SONY DSC

Muhammadiyah Dalam Dinamika Politik Pilpres Dan Pileg 2019

  1. Pendahuluan

Bahwa Muhammadiyah tidak hanya telah berkontribusi mewujudkan Indonesia merdeka, melainkan juga mengisi kemerdekaan untuk terwujudnya bangsa yang maju, cerdas dan disegani dunia.

Spirit Islam yang didakwahkan Muhammadiyah adalah Islam Berkemajuan dan untuk menjadi Muslim Hadlariyyah, memerlukan pendidikan yang berkualitas. Coba kita lihat negara-negara yang telah mengalami kemajuan, mereka mendidik  karakter bangsanya dengan kepribadian yang unggul. Maka amal usaha Muhammadiyah sejak awal pendiriannya adalah memberikan pendidikan unggul dan usaha-usaha lainnya. Selama diupayakan Muhammadiyah wajib memenuhi target unggul sehingga dapat mengambil peran kontributif kebangsaan.

Dalam Buku Konstruksi Pemikiran Politik Ki Bagus Hadikusumo (2018 : 236) dalam pandangannya dinyatakan bahwa bangsa Indonesia terbentuk karena hasil perjuangan umat Islam yang tiada mengenal lelah, ajaran Islam adalah sumber pemersatu bangsa dan sebagai pijakan dalam berkehidupan kebangsaan, sungguhpun demikian Islam tetap menjaga toleransi,  tujuh kata dalam rumusan sila pertama telah ditiadakan secara tekstual, akan tetapi umat Islam tidak lantas berhenti berjuang, melainkan terus berusaha menegakkan syariat Islam kultural, melalui usaha di parlemen, penegakkan perintisan syariah dalam berbagai aspeknya dan kenyataannya sekarang dirasakan manfaatnya seperti Ekonomi Syariah, Wisata Syariah dan lain-lain, dan pada akhirnya secara kultural (perlahan tapi pasti) syariat Islam diterima oleh segenap masyarakat Indonesia.

Pertanyaannya adalah bagaimana upaya umat Islam menuju kearah tersebut, apakah cukup hanya dengan melalui amal usaha pendidikan?, serta bagaimana memberi counter terhadap anggota parlemen yang melarang seluruh Perda Syariah diusulkan menjadi RUU untuk menjadi hukum mengikat setelah ditetapkan parlemen. Bagaimana pula kontribusi Muhammadiyah ketika RUU yang akan ditetapkan di parlemen justru bertentangan dengan syariat Islam.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi kerisauan bagi sebagian warga muslim Indonesia, yang memerlukan solusinya. Hal tersebut menjadi mustahil bilamana umat Islam diarahkan menjadi warga bangsa yang mati rasa dan buta terhadap politik.

 

  1. Konsep Politik dalam Islam

Pandangan Ki Bagus Hadikusumo diamini para ulama yang tergabung dalam PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), namun usaha-usaha mewujudkan kekuatan umat Islam Indonesia dalam aspek politik masih belum membuahkan hasil yang maksimal, padahal Allah SWT menegaskan dalam surat al-Anfal : 60 bahwa kekuatan umat (termasuk bidang politik) agar terus-menerus diupayakan, yaitu dengan menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu, memfungsikan otak secara maksimal, memperbanyak skill literasi, kemauan, inisiatif,  semangat, percaya diri, disiplin, menjaga solidaritas yang keseluruhannya merupakan pribadi yang kuat sehingga  dapat mengelola negara dan memajukan bangsa, sebaliknya ketika umat Islam lemah dalam membangun gagasan dan “solusinya”, maka selamanya umat Islam Indonesia akan dimarjinalkan, dibodohi dan dijahati oleh musuh-musuhnya.

Disinilah letak strategis pendidikan terutama menumbuhkan akal sehat dan keberanian mengemukakan kebenaran, jika selama ini hanya berfikir kesenangan dan berebut “duit”, maka selama itu pula umat Islam menjadi bangsa kuli yang mudah dikibuli. Tegasnya ketika Islam instrumental yang brutal dan ugal-ugalan menjadi faham umat, selamanya kemajuan hanya fatamorgana.

 

  1. Bulan Ramadhan sebagai Muhasabah

Allah SWT menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan perenungan sekaligus pergerakan dalam kerangka mempersiapkan masa depan yang lebih baik untuk kepentingan individual (prifat) dan sekaligus kepentingan kebangsaan, secara prifati kita dianjurkan untuk memperbanyak membaca al-Qur’an dan ibadah-ibadah lainnya, karena di bulan inilah pertama kali diturunkan al-Qur’an dengan ayat pertamanya agar umat Islam membaca.

Dalam arti yang lebih luas membaca adalah mengoptimalkan potensi akal  disertai niat yang suci dan bersih, sehingga dapat memproduksi gagasan-gagasan bagi kemaslahatan umat manusia.

Ternyata Ramadhan tidak hanya untuk berdiskusi dan olah fikir, tetapi juga dibangun usaha-usaha dan gerakan-gerakan nyata dalam bentuk program-program yang baik (amal sholeh) serta dilaksanakan program tersebut dengan bersama-sama (berjama’ah) sehingga fungsi eduksi Ramadhan menjadi efektif untuk memperkokoh kekuatan umat Islam dalam mengisi nilai-nilai kebangsaan dalam bingkai NKRI.

 

Cirebon,    April 2019

Penulis

Prof. DR. H. Khaerul Wahidin, M.Ag

Posted in Agenda, Berita, Pengumuman, Sambutan Rektor.