Term Jihad Dalam Al-Qur’an Perspektif Ali Imran : 142

“Apakah kamu mengira memasuki surga padahal kamu belum berjihad dan bersabar dengan bukti-bukti yang diketahui Allah SWT.”

 

   Surga adalah simbol kenikmatan agung menjadi dambaan setiap orang, kenikmatan tiada akan diperoleh kecuali dengan meninggalkan kenikmatan, mendapatkan ikan di laut tidak diperoleh kecuali dengan ikan yang kita umpankan. Dengan demikian seseorang tidak akan mencapai puncak kesenangan dan kenikmatan kecuali dengan menangguhkan kesenangan/kenikmatan itu sendiri, bahasa sederhananya kalau ingin bahagia wajib tirakat dan prihatin. Tiada akan sampai ke hari lebaran kecuali dengan berpuasa.

   Mencari kebahagiaan tanpa dilalui jalan yang terjal dan penuh kesulitan adalah suatu yang mustahil, dalam ayat tersebut diawali dengan pertanyaan tentang sesuatu yang tidak lazim (Istifhamul inkari / Am hasibtum).

   Orang yang menuju akhirat, tidak akan terjadi tanpa melewati dunia, ketika di dunia tidak mau bersusah-susah mencari kebahagiaan akhirat, maka mustahil kebahagiaan dunia itu didapat. Berfoya-foya dan bersenang-senang di dunia pertanda sulitnya menjadi penghuni surga (al-Kahfi (18) : 103-105).

   Pada ayat tersebut, Allah SWT. menyindir kaum kafirin, munafiqin dan orang-orang hedonis yang hanya mengejar dunia dengan segala caranya tanpa memperhatikan al-Haq (kebenaran) dengan sungguh-sungguh (jihad) dan jihad menegakkan al-Haq  merupakan jalan yang penuh kesulitan (masyaqoh).

   Menuju jalan keridlaan Allah SWT bagaikan orang yang berjalan memikul beban yang berat di pundaknya, menempuhnya diatas jalan berdaki, berbatu kerikil yang tajam menusuk-nusuk telapak kaki, karena keridlaan Ilahi merupakan a’dzom al-matholib (cita-cita yang paling besar dalam kehidupan), maka besar pula perangkat yang diperlukan untuk menggapainya.

   Jihad yang besar itu digambarkan Nabi SAW adalah jihadun nafs (mengontrol hawa nafsu), hidup dengan melampaui batas terhadap diri mereka sendiri. Wadah pengendalian tersebut adalah Asshiyam yang terdapat di dalamnya juhdil imsyak, juhdil istighfar, juhdil istirja’ dan juhdil isti’bar, bersamaan dengan itu  dirajut dengan isthobir maka Allah SWT mendekatkan rahmatNya kepada hamba-hambaNya berupa solusi (makhroja) sebagai outcome berpuasa Ramadhan.

 

Syahrul Juud Wal Quran

Bulan Ramadhan disamping Bulan Puasa (berlapang hati) Juga disebut Syahrul Juud (kasih sayang) kanannabiyu Ajuuda fi Ramadlan) bahwa Nabi sangat sayang pada bulan Ramadhan kepada sesamanya.

Ternyata Al-Quran menganjurkan kepada umatnya untuk menjaga jalinan harmonitas sosial

Di dalam Al-Quran terdapat ayat-ayat yang terkadung maksud agar menjaga hubungan baik dengan menyampaikan pesan yang menyejukkan (assalam arrahmah) seperti lafadz Al-Quran dalam Al-Imran 159 : qoulan afwan, qoulan istighfaron, dan dilain tempat disebutkan qaulan layyinan, qoulan kariman, qoulan ma’rufan, qoulan sadidan, qolantsaqilan, qoulan balighon, dan lainnya. Dengan demikian ungkapan-ungkapan yang timbul dari hati yang sehat (qolbun saliim), menjadi identitas muslim yang shoimiin. Bahkan hal itu juga dilakukan kepada orang-orang yang jahil, seperti dlm surat Al-Furqon 63.

Waibadurrahmani yamsuna fil Ardhi Haunan, waidza khotobahumul jahiluna qooluu salama (hamba-hamba Allah yang penyayang itu bilamana berjalan di muka bumi dengan rendah hati, dalam bilamana orang jahil menyapanya maka dibalasnya dengan kalimat yang tidak menyakitkan.

 

Berdasrkan Al-Furqon 63 tadi dapat difahami bahwa mukminat yang perfect adalah orang yang (1) ketika mengarungi balantika kehidupan yang beraneka ragam kelakuan manusia, maka dia dapat melakukan tindakan yang tepat (haunan) termasuk didalamnya membalas pesanny dengan muayyanan tepat/tegs/jitu. Yaitu mambalasnya denan SALAMAN, dalam ibnu kasir dijelaskn kata jawban salaman adalah jawaban seperlunya, wala yusrifu wala yaqturu bahasa gaulnya to the point dan dibarengi pointnya mengandung power, tidak berbahasa  yang membuang-buang pulsa, tapi bila terus berbalas pantun, maka itu berarti adanya harapan manfaat/bisnis  yang menguntungkan, lanjutkan hingga sampai ke tujuan akhir mendapatkan surga dunia maupun akherat. Semoga manfaat

Ramadlan Mubarok

  Sebuah nama yang populer menjadi ikon bagi umat Islam dunia, terkadang juga dipanggil Ramadhan Karim, memang 2 istilah itu berjodoh, sebagai bulan istimewa karena ada barokah

  Pertanyaannya apa barakah itu, yakni bertambah dan tumbuh, kebaikannya dalam segala sesuatu yang dikerjakan orang yang berpuasa Ramadhan

  Maka mumpung masih awal-awal lakukan langkah-langkah yang tepat dan strategis, sehingga tidak menjadi sia-sia yaitu menjdi keren karena puasnya.

Dalam surat Al-Furqon 63- 70

  1. Ada brainnya 2. Ada mabitnya 3. Sosial efeknya.

  Ketiganya (BMS) menjadi Ramadhan yang beda dibandingkan bulan lainnya dan membawa perubahan tranformatif yang luar bisa, maka dalam suatu hadist Rasullah mendapat kabar langsung dari Malaikat Jibril yang menyatakan, Sungguh terhina orang yang bertemu bulan Ramadhan, tetpi tidak mendapat ampunan lalu Nabi mengamininya.

  Agar kita tidak menjadi orang-orang yang terhina, marilah kita mengupayakan penghapusan dosa-dosa yang telah dilakukan dengan bertasyahud dan beristighfar dan berbuat ihsan. Hal ini sesuai dengan Al-Furqon  70 dan juga dipertegas surat Hud 114.

  Semoga kita tidak termasuk yang disinyalir nabi banyak yang bertemu ramadhan tetapi tidak mendapatkan karim dan berkahnya Ramadhan, kecuali lapar dan dahaga semata-mata

SONY DSC

Bonus Demografi dan peran Islam dalam peningkatan kesejahteraan Masyarakat

  1. Bonus demogafi merupakan kondisi masyarakat usia produktif lebih besar jumlahnya dibandingkan non produktif (0-15 dan usia diatas 64), pada tahun 2020- 2030 penduduk Indonesia 270 juta, dengan non produktif 60 jt.
  2. Kondisi tersebut berdampak positif bila SDM dapat dikelola dengan baik, yaitu terlahirnya generasi yang lratif, inovatif, dan produktif, serta integritas.
  3. Islam merupakan dinul hadlariyah, membawa masyarakat menjadikan asset bagi kemajuan bangsa.
  4. Dalam Islam hidup bukan sekedar eksis, tapi hidup adalah dipersembahkan kepada Yang Maha Hidup, maka aktivitas apapun termasuk aspek ekonomi, hanyalah untuk meninggikan syiar agama, sebagai bentuk pertanggungan jawab kepada Allah Swt, selaku wakil-Nya di muka bumi.
  5. Dalam Islam manusia bukan hanya homo ekonomik yang hanya mengejar kebendaan, tetapi juga homo Religio, maka dengan jumlah penduduk yang banyak dan dibingkai dengan niliai-nilai dasar kebajikan, maka mengelola SDM menemukan momentumnya , sehingga dapat mengelimir dampak negatif adanya bonus demografis tersebut.

Dikisahkan syahdan disebuah negeri ada seorang raja dzolim, yang menggap bahwa kekuasaan yang dipundaknya adalah pulung dari drinya semata, maka diperlakukanlh rakyatnya semena mena, yang melawan dihukum, yang patuh dibikin aman.

 

Hari-harinya hanya melakukan pencitraan, yang tidak lain tipu-menipu, bekingnya adalah tukang sihir yang dibelakangnya tidak lain adalah syaitan, sampai pada suatu saat datang pemuda bernama Gulam yang menganut ajaran Tauhid, maka 70 ribu rakyat bragama tauhid.

Betapa marahnya raja karena rakyat tidak percaya lagi kepada rajanya, kemarahan itulah yang membuat raja semakin represif dengan membuat parit yang besar dan didalam parit dibuat api unggun dari kayu bakar, maka 70 rb rakyatnya dimasukkan kedalam parit. Tersisa seorang wanita dg 4 anaknya, dia menangis dan berbicara kepada anak-anaknya. Dalam keteguhannya sang ibu berdoa agar anak-anaknya selamat. Maka kekuatan tauhidnya dapat mengatasi kesulitan yang sebesar apapun.

 

Qutila ashabul uhdud (Al-Buruj) celakalah pembuat parit (raja yaman), mereka yang menyakiti orang-orang beriman mendapt adzab yang besar, sedang mereka yang kuat imannya tidak takut kepada raja dzolim, pasti diselamatkan.

Disampaikan dalam Semiloka Nasional Kaderisasi Muhammadiyah

Prof. DR. H. Khaerul Wahidin, M.Ag

Sabtu, 26 April 2019 di CH UMC

Khutbah Jumat

Masjid syafii, 26 april 2019

H. Khaerul Wahidin

Marilah kita tingkatn ketqwaan kepada Allah SWT sehingga hidup kita dan kehidupan bangsa kita dapat merasakan berlimpahnya karunia-Nya, seperti yang dijanjikan dalam QS Al-Araf 96. Dalam Tafsir Al-Muyassar kata barakat dimaksudkan sahlan fi thalabil khoer ( dimudahkan Allah untuk meraih  yang terbaik). Taqwa dalam pengertian awam terkandung dimensi ilahiyat dan insaniyyat, maka kesalehan juga ditemukan sebagai kesalehan individual yaitu imtisalu awamirihi wajtinabu nawahihi, sedangkan kesalehan sosial tersimpul pada ahsinul insaniyah ( kemanusiaan)

Pada kesempatan khutbah ini, dibahas nilai-nilai taqwa dalam dimensi sosial / kemanysiaan, berdasrkan QS. Al-Baqoroh 177

Pertama, penuhi janji

Berbuat baik bukanlah sekedar kata-kata, tetapi bukti nyata. Ibnu taimiyah berkata bahwa kebenaran itu bukan angan-angan tetapi realita. Menepati janji-janji menghindari kepalsuan, kebohongan, dan kecurangan kata AlGghozali adalah tipu daya syaitan. Kerena syaitan setiap saat menipu manusia agar menjadi temannya di neraka.

Kedua kesabaran, dijelaskan arti kesabaran dalam QS. Al-Imron 110 dipraktekkan dalam 3 keadaan yaitu

  1. Fil ba’sai yaitu disaat mengalami kesulitan yang luar biasa seperti rasa kekurangan lahir maupun bathin, maka kita tidak hanya berdiam diri untuk melawannya dengan beraktivitas sehingga terhidar dari kekufuran dan kepuasaan.
  2. Addharra yaitu sabar ketika dihadapkan pada penyakit yang menimpa, baik sakit fisik maupun mental. Maka berilah nutrisi terhadap jasmani dan rohani secara.rutin. terkait dengan penyakit hati (qolbun marid), diobati dengan mencri teman, sahabat, guru dan lain-lain yang saling nasehat-menasehati, jika penyakit dibiarkan maka hidup akan sia-sia dan merugi.
  3. Kondisi hiinal baats yaitu dalam perjuangan. Hidup tidak hanya makan dan bersenang-senang (tanaim), tapi berjuang menegakkan keadilan dan kebenaran. Disaat kecurangan dan kedzaliman meraja lela, umat Islam haram berdiam, dan wajib berusaha menghilangkannya. Umat Islam adalah umat yang kuat, gagah dan berani.

 

Sebentar lagi kita akan mamasuki bulan Ramadlan tentunya bulan yang penuh berkah itu tidak hanya diramaikan dengan kesibukan ritual semata, marilah kita tegakkan kesalehan soaial menuju kemenangan umat dan bangsa. Barakallah.

   ALLAHUMMAQFINIHIM BIMA SYI’TA, ya Allah berikan kecukupan bagi diriku dari mereka sebagaimana yang Engkau Kehendaki. Doa untuk mendapat kekuatan IMAN, sebagai saripati surat Al-Buruj.

Dikisahkan syahdan disebuah negri ada seorang raja dzolim, yang menggap bahwa kekuasaan yang dipundaknya adalah pulung dari drinya semata, maka diperlakukanlah rakyatnya semena mena, yang melawan dihukum, yang patuh dibikin aman.

 

Hari-harinya melakukan pencitraan, yang tidak lain tipu menipu, bekingnya adalah tukang sihir yang dibelakangnya tidak lain adalah syaitan, sampai pada suatu saat datang pemuda bernama Gulam yang menganut ajaran Tauhid, maka 70 ribu rakyat beragama tauhid.

Betapa marahnya raja karena rakyat tidak percaya lagi kepada rajanya, kemarahan itulah yang membuat raja semakin represif dengan membuat parit yang besar dan didalam parit dibuat api unggun dari kayu bakar, maka 70 ribu rakyatnya dimasukkan kedalam parit. Tersisa seorang wanita dengan 4 anaknya, dia menangis dan berbicara kepada anak-anaknya. Dalam keteguannya sang ibu berdoa agar anak-anaknya selamat. Maka kekuatan tauhidnya dapat mengatasi kesulitan yang sebesar apapun.

   Qutila ashabul uhdud ( Al-Buruj) celakalah pembuat parit (raja yaman), mereka yang menyakiti orang-orang beriman mendapt adzab yang besar, sedang mereka yang kuat imannya tidak takut kpada raja dzolim, pasti diselamatkn.

 

SONY DSC

Posisi Muhammadiyah Dalam Konstalasi Faham Keagamaan ( Islam ) di Indonsia

Pada tahun 1950-an, seorang antropologi dari Canada Meneliti Islam di Jawa, kemudian dibukukan penerbit Pustaka Jakarta, dengan judul Religion of Java, buku ini menjadi bacaan wajib bagi mahasiswa yang melakukan kajian sosiologi/antropologi terutama di UI.

Ciffort Geets peneliti tersebut memetakan idiologi muslim Indonesia pada 3 kategori yaitu, santri, priyayi dan abangan.

Pada ketiga kategori tersebut, terdepan varian-varian yang beragam, dan walau tidak secara keselurahannya, sampai saat ini masih relevan, walaupun disana sini tentunya terdapat corak yang mengalami infiltrasi dan korvergensi bahkan membentuk entitas yang militan.

Faham keagamaan sebai fenomena budaya tidak lain merupakan bluprint yang mempengaruhi sistem kehidupan para penganutnya.

Kategori dan varian-varian tersebut mengejarkan dalam sikap dan prilaku, serta pengelompokan-pengelompokan dalam satuan-satuan tertentu.

Secara garis besar satuan sosial tersebut adalah

  1. Islam puritan ( santri), terdiri Muhammadiyah, dan ormas keagaamaan dalam mainstrem paham wasyatiyah ( modernis )
  2. Islam puritan dalam mainstreem gerakan salafiyah, yang menciptakan kehidupan keagamaan

fondamentalis.

  1. paham keagamaan Islam intrumentalis, dan singkritis yang diwakili oleh kelompok priyayi dan abangan.

Dalam kelompok ketiga ini secara ritual keagamaan relatif ada kesamaan dalam sistem teologinya, bahkan kelompok abangan ini mempatronkan diri kepafa priyayi, maka secara sosial potik , merekapun cenderung sebagai satu entitas.

Sementara itu, kalangan muslim yang merupakan mayoritas diprihatinkan dengan kondisi sebagai berikut.

  1. Masih banyaknya jumlah yang miskin dan bodoh sebagai kegagalan negara mewujudkn cita-cita kebangsaannya, walaupun sudah ada gejala munculnya kelas menengah dari kalangan salaf.
  2. Kuatnya kecenderungan turut klaim dari masing-masing varian.
SONY DSC

Sambutan Rektor Dalam Pebukaan Idiopolitor Se – Jawa Barat

   Islam sebagai Agama terbesar jumlah pemeluknya di Indonesia, telah berabad-abad meresap dalam kultur kebangasaan, dan berinteraksi dengan banyak Idiologi lokal maupun internasional yang sangat beranekaragam, memstikan kedamaian, dan bila terjadi gesekan, disitulah Muslim memberikan solusi untuk meredamnya semata-mata untuk menjaga moral kemanusiaan agar tidak tercabik-cabik oleh segelintir orang yang dirasuki nafsu keduniaan. Itulah sejatinya entitas dinurrahmah wassalamah (Al-Anbiya 107, saba 18)

   Potensi Indonesia untuk membawa bangsa Indonesia menjadi negara termaju di kawasan Asia, bahkan sangat mungkin di tingkat dunia, adalah ada pada denyut jantung dan nafas kehidupan umat Islamnya, jikalau mereka memfungsikan akal-kalbunya sehingga beragama tidak sekedar instrumen memelihara warisan lama dan mengambilnya membabi buta tanpa disertai nalar islami yg berbasis nilai-nilai samawi, itulah sejatinya Islam sebagai dinul aqli

   Pada sisi lain, dalm perspetif sejarah, kesesuaian bergama di bumi indonesia sudah sejak lamanyaitu sejak awal kedatangannya, masa raja-raja Islam, pergerakan umat Islam mengusir kolonialisme, sampai kemerdakaan dan seterusnya mengisi kemerdekaan. Adanya keyakinan yang kuat bahwa Islam yang diamalkan tidak melulu mengandung ajaran dan amalan ukhrowiyah, walupun banyak orang gagal paham tentang Islam, atau pura-pura gagal paham, tidak ada sedikitpun indikasi untuk merusak idealisasi nilai kemanusiaan dengan cara bertindak brutal , karena sesungguhnya Islam yang sebenarnya adalah berada dijalan tengah (dinul wasatiyyah) Al-Baqorah 143

   Keseluruhan narasi tentang dinurrahmah, dinul aqlil hadlaiyah, dinul wasyatiyah sejatinya merupakan idiologi islam warga muhammadiyah sebagaimana yang ada pada pranata sosio relgio Bermuhammadiyah. Seperti yang termasuk dalam AD/ART termasuk mukoddimahnya,  yang muaranya adalah mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, dengan cara aarruju’ ilallah warrasul, terus brinovasi, ( bertajdid), berkepribadian sesuai dengan alakhlak annubwwah, sebagai identitas assholhin yang memiliki kesalehan individual dan sosial.

   Perjuangan mewujudkan masyarakat Islam dalam dinamika sosial politik indonsia, di wujudkan dengan cara-cara kontekstual dan elegan.

   Sisi kecil dari itu, menyongsong ramadhan ini marilah kita bersiap dengan sekuat tenaga agar warga Muhammadiyah mengisinya dengan berjihad melalui peningkatan kesalehan tersebut.

Cirebon,    April 2019

Penulis

Prof. DR. H. Khaerul Wahidin, M.Ag

SONY DSC

Muhammadiyah Dalam Dinamika Politik Pilpres Dan Pileg 2019

  1. Pendahuluan

Bahwa Muhammadiyah tidak hanya telah berkontribusi mewujudkan Indonesia merdeka, melainkan juga mengisi kemerdekaan untuk terwujudnya bangsa yang maju, cerdas dan disegani dunia.

Spirit Islam yang didakwahkan Muhammadiyah adalah Islam Berkemajuan dan untuk menjadi Muslim Hadlariyyah, memerlukan pendidikan yang berkualitas. Coba kita lihat negara-negara yang telah mengalami kemajuan, mereka mendidik  karakter bangsanya dengan kepribadian yang unggul. Maka amal usaha Muhammadiyah sejak awal pendiriannya adalah memberikan pendidikan unggul dan usaha-usaha lainnya. Selama diupayakan Muhammadiyah wajib memenuhi target unggul sehingga dapat mengambil peran kontributif kebangsaan.

Dalam Buku Konstruksi Pemikiran Politik Ki Bagus Hadikusumo (2018 : 236) dalam pandangannya dinyatakan bahwa bangsa Indonesia terbentuk karena hasil perjuangan umat Islam yang tiada mengenal lelah, ajaran Islam adalah sumber pemersatu bangsa dan sebagai pijakan dalam berkehidupan kebangsaan, sungguhpun demikian Islam tetap menjaga toleransi,  tujuh kata dalam rumusan sila pertama telah ditiadakan secara tekstual, akan tetapi umat Islam tidak lantas berhenti berjuang, melainkan terus berusaha menegakkan syariat Islam kultural, melalui usaha di parlemen, penegakkan perintisan syariah dalam berbagai aspeknya dan kenyataannya sekarang dirasakan manfaatnya seperti Ekonomi Syariah, Wisata Syariah dan lain-lain, dan pada akhirnya secara kultural (perlahan tapi pasti) syariat Islam diterima oleh segenap masyarakat Indonesia.

Pertanyaannya adalah bagaimana upaya umat Islam menuju kearah tersebut, apakah cukup hanya dengan melalui amal usaha pendidikan?, serta bagaimana memberi counter terhadap anggota parlemen yang melarang seluruh Perda Syariah diusulkan menjadi RUU untuk menjadi hukum mengikat setelah ditetapkan parlemen. Bagaimana pula kontribusi Muhammadiyah ketika RUU yang akan ditetapkan di parlemen justru bertentangan dengan syariat Islam.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi kerisauan bagi sebagian warga muslim Indonesia, yang memerlukan solusinya. Hal tersebut menjadi mustahil bilamana umat Islam diarahkan menjadi warga bangsa yang mati rasa dan buta terhadap politik.

 

  1. Konsep Politik dalam Islam

Pandangan Ki Bagus Hadikusumo diamini para ulama yang tergabung dalam PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), namun usaha-usaha mewujudkan kekuatan umat Islam Indonesia dalam aspek politik masih belum membuahkan hasil yang maksimal, padahal Allah SWT menegaskan dalam surat al-Anfal : 60 bahwa kekuatan umat (termasuk bidang politik) agar terus-menerus diupayakan, yaitu dengan menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu, memfungsikan otak secara maksimal, memperbanyak skill literasi, kemauan, inisiatif,  semangat, percaya diri, disiplin, menjaga solidaritas yang keseluruhannya merupakan pribadi yang kuat sehingga  dapat mengelola negara dan memajukan bangsa, sebaliknya ketika umat Islam lemah dalam membangun gagasan dan “solusinya”, maka selamanya umat Islam Indonesia akan dimarjinalkan, dibodohi dan dijahati oleh musuh-musuhnya.

Disinilah letak strategis pendidikan terutama menumbuhkan akal sehat dan keberanian mengemukakan kebenaran, jika selama ini hanya berfikir kesenangan dan berebut “duit”, maka selama itu pula umat Islam menjadi bangsa kuli yang mudah dikibuli. Tegasnya ketika Islam instrumental yang brutal dan ugal-ugalan menjadi faham umat, selamanya kemajuan hanya fatamorgana.

 

  1. Bulan Ramadhan sebagai Muhasabah

Allah SWT menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan perenungan sekaligus pergerakan dalam kerangka mempersiapkan masa depan yang lebih baik untuk kepentingan individual (prifat) dan sekaligus kepentingan kebangsaan, secara prifati kita dianjurkan untuk memperbanyak membaca al-Qur’an dan ibadah-ibadah lainnya, karena di bulan inilah pertama kali diturunkan al-Qur’an dengan ayat pertamanya agar umat Islam membaca.

Dalam arti yang lebih luas membaca adalah mengoptimalkan potensi akal  disertai niat yang suci dan bersih, sehingga dapat memproduksi gagasan-gagasan bagi kemaslahatan umat manusia.

Ternyata Ramadhan tidak hanya untuk berdiskusi dan olah fikir, tetapi juga dibangun usaha-usaha dan gerakan-gerakan nyata dalam bentuk program-program yang baik (amal sholeh) serta dilaksanakan program tersebut dengan bersama-sama (berjama’ah) sehingga fungsi eduksi Ramadhan menjadi efektif untuk memperkokoh kekuatan umat Islam dalam mengisi nilai-nilai kebangsaan dalam bingkai NKRI.

 

Cirebon,    April 2019

Penulis

Prof. DR. H. Khaerul Wahidin, M.Ag

IMG-20180310-WA0021

Gagasan Rekonstruksi Aik Pada Program Konsentrasi S2/S Pendidikan Agama Islam Di Perguruan Tinggi Muhammadiyah

  1. Pendahuluan

   Bahwa Mata Kuliah AIK sebagai IKON PTM, disepakati dalam bingkai 4 pilar Perguruan Tinggi Muhamamdiyah, seiring dengan tuntutan kebutuhan Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang rata-rata telah mengalokasikan 8 SKS bahkan lebih pada masing-masing Perguruan Tinggi Muhammadiyah dengan karakteristiknya, sudah tentu memerlukan SDM yang memenuhi kompetensi pendidikan pada perguruan tinggi.

   Pada sisi lain, PTAI pada umumnya juga memiliki program andalan yaitu mengupayakan tiada henti dalam integrasi Keislaman dengan ilmu pengetahuan pada umumnya dan pada sisi kebangsaan diperlukan pandangan-pandangan tentang Islam wasyathiyah yang menjadi subtansi gerakan Muhammadiyah yang mengusung paham Keislaman dan ke Indonesiaan bagi terwujudnya kemaslahatan sebesar-besarnya bagi rakyat dan umat.

  Dengan demikian, dalam kaitan ini tulisan singkat dimaksudkan menjawab, 2 (dua) tema utama bagaimana rekonstruksi AIK dalam relevansinya dengan ilmu dan sekaligus bagi kebangsaan yang menjadi kajian utama konsentrasi AIK pada S2/S3 Perguruan Tinggi Muhammadiyah.

  1. Integrasi AIK dengan IPTEK

  Seperti dimaklumi bersama bahwa Perguruan Tinggi Muhamadiyah identik dan PTN dalam pengembangan IPTEK, ilmu-ilmu yang dikembangkan di PTN juga dikembangkan di Perguruan Tinggi Muhamadiyah, mungkin berbeda terletak pada status penyelenggaraannya yang satu di selenggarakan pemerintah dan satunya diselenggarakan swasta (masyarakat).

  Adanya keragaman dalam kajian keilmuan, maka AIK yang diajarkan kepada para mahasiswa dibahasnya juga islam beragam sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuni mahasiswa.

  Prinsip AIK sejatinya memberikan wawasan tentang Al-Islam sebagai Al-Din yang mengandung nilai-nilai scientific dengan nilai-nilai etika ilmuan dalam berbagai disiplin ilmu, maka filosopi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan sekaligus sejarah intelektual muslim dunia menjadi bahan kajian dalam pengembangan AIK sebagai kontens kurikulum konsentrasi S2/S3 AIK.

  Pada sisi lain, kemajuan mengembangkan AIK dalam perspektif ortodiksi Islam juga unsur penting agar Dosen pengampu AIK mampu mengakses narasi ilmuan dan intelektual muslim dari bahan-bahan berbahasa Arab atau bahasa asing lainnya seperti bahasa Inggris, Persia dan India dan termasuk Mandarin, agar mahasiswa dalam menelusuri naskah-naskah klasik Keislaman dan bahkan aktif menelusurinya melalui rihlah ilmiah.

  Tentu tentatif kontens kurikulum kosentrasi AIK bagi S2/S3 dapat bervariasi, yang paling penting adalah lulusannya dapat mengatasi stagnasi pembelajaran AIK di Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang selama ini terjadi, sehingga Dosen AIK di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dapat mengembangkan literasi komprehenship dalam mewujudkan jati diri dan cita-cita Muhamadiyah sesuai dengan level pembelajaran dan tuntutan zaman dalam lintas peradaban dan mendorong Islam berkemajuan selaras dengan amanat Muktamar 47 Makasar.

  1. Integrasi AIK dengan Kebangsaan

  Identitas AIK adalah Islam sebagai Agama Rahmat bagi sekalian Alam Semesta, maka dari itu pembelajaran AIK mestinya relevan dengan kondisi lokal dimana Islam itu diumat maysarakat pengikutnya, dengan kata lain, AIK mesti dipromosikan dan konteks ke Indonesiaan.

  Narasi tersebut sebagai hal yang lazim karena ketika Islam turun pada masa permulaan dari sejarahnya bukan sebagai ajaran yang terlepas dari budaya masyarakat, artinya Islam tidaklah hadir dalam kehampaan budaya lokalnya.

  Pada sisi lain, konsep-konsep Islam yang diundang Muhammadiyah terus menyelami dinamika seiring dengan pemikiran para pengikutnya, maka pemikiran Islam dari zaman ke zaman terus dicermati oleh para ahli AIK lulusan kosentrasi S2/S3 bidang tersebut, intinya adalah metodologi pembelajaran sebagai sarana informasi itu AIK dikembangkan sedemkian rupa sehingga lulusan konsentrasi ini bukan hanya  mengingat dan menghapal kontens, tetappi memiliki kemampuan tingkat tinggi sebagai peneliti dan pemikir yang mampu memproduksi gagasan-gagasan penting tentang Keislaman dan Kemuhammadiyahan.

  1. Penutup

  Demikian butir-butir gagasan yang sekiranya bermanfaat dalam revitalisasi dan kontekstualisasi pembelajaran AIK di Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang dikembangan melalui S2/S3 dengan konsentrasi AIK.

  Pendapat sederhana ini disusun dalam rangka menyambut gembira Wrokshop konsentrasi AIK S2/S3 di Universitas Muhammadiyah Malang 26-28 April 2019.

  Semoga setiap PTM dapat mengikuti sentakan para dosen utuk berpartisipasi akti sebagai pembelajar sesuai dengan kapasitasnya sehingga AIK sebagai ikon Perguruan Tinggi Muhammadiyah, menjadi mata kuliah yang diminai mahasiswa di seluruh Perguruan Tinggi Muhammadiyah.

Cirebon, 18 April 21018

Penulis

IMG-20190420-WA0005

Beragama Dengan Akal Sehat

IMG-20190420-WA0006

Prof. Dr. H. Khaerul Wahidin, M.Ag

   Akal merupakan anugerah Allah SWT yang membawa kepada martabat manusia, bilamana akal tersebut digunakan selaras dengan kehendakNya, bukan akal menurut nafsu kemanusiaan yang cenderung akal-akalan untuk membenarkan  dirinya sendiri dan senang menyalah-nyalahkan  orang lain.

   Ibnu Sina dalam falsafah tentang akal menyatakan bahwa al-Aqlu al-Awwal sebagai penuntun (emanasi) dalam penciptaan alam dan tertibnya alam. Oleh karena akal itu telah dicerahkan dengan tuntunan wahyu Tuhan, yang berisikan tentang kebenaran (al-Haq).

   Para mahasiswa melakukan studi di perguruan tinggi, dilatih akalnya untuk bergerak (al-Aqlu al-Mutaharriqoh) dengan mengikuti hukum-hukum alam (sunnatullah) baik secara causalitas dengan metode deduktif ataupun induktif dan melahirkan narasi yang bersesuaian dengan akal sehat.

   Pandangan al-Qur’an tentang akal sehat terlihat dari pertanyaan yang berulang kali agar akal menjadi pertimbangan dalam melakukan tindakan (seperti afala ta’qilun), dari segi ontologi yang perlu difikirkan adalah tentang manusia dan alam yang sekiranya membawa manfaat bagi kemajuan IPTEK.

   Dengan demikian agama memberikan arah kepada manusia dalam petualangan intelektualnya bagi tercapainya kebenaran dan dalam prakteknya pencarian kebenaran tersebut diawali dengan asumsi atau hipotesa dan dibangunnyalah paradem yang berujung memproduk tentang dalil (teori).

   Proses petualangan intelektual seharusnya dapat mengeluarkan “kegelapan” hipotetik menjadi “kejelasan” dalil  (teori).  Untuk itu diperlukan data dan analisa yang disebutnya dengan metode scientifik.

   Keampuhan mahasiswa sebagai kaum intelektual adalah terletak pada integritas yang disebutnya dalam scientificly sebagai desire for truth (naluri untuk jujur) dan secara pribadi mereka adalah kaum intelektual honesty yaitu orang-orang yang memiliki kejujuran intelektual dan selanjutnya mereka pekerja keras kaum intelektual (courageous) (berani) atau researcher (para peneliti).

   Dalam aplikasi sosiologis para sarjana adalah orang-orang yang mampu memproduk narasi-narasi yang membawa kedamaian di tengah-tengah masyarakat.

Cirebon, 15 April 2019

Penulis