Islam Transformatif

   Dalam studi Islam banyak dilakukan pendekatan yang beragam, seperti yang dilakukan para ulama dan cendikiawan. Hal ini karena spirit Islam yang mendorong ummatnya progresif, berdinamikan dan berkemajuan, tidak jumud dan stagnan.

   Umat Islam di tuntut untuk berfikir, peribatan akliayah lebih berbobot pahalanya dari beribadat jasmaniyah, berpendapat jika salah dapat pahala apalagi jika benar, pahalanya doble, berfikir dan berpendapat bukanlah kriminal tapi kebajikan. Terdapat suatu zaman yang mengharamkan rakyat berfikir dan pemerintah mewajibkan berpikir kebenaran tunggal, maka negara menjadi stagnant.

   Namun demikian ada prinsip fondamental yang harus menjadi konsensus bersama yang menjadi koridor dalam mengeluarkan gagasan dan pendapat, dalam islam disebut domain qoth’i. Seperti kesepakatan tentang aspek ajaran teologis dan ritualistik yang bersifat al-asas, bukan al furu’. Keyakinan bahwa sumber berfikir menggunakan naqli dan aqli, sifat ajaran Islam syumuliyyat (sempurna), mengandung kemaslatan dan tidak menimbulkan al mafsadat, menghagai hak-hak pribadi maupun sosial, kesemuanya wajib menjadi konsensus. Jadi kebabasan berfikir dibatasi norma-norma kebajikan yang universal, tidak boleh bebas liberal ataupun radikal subjektif. Umat Islam di himbau untuk dapat toleran dan menghargai perbedaan-perbedaan ( al mutawwiat) maka dapat di pilih pendekatan berfikir, tekstual atau kontekstual, binnadzoriyyat, bil burhani atau bil irfani dan akhirnya berfikir merupakan ekpresi berijtihad yang dianjurkan agama, bila terdapat perbedaan maka kembali kepada norma-norma universal yang telah menjadi konsessus yang ada dalam assyariati al islamiyyah.

   Islam transformatif merupakan ikhtiar ijtihadiyyah, dalam mengkaji Islam kontekstual dengan metode manhaj quraniyah dan sunnah Rasulillah yang maqbul dan shohih, dalam memperkaya gagasan keislaman yang dinamis sesuai kebutuhan kemasalahan ummat.

  Dalam tataran Praksi (terapan) Islam Transformatif dapat menjadi “panatik”kemajuan mobilitas vertical (Hablum Minallah) dan sekaligus dalam mobilitas Horisontal (Hablum Minnanas) yaitu kualitas kesalehan personal dan sekaligus kualitas kesalehan social dan dalam konteks pembelajaran di Perguruan Tinggi meniskayakan lahirnya SDM Indonesia yang berkualitas unggul sekaligus dapat memiliki daya saing dalam merebut kejayaan negeri.

Tabel

diskusi dan simulasi

Aspek Kontens Spirit Nilai Kemajuan
Teologi Kesalahan Personal Aqidah dan Ibadah 1.    Syahadat

2.    Shalat

3.    Puasa

4.    Zakat

5.    Haji

6.    Qurban/Akikah

7.    Nadzar

Mobilitas Vertikal
Teologi Kesalehan Sosial Al-Akhlak Al-Karimah 1.     Akal yang cerdas

2.     Hati yang bersih

3.     Perilaku yang terpuji

Mobilitas Sosial

 

Posted in Sambutan Rektor.