Misteri Lailatul Qadar

   Nabi SAW, mengisyratkan di dalam bulan Ramadhan terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu malam Lailatul Qadar yaitu malam kepastian.

   Dari berbagai dimensi yang mengandung misteri, dari segi konsep, waktu, aktivitas, momentum, ciri, dan effeknya. Terdapat gugusan pemkiran dari para ahli dan ulama, dalam mengklarifikasi dari rahasia yang terdapat didalamnya

   Semua gugus pemaknaan tentang Lailatul Qadar ( QD ) mengarah kepada satu titik sentral yaitu apapun yang dilakukan kita, pastikan menjadi kebaikan yang musti kita raih dan kita wujudkan

   Bila Qodar (QD) identik dengan Nujul Quran (NQ) maka memastikan kebaikan yang berlimpah itu hanyalah adanya di dalam Al-Qur’an yaitu terlihat dari ayat-ayat nya yang turun pertama untuk Iqra dan Qalam, berawal dari usaha untuk berinfestasi dengan menyiapkan generasi yang Qurani, kemudian mereka kelak mengajak manusia untuk berpedoman dengan Al-Qur’an dalam kehidupannya (fi dzilalil Qur’an) dengan Qalam dan kalamnya. Inilah misteri QD yang mesti diraih, tegasmya mempersiapkn anak-anak agar meteka menjadi generasi Qur’ani.

   Kebajikan diwariskan dari satu generasi kepada kegenerasi berikutnya menjdi infestasi yang tidak pernah terputus selamanya dan menjadi keabadian amal manusia , dalam pribahasa Indonesia, “badan mati berkalang tanah, budi baik terkenang jua,” budi baik itu tiada lain Qolbun saliim. Yang oleh Syekh Mustafa Al Gulayani seorang pujangga mesir, menyatakan wabi qolbin salim faumrukassan aula min umrukal uula (orang yang mempunyai qolbun salim diberikan umur kedua dan umur yang kedua itu lebih panjang dari umur pertama) inilah yang di jelaskan Allah dalam surat As-Suara 88, bahwa tiadalah berarti harta dan anak-anak jika kita kembali dengan tanpa qolbun salim, dan dalam surat As-Shoffat 84, idz jaa rabbuhu bi qolbin salim, dalam tafsir muyassar di jelaskan bahwa kemanapun perginya orang yang memiliki qolbun salim pasti disisinya bersama Allah, menolongnya dengan RahmatNya.

  Apa dan siapa yang disebut qolbun salim itu, dalam tafsir Ibnu Katsir bawa orang yang diberikan qolbun salim adalah orang-orang yang bersih hatinya dari menghujat, memfitnah dan dengki dengan sesamanya.

  Bulan Ramadhan ini momentum melepaskan simpul-simpul dan tali yang membelenggu sifat dan prilaku syaitan dan prilakunya ahli neraka, sehingga hati yang mati bisa mulai segar kembali dan hati yang sakit mejadi sehat sehingga merasakan bahagianya hati yang fitri ( Qs. 30:30)

Posted in Agenda, Berita, Sambutan Rektor.