Kinerja Produktif

   Semangat bekerja produktif dilandasi dengan cita-cita, cita itu sendari berawal dari hasrat terhadap sesuatu yang tinggi dan mulia yaitu ketulusan hati untuk mewujudkan sebagai panggilan iman, cita-cita terkait dengan seseatu yang bersifat world view secara keseluhan menyelimuti aspek kehidupan, dan mempengarui energi aktivitas, bukan hal-hal yang bersifat absurd (khayalan), maka terdapat pemahaman tentang makna cita dan ikhtiar kuat dengan keyakinan dapat terwujud.

  Orang yang bercita hidup untk mencintai Allah melalui orang yang mencintai Allah, bermula dari ucapan “lailaha illallah” maka apapun yang diupayakannya tulus tanpa berharap kecuali kepada Allah.

  Berawal dari sini ia memahami bawa Allah maha indah, maha memberi, mencintai hamba-hambanya yang baik, hidupnya rukun dan damai, toleran, kasih sayang kepada sesame, dan sikap-sikap inilah yang menghiasi orang yang cinta karena Allah dan benci karana Allah, tegasnya cinta kepada semua kebaikan yang ada, dan benci kepada hal yang merugikan dan tidak memberi arti dan makna kepada sesama. Maka pusat aktifitasnya iktiar dalam poros menjadi lebih baik, bukan merasa yang terbaik.

   Kearah lebih bisik itulah produktivitas, usaha sungguh-sungguh merupalan kinerjanya. Dirasakannya sebagai meaning kebermaknaan hidup, dengan demikian inilah yang disebut minassholihin, orang yang banyak manfaatnya bagi manusia.

   Setiap diri manusia bercita-cita menjadi orang yang salih, anak-anaknya juga salih, orang-orang disekelilingnya shalih, tegasnya hidup dalam nauangan cinta Allah, maka dirinya ingin jikaulau diberi cinta karea Allah, jikaupun berpisah juga kareana Allah dan inilah orang-orang yang selalu mendapat naunga Allah dunia wal akherat disaat-saat tiada sedikitapiun naungan kecuali pemberian Allah yaitu ROJULUN tahabbu lillah wa tafarraqu lillah (hadist attirmidzi), untuk mencapi kinerja produktif diawali dengan niat yang besar dan disandarkan kepadaa yang Maha besar, bukan mencari yang remeh temeh, baru diupayakannya secara rasioal bukan dengan sekedar kata absurd yang tidak bermakna, maka melahirkan budaya karena menjadi way of life bersama dalam satuan-satuan sosial tertentu.

   Dalam konteks Islam modern ukuran produktivitas ikhtiar diletakkan dalam dimensi keagamaan, sosial, ekonmi dan politik yang bersifat integralistik, cita-cita mewujudkan konsep “shaleh” tidak hanya pada dimensi ukhrowiyah. Selanjutnya pendekan yang digunakan tidak dengan cara-cara kekerasan (un violence), tetapi penuh kedamaian dan toleransi, pendekatan budaya lebih diutamakan dari pada pendekatan poltik. Namun demikian dalam hal tertentu aspek kehidupan apapun dijadikan instrumen bagi diperolehnya jalan terbaik yang sesuai dengan kehendak Yang Maha Kuasa.

   Organisasi Islam modernis menyukai istilah dinul wasatiyyah dalam berdakwah amar makruf nahi mungkar, banyak Muslim yang condong kepada dunia saja, agama sekedar indentitas formal, ini sebetulnya idiologi sekuler, tapi juga banyak orang yang condong kepada akherat centris, mengabaikan sisi-sisi kemasyarakatan, tentu sikap eskeptisme (keragu-raguan/tidak peduli) terhadap dunia juga dinggap tidak adil trhadap dirinya sendiri yang cenderung membohongi kehidupannya, hakekatnya jujur kenikmatan jasmaniah dan duniawiyah juga merupakan kebutuhan asasiyah yang tidak bs dinegasi ( duabaikn ), maka yang terjadi adalah bernafsu besar tapi berwawasan kerdil, yang sering disbut” bersumbu pendek”, maka pendekatan keislaman yang di contohkan nabi saw adalah menebar Islam dengan Salam, meujudkan kemakmuran dengan gagagasan yang cemerlang, salaam adalh kinerjanya, cemerlang adalah produktivitanya. Wallahu ‘alam.

Posted in Sambutan Rektor.