Bersama : Prof. Dr. H. Khaerul Wahidin, M.Ag (Rektor UMC) DR. M Hasbi, M.Pd (Direktud PAUDNI Mendikbud RI)

Mendidik Anak Usia Dini Antara Untuk Berkolaborasi Atau Berkompetisi

2

Semua orang tahu dan semua orang faham bahwa anak adalah amanat dan titipan Allah SWT, sebagai rahmat dan qurota a’yunin bahkan serpihan dari cinta Tuhan dalam diri manusia, makanya anak wajib dididik sesuai dengan kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

Bila melihat alam semesta yang sedemikian indah-menawan serta serasi-harmonis, maka sejatinya yang Tuhan inginkan dalam mendidik anak untuk mampu berkolaborasi.

Pertanyaan  utama yang akan dijawab dalam diskusi ini, sudahkah kita mendidik anak usia dini dengan senyum penuh kasih dan mengajaknya mereka berkolaborasi?.

Mendidik adalah mengubah mainset (otak) yang tiada lain otak manusia itu berisi potensi untuk selalu terbarukan (Neo Cortex) sebagai emosi besar, otak anak kecil sama saja dengan otak dewasa;  ada imajinasi, cita-cita, nilai, moral dan agama. Dalam filsafat agama disebut masyiah (hasrat) dan irodah (daya), tugas guru adalah potensi atau emosi besar itu, supaya aktus dalam bingkai hidayah Tuhan dari sejak dalam kandungan sampai kematian. Itulah sebabnya dalam Islam pendidikan itu dari mulai buaian sampai kematian, yaitu mencapai khusnul khotimah.

Orientasi mendidik ala Indonesia telah terjebak dan berputar-putar dalam lokus administrasi yang berujung pada akreditasi, maka muncullah prilaku-prilaku homo-homoni-lupus yaitu manusia adalah srigala bagi manusia (Thomas Hobes), bukan lagi sebagai homo sapien yaitu manusia bernaluri manusia dalam hal ini untuk bisa bertahan hidup manusia harus berkolaborasi, sementara lupus berhasrat untuk berkompetisi (Darwin).

Maka pemandu arah pendidikan sebenarnya adalah guru, mereka adalah kunci pembuka peradaban. Untuk itu mereka harus dilatih dengan benar, mereka wajib tahu apa namanya habit forming product, dan juga wajib tahu tentang uswatun hasanah dan mengetahui metodologi praktis mendidik anak.

Kalau guru harus berada bersama siswa 8 jam sehari, belumlah cukup untuk mengantarkan karakter kolaboratif jika keberadaan guru seharian itu hanya konten tidak disertai kreatif dan inovatif, dengan begitu pantaslah guru sebagai warosatul anbiya karena meneruskan risalah untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Posted in Agenda, Berita, Pengumuman, Sambutan Rektor.