telepon pintar dengan omset yang mencukupi kebutuhan sehari-harinya dan membayar kuliah sendiri yang dapat meringankan beban orang tuanya.

Demikian pula Emi, mahasiswa Ilmu Komunikasi dengan teknologi informatika ia telah membuka usaha katering dengan keuntungan tiap bulan rata-rata Rp. 5.000.000,- (Lima juta rupiah). Hal ini terungkap ketika seminar pemanfaatan media social dengan cerdas.

UMC juga telah berkolaborasi dengan komunitas wali murid Lab School SD dan TK, melalui parenting telah melakukan dakwah efektif agar mereka mempersiapkan generasi mendatang yang kreatif, inovatif dan produktif.

Banyak ragam dan corak emosi beragama dilihat pada aspek energi, imajinasi dan atensi beragama pada anak usia dini; ada yang terlihat agresif pemisive dan bahkan pasif. Benih-benih ini berpengaruh dalam fase pertumbuhannya sampai mereka menginjak usia dewasa.

Dalam Al-Qur’an (QS. Al-A’raf : 172) dijelaskan bahwa potensi beragama telah ada ketika usia kandungan dalam perut ibu seseorang menginjak usianya ke 4 bulan, maka ketika lahir manusia sudah berkehendak untuk beribadah kepada Tuhan. “Tiap manusia terlahir dalam keadaan “fitrah”, maka orangtuanyalah yang menjadikan anak mengikuti cara-cara beribadah Yahudi atau Nasrani (Hadis).

Hal ini berarti peran orangtua sangat penting atau lebih luas lagi adalah aspek penting yang membentuk faham keagamaan apakah radikal, tradisional atau moderat ditentukan oleh lingkungan dimana mereka tumbuh, berkembang dan berinteraksi.

Sikap moderat dalam beragama menjadi penting dalam konteks mengantarkan anak-anak untuk menjadi dewasa dan prilakunya dikonfirmasi dengan agama, atas dasar  keyakinan dan pengetahuan yang dimilikinya, bahkan beragama karena  motif-motif kesenangan individual yang bersifat duniawiyah.

Memang pertumbuhan keberagamaan anak tidak dapat secara langsung untuk memiliki keyakinan dan pengetahuan yang cukup, tetapi sesuai dengan ritme perkembangan usianya dibawalah keberagamaan dimana anak usia dini dengan konfirmasi hadiah, perasaan aman (tidak dicela temannya), berlanjut hasrat untuk berkepantasan melalui mengikuti aturan-aturan yang ada dan pada akhirnya seiring dengan kematangan psikologisnya, beragama didasarkan pada keyakinan dan pengetahuan sehingga kewajiban-kewajiban agama ditunaikannya sebagai kebutuhan hidupnya.

Peran orangtua sangat penting dalam memberikan bentuk imitasi beragama, karena pada dasarnya anak usia dini mengikuti apa saja yang dilakukan kedua orang tuanya dan gurunya, maka penting pula menginformasikan kepada orangtua dan guru tentang pentingnya uswatun hasanah, dalam prilaku beragama, faham beragama dan keyakinan beragama.

Inti dari keberagamaan adalah harmoni dalam agamis-humanis yaitu tuntutan ke sektor individual dan sosial, kepatuhan ritual dan menghindari dosa sosial, ketika pembiasaan ini dilakukan dan dilanjutkan dengan proses internalisasi dan kristalisasi beragama pada anak, maka terlahirlah sosok islamistis yang moderat dengan melihat ukiran-ukiran keberagamaan secara kamil dan kafah dan menjadikan dengan islamnya itu sebagai rahmatan lil ‘alamin, dan inilah yang disebutnya sebagai orang-orang yang beruntung (QS. 28 : 67) bukan sebaliknya menjadi orang-orang yang rugi (QS. 18 : 103) atau orang-orang yang tertipu (QS. 4 : 142) dan jangan sampai mereka terlahir hanya untuk menjadi orang-orang yang bangkrut (QS. 49 : 11-12).