halaaaaallllllllllllllllllllllllll

Menyatukan Niat Dengan Perbuatan

  Berangkat dari surat Al-Baqarah 220, dari segala sesuatu berjodoh menuju angka 0 sebagai simbol keikhlasan, dan bisa juga dibaca dari kanan bermula dari 0 yaitu hati yang tulus kemudian berbuat sebanyak-banyaknya kebaikan di dunia sebagai ladang amal, tempat kediaman temporal, untuk menyelesaikan berbagai persoalan , membangun wasail (bekal) agar sampai kepada Al-Akhir yaitu kebahagiaan otentik bukan yang semu dan bukan yang palsu.

  Tulisan ini menggunakan manhajul fikri (metode / penekanan eksistensialisme, dengan merujuk pada naqli dalam mengoptimalkan kekutan berfikir dengan asumsi bahwa semakin luas pengetahuan seseorang, beragama semakin ringan, seperi dalam kaidah fikih tentang pengamalan rukhshah dan meninggalkan yang azimah bila terdapat masyaqah (kedaruratan yang akut) jika dilaksakan azimah atas pertimbangan akal budi yang sehat.

Dalam pemahaman umum atas surat Al-Baqarahsetidaknya ada beberapa muqobalah berikut

  1. Antara dunia dan akherat
  2. Antara pencampuran harta anak yatim & walinya
  3. Antara maslahat dan mafsadat
  4. Antara taysir dan kharj

  Dalam Islam urusan dunia tidak dapat dipisahkn antara dunia dan akherat, ketika orang mengisi kehidupan dunia dengan segala kemewahannya, Allah mengingatkan ada kemewahan lain yang melebihi kemewahn dunia (Al-Imran 14 ), dan ketika mempersiapkan kehidupan akhirat tidak boleh melupakan dunia (Al-Qoshos 77). Dunia sama sekali tidak boleh diabaikan dengan hanya sekedar mengejar akherat, bahkan dengan menguasai dunia mengejar akherat menjadi ringan dan mudah, dan relatif orang yang menguasai dunia, dapat memungkinkan mendapatkn banyak bonus keutamaan akherat, maka sungguh keliru orang membenci dunia, tetapi juga Allah sngt benci pemuja dunia sampai melupakan akherat, urusan dunia adalah urusan yang sepenuhnya diserahkan kepada kecerdasan akal manusia, maka jika kalah dalam keduniawian penyebabnya pasti karena tidak cerdas, baik intelektualnya maupun kecerdasan sosialnya.

  Keberhasilan dunia dipicu oleh etos Keislaman yang disebut al ghirah addiniyah, cemburu yang bisar yang dipicu ajaran agama, yaitu merasa tidak mau kalah dengan kelompok lain, terlebih spirit dan etos Keislaman sebagaiai khoiru ummatin, yang diperintah menyeru kepada Al-Khaer (tidak hanya baik, tetapi bentuk superlatif / terbaik), semangat inilah mendorong kita kepada kemajuan, dan Idul Fitri sebagai momentum kebangkitan dan kemenangan, pada hari raya kesuciaan intinya umat Muslim berdoa dan saling mendoakan untuk keselamatan mandapatkan rahmat dan keberkahan seperti dalam ucapan salam, kemudian ditambah dengan doa tahniah yaitu semoga cita-citanya dikabulkan dan memperoleh kemenangan, kemudian sebelumnya berdoa ketika melepas Ramadln seperti yang dicontohkan Nabi,  Allahumma la taj’al Ramdlani aakhiran li’ibadati, wa in Ramanii akhiran fi sanatii, waj’al minal marhumiin, wala taj’al mial mahariumiin, ya Allah jangan Engkau jadikan Ramadlan (kemarin) sebagai yang terakhir untuk diriku, jika memang harus yang akhir dari umurku, maka jadikanlah aku orang Engkau kasihi, jangan menjadi orang yang Engkau benci, doa- doa hari kesucian sangat indah, bila dihayati, maka bagaimana doa-doa itu benar-benar menjadi berkemajuan lahir dan bathin (no nomery only but quality/kuantitas sekaligus kualitas) dan jika doa-doa itu memenuhi syarat, maka pasti menjadi kenyataan yaitu menjadi umat yang unggul, dalam surat Al-Baqarah187 , waidza sa’alaka ibadii disitu sampai akhir ayat, maka syarat untuk diberi selamat, ramat, berkah, panjang umur, dan lebih banyak rizqi yang berkuslitas dan unggul dari ayat tersebut ada 2 yaitu

  1. Istijabah memenuhi atau menjawab semua yang dikendaki Allah SWT (merespon qudariah dan iradahnya Allah)
  2. Menghindari banyak konflik, permusuhan, dan toleransi sebagai otentisitas keimanan yaitu memperbanyak usaha-usaha memberdayakan orang yang beruntung dalam hidupnya mereka anak yatim, fakir miskin, dan orang-orang mustadlafin, seperti yang diperintahkan dalam surat Al-Maun dan Al-Balad, dengan berbagai kegiatan yang sekiranya maslahat dan menghadari mudharat dengan kecerdasan sosial manusia. Inilah implementasi 220 Al-Baqarah, mulai dari 0 atau dari 22 menuju 0, pasti Allah meridhaimu. Amin.
Posted in Berita, Pengumuman, Sambutan Rektor.