Islam Transformatif

   Dalam studi Islam banyak dilakukan pendekatan yang beragam, seperti yang dilakukan para ulama dan cendikiawan. Hal ini karena spirit Islam yang mendorong ummatnya progresif, berdinamikan dan berkemajuan, tidak jumud dan stagnan.

   Umat Islam di tuntut untuk berfikir, peribatan akliayah lebih berbobot pahalanya dari beribadat jasmaniyah, berpendapat jika salah dapat pahala apalagi jika benar, pahalanya doble, berfikir dan berpendapat bukanlah kriminal tapi kebajikan. Terdapat suatu zaman yang mengharamkan rakyat berfikir dan pemerintah mewajibkan berpikir kebenaran tunggal, maka negara menjadi stagnant.

   Namun demikian ada prinsip fondamental yang harus menjadi konsensus bersama yang menjadi koridor dalam mengeluarkan gagasan dan pendapat, dalam islam disebut domain qoth’i. Seperti kesepakatan tentang aspek ajaran teologis dan ritualistik yang bersifat al-asas, bukan al furu’. Keyakinan bahwa sumber berfikir menggunakan naqli dan aqli, sifat ajaran Islam syumuliyyat (sempurna), mengandung kemaslatan dan tidak menimbulkan al mafsadat, menghagai hak-hak pribadi maupun sosial, kesemuanya wajib menjadi konsensus. Jadi kebabasan berfikir dibatasi norma-norma kebajikan yang universal, tidak boleh bebas liberal ataupun radikal subjektif. Umat Islam di himbau untuk dapat toleran dan menghargai perbedaan-perbedaan ( al mutawwiat) maka dapat di pilih pendekatan berfikir, tekstual atau kontekstual, binnadzoriyyat, bil burhani atau bil irfani dan akhirnya berfikir merupakan ekpresi berijtihad yang dianjurkan agama, bila terdapat perbedaan maka kembali kepada norma-norma universal yang telah menjadi konsessus yang ada dalam assyariati al islamiyyah.

   Islam transformatif merupakan ikhtiar ijtihadiyyah, dalam mengkaji Islam kontekstual dengan metode manhaj quraniyah dan sunnah Rasulillah yang maqbul dan shohih, dalam memperkaya gagasan keislaman yang dinamis sesuai kebutuhan kemasalahan ummat.

  Dalam tataran Praksi (terapan) Islam Transformatif dapat menjadi “panatik”kemajuan mobilitas vertical (Hablum Minallah) dan sekaligus dalam mobilitas Horisontal (Hablum Minnanas) yaitu kualitas kesalehan personal dan sekaligus kualitas kesalehan social dan dalam konteks pembelajaran di Perguruan Tinggi meniskayakan lahirnya SDM Indonesia yang berkualitas unggul sekaligus dapat memiliki daya saing dalam merebut kejayaan negeri.

Tabel

diskusi dan simulasi

Aspek Kontens Spirit Nilai Kemajuan
Teologi Kesalahan Personal Aqidah dan Ibadah 1.    Syahadat

2.    Shalat

3.    Puasa

4.    Zakat

5.    Haji

6.    Qurban/Akikah

7.    Nadzar

Mobilitas Vertikal
Teologi Kesalehan Sosial Al-Akhlak Al-Karimah 1.     Akal yang cerdas

2.     Hati yang bersih

3.     Perilaku yang terpuji

Mobilitas Sosial

 

Kinerja Produktif

   Semangat bekerja produktif dilandasi dengan cita-cita, cita itu sendari berawal dari hasrat terhadap sesuatu yang tinggi dan mulia yaitu ketulusan hati untuk mewujudkan sebagai panggilan iman, cita-cita terkait dengan seseatu yang bersifat world view secara keseluhan menyelimuti aspek kehidupan, dan mempengarui energi aktivitas, bukan hal-hal yang bersifat absurd (khayalan), maka terdapat pemahaman tentang makna cita dan ikhtiar kuat dengan keyakinan dapat terwujud.

  Orang yang bercita hidup untk mencintai Allah melalui orang yang mencintai Allah, bermula dari ucapan “lailaha illallah” maka apapun yang diupayakannya tulus tanpa berharap kecuali kepada Allah.

  Berawal dari sini ia memahami bawa Allah maha indah, maha memberi, mencintai hamba-hambanya yang baik, hidupnya rukun dan damai, toleran, kasih sayang kepada sesame, dan sikap-sikap inilah yang menghiasi orang yang cinta karena Allah dan benci karana Allah, tegasnya cinta kepada semua kebaikan yang ada, dan benci kepada hal yang merugikan dan tidak memberi arti dan makna kepada sesama. Maka pusat aktifitasnya iktiar dalam poros menjadi lebih baik, bukan merasa yang terbaik.

   Kearah lebih bisik itulah produktivitas, usaha sungguh-sungguh merupalan kinerjanya. Dirasakannya sebagai meaning kebermaknaan hidup, dengan demikian inilah yang disebut minassholihin, orang yang banyak manfaatnya bagi manusia.

   Setiap diri manusia bercita-cita menjadi orang yang salih, anak-anaknya juga salih, orang-orang disekelilingnya shalih, tegasnya hidup dalam nauangan cinta Allah, maka dirinya ingin jikaulau diberi cinta karea Allah, jikaupun berpisah juga kareana Allah dan inilah orang-orang yang selalu mendapat naunga Allah dunia wal akherat disaat-saat tiada sedikitapiun naungan kecuali pemberian Allah yaitu ROJULUN tahabbu lillah wa tafarraqu lillah (hadist attirmidzi), untuk mencapi kinerja produktif diawali dengan niat yang besar dan disandarkan kepadaa yang Maha besar, bukan mencari yang remeh temeh, baru diupayakannya secara rasioal bukan dengan sekedar kata absurd yang tidak bermakna, maka melahirkan budaya karena menjadi way of life bersama dalam satuan-satuan sosial tertentu.

   Dalam konteks Islam modern ukuran produktivitas ikhtiar diletakkan dalam dimensi keagamaan, sosial, ekonmi dan politik yang bersifat integralistik, cita-cita mewujudkan konsep “shaleh” tidak hanya pada dimensi ukhrowiyah. Selanjutnya pendekan yang digunakan tidak dengan cara-cara kekerasan (un violence), tetapi penuh kedamaian dan toleransi, pendekatan budaya lebih diutamakan dari pada pendekatan poltik. Namun demikian dalam hal tertentu aspek kehidupan apapun dijadikan instrumen bagi diperolehnya jalan terbaik yang sesuai dengan kehendak Yang Maha Kuasa.

   Organisasi Islam modernis menyukai istilah dinul wasatiyyah dalam berdakwah amar makruf nahi mungkar, banyak Muslim yang condong kepada dunia saja, agama sekedar indentitas formal, ini sebetulnya idiologi sekuler, tapi juga banyak orang yang condong kepada akherat centris, mengabaikan sisi-sisi kemasyarakatan, tentu sikap eskeptisme (keragu-raguan/tidak peduli) terhadap dunia juga dinggap tidak adil trhadap dirinya sendiri yang cenderung membohongi kehidupannya, hakekatnya jujur kenikmatan jasmaniah dan duniawiyah juga merupakan kebutuhan asasiyah yang tidak bs dinegasi ( duabaikn ), maka yang terjadi adalah bernafsu besar tapi berwawasan kerdil, yang sering disbut” bersumbu pendek”, maka pendekatan keislaman yang di contohkan nabi saw adalah menebar Islam dengan Salam, meujudkan kemakmuran dengan gagagasan yang cemerlang, salaam adalh kinerjanya, cemerlang adalah produktivitanya. Wallahu ‘alam.

Tadabur Harmoni Alam Dalam Falsafah Sunda

   Gunung kudu kuat, leuweng (hutan), kudu hejo, walungan (sungai) kudu herang, taneuh kudu subur, manusa kudu gunah mana kana welas asih, maka tercapai bagja rahayu kana kahuripan ( mawadah warohmah) artinya harmoni dan hati penuh kasih antara manusia dengan alam kunci ketentraman.

   Dalam surat Al-Ahzab 72 mengisyaratkan (Allah memberi nasehat) mengenai kemasalahan yang wajib ditegakkan sebagai perwujudan jiwa fitri manusia oleh siapapun juga, terlebih para pemimpinnya yaitu iqomah ila huquqillah wa hukuki makhluqotillah yaitu dengan salah satu kunci akhlak yang disebut amanah lawannya khiyanah, amanah adalah sifat para Nabi yang di kenal Al-Amiin, sebagai ciri dari ciri orang yang menang, pada ayat 73 Allah menjelaskan akibat para pengkhianat yang terdiri Al-Munafikun wal musyrikun dengan bencana dan malapetaka yang akan menimpanya, implementasi amanah dalam ayat diatas tidak hanya taat, tetapi menggerakkan aktivitas sebagai sarana mendapatkan keridho Allah.

   Seringkali fisabilillah dlam alfadzil Qur’an dikaitkan dengan jihad, hijrah, infak, tapi dalam arti yang luas seperti pendapat hamka adalah aktivitas-aktivitas yang menyampaikan kepada tegaknya semangat beribadah, termasuk fi sabillah adalah pemenuhan kebutuhan-kebutuhan sosial, personal, kesehatan, pendidikan yang sekiranya hal-hal tersebut menambah ketaatan kepada Allah , kullu shoolihun indannas, fayardhoka (apa saja yang dirasaknnya maslahat, kalau pun tidak bernapas, maka diridlai Allah swt)

   Fi sabilillah bila dilihat makna harfiyyahnya di jalan Allah, melakukan langkah kepada Allah yaitu Keridlaan Allah dengan  berusaha mendapat kerelaan manusia (ridla Allah fi ridla al walidain), maka ke duanya saling berkaitan. Sejalan dengan itu, kebaikan dan ketaqwaan dalam surat Al Maidah (3) dapat menjadi isyarat kepada fi sabililah atau fi sabililil hak dan sabili taqwa yaitu taawun, perbuatan jihad, hijrah dan infaq merupakan pengejawantahan taawun kepada dinullah melalui memberi pertolongan berupa kebaikan (Al-Birr) sehingga tegaknya hakimat Allah di muka bumi, maka segala bentuk kebaikan (Al-Birr) dan ketaatan (taqwa) keduanya saling berkaitan, tiada sampai kepada derajat taqwa tanpa disertai dengan Al-Birr, dalam surat Al-Baqarah 177 , ujung dari segala bentuk Al-Birr, kesalehan sosial dan personal dapat memastikan jalan taqwa  (fisabilillah), perbuatan fi sabilillh wajib ditunaikan secara sukarela, tanpa paksaan serta semata-mata karena Allah, berupa taawun, tasammuh, tadhahi, tarahum dan lain-lain adalah fi sabilillah seperti yang dicontohkan Nabi dan para sahabatnya, maka Allah menjamin kenangan atas pertolongannya, dan Allah pilih jalan terbaik untuk kehidupannya.

    Banyak jalan mewujudkan Islam damai, Islam toleran, Islam yang mensejaterakan dan membagiakan di dunia dengan bertawun alal birri wattaqwa dengan menghindari bertaawun dengan cara radikal, kekerasan, dan tindakan yang merusak persatuan tetannan kerukunan di masyarakat, karena merusak sendi keislaman tidak hanya membawah dosa personal tetap sekaligus dosa sosial yang semakin mejauhkan keberkahan umat Islam dan kekalahan umat Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Fisabilillah menuju jalan Allah bukan dengan perang fisik, bukan pula hijrah konfrontatif dan bukan pula dilakukan kalangan konglomeratif, tetapi dilakukan semua lapisan masyarakat dan umat untuk memerangi kebodohan, kemiskinan, dan kemrosotan mentalitas, dengan cara persuasif dan kompromistis menjaukan cara-cara egoistis dan konfrontatif, inilah Islam wasyatiyah yang membawah harmoni bagi alam semesta.

dfsdgergh

Seminar Nasional dalam Rangka Wisuda 2019 “Membangun Mutu Pendidikan di Era 4.0 Menuju Pendidikan Islam Berkemajuan”

  1. Iftitah

    Panitia seminar memesan judul diatas saya kira sangat penting, bahkan saking pentingnya menjadi tema besar. Setidaknya ada 3 point kajian yaitu Budaya Literasi Era 4.0 dan pendidikan Islam progresif. Asumsi saya masih terdapat masalah yang dihapi dunia pada era ini yang  bermuara pada pertanyaan mengapa pendidikan Islam masih konsevatif diduga kuat penyebabnya masih lemahnya kebiasaan umat Islam meningkatkan skillnya dalam memenuhi tuntutan umatnya terutama dalam skill inovasi teknologi informasi, padahal sprit progresivitas dan perubahan minset, mestinya mendorong warga ummat dan bangsa ini memiliki ghiroh addiniyah sekaligus giroh Al-Wathaniyah, supaya tidak kalah dengan umat lain dan bangsa lain.

    Umat Islam dan bangsa Indonesia sudah terbiasa ( berbudaya) segalanya menjadi taken for grented, sudah establish sehingga stagnant, karena lemah dalam membudayakan keteraksaraan (berliterasi), inilah pokok pangkal lemahnya syahwat kecemburuan terhadap kemajuan.

  1. Jiwa Memiliki Budi

    Dalam surat Assayaam ayat ke 7 , Allah bersumpuh tentang jiwa ( annafs) sebagai rangkaian akhir dari ,7 sumpah tentang masa dari 7 penjuru peredaran alam semesta, yang intinya pada diri manusia yang sangat perlu diperhatikan mendapat asupan disamping asupan jasmani adalah asupan hati agar menjadi lentara kehidupan sehingga dapat menginspirasi / menerangi kehidupan bagai matahari yang diiringi bulan sebagai sejoli yang tidak pernah lelah, tidak pernah mengeluh dan tidak pernah putus asa siang dan malam agar jiwa/hatinya memiliki akal budi memberi manfaat untuk dirinya dan sekitarnya, dengan kata lain tarbiyatul islamiyyah esesnsinya tanwirul qulum, menjadikan jiwa yang cemerlang, disinari ilmu pengetahuan dan teknologi.

    Dalam Islam urusan dunia tidak dapat dipisahkan antara dunia dan akherat, ketika orang mengisi kehidupan dunia dengan segala kemewahannya, Allah mengingatkan ada kemewahan lain yang melebihi kemewahan dunia (Al-Imran 14), dan ketika mempersiapkan kehidupan akhirat tidak boleh melupakan dunia ( Al-Qashas 77), dunia sama sekali tidak boleh diabaikan dengan hanya sekedar mengejar akherat, bahkan dengan menguasai dunia mengejar akherat menjadi ringan dan mudah, dan relatif orang yang menguasai dunia, dapat memungkinkan mendapatkan banyak bonus keutamaan akherat, maka sungguh keliru orang membenci dunia, tetapi juga Allah sangat benci pemuja dunia sampai melupakan Akherat, rusan dunia adalah urusan yang sepenuhnya diserahkan kepada kecerdasan akal manusia, maka jika kalah dalam keduniawiahan penyebabnya pasti karena tidak cerdas, baik intelektualnya maupun kecerdasan sosialnya.

    Keberhasilan dunia dipicu oleh etos keislaman yang disebut Al-Ghirah addiniyah, cemburu yang besar yang dipicu ajaran agama, yaitu merasa tidak mau kalah dengan kelompok-kelompok lain, terlebih spirit dan etos Keislaman sebagai khoiru ummatin, yang diperintah menyeru kepada Al-Khaer (tidak hanya baik, tetapi bentuk superlatif/terbaik). Semangat inilah mendorong kita kepada kemajuan, dan Idul Fitri sebagai momentum kebangkitan dan kemenangan, “Allahumma la taj’al Ramdlani aakhiran li’ibadati, wa in Ramanii akhiran fi sanatii, waj’al minal marhumiin, wala taj’al mial mahrumiin”, Ya Allah jangan Engkau jadikan Ramadlan (kemarin) sebagai yang terakhir untuk diriku, jika memang harus yang akhir dari umurku, maka jadikanlah aku orang Engkau kasihi, jangan menjadi orang yang Engkau benci, doa- doa hari kesucian sangat indah, bila dihayati, maka bagaimana doa-doa itu benar-benar menjadi berkemajuan lahir dan bathin (no nomery only but quality/kuantitas sekaligus kualitas) dan jika doa-doa itu memenuhi syarat, maka pasti menjadi kenyataan yaitu menjadi umat yang unggul.

Dalam surat Al-Baqarah187 , waidza sa’alaka ibadii,. disitu sampai akhir ayat, maka sayaarat untuk diberi selamat, ramat, berkah, panjang umur, dan lebih banyak rizqi yang berkuslitas dan unggul dari ayat tersebut ada 2 yaitu ;

  1. Istijabah memenuhi atau menjawab semua yang dikendaki Allah SWT (merespon qudariah dan iradahnya Allah)
  2. Menghindari banyak konflik, permusuhan, dan intoleransi sebagaiai otentisitas keimanan yaitu memperbanyak usaha-usaha memberdayakan orang yang beruntung dalam hidupnya mereka anak yatim, fakir miskin, dan orang-orang mustadlafin, seperti yang diperintahkan dalam surat Al-Maun dan Al-Balad, dengan berbagai kegiatan yang sekiranya maslahat dan menghadiri mudharat dengan kecerdasan sosial manusia. Inilah implementasi 220 Al-Baqarah, mulai dari 0 atau dari 22 menuju 0, past Allah meridhaimu. Amin.

     Pendidikan Islam menempatkan mental peserta didik untuk ditumbuh kembangkan sebagai tujuannya yang paling penting, walaupun tidak berarti aspek lainnya tidak penting. “kullu mauludin yuladu alal fitrah“, pendidikan kesucian hati merupakan penumbuhan dan pembangunan karakter kemanusiaan yang dilakukan orang tua sejak pranatal sampai akhir hayat (long life education), seiring dengan ritme perkembangan anak, orang tua dan guru mengawal setiap fase perkembangan motorik dan psikologis anak sehingga mereka memiliki kecerdasan intelektual-spiritual dan sekaligus kecerdasa dan moral-sosial, tidak hanya memiliki hard skill tetapi sekaligus soft skill, menurut sayaekh Rahman Nashir dalam tafsir bayanil quran, ada 4 golongan manusia;

  1. Fasiidun yaitu orang yang beribadah batin tapi tidak beribadah lahir, uzlah dan menyendiri tapi tidak silaturahmi.
  2. Munafiqun bergiat dalam bersosial tapi tidak berzikir dan shlat.
  3. Musayarikun tidak bersosial dan tidak berdzikir (ikhwan sayaaiton).
  4. Mu’minun yaitu qoimuna dzohiran wa bathinan, orang yang bertanggung jawab lahir bathin, fisik dan hati. Inilah makna selamat hari raya lahir dan bathin , jadi yang selamat itu Al-Mukminun saja. Semoga setelah berhalal bi halal menjadi halalan bisa meningkatkan sejahtera dan selamat lahiriyah maupun bathiniyah . Amiin.

    Pendididikan Islam memastikan hadirnya manusia yang bertuhan (beriman) untuk menegakkan kesalehan spritual dengan menginat Allah dan mendekatkan diri kepadaNya, dan menegakkan kesalehan sosial dengan menunaikan tugas-tugas kekhalifahan di muka bumi. Pendidikan Islam tidak mengharapkan lahirnya generasi matrialistis, sekularistis dan atheis, yang terbukti telah gagal menciptakan keadilan, kemakmuran dan kedamaian masayaarakat, terbentuknya masyarakat Islam yang sebenarnya adalah masayarakat yang tidak hanya tekun beribadah , tetapi sekalus menunaikan kewajiban-kewajiban sosial untuk mendorong masayaakat yang unggul (khairu ummah). Dan untuk itu diperlukan guru-guru yang unggul, demikian pula unggul dalam kurikulum, sarana, leadership dan standar-standar lainnya sehingga mampu menciptakan budaya literasi yang mendukung tercapinya lulusan yang unggul pula.

    Terkait dengan budaya keaksaraan, maka ada 10 mentalitas pembelajar tangguh, kesepululuh manhaj itu meliputi , attajamu, assabat, attadhahi, al fahmu, atta’ ah, al jamaah, al ukhuwah, al jihad, attarahum dan attaisir, Attajamu (bangga/menyayangi) tugas mengangajar (Al-Imran 14), assabat ( taat/disiplin) dalam mengajar (Al-Maidah 10), attadhahi (rela berkrbn) guru sebagai pahlawan (Al-Baqarah124) alfahmu (amati dan memahami ) kondisi siswa, assajadah 17. Al jamaah (solidaritas,/ kebersamaan) arra’du 11, al ukhuwah (menghindari konflik) Al-Maidah 48, Al-Jihad (niat mewujudkan bangsa yang sejahtera) Al-Hasyr 7, attarahum (berbasis cinta dan kasih sayang) Al-Hasyr 9 dan attaisir (Al-Baqarah286)

    Nabi Muhammad merupakan rool model dalam pendidikan Islam, sebagai best educator, best making dan telah melahirkan lulusan terbaik dijelskan surat Attaubah 128 – 129 dalam penjelasan tafsir muyassar typologi profetic teaching meliputi hebatnya guru dalam mengajar karena ikhtitiar dan tawakal (mengajar dengan ragawi dan hati) maka melahirkan lulusan yang dahsayaat kekuratan fisik dan mentalnya.

  1. Pendikan Islam di era Revolusi 4.0

    Pendidikan dan peradaban manusia dalam lintas zaman tidak dapat dilepaskan dengan budaya literasi sejalan dengan tuntutan masayaarakat pendukungnya, bilamana stagnan maka pendidikan , akan ditinggalkan masayaarakatnya, mereka akan mencari model pendidikan yang memiliki relevansi dengan zamannya.

    Istilah Revolusi 4.0, merupakan perubahan dari masayaarakat tradisional kepada mesin yang diintegrasikan dengan listrik, Setelah ditemukan mesin komputer, maka manusia menuhankan mesin (we happy with mecin), maka pada thn 1960an, manusia mengintegrasikan komputer dengan internet sebagai suatu perubahan terdhasyat yang cenderung distruptif dan berdampak besar terhadap pola pikir dan kebutuhan manusia, terhadap hal-hal yang bersifat sosial, apakah dengan demikian generasi manusia tidak perlu lagi orang lain, karena dengan kesendirian manusia akan dapat memenuhi segala kebtuhannya. Manusia di zaman ini tidak lagi membutuhkan kuantitas, tapi lebih kepada kualitas.

    Manusia yang menguasi teknologi informasi akan menjadi pemenang dunia, duisinilah urgensitas literasi manusia dalam mengatasi mega problematika kehidupan manusia. Kemampuan literasi media , literasi data, disamping literasi buku merupakan keniscayaan , bila pendidikan Islam masih ingin dibutuhkan pendukungnya. Pendidikan Islam wajib mengintegrasikan hard skill dan soft skill, sungguhpun secara konsep telah lama ada, namun prksisnya memerlukan inovasi yang menuju proses dan hasinya kearah yang lebih baik dari sebelumnya. Spirit ini ditemukan dalam term-term keislaman, seperti ahsanu amala , isti’dadu bi quwwah, muhasabah, dan istijabah serta lain sebagainya melalui iqra bismi rabbika , iqra bil qalam dan iqra dengan cara serta model multy approach, Pendididikan Islam normatifnys hadir sebagai Sholihun (solitif) atas problem-problem kemanusiaan dalam lintas zaman dan peradaban, untuk itu, membutuhkan generasi para pendidik dan unsur aktivis pendidikan lainnya yang konsen mencitrakan dan sekaligus mengawal nuansa pendidikan yang relevan serta memberi narasi literatif yang dapat memajukan kebutuhan lahiriyah dan mentalitas yang terintegratif.

edsgergg sgsfrewg

 

Refleksi Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia

  Infonesia identik dengan Islam. Setidaknya sejak turun masa keeman kerajaan nusantara yang terbentang dari samudra pasai sampai demak, dari aceh sebagai serambi mekkah, sampai kota-kota pelabuhan yang ramai dikunjungi saudagar- saudagar Arabbia , persia. Gujarat dan cina hingga datangnya pedagang kolonialis eropa yang mengaduk-aduk keindahan dan kekayaan nusantara.

  Pembentukan tradisi intelektual Islam berawal dari interaksi jaringan keulamaan hijaz dan nusantara, justru bukti ini terawat rapih di musium kebudayaan Islam Kerajaan Brunai Darussalam, pertanda bahwa dari waktu ke waktu bangsa nusantara lebih suka mengolah kebendaan dari pada melestarikan warisan intelektual Islam.

  Karya-karya tasauf dan mistisisme Islam kini menjadi benda-benda purbakala yang pantang di jamah apalagi menjadi bahan diskusi. Padahal spiritualitas keagamaan ini pada kenyataan hitorisisnya menjadi pematik utama lahirnya tradisi pemerintahan, hukum ,pranata sosial dan ekonomi yang membawah kepada integrasi ummat Islam Indonesia.

  Pelembagaan ptanata keluarga sosial dan kenegaraan berpusat pada pemimpin formal, informal dan non formal, mereka para pemimpin menjadi penggerak utama pengarusutamaann pola-pola dari kehidupan harmonis, membawahnya kemajuan dalam sektor kehidupan, seperti terlihat dalam buku-buku karya sastra, filsafat, hukum, dan praktek-praktek kriya seni dan hiburan yang dikembangkan merupakan sepenggal kehidupan surgawi sebagai  masa integtasi islam nusantara.

  Islam nusantara yang tidak mengandung diksi politisasi agama, seperti penggunaan Islam modern dan tradisional, yang mengandung faham sterioretif tetapi Islam yang berada dalam konteks sosiologis indonesia yang istilah kerajaan-kerajaan yang hidup damai dalam suatu konfederasi gugus kepulauan yang saling menghormati kedaulatan kebangsaan.

  Sejarah kebudayaan Islam Indonesia atau saat itu di nusantara memberikan nilai kearifan lokal yang bernilai tinggi, sekaligus menginspirasi bahwa ummat Islam indonesia masa lalu telah mampu mengantarkan bangsa yang maju, sejahtera,  cerdas dan hidup damai, maka masa klasik islam indonesia dapat menjadi filosofi untuk bangkit kembali masa kejayaannya dalam perkembangan zaman yang menyetainya.

  Perkembangan Islam Indonesia sejak alam kemerdekaan hingga sekarang mewariskan kekayaan budaya dan khazanah litersi yang luar biasa terhampar dalam dinamika sosio- intelektual berupa kembagaan pendidikan, masjid, keormasan Islam, penerbitan, petekonomian , hukum dan perundang-undangan, maka sungguh sangatlah naif bangsa ini jika hanya berebut kebendaan yang sesaat menghancurkan kekayaan yang begitu mahal, maka apa bedanya dengan Hulaghu Khan, jengiskhan dan sejenisnya yang telah menghancurkan kekayaan budaya untuk merampok kekayaan bendawi dari negerinya sendiri dan oleh bangsanya sendiri Naudzubillah.

Hidup Mencerahkan

  Hidup yang paling indah adalah bercahaya dan cahaya itu menyinari dunia baik siang maupun malam, di kala senang ataupun susah, ia terus memberi manfaat tiada henti, terhadap alam dan manusia sekitarnya (Al-Imran 134)   bila seseorang memiliki hati yang fitri (qolbun salim) pasti memberikan makna terindah bagi hidupnya dan orang lain di akherat maupun di dunia (As-Syaro 89 ), dalam pepatah jawa urip “urup” dalam bahasa sunda “dikawit mani janten manah”, yaitu Allah menciptakan manusia pada mulanya gelap, kemudian Allah melimpahkan cahaya menjadilah hidup terang dan menyala, dari tidak kelihatan ( bahasa Cirebon “peteng” menjadi “murub”).

  Manusia pada awal diciptakn lemah (dho’fin) dalam fisik, akal dan hati, kemudian Allah memberinya kuat (quwwatin), maka cahaya (obor) kehidupan yaitu kuasa, raksa, karsa raga wajib dijaga dengan “ahsanu amala” maka itulah orang yang dapat memelihara kesucian jiwanya, karena itulah mereka menjdi unggul (ngarawuh bagja).

  Dalam konsep negara maju (rice state), masyarakatnya makmur dan sejahatieta, penduknya memiliki akal budi yang sehat (health people), sebaliknya negara jahat (evil country) pasti negri itu dihuni orang-orang jahat (evil people) masyarakat sakit yang berhati sakit dan terlebih bila negara itu hancur dan gagal sebenarnya timbul dari masyarakat yang mati hatinya (qolbun mayyit) dan lahirnya pemimpin di suatu negeri adalah cermin dari kondisi sebenarnya dari masyarakatnya inilah yang dikatakan “assyatibi annasu ala diini mulukihim” (pemimpin adalah gambar dari rakyat)  rakyat yang sehat pasti memilih pemimpinnya yang sehat, rakyat yang gila pasti memilih pemimpin yang gila.

  Tugas setiap warga negara adalah mewujudkan mayarakat yang sehat melalui pendidikan yang unggul yang dapat melahirkan generasi yang kuat, gagah dan berwibawa.

halaaaaallllllllllllllllllllllllll

Menyatukan Niat Dengan Perbuatan

  Berangkat dari surat Al-Baqarah 220, dari segala sesuatu berjodoh menuju angka 0 sebagai simbol keikhlasan, dan bisa juga dibaca dari kanan bermula dari 0 yaitu hati yang tulus kemudian berbuat sebanyak-banyaknya kebaikan di dunia sebagai ladang amal, tempat kediaman temporal, untuk menyelesaikan berbagai persoalan , membangun wasail (bekal) agar sampai kepada Al-Akhir yaitu kebahagiaan otentik bukan yang semu dan bukan yang palsu.

  Tulisan ini menggunakan manhajul fikri (metode / penekanan eksistensialisme, dengan merujuk pada naqli dalam mengoptimalkan kekutan berfikir dengan asumsi bahwa semakin luas pengetahuan seseorang, beragama semakin ringan, seperi dalam kaidah fikih tentang pengamalan rukhshah dan meninggalkan yang azimah bila terdapat masyaqah (kedaruratan yang akut) jika dilaksakan azimah atas pertimbangan akal budi yang sehat.

Dalam pemahaman umum atas surat Al-Baqarahsetidaknya ada beberapa muqobalah berikut

  1. Antara dunia dan akherat
  2. Antara pencampuran harta anak yatim & walinya
  3. Antara maslahat dan mafsadat
  4. Antara taysir dan kharj

  Dalam Islam urusan dunia tidak dapat dipisahkn antara dunia dan akherat, ketika orang mengisi kehidupan dunia dengan segala kemewahannya, Allah mengingatkan ada kemewahan lain yang melebihi kemewahn dunia (Al-Imran 14 ), dan ketika mempersiapkan kehidupan akhirat tidak boleh melupakan dunia (Al-Qoshos 77). Dunia sama sekali tidak boleh diabaikan dengan hanya sekedar mengejar akherat, bahkan dengan menguasai dunia mengejar akherat menjadi ringan dan mudah, dan relatif orang yang menguasai dunia, dapat memungkinkan mendapatkn banyak bonus keutamaan akherat, maka sungguh keliru orang membenci dunia, tetapi juga Allah sngt benci pemuja dunia sampai melupakan akherat, urusan dunia adalah urusan yang sepenuhnya diserahkan kepada kecerdasan akal manusia, maka jika kalah dalam keduniawian penyebabnya pasti karena tidak cerdas, baik intelektualnya maupun kecerdasan sosialnya.

  Keberhasilan dunia dipicu oleh etos Keislaman yang disebut al ghirah addiniyah, cemburu yang bisar yang dipicu ajaran agama, yaitu merasa tidak mau kalah dengan kelompok lain, terlebih spirit dan etos Keislaman sebagaiai khoiru ummatin, yang diperintah menyeru kepada Al-Khaer (tidak hanya baik, tetapi bentuk superlatif / terbaik), semangat inilah mendorong kita kepada kemajuan, dan Idul Fitri sebagai momentum kebangkitan dan kemenangan, pada hari raya kesuciaan intinya umat Muslim berdoa dan saling mendoakan untuk keselamatan mandapatkan rahmat dan keberkahan seperti dalam ucapan salam, kemudian ditambah dengan doa tahniah yaitu semoga cita-citanya dikabulkan dan memperoleh kemenangan, kemudian sebelumnya berdoa ketika melepas Ramadln seperti yang dicontohkan Nabi,  Allahumma la taj’al Ramdlani aakhiran li’ibadati, wa in Ramanii akhiran fi sanatii, waj’al minal marhumiin, wala taj’al mial mahariumiin, ya Allah jangan Engkau jadikan Ramadlan (kemarin) sebagai yang terakhir untuk diriku, jika memang harus yang akhir dari umurku, maka jadikanlah aku orang Engkau kasihi, jangan menjadi orang yang Engkau benci, doa- doa hari kesucian sangat indah, bila dihayati, maka bagaimana doa-doa itu benar-benar menjadi berkemajuan lahir dan bathin (no nomery only but quality/kuantitas sekaligus kualitas) dan jika doa-doa itu memenuhi syarat, maka pasti menjadi kenyataan yaitu menjadi umat yang unggul, dalam surat Al-Baqarah187 , waidza sa’alaka ibadii disitu sampai akhir ayat, maka syarat untuk diberi selamat, ramat, berkah, panjang umur, dan lebih banyak rizqi yang berkuslitas dan unggul dari ayat tersebut ada 2 yaitu

  1. Istijabah memenuhi atau menjawab semua yang dikendaki Allah SWT (merespon qudariah dan iradahnya Allah)
  2. Menghindari banyak konflik, permusuhan, dan toleransi sebagai otentisitas keimanan yaitu memperbanyak usaha-usaha memberdayakan orang yang beruntung dalam hidupnya mereka anak yatim, fakir miskin, dan orang-orang mustadlafin, seperti yang diperintahkan dalam surat Al-Maun dan Al-Balad, dengan berbagai kegiatan yang sekiranya maslahat dan menghadari mudharat dengan kecerdasan sosial manusia. Inilah implementasi 220 Al-Baqarah, mulai dari 0 atau dari 22 menuju 0, pasti Allah meridhaimu. Amin.
df964a04-384b-446d-9e00-85881443391e

Jiwa Memiliki Budi

  Dalam surat As-Syams ayat ke 7 , Allah bersumpah tentang jiwa (An-Nafs) sebagai rangkaian akhir dari 7 sumpah tentang masa dari 7 penjuru peredaran alam semesta, yang intinya pada diri manusia yang sangat perlu diperhatikan mendapat asupan disamping asupan jasmani adalah asupan hati agar menjadi lentara kehidupan sehingga dapat menginspirasi / menerangi kehidupan bagai matahari yang diiringi bulan sebagai sejoli yang tidak pernah lelah, tidak pernah mengeluh dan tidak pernah putus asa siang dan malam agar jiwa/hatinya memiliki akal budi memberi manfaat untuk dirinya dan sekitarnya.

  Dalam sebuah syair memelihara hati yang berakal budi membawa   semangat / spirit serta gairah hidup yang terus menyala membara bagai api abadi yang tiada pernah redup dan padam sepanjang usia manusia, syair itu ditulis syauqi bey “ikhfadz linafsika dzikraha, faidza fzikraka faumrukassan” jaga mata hatimu sehingga ada yang merindukanmu, jika sudah ada orang rindu padamu, maka mendapatkan umur kedua, yaitu umurmu dan umur yang merindukanmu, Itulah umur abadimu.

  Kerinduan yang hakiki pada seseorang ditimbulkan perasaan positif karena akal budi yang menghasilkan pikiran, karya, jasa yang tak terhingga yang membuat manusia menemukan jalan kehidupan yang baik, contohnya Nabi Muhammad dirindukan ummatnya karena jasa-jasanya. Umurnya hanya 63 tahun, tapi umur keduanya lebih dari 1400 tahun. Para tokoh intelektual pendidikan mengalmi proses pembelajaran berbasis interaksi jiwa dengan akal budi. Yang dalam metode pendidikan Islam disebut al asyirh fi manhaji tarbiyatul Islam, kesepuluh manhaj itu meliputi , attajamu, assabat, attadhahi, al fahmu, atta’ ah, al jamaah, al ukhuwah, al jihad, attarahum dan attaisir.

  Attajamu (bangga/menyeangi) tugas mengangajar (Al-Imran 14), assabat (taat/disiplin) dalam mengajar (Al-Maidah 10), attadhahi (rela berkorban) guru sebagai pahlawan ( Al-Baqarah 124) alfahmu (emati dan memahami ) kondisi siswa, As-Sajadah 17. Al-Jamaah (solidaritas /  kebersamaan) Ar-Ra’du 11, Al-Ukhuwah (mengghindari konflik) Al-Maidah 48, Al-Jihad (niat mewudkan bangsa yang sejahatera) Al-Hasyr 7, At-Tarahum ( berbasis cinta dan kasih sayang) Al-Hayr 9 dan At-Taisir (Al-Baqarah 286)