Filantropi Pilar Utama Penyucian Diri

   Islam adalah Dinul Maslahah untuk menginspirasi Umatnya meujudkan kehidupan adil-makmur, sejahtera dunia akherat.

   Kesejahteraan bersama tidak akan terwujud tanpa hadirnya filantropis (para dermawan) yang mau berbagi harta dan kegembiraan. Didalam harta orang-orang yang mapan terdapat hak orang-orang yang tidak mampu (Az-Zariyat 19, wafi amwalihim haqqussail wal mahrum).

   Bulan Ramadhan adalah bulan penyucian duri (syahrun gufron), dan ujung dari berpuasa adalah dibersihkannya kedirian manusia sehingga manusia kembali kepada asal kejadiannya (Al-Uns), kembali kepada kesuciaannya (fitrah).

   Kembali kepada agamanya (hanif). Maka makna kedermawaan bila dikaitkan maqosidnya (niat liridlaillah), disamping dibangun diatas ubudiyah (dzikir, do’a), juga terdapat pilar tarhiim (ihsaniyatul insan),  itulah sebabnya setiap perintah Al-Shalat disambung dengan Al-Zakah, dan dalam surat Al-Kautsar kata shalat dilanjutkan dengan berkurban, untuk terus berkembang rizki dan keutamaan manusia serta tidak pernah putus (terus mengalir yang dijanjikan Allah SWT).

   Adapun pilar dari segala bentuk filantropi (sedekah, zakat, nafkah, atensi, empati, memahami, tidak menyakiti dan sebagainya) didasarkan pada pilar kesucian diri sebagai bentuk konsekwensi kemanusiaan, sifat-sifat yang sebaliknya seperti sadis, brutal , ugal-ugalan, membabi buta, kasar, menyakitkan adalah bukan keditian manusia.

   Bulan Ramadlan diharapkan manusia dapat kembali menjadi manusia, yang telah luruh dan larut dlam sifat-sifat kebinatangan dan syaitan.

Posted in Agenda, Berita, Sambutan Rektor.