a582d3e5-a365-42e3-abc7-7a3c9991f4a1

Mencerahkan, Mencerdaskan Dan Mensejahterakan Bangsa Dalam Bingkai Tuntunan Al-Qur’an

“Surat Al-Maidah (5) Ayat 16”

“Berdasarkan Al-Qur’an, Allah memberi petunjuk orang-orang yang mengikuti keridlaan-Nya ke jalan keselamatan dan Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus”.

05f4dc13-b3f8-4fc0-a519-86f8c4dab327sdrg

         Dalam Tafsir al-Karim al-Rahman, Syekh Abdurahman Nashir, menjelaskan inti dari Allah menurunkan Al-Qur’an adalah menghilangkan kedunguan dan kebiadaban manusia (Qod ja’akum minallahi nurun wa kitabun mubin).

                  Perguruan Tinggi (lembaga pendidikan) apapun namanya dan bagaimanapun jenis dan tingkatannya berfungsi salah satunya adalah mentransformasikan ilmu dan mengamalkan ilmu dan hakekat dari ilmu itu sendiri adalah nilai-nilai moral (keadaban), semakin manusia berilmu, maka semakin beradab, dan bersamaan dengan itu, semakin islamitis seseorang, semakin berkeadaban.

               Itulah sebabnya Muhamad Abduh ketika berkunjung ke Paris dia mengatakan bahwa : “Disini aku tidak menemukan saudara-saudaraku yang muslim, tapi disini aku melihat Islam, sebaliknya ketika aku berada di Mesir melihat banyak saudara-saudaraku muslim tetapi aku tidak melihat Islam. Parameter keilmuan dan keislaman adalah kultur keadaban, maka dapat dipastikan bahwa sekolah atau kampus yang maju dan kampus yang menang di dalamnya hanyalah terdapat orang-orang yang beradab, atau setidak-tidaknya disitu terdapat orang-orang yang berhati baik (Qosduhu hasanan).

                                   Bangsa yang beradab adalah bangsa yang menang dan bangsa yang maju, seperti Selandia Baru tidak ada penjara KPK, tetapi juga tidak ada penjahat-penjahat negara, caranya adalah mendidik moral bangsanya sejak mereka di TK sampai perguruan tinggi. Inilah yang menjadi inti dari keselamatan  bangsa menurut Ahmad Syauqi Bey bahwa keselamatan suatu bangsa terletak pada akhlaknya, begitu hilang akhlak, maka sirnalah bangsa tersebut, namun jika akhlaknya kuat, pasti bangsa tersebut  menjadi kuat. Demikian pula sekolah atau perguruan tinggi.

                           Dalam konteks KKL mahasiswa untuk berkunjung ke lembaga-lembaga pendidikan yang utama adalah melihat mereka bagaimana pendidikan karakternya, bagaimana kultur akademiknya, bagaimana kepala sekolah dan guru memberi keteladanan tentang karakter dan yang paling penting adalah bagaimana prilaku mahasiswa atau sasarannya, jika memiliki karakter yang kuat pasti sekolah itu menjadi kuat.

                           Dalam sejarah negara-negara Islam sejak zaman Nabi, Khulafaur rasyidin, zaman keemasan Umayah dan Abbasiyah kita melihat sosok-sosok pemimpin dari mulai Nabi Muhammad SAW, Khulafaur Rasyidin, Umar bin Abdul Azis, Harun Arrasyid, mereka mengutamakan moralitas  daripada lain-lainnya. Umar bin Abdul Azis misalnya pernah berkata  : “Tahukah kamu bangsa yang dungu, nah saya kabarkan kepadamu tentang manusia paling dungu di dunia ini yaitu orang yang meninggalkan moral dan mengejar harta dan kuasa, dan lebih dungu lagi bila hanya memperkaya orang lain sementara dirinya tidak mendapatkan apa-apa kecuali kesialan semata-mata.

                         Maka marilah kita belajar dan kuliah tiada lain untuk menghilangkan kedunguan dan kemiskinan. (Wallahu a’lam)

Posted in Agenda, Berita, Pengumuman, Sambutan Rektor.