Idul Fitri Momentum Membangun Umat Terbaik

 

Assalamuaikum wr. wb.

Allahu Akbar 3x Walillahilham

   Seraya memanjatkan puji syukur kepada Allah, pada hari ini kita telah menyempurnakan bilangan hari-hari Ramdhan sebulan penuh dan bertemu dengan /Syawal Idul Fitri. Sejak matahari terbenam di ufuk barat kemarin, terdengar suara takbir bergemuruh, diseantero jagat raya ini, di desa/kota, di keramain pasar/dikesunyian lembah, di pinggir samudra, dibawah gunung, semuanya menuju Kalimatussawa Yaitu Takbir , Tahlil , dan Tahmid.

   Umat Islam seluruh bumi ini melepas Ramadhan dengan kalimat Allahu Akbar artinya dengan sebuah optimisme bahwa sesulit apapun, segenting apapun yang sedang dihadapi bangsa da ummat ini, kita mimiliki keyakinan bahwa Allah SWT Maha Besar pertolongannya, maha besar kekutannya oleh karena itu kita pasti dapat mengatasi semua problematika dengan mengikuti/taat kepada sunnatullahNya. Allah berfirman dalam surat An-Nisa 69 – 70 ” bahwa barang siapa yang taat kepada Allah dan RasulNya maka mereka diberi nikmat dan anugerahNya yang besar yang menjadi perantara kesuksesan dan kebahagiaan.

   Kemudian kita melepas Ramdhan dengan mengucapkan “lailaha illallah” yaitu dengan suatu tekad meyatukan hati dalam persahabatan, gotong royong, sebagai satu kesatuan yang tunggal, inilah makna sebenarnya dari Wahdatul Kalimat. Karena manusia sejatinya berasal dari Allah dan kembali kepada Allah, segala sesuatu urusan pada akhirnya kepada Allah Yang Maha berkehendak dan Maha menentukan. Perbedaan adalah suatu keniscayaan dan diterima sebagai anugrah dan rahmaNya : Kalau sekiranya Aku menghendaki maka tidak akan ada perbedaan itu (Qs. Al-Maidah 48). Oleh karena dalam keumatan dan kebangsaan wajib menyatukan barisan untuk satu tujuan yaitu mewujudkan masyarakat muslim yang sebenatnya Baldatun Thoyyibah.

   Dalam pikiran kita yang dimaksud maju adalah “masyarakatnya sejahtera, aman damai, makmur dan bahagia hanyalah dapat diwujudkan di atas keadilan, kejujuran, persaudaraan dan gotong royong, bertolong tolongan dengan bersendikan hukum Alloh yang sebenar-benarnya, lepas dari pengaruh syaitan dan hawa nafsu”

Allahu Akbar 3x walillahilhm

Saudara… Rahimakumullah

   Idul Fitri secara harfiyah paraning dumadi, kawit kedaden atau asal kejadian atau awal kejadian manusia itu, yakni dari tanah, sedangkan syaitan dari api, maka sifat manusia dasarnya, senang kedamaian, menumbuhkn, mendidik, bukan sikap-sikap syaitan yang senang membakar, mengopori, memanas-manasi dengan ujaran-ujaran kebencian yang pada akhirnya menimbulkan kekacauan dan huru hara dimasyarakat, jelas hal tersebut merupakan salah ke dalam diri manusia.

   Disamping itu menimbulkan konflik,  perpecahan, dan permusuhan. Maka sifat dari awal terkait syaitan tidak disukai manusia, terlebih dalam bahasa arabnya manusia itu disebut insan dari kata Uns, yang berarti harmonis, kasih sayang dan damai. Maka jati diri manusia adalah makhluk yang baik (fitrah), dan setelah dilatih serta dididik sebulan lamanya menjadi orang yang paling baik yaitu muttaqin.

Allahu Akbar 3x walillahilhm

   Orang yang bertaqwa adalah orang-orang yang paling mulia , dimudahkan semua urusannya dan diberi rizqi yang mencukupi hidupnya, bangsa yang taqwa adalah bangsa yang diberkahi yaitu diturunkan kepadanya rizqi yang melimpah, berupa keamanan, keadilan, dan kemakmuran bagi segenap warganya.

   Dengan demikian setelah Ramadlan disuburkan dalam diri setiap orang yang beriman. Berdasrkan surt Al-Baqorah 177, disamping kesalehan individual berupa shalat, zakat, puasa dan haji, kesalehan sosial wajib lebih dipentingkan, terlbih disaat-saat bangsa ini telah tergerus keadaban sosialnya, akibat dari hawa nafsu manusia dan bujukan setan, sehingga tidak mengindahkan lagi rasa keberagamaan, gotong royong, berbuat kebaikan, bakan lebih parah lagi mereka menjadi homo-homoni lupus, (manusia srigala pemakan sesama manusia) “demi kekayaan dan harta, tidak segan-segan mereka memangsa, mengikuti mendzalami, saudaranya sendiri” ada lagi golongan manusia yang  disebut homo ludent ( bersenang-senang sendiri dengan membuat sengsara saudaranya sendiri), maka hidup hanya untuk berhura-hura dan bersenang-sengan diatas penderitaan orang lain (Hipo Maniak) dalam Psikologi Psikopat.

   Kondisi-kondisi tersebut mengakibatkan hilangnya kebijakan dan kearifan dalam diri manusia unhomo sapien, unjustic dan unhumanity), terlebig dizaman milenial ini seringkali disebut post truth (pasca kebenaran) maka kebenaran menjadi hal yang aneh bin ajaib; orang yang berjuang untuk kebenaran dan keadilan dianggap penjahat, sebaliknya orang yang curang dan berkhianat dianggap pahlawan.

   Maka dengan berpuasa kita menjadi ibsan kaniil yaitu yang mempu menggunakan akal hatinya untuk membangun kemanusiaan yang bermartabat, maka setelah shalat Idhul Fitri kita disunnahkan menunaikan tahniah. Hal ini terkandung maksud bahwa orang mukmin mampu menegakkan barisan yang kuat bagaikan saf-saf shalat (As-Shaf 2) (dan membangun tali batin sesamanya dengan sepenuh kasih sayang, mereka itu adalah golongan-golongan sebagaimana para penghuni syurga.

  Islam adalah agama yang penuh kasih sayang dan agama yang cinta perdamain (dinurrahmah wassalamah), dan tiada akan tercipta kedamaian bila tidak sisertai keadilan (dinul adalah), dan keadilan itu membawa kpada kemajuan suatu bangsa (dinul hadlariyyah) bangsa beda diisi oleh warganya yng mampu membuktikan dalam kenyataannya (dinussyahadah)

Allahu Akbar 3x walillahilhm

Didalam surat Al-Baqarah ayat 177 Alah berfirman :

Surat Al-Baqarah Ayat 177 Arab, Latin, Terjemahan Arti dsvsBahasa Indonesia

   Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

   Pada ayat tersebut Allah SWT menekankan agar kita memastikan suatu  kebenaran berdasarkan tuntunan Allah bukan atas dasar selera dan kepentingan manusia yang disebut post trut, kebenaran diputar balikan yang benar dianggap Hoaks yang Hoaks dianggap benar tergantung selera dan keinginan manusia bila ini terjadi maka bencana akan menimpa manusia; karena kesalehan seseorang diukur bukan dari hati murninya tetapi diukur oleh yang paling member kesenangan duniawiyah, jika post truth menjadi gaya hidup milenial maka bersiap-siaplah agama apapun namanya akan ditinggalkan manusia, hal ini seperti yang terjadi di Negara-negara yang mengeklaim sebagai Negara maju.

   Maka dalam ayat tersebut, Allah menegaskan bahwa kebenaran adalah kebenaran ilahiyyah dan sekaligus insaniyyah, secara ilahiyah mereka taat menjalankan ibadah dan secara insaniyyah mereka adalah orang-orang yang meninggikan adab dalam kehidupan yang pada akhirnya dapat membangun peradaban

   Marilah dipagi yang penuh berkah ini kita bersimpuh di naungan ridhanya seraya memohon kemurahannya berupa ampunan, rizqi dan kekuatan sehingga hidup ini diraskan atasnya dalam mewujudkan kemakmuran dan keadilan, melalui kesadaran ikhtiar secara kreatif sehingga mampu menembus awan hitam sebagai mana terkabulnya cita-cita kita, umat Islam dan bangsa Indonesia. Amiiin ya mujibassailin.

Allahumma Sholli Ala Muhammad Wa Ali Muhammad

   Ya Allah ya Rohman ya Rahim hambamu pada hari ini bersimpuh dihadapanMu seraya meyakini dengan sepenuh hati kami bahwa sesungguhnya dalam genggamanMu segala urusan kami, untuk itu ya Allah mudahkanlah dan berikanlah kekuatan atas segala aktivitas hari Idul Fitri ini untuk memenuhi sunnah Rasul-Mu bersilaturahim, bertahniah dan berbagi kebahagiaan bersama-sama sanak-kerabat, keluarga dan para shohib, teman sejawat dan sesama manusia.

Ya Rozak ya Ghofar

   Anugerahilah diri kelapangan dada kami dalam membahagiakan kedua ibu/bapak kami anak-anak dan cucu kami, dan sesungguhnya semua itu memerlukan keikhlasan dalam menunaikan tanggung jawab kami .

   Berikanlah ampunan atas segala dosa-dosa kami, Engkaulah maha pengampun lagi maha pengasih, amin ya rabbal alamin.

 

Barakallah Lii Walakum Wajaalana Minal A’idin Wal Faizhin.

Cirebon, 20 Mei 2019

Penulis

(Prof. DR. H. Khaerul Wahidin, M.Ag)

Posted in Agenda, Berita, Sambutan Rektor.