Hidup Mencerahkan

  Hidup yang paling indah adalah bercahaya dan cahaya itu menyinari dunia baik siang maupun malam, di kala senang ataupun susah, ia terus memberi manfaat tiada henti, terhadap alam dan manusia sekitarnya (Al-Imran 134)   bila seseorang memiliki hati yang fitri (qolbun salim) pasti memberikan makna terindah bagi hidupnya dan orang lain di akherat maupun di dunia (As-Syaro 89 ), dalam pepatah jawa urip “urup” dalam bahasa sunda “dikawit mani janten manah”, yaitu Allah menciptakan manusia pada mulanya gelap, kemudian Allah melimpahkan cahaya menjadilah hidup terang dan menyala, dari tidak kelihatan ( bahasa Cirebon “peteng” menjadi “murub”).

  Manusia pada awal diciptakn lemah (dho’fin) dalam fisik, akal dan hati, kemudian Allah memberinya kuat (quwwatin), maka cahaya (obor) kehidupan yaitu kuasa, raksa, karsa raga wajib dijaga dengan “ahsanu amala” maka itulah orang yang dapat memelihara kesucian jiwanya, karena itulah mereka menjdi unggul (ngarawuh bagja).

  Dalam konsep negara maju (rice state), masyarakatnya makmur dan sejahatieta, penduknya memiliki akal budi yang sehat (health people), sebaliknya negara jahat (evil country) pasti negri itu dihuni orang-orang jahat (evil people) masyarakat sakit yang berhati sakit dan terlebih bila negara itu hancur dan gagal sebenarnya timbul dari masyarakat yang mati hatinya (qolbun mayyit) dan lahirnya pemimpin di suatu negeri adalah cermin dari kondisi sebenarnya dari masyarakatnya inilah yang dikatakan “assyatibi annasu ala diini mulukihim” (pemimpin adalah gambar dari rakyat)  rakyat yang sehat pasti memilih pemimpinnya yang sehat, rakyat yang gila pasti memilih pemimpin yang gila.

  Tugas setiap warga negara adalah mewujudkan mayarakat yang sehat melalui pendidikan yang unggul yang dapat melahirkan generasi yang kuat, gagah dan berwibawa.

halaaaaallllllllllllllllllllllllll

Menyatukan Niat Dengan Perbuatan

  Berangkat dari surat Al-Baqarah 220, dari segala sesuatu berjodoh menuju angka 0 sebagai simbol keikhlasan, dan bisa juga dibaca dari kanan bermula dari 0 yaitu hati yang tulus kemudian berbuat sebanyak-banyaknya kebaikan di dunia sebagai ladang amal, tempat kediaman temporal, untuk menyelesaikan berbagai persoalan , membangun wasail (bekal) agar sampai kepada Al-Akhir yaitu kebahagiaan otentik bukan yang semu dan bukan yang palsu.

  Tulisan ini menggunakan manhajul fikri (metode / penekanan eksistensialisme, dengan merujuk pada naqli dalam mengoptimalkan kekutan berfikir dengan asumsi bahwa semakin luas pengetahuan seseorang, beragama semakin ringan, seperi dalam kaidah fikih tentang pengamalan rukhshah dan meninggalkan yang azimah bila terdapat masyaqah (kedaruratan yang akut) jika dilaksakan azimah atas pertimbangan akal budi yang sehat.

Dalam pemahaman umum atas surat Al-Baqarahsetidaknya ada beberapa muqobalah berikut

  1. Antara dunia dan akherat
  2. Antara pencampuran harta anak yatim & walinya
  3. Antara maslahat dan mafsadat
  4. Antara taysir dan kharj

  Dalam Islam urusan dunia tidak dapat dipisahkn antara dunia dan akherat, ketika orang mengisi kehidupan dunia dengan segala kemewahannya, Allah mengingatkan ada kemewahan lain yang melebihi kemewahn dunia (Al-Imran 14 ), dan ketika mempersiapkan kehidupan akhirat tidak boleh melupakan dunia (Al-Qoshos 77). Dunia sama sekali tidak boleh diabaikan dengan hanya sekedar mengejar akherat, bahkan dengan menguasai dunia mengejar akherat menjadi ringan dan mudah, dan relatif orang yang menguasai dunia, dapat memungkinkan mendapatkn banyak bonus keutamaan akherat, maka sungguh keliru orang membenci dunia, tetapi juga Allah sngt benci pemuja dunia sampai melupakan akherat, urusan dunia adalah urusan yang sepenuhnya diserahkan kepada kecerdasan akal manusia, maka jika kalah dalam keduniawian penyebabnya pasti karena tidak cerdas, baik intelektualnya maupun kecerdasan sosialnya.

  Keberhasilan dunia dipicu oleh etos Keislaman yang disebut al ghirah addiniyah, cemburu yang bisar yang dipicu ajaran agama, yaitu merasa tidak mau kalah dengan kelompok lain, terlebih spirit dan etos Keislaman sebagaiai khoiru ummatin, yang diperintah menyeru kepada Al-Khaer (tidak hanya baik, tetapi bentuk superlatif / terbaik), semangat inilah mendorong kita kepada kemajuan, dan Idul Fitri sebagai momentum kebangkitan dan kemenangan, pada hari raya kesuciaan intinya umat Muslim berdoa dan saling mendoakan untuk keselamatan mandapatkan rahmat dan keberkahan seperti dalam ucapan salam, kemudian ditambah dengan doa tahniah yaitu semoga cita-citanya dikabulkan dan memperoleh kemenangan, kemudian sebelumnya berdoa ketika melepas Ramadln seperti yang dicontohkan Nabi,  Allahumma la taj’al Ramdlani aakhiran li’ibadati, wa in Ramanii akhiran fi sanatii, waj’al minal marhumiin, wala taj’al mial mahariumiin, ya Allah jangan Engkau jadikan Ramadlan (kemarin) sebagai yang terakhir untuk diriku, jika memang harus yang akhir dari umurku, maka jadikanlah aku orang Engkau kasihi, jangan menjadi orang yang Engkau benci, doa- doa hari kesucian sangat indah, bila dihayati, maka bagaimana doa-doa itu benar-benar menjadi berkemajuan lahir dan bathin (no nomery only but quality/kuantitas sekaligus kualitas) dan jika doa-doa itu memenuhi syarat, maka pasti menjadi kenyataan yaitu menjadi umat yang unggul, dalam surat Al-Baqarah187 , waidza sa’alaka ibadii disitu sampai akhir ayat, maka syarat untuk diberi selamat, ramat, berkah, panjang umur, dan lebih banyak rizqi yang berkuslitas dan unggul dari ayat tersebut ada 2 yaitu

  1. Istijabah memenuhi atau menjawab semua yang dikendaki Allah SWT (merespon qudariah dan iradahnya Allah)
  2. Menghindari banyak konflik, permusuhan, dan toleransi sebagai otentisitas keimanan yaitu memperbanyak usaha-usaha memberdayakan orang yang beruntung dalam hidupnya mereka anak yatim, fakir miskin, dan orang-orang mustadlafin, seperti yang diperintahkan dalam surat Al-Maun dan Al-Balad, dengan berbagai kegiatan yang sekiranya maslahat dan menghadari mudharat dengan kecerdasan sosial manusia. Inilah implementasi 220 Al-Baqarah, mulai dari 0 atau dari 22 menuju 0, pasti Allah meridhaimu. Amin.
df964a04-384b-446d-9e00-85881443391e

Jiwa Memiliki Budi

  Dalam surat As-Syams ayat ke 7 , Allah bersumpah tentang jiwa (An-Nafs) sebagai rangkaian akhir dari 7 sumpah tentang masa dari 7 penjuru peredaran alam semesta, yang intinya pada diri manusia yang sangat perlu diperhatikan mendapat asupan disamping asupan jasmani adalah asupan hati agar menjadi lentara kehidupan sehingga dapat menginspirasi / menerangi kehidupan bagai matahari yang diiringi bulan sebagai sejoli yang tidak pernah lelah, tidak pernah mengeluh dan tidak pernah putus asa siang dan malam agar jiwa/hatinya memiliki akal budi memberi manfaat untuk dirinya dan sekitarnya.

  Dalam sebuah syair memelihara hati yang berakal budi membawa   semangat / spirit serta gairah hidup yang terus menyala membara bagai api abadi yang tiada pernah redup dan padam sepanjang usia manusia, syair itu ditulis syauqi bey “ikhfadz linafsika dzikraha, faidza fzikraka faumrukassan” jaga mata hatimu sehingga ada yang merindukanmu, jika sudah ada orang rindu padamu, maka mendapatkan umur kedua, yaitu umurmu dan umur yang merindukanmu, Itulah umur abadimu.

  Kerinduan yang hakiki pada seseorang ditimbulkan perasaan positif karena akal budi yang menghasilkan pikiran, karya, jasa yang tak terhingga yang membuat manusia menemukan jalan kehidupan yang baik, contohnya Nabi Muhammad dirindukan ummatnya karena jasa-jasanya. Umurnya hanya 63 tahun, tapi umur keduanya lebih dari 1400 tahun. Para tokoh intelektual pendidikan mengalmi proses pembelajaran berbasis interaksi jiwa dengan akal budi. Yang dalam metode pendidikan Islam disebut al asyirh fi manhaji tarbiyatul Islam, kesepuluh manhaj itu meliputi , attajamu, assabat, attadhahi, al fahmu, atta’ ah, al jamaah, al ukhuwah, al jihad, attarahum dan attaisir.

  Attajamu (bangga/menyeangi) tugas mengangajar (Al-Imran 14), assabat (taat/disiplin) dalam mengajar (Al-Maidah 10), attadhahi (rela berkorban) guru sebagai pahlawan ( Al-Baqarah 124) alfahmu (emati dan memahami ) kondisi siswa, As-Sajadah 17. Al-Jamaah (solidaritas /  kebersamaan) Ar-Ra’du 11, Al-Ukhuwah (mengghindari konflik) Al-Maidah 48, Al-Jihad (niat mewudkan bangsa yang sejahatera) Al-Hasyr 7, At-Tarahum ( berbasis cinta dan kasih sayang) Al-Hayr 9 dan At-Taisir (Al-Baqarah 286)

93a1506b-16f2-46d5-81bb-b41559c200a1

Nuzulul Qur’an Mahasiswa Pesantren UMC

cd466893-ade9-4609-a960-dff9d6df750e

Rektor UMC, Prof. DR. H. Khaerul Wahidin. M.Ag,

  Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) menyelenggarakan Kajian Islam dengan tema Nuzulul Qur’an, dengan pelaksana pesantren UMC, bekerjasama dengan masyarakat sekitar.

  Kajian Islam tersebut disertai pula dengan pemberian bingkisan dan santunan kepada 50 anak yatim dan mustadafiin.

  Nara sumber dalam kajian ini langsung disampaikan Rektor UMC, Prof. DR. H. Khaerul Wahidin. M.Ag, dan ditutup ceramahnya dengann iftthor jama’i beserta civitas dan masyarakat sekitar.

  Dalam taushiyahnya Rektor menjelaskn ajaran Islam tentang filantropi, sebagai esensi Al-Qur’an. Sebagaimana dalam surat Al-Anbiya 110,/bahwa di utusnya Muhammad dengan Al-Qur’an nya agar manusia meraskan rahmah/kesejahatieraan lahir,batin, jamani, rahani, dunia dan akherat.

  Islam mengecam pemeluknya kenyang dan senang sendiri sementara tetangganya kelaparan. Maka gerakan taawun merupakan misi utama Al-Qur’an.

  Pada sisi lain tergeraknya umat Islam menolong sesamanya timbul dari hati yang jernih, hati manusia yang terkontaminasi oleh sifat-sifat yang madzmumah, akan sulit menjadi sosok filantropi maka sebelum orang mau beraqobah, berjihad dengan hartanya dan melepas yang dicintainya untuk berbagi, harus trlebih dahulu membersihkan hati dari kikir dan dengki, (Al-Hasyr 9 dan 10).

  Filantopi merupakan mofalitas dakwah, karena jika dai mendawahkn Islam, tidak disertai memberi pertolongan, maka dakwahnya tidak menarik, maka dalam surat Al-Dzariat 19, memberi pertolongan kepada sesama, terlebih yang sangat dibutuhkn, menjdi motivasi untuk diterimanya dakwah tersebut.

 

Filantropi Pilar Utama Penyucian Diri

   Islam adalah Dinul Maslahah untuk menginspirasi Umatnya meujudkan kehidupan adil-makmur, sejahtera dunia akherat.

   Kesejahteraan bersama tidak akan terwujud tanpa hadirnya filantropis (para dermawan) yang mau berbagi harta dan kegembiraan. Didalam harta orang-orang yang mapan terdapat hak orang-orang yang tidak mampu (Az-Zariyat 19, wafi amwalihim haqqussail wal mahrum).

   Bulan Ramadhan adalah bulan penyucian duri (syahrun gufron), dan ujung dari berpuasa adalah dibersihkannya kedirian manusia sehingga manusia kembali kepada asal kejadiannya (Al-Uns), kembali kepada kesuciaannya (fitrah).

   Kembali kepada agamanya (hanif). Maka makna kedermawaan bila dikaitkan maqosidnya (niat liridlaillah), disamping dibangun diatas ubudiyah (dzikir, do’a), juga terdapat pilar tarhiim (ihsaniyatul insan),  itulah sebabnya setiap perintah Al-Shalat disambung dengan Al-Zakah, dan dalam surat Al-Kautsar kata shalat dilanjutkan dengan berkurban, untuk terus berkembang rizki dan keutamaan manusia serta tidak pernah putus (terus mengalir yang dijanjikan Allah SWT).

   Adapun pilar dari segala bentuk filantropi (sedekah, zakat, nafkah, atensi, empati, memahami, tidak menyakiti dan sebagainya) didasarkan pada pilar kesucian diri sebagai bentuk konsekwensi kemanusiaan, sifat-sifat yang sebaliknya seperti sadis, brutal , ugal-ugalan, membabi buta, kasar, menyakitkan adalah bukan keditian manusia.

   Bulan Ramadlan diharapkan manusia dapat kembali menjadi manusia, yang telah luruh dan larut dlam sifat-sifat kebinatangan dan syaitan.

Misteri Lailatul Qadar

   Nabi SAW, mengisyratkan di dalam bulan Ramadhan terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu malam Lailatul Qadar yaitu malam kepastian.

   Dari berbagai dimensi yang mengandung misteri, dari segi konsep, waktu, aktivitas, momentum, ciri, dan effeknya. Terdapat gugusan pemkiran dari para ahli dan ulama, dalam mengklarifikasi dari rahasia yang terdapat didalamnya

   Semua gugus pemaknaan tentang Lailatul Qadar ( QD ) mengarah kepada satu titik sentral yaitu apapun yang dilakukan kita, pastikan menjadi kebaikan yang musti kita raih dan kita wujudkan

   Bila Qodar (QD) identik dengan Nujul Quran (NQ) maka memastikan kebaikan yang berlimpah itu hanyalah adanya di dalam Al-Qur’an yaitu terlihat dari ayat-ayat nya yang turun pertama untuk Iqra dan Qalam, berawal dari usaha untuk berinfestasi dengan menyiapkan generasi yang Qurani, kemudian mereka kelak mengajak manusia untuk berpedoman dengan Al-Qur’an dalam kehidupannya (fi dzilalil Qur’an) dengan Qalam dan kalamnya. Inilah misteri QD yang mesti diraih, tegasmya mempersiapkn anak-anak agar meteka menjadi generasi Qur’ani.

   Kebajikan diwariskan dari satu generasi kepada kegenerasi berikutnya menjdi infestasi yang tidak pernah terputus selamanya dan menjadi keabadian amal manusia , dalam pribahasa Indonesia, “badan mati berkalang tanah, budi baik terkenang jua,” budi baik itu tiada lain Qolbun saliim. Yang oleh Syekh Mustafa Al Gulayani seorang pujangga mesir, menyatakan wabi qolbin salim faumrukassan aula min umrukal uula (orang yang mempunyai qolbun salim diberikan umur kedua dan umur yang kedua itu lebih panjang dari umur pertama) inilah yang di jelaskan Allah dalam surat As-Suara 88, bahwa tiadalah berarti harta dan anak-anak jika kita kembali dengan tanpa qolbun salim, dan dalam surat As-Shoffat 84, idz jaa rabbuhu bi qolbin salim, dalam tafsir muyassar di jelaskan bahwa kemanapun perginya orang yang memiliki qolbun salim pasti disisinya bersama Allah, menolongnya dengan RahmatNya.

  Apa dan siapa yang disebut qolbun salim itu, dalam tafsir Ibnu Katsir bawa orang yang diberikan qolbun salim adalah orang-orang yang bersih hatinya dari menghujat, memfitnah dan dengki dengan sesamanya.

  Bulan Ramadhan ini momentum melepaskan simpul-simpul dan tali yang membelenggu sifat dan prilaku syaitan dan prilakunya ahli neraka, sehingga hati yang mati bisa mulai segar kembali dan hati yang sakit mejadi sehat sehingga merasakan bahagianya hati yang fitri ( Qs. 30:30)

Idul Fitri Momentum Membangun Umat Terbaik

 

Assalamuaikum wr. wb.

Allahu Akbar 3x Walillahilham

   Seraya memanjatkan puji syukur kepada Allah, pada hari ini kita telah menyempurnakan bilangan hari-hari Ramdhan sebulan penuh dan bertemu dengan /Syawal Idul Fitri. Sejak matahari terbenam di ufuk barat kemarin, terdengar suara takbir bergemuruh, diseantero jagat raya ini, di desa/kota, di keramain pasar/dikesunyian lembah, di pinggir samudra, dibawah gunung, semuanya menuju Kalimatussawa Yaitu Takbir , Tahlil , dan Tahmid.

   Umat Islam seluruh bumi ini melepas Ramadhan dengan kalimat Allahu Akbar artinya dengan sebuah optimisme bahwa sesulit apapun, segenting apapun yang sedang dihadapi bangsa da ummat ini, kita mimiliki keyakinan bahwa Allah SWT Maha Besar pertolongannya, maha besar kekutannya oleh karena itu kita pasti dapat mengatasi semua problematika dengan mengikuti/taat kepada sunnatullahNya. Allah berfirman dalam surat An-Nisa 69 – 70 ” bahwa barang siapa yang taat kepada Allah dan RasulNya maka mereka diberi nikmat dan anugerahNya yang besar yang menjadi perantara kesuksesan dan kebahagiaan.

   Kemudian kita melepas Ramdhan dengan mengucapkan “lailaha illallah” yaitu dengan suatu tekad meyatukan hati dalam persahabatan, gotong royong, sebagai satu kesatuan yang tunggal, inilah makna sebenarnya dari Wahdatul Kalimat. Karena manusia sejatinya berasal dari Allah dan kembali kepada Allah, segala sesuatu urusan pada akhirnya kepada Allah Yang Maha berkehendak dan Maha menentukan. Perbedaan adalah suatu keniscayaan dan diterima sebagai anugrah dan rahmaNya : Kalau sekiranya Aku menghendaki maka tidak akan ada perbedaan itu (Qs. Al-Maidah 48). Oleh karena dalam keumatan dan kebangsaan wajib menyatukan barisan untuk satu tujuan yaitu mewujudkan masyarakat muslim yang sebenatnya Baldatun Thoyyibah.

   Dalam pikiran kita yang dimaksud maju adalah “masyarakatnya sejahtera, aman damai, makmur dan bahagia hanyalah dapat diwujudkan di atas keadilan, kejujuran, persaudaraan dan gotong royong, bertolong tolongan dengan bersendikan hukum Alloh yang sebenar-benarnya, lepas dari pengaruh syaitan dan hawa nafsu”

Allahu Akbar 3x walillahilhm

Saudara… Rahimakumullah

   Idul Fitri secara harfiyah paraning dumadi, kawit kedaden atau asal kejadian atau awal kejadian manusia itu, yakni dari tanah, sedangkan syaitan dari api, maka sifat manusia dasarnya, senang kedamaian, menumbuhkn, mendidik, bukan sikap-sikap syaitan yang senang membakar, mengopori, memanas-manasi dengan ujaran-ujaran kebencian yang pada akhirnya menimbulkan kekacauan dan huru hara dimasyarakat, jelas hal tersebut merupakan salah ke dalam diri manusia.

   Disamping itu menimbulkan konflik,  perpecahan, dan permusuhan. Maka sifat dari awal terkait syaitan tidak disukai manusia, terlebih dalam bahasa arabnya manusia itu disebut insan dari kata Uns, yang berarti harmonis, kasih sayang dan damai. Maka jati diri manusia adalah makhluk yang baik (fitrah), dan setelah dilatih serta dididik sebulan lamanya menjadi orang yang paling baik yaitu muttaqin.

Allahu Akbar 3x walillahilhm

   Orang yang bertaqwa adalah orang-orang yang paling mulia , dimudahkan semua urusannya dan diberi rizqi yang mencukupi hidupnya, bangsa yang taqwa adalah bangsa yang diberkahi yaitu diturunkan kepadanya rizqi yang melimpah, berupa keamanan, keadilan, dan kemakmuran bagi segenap warganya.

   Dengan demikian setelah Ramadlan disuburkan dalam diri setiap orang yang beriman. Berdasrkan surt Al-Baqorah 177, disamping kesalehan individual berupa shalat, zakat, puasa dan haji, kesalehan sosial wajib lebih dipentingkan, terlbih disaat-saat bangsa ini telah tergerus keadaban sosialnya, akibat dari hawa nafsu manusia dan bujukan setan, sehingga tidak mengindahkan lagi rasa keberagamaan, gotong royong, berbuat kebaikan, bakan lebih parah lagi mereka menjadi homo-homoni lupus, (manusia srigala pemakan sesama manusia) “demi kekayaan dan harta, tidak segan-segan mereka memangsa, mengikuti mendzalami, saudaranya sendiri” ada lagi golongan manusia yang  disebut homo ludent ( bersenang-senang sendiri dengan membuat sengsara saudaranya sendiri), maka hidup hanya untuk berhura-hura dan bersenang-sengan diatas penderitaan orang lain (Hipo Maniak) dalam Psikologi Psikopat.

   Kondisi-kondisi tersebut mengakibatkan hilangnya kebijakan dan kearifan dalam diri manusia unhomo sapien, unjustic dan unhumanity), terlebig dizaman milenial ini seringkali disebut post truth (pasca kebenaran) maka kebenaran menjadi hal yang aneh bin ajaib; orang yang berjuang untuk kebenaran dan keadilan dianggap penjahat, sebaliknya orang yang curang dan berkhianat dianggap pahlawan.

   Maka dengan berpuasa kita menjadi ibsan kaniil yaitu yang mempu menggunakan akal hatinya untuk membangun kemanusiaan yang bermartabat, maka setelah shalat Idhul Fitri kita disunnahkan menunaikan tahniah. Hal ini terkandung maksud bahwa orang mukmin mampu menegakkan barisan yang kuat bagaikan saf-saf shalat (As-Shaf 2) (dan membangun tali batin sesamanya dengan sepenuh kasih sayang, mereka itu adalah golongan-golongan sebagaimana para penghuni syurga.

  Islam adalah agama yang penuh kasih sayang dan agama yang cinta perdamain (dinurrahmah wassalamah), dan tiada akan tercipta kedamaian bila tidak sisertai keadilan (dinul adalah), dan keadilan itu membawa kpada kemajuan suatu bangsa (dinul hadlariyyah) bangsa beda diisi oleh warganya yng mampu membuktikan dalam kenyataannya (dinussyahadah)

Allahu Akbar 3x walillahilhm

Didalam surat Al-Baqarah ayat 177 Alah berfirman :

Surat Al-Baqarah Ayat 177 Arab, Latin, Terjemahan Arti dsvsBahasa Indonesia

   Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

   Pada ayat tersebut Allah SWT menekankan agar kita memastikan suatu  kebenaran berdasarkan tuntunan Allah bukan atas dasar selera dan kepentingan manusia yang disebut post trut, kebenaran diputar balikan yang benar dianggap Hoaks yang Hoaks dianggap benar tergantung selera dan keinginan manusia bila ini terjadi maka bencana akan menimpa manusia; karena kesalehan seseorang diukur bukan dari hati murninya tetapi diukur oleh yang paling member kesenangan duniawiyah, jika post truth menjadi gaya hidup milenial maka bersiap-siaplah agama apapun namanya akan ditinggalkan manusia, hal ini seperti yang terjadi di Negara-negara yang mengeklaim sebagai Negara maju.

   Maka dalam ayat tersebut, Allah menegaskan bahwa kebenaran adalah kebenaran ilahiyyah dan sekaligus insaniyyah, secara ilahiyah mereka taat menjalankan ibadah dan secara insaniyyah mereka adalah orang-orang yang meninggikan adab dalam kehidupan yang pada akhirnya dapat membangun peradaban

   Marilah dipagi yang penuh berkah ini kita bersimpuh di naungan ridhanya seraya memohon kemurahannya berupa ampunan, rizqi dan kekuatan sehingga hidup ini diraskan atasnya dalam mewujudkan kemakmuran dan keadilan, melalui kesadaran ikhtiar secara kreatif sehingga mampu menembus awan hitam sebagai mana terkabulnya cita-cita kita, umat Islam dan bangsa Indonesia. Amiiin ya mujibassailin.

Allahumma Sholli Ala Muhammad Wa Ali Muhammad

   Ya Allah ya Rohman ya Rahim hambamu pada hari ini bersimpuh dihadapanMu seraya meyakini dengan sepenuh hati kami bahwa sesungguhnya dalam genggamanMu segala urusan kami, untuk itu ya Allah mudahkanlah dan berikanlah kekuatan atas segala aktivitas hari Idul Fitri ini untuk memenuhi sunnah Rasul-Mu bersilaturahim, bertahniah dan berbagi kebahagiaan bersama-sama sanak-kerabat, keluarga dan para shohib, teman sejawat dan sesama manusia.

Ya Rozak ya Ghofar

   Anugerahilah diri kelapangan dada kami dalam membahagiakan kedua ibu/bapak kami anak-anak dan cucu kami, dan sesungguhnya semua itu memerlukan keikhlasan dalam menunaikan tanggung jawab kami .

   Berikanlah ampunan atas segala dosa-dosa kami, Engkaulah maha pengampun lagi maha pengasih, amin ya rabbal alamin.

 

Barakallah Lii Walakum Wajaalana Minal A’idin Wal Faizhin.

Cirebon, 20 Mei 2019

Penulis

(Prof. DR. H. Khaerul Wahidin, M.Ag)

Kajian Ramadhan dalam Acara Baitul Arqom Stkip Dan Stikes Muhammadiyah Kuningan

  Pak. AR. Ketika ditanya tentang apa itu Muhammadiyah , beliu menjawab yaitu Berislam dengan Gagah, Gembira dan Gentle (G3) ketiganya itu tidak akan tercipta kecuali dengan Z yaitu Zakkannafsi Min Ladzzati Assyahawat. Membersihkan jiwa dari tipu daya kenikmatan jasmaniyah yang sesaat.

  Manusia dalam kaitannya dengan duniawiyah dan harta benda digambarkannya , cinta dan tergila-gila (tuhibbunal mala hubban jamma/ Al-Fajr 20, maka membersihkan diri merupakan amal sholeh yang utama, terlebih dibulan Ramadlan (Al-Syam 1-9) setelah 7x bersumpah beru bertitah, yaitu sungguh beruntunglah orang- orang yang membersikan dirinya, dan surat Al-Hasyr 9, disebutkan pula beruntunglah orang-orang yang membersikan jiwanya dari kikir.

  Kikir salah satu contoh saja, tentunya jiwa harus dibersihkan dari sisi-sisi gelap yang negatif dan energi jahat (min radail madzmumah) termasuk sifat benci (Al-Gil),/Al-hqad / dendam, bakhil, hasad, putus asa, keluh kesah, pengecut, curang, ghibah, namimah, hoaks dan sebagainya.

  Berislam yang gagah adalah memberi, berupa sesuatu yang didasari semngat Tawaun, Tanwir, Ihsanul Insaniyah. Dan sesungguhnya karakter banga ini lebih mencintai kegotong-royongan dari pada individualis, gaduh lagi konflik. Maka Islam yang damai , selamat serta berkemajuan menjdi cita- cita Bermuhammadiyah.

  Strategi dakwah / dalam mengajak warga dengan cara yang sekiranya sampai kepada yang dicita-citakan yaitu atthoriqah alladzi yuashilu ila mardlatillah.

  Sebagai organisasi dakwah, maka cara yang ditempunya atau yang diikhtiarkannya adalah dengan cara bil hikmah, (Ud’u Ila Sabili Rabbika Bil Hikmah).

  Kita tentu ingat betapa doa Nabi SAW, untuk pamannya Abu Tholib, orang yang melindungi dari kejahatan kaafir arab jahiliyyah, namun apa dikata Allah mengingatkan dalam surat Al-Qoshos 56, bahwa ketulusan menerima dienul Islam adalah berkat rahmat dan hidayah Allah semata, tidak dapat diinterpretasi oleh apapun juga.

  Kita pun ingat betapa Nabi Nuh As, berhasrat agar keluarganya mengikuti dakwahnya (Hud 46) dengan kalimat hai Nuh kamu jangan berharap tentang sesuatu yang bukan kewenanganmu. Memang hal itu tragis dan menyedihkan, namun kita sadar bahwa mengajak manusia kejalan Allah hanyalah ikhtiar untuk sampai kpd RidhoNya.

  Yang paling penting berdakwah itu tidak menjustic apalagi memfonis atau prejudis, berasumsi dirinya yang benar, yang tidak sependapat denggnya ditakfir, ditabid, ditadllil dan sebagainya, dituduh sebagai garis lembek, ayam sayur  dan sebagainya.

  Sesungguhnya kalau mau jujur dakwah itu memang harus lembut (qoulan layyinan) lihat An-Nahl 25, yaitu bil hikmah. Menurut Al-Jurjani hikmah itu kata-kata yang indah, baik, bersih keluar dari hati dan pikiran yang damai tidak disertai emosional dan kebencian dan tipu daya. Omongan-omongan yang menang sendiri disertai menekan dan menakut-nakuti, mengancam serta memprovokasi terhadap timbulnya fasad.

  Pada saat ini, umat manusia benar-benar dalm bencana, dari perdebatan apalah namanya isinya hanya bermain kata-kata, mengolah lidah dan mulutnya hanya. Untuk berebut harta dan kuasa.

  Nilai yang diajarkan Muhamnadiyah selama ini banyak bekerja sedikit bicara, bila berbicara mengandung inspirasi, tidak hanya bersilat lidah hanya membuat fitnah dan hoaks itulah keadaban publik dan medsos, terlebih para figur moral, tokoh nasional, berhati-hatilah terhadap kata, karena kata akan menjadi nyata dan merendahkan nasib bangsa, bila mulut tidak dikendalikan dengan etika.

  Dalam berita Tempo 3/4/2019 dikabarkan tentang pemain sepak bola Inggris dari club Liverpool yang berasal dari warga negara Mesir, sepak terjangnya sebagai penyerang lini tengah, membawanya pada posisi Super Star Dunia, dimana-mana dielun-elun dengan lagu dan terakan salah we need you, ia bernama Mohamed Salah.

  Tidak hanya hebat dilapangan hijau, tetapi juga hebat di ladang amal demikian kesan pelatihnya, Jurgen Klopp terhadap anak asuhannya.

  Pada setiap kunjungannya ia menjauhkan dari gaya hidup glamour, dari minuman keras, sex bomm, night club, seperti yang di lakukan orang-orang terkenal dari artis dan pejabat, Mohamed Salah tidak hanya paham tentang agamanya tetapi ia konsisten mengamalkannya, maka sporter inggris sendiri kehadiran Salah sebagai gift for God.

  Sikap dan prilkunya itulah yang membawa penggemarnya menyukai permainan bolanya tetapi sekaligus menjadi rool model (teladan hidup), maka sejatinya Salah telah berdakwah melalui prestasi dan reputasinya.

  Bilamana kita simak narasi tentang peran Muhamammdiyah dalam perjuangan keummatan dan kebangsaan dan dirasakan umat dan bangsa melampaui satu abad, adalah konsistensi menegakan khitto-khitah atau landasn berfikir yang digali dari gugus pemikiran para tokoh sejak masa-masa awal dan dipedomi dalam gerak amal usaha, ditengah-tengah situasi yang terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Hal inilah yang wajib difahami dari berbagai ide dan gagasan yang lahir dari pemikiran kolektif dan diputuskan dalam kerja-kerja organisasi.

  Adapun yang peling fondamental adalah Muhammadiyah konsisten sebagi organisasi dakwah dan tajdid, dalam upayanya berkontribusi kepada kemajuan Keislaman dan Keindonesiaan.

Cirebon, 19 Mei2019