SONY DSC

Bonus Demografi dan peran Islam dalam peningkatan kesejahteraan Masyarakat

  1. Bonus demogafi merupakan kondisi masyarakat usia produktif lebih besar jumlahnya dibandingkan non produktif (0-15 dan usia diatas 64), pada tahun 2020- 2030 penduduk Indonesia 270 juta, dengan non produktif 60 jt.
  2. Kondisi tersebut berdampak positif bila SDM dapat dikelola dengan baik, yaitu terlahirnya generasi yang lratif, inovatif, dan produktif, serta integritas.
  3. Islam merupakan dinul hadlariyah, membawa masyarakat menjadikan asset bagi kemajuan bangsa.
  4. Dalam Islam hidup bukan sekedar eksis, tapi hidup adalah dipersembahkan kepada Yang Maha Hidup, maka aktivitas apapun termasuk aspek ekonomi, hanyalah untuk meninggikan syiar agama, sebagai bentuk pertanggungan jawab kepada Allah Swt, selaku wakil-Nya di muka bumi.
  5. Dalam Islam manusia bukan hanya homo ekonomik yang hanya mengejar kebendaan, tetapi juga homo Religio, maka dengan jumlah penduduk yang banyak dan dibingkai dengan niliai-nilai dasar kebajikan, maka mengelola SDM menemukan momentumnya , sehingga dapat mengelimir dampak negatif adanya bonus demografis tersebut.

Dikisahkan syahdan disebuah negeri ada seorang raja dzolim, yang menggap bahwa kekuasaan yang dipundaknya adalah pulung dari drinya semata, maka diperlakukanlh rakyatnya semena mena, yang melawan dihukum, yang patuh dibikin aman.

 

Hari-harinya hanya melakukan pencitraan, yang tidak lain tipu-menipu, bekingnya adalah tukang sihir yang dibelakangnya tidak lain adalah syaitan, sampai pada suatu saat datang pemuda bernama Gulam yang menganut ajaran Tauhid, maka 70 ribu rakyat bragama tauhid.

Betapa marahnya raja karena rakyat tidak percaya lagi kepada rajanya, kemarahan itulah yang membuat raja semakin represif dengan membuat parit yang besar dan didalam parit dibuat api unggun dari kayu bakar, maka 70 rb rakyatnya dimasukkan kedalam parit. Tersisa seorang wanita dg 4 anaknya, dia menangis dan berbicara kepada anak-anaknya. Dalam keteguhannya sang ibu berdoa agar anak-anaknya selamat. Maka kekuatan tauhidnya dapat mengatasi kesulitan yang sebesar apapun.

 

Qutila ashabul uhdud (Al-Buruj) celakalah pembuat parit (raja yaman), mereka yang menyakiti orang-orang beriman mendapt adzab yang besar, sedang mereka yang kuat imannya tidak takut kepada raja dzolim, pasti diselamatkan.

Disampaikan dalam Semiloka Nasional Kaderisasi Muhammadiyah

Prof. DR. H. Khaerul Wahidin, M.Ag

Sabtu, 26 April 2019 di CH UMC

Khutbah Jumat

Masjid syafii, 26 april 2019

H. Khaerul Wahidin

Marilah kita tingkatn ketqwaan kepada Allah SWT sehingga hidup kita dan kehidupan bangsa kita dapat merasakan berlimpahnya karunia-Nya, seperti yang dijanjikan dalam QS Al-Araf 96. Dalam Tafsir Al-Muyassar kata barakat dimaksudkan sahlan fi thalabil khoer ( dimudahkan Allah untuk meraih  yang terbaik). Taqwa dalam pengertian awam terkandung dimensi ilahiyat dan insaniyyat, maka kesalehan juga ditemukan sebagai kesalehan individual yaitu imtisalu awamirihi wajtinabu nawahihi, sedangkan kesalehan sosial tersimpul pada ahsinul insaniyah ( kemanusiaan)

Pada kesempatan khutbah ini, dibahas nilai-nilai taqwa dalam dimensi sosial / kemanysiaan, berdasrkan QS. Al-Baqoroh 177

Pertama, penuhi janji

Berbuat baik bukanlah sekedar kata-kata, tetapi bukti nyata. Ibnu taimiyah berkata bahwa kebenaran itu bukan angan-angan tetapi realita. Menepati janji-janji menghindari kepalsuan, kebohongan, dan kecurangan kata AlGghozali adalah tipu daya syaitan. Kerena syaitan setiap saat menipu manusia agar menjadi temannya di neraka.

Kedua kesabaran, dijelaskan arti kesabaran dalam QS. Al-Imron 110 dipraktekkan dalam 3 keadaan yaitu

  1. Fil ba’sai yaitu disaat mengalami kesulitan yang luar biasa seperti rasa kekurangan lahir maupun bathin, maka kita tidak hanya berdiam diri untuk melawannya dengan beraktivitas sehingga terhidar dari kekufuran dan kepuasaan.
  2. Addharra yaitu sabar ketika dihadapkan pada penyakit yang menimpa, baik sakit fisik maupun mental. Maka berilah nutrisi terhadap jasmani dan rohani secara.rutin. terkait dengan penyakit hati (qolbun marid), diobati dengan mencri teman, sahabat, guru dan lain-lain yang saling nasehat-menasehati, jika penyakit dibiarkan maka hidup akan sia-sia dan merugi.
  3. Kondisi hiinal baats yaitu dalam perjuangan. Hidup tidak hanya makan dan bersenang-senang (tanaim), tapi berjuang menegakkan keadilan dan kebenaran. Disaat kecurangan dan kedzaliman meraja lela, umat Islam haram berdiam, dan wajib berusaha menghilangkannya. Umat Islam adalah umat yang kuat, gagah dan berani.

 

Sebentar lagi kita akan mamasuki bulan Ramadlan tentunya bulan yang penuh berkah itu tidak hanya diramaikan dengan kesibukan ritual semata, marilah kita tegakkan kesalehan soaial menuju kemenangan umat dan bangsa. Barakallah.

   ALLAHUMMAQFINIHIM BIMA SYI’TA, ya Allah berikan kecukupan bagi diriku dari mereka sebagaimana yang Engkau Kehendaki. Doa untuk mendapat kekuatan IMAN, sebagai saripati surat Al-Buruj.

Dikisahkan syahdan disebuah negri ada seorang raja dzolim, yang menggap bahwa kekuasaan yang dipundaknya adalah pulung dari drinya semata, maka diperlakukanlah rakyatnya semena mena, yang melawan dihukum, yang patuh dibikin aman.

 

Hari-harinya melakukan pencitraan, yang tidak lain tipu menipu, bekingnya adalah tukang sihir yang dibelakangnya tidak lain adalah syaitan, sampai pada suatu saat datang pemuda bernama Gulam yang menganut ajaran Tauhid, maka 70 ribu rakyat beragama tauhid.

Betapa marahnya raja karena rakyat tidak percaya lagi kepada rajanya, kemarahan itulah yang membuat raja semakin represif dengan membuat parit yang besar dan didalam parit dibuat api unggun dari kayu bakar, maka 70 ribu rakyatnya dimasukkan kedalam parit. Tersisa seorang wanita dengan 4 anaknya, dia menangis dan berbicara kepada anak-anaknya. Dalam keteguannya sang ibu berdoa agar anak-anaknya selamat. Maka kekuatan tauhidnya dapat mengatasi kesulitan yang sebesar apapun.

   Qutila ashabul uhdud ( Al-Buruj) celakalah pembuat parit (raja yaman), mereka yang menyakiti orang-orang beriman mendapt adzab yang besar, sedang mereka yang kuat imannya tidak takut kpada raja dzolim, pasti diselamatkn.

 

SONY DSC

Posisi Muhammadiyah Dalam Konstalasi Faham Keagamaan ( Islam ) di Indonsia

Pada tahun 1950-an, seorang antropologi dari Canada Meneliti Islam di Jawa, kemudian dibukukan penerbit Pustaka Jakarta, dengan judul Religion of Java, buku ini menjadi bacaan wajib bagi mahasiswa yang melakukan kajian sosiologi/antropologi terutama di UI.

Ciffort Geets peneliti tersebut memetakan idiologi muslim Indonesia pada 3 kategori yaitu, santri, priyayi dan abangan.

Pada ketiga kategori tersebut, terdepan varian-varian yang beragam, dan walau tidak secara keselurahannya, sampai saat ini masih relevan, walaupun disana sini tentunya terdapat corak yang mengalami infiltrasi dan korvergensi bahkan membentuk entitas yang militan.

Faham keagamaan sebai fenomena budaya tidak lain merupakan bluprint yang mempengaruhi sistem kehidupan para penganutnya.

Kategori dan varian-varian tersebut mengejarkan dalam sikap dan prilaku, serta pengelompokan-pengelompokan dalam satuan-satuan tertentu.

Secara garis besar satuan sosial tersebut adalah

  1. Islam puritan ( santri), terdiri Muhammadiyah, dan ormas keagaamaan dalam mainstrem paham wasyatiyah ( modernis )
  2. Islam puritan dalam mainstreem gerakan salafiyah, yang menciptakan kehidupan keagamaan

fondamentalis.

  1. paham keagamaan Islam intrumentalis, dan singkritis yang diwakili oleh kelompok priyayi dan abangan.

Dalam kelompok ketiga ini secara ritual keagamaan relatif ada kesamaan dalam sistem teologinya, bahkan kelompok abangan ini mempatronkan diri kepafa priyayi, maka secara sosial potik , merekapun cenderung sebagai satu entitas.

Sementara itu, kalangan muslim yang merupakan mayoritas diprihatinkan dengan kondisi sebagai berikut.

  1. Masih banyaknya jumlah yang miskin dan bodoh sebagai kegagalan negara mewujudkn cita-cita kebangsaannya, walaupun sudah ada gejala munculnya kelas menengah dari kalangan salaf.
  2. Kuatnya kecenderungan turut klaim dari masing-masing varian.
SONY DSC

Sambutan Rektor Dalam Pebukaan Idiopolitor Se – Jawa Barat

   Islam sebagai Agama terbesar jumlah pemeluknya di Indonesia, telah berabad-abad meresap dalam kultur kebangasaan, dan berinteraksi dengan banyak Idiologi lokal maupun internasional yang sangat beranekaragam, memstikan kedamaian, dan bila terjadi gesekan, disitulah Muslim memberikan solusi untuk meredamnya semata-mata untuk menjaga moral kemanusiaan agar tidak tercabik-cabik oleh segelintir orang yang dirasuki nafsu keduniaan. Itulah sejatinya entitas dinurrahmah wassalamah (Al-Anbiya 107, saba 18)

   Potensi Indonesia untuk membawa bangsa Indonesia menjadi negara termaju di kawasan Asia, bahkan sangat mungkin di tingkat dunia, adalah ada pada denyut jantung dan nafas kehidupan umat Islamnya, jikalau mereka memfungsikan akal-kalbunya sehingga beragama tidak sekedar instrumen memelihara warisan lama dan mengambilnya membabi buta tanpa disertai nalar islami yg berbasis nilai-nilai samawi, itulah sejatinya Islam sebagai dinul aqli

   Pada sisi lain, dalm perspetif sejarah, kesesuaian bergama di bumi indonesia sudah sejak lamanyaitu sejak awal kedatangannya, masa raja-raja Islam, pergerakan umat Islam mengusir kolonialisme, sampai kemerdakaan dan seterusnya mengisi kemerdekaan. Adanya keyakinan yang kuat bahwa Islam yang diamalkan tidak melulu mengandung ajaran dan amalan ukhrowiyah, walupun banyak orang gagal paham tentang Islam, atau pura-pura gagal paham, tidak ada sedikitpun indikasi untuk merusak idealisasi nilai kemanusiaan dengan cara bertindak brutal , karena sesungguhnya Islam yang sebenarnya adalah berada dijalan tengah (dinul wasatiyyah) Al-Baqorah 143

   Keseluruhan narasi tentang dinurrahmah, dinul aqlil hadlaiyah, dinul wasyatiyah sejatinya merupakan idiologi islam warga muhammadiyah sebagaimana yang ada pada pranata sosio relgio Bermuhammadiyah. Seperti yang termasuk dalam AD/ART termasuk mukoddimahnya,  yang muaranya adalah mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, dengan cara aarruju’ ilallah warrasul, terus brinovasi, ( bertajdid), berkepribadian sesuai dengan alakhlak annubwwah, sebagai identitas assholhin yang memiliki kesalehan individual dan sosial.

   Perjuangan mewujudkan masyarakat Islam dalam dinamika sosial politik indonsia, di wujudkan dengan cara-cara kontekstual dan elegan.

   Sisi kecil dari itu, menyongsong ramadhan ini marilah kita bersiap dengan sekuat tenaga agar warga Muhammadiyah mengisinya dengan berjihad melalui peningkatan kesalehan tersebut.

Cirebon,    April 2019

Penulis

Prof. DR. H. Khaerul Wahidin, M.Ag

SONY DSC

Muhammadiyah Dalam Dinamika Politik Pilpres Dan Pileg 2019

  1. Pendahuluan

Bahwa Muhammadiyah tidak hanya telah berkontribusi mewujudkan Indonesia merdeka, melainkan juga mengisi kemerdekaan untuk terwujudnya bangsa yang maju, cerdas dan disegani dunia.

Spirit Islam yang didakwahkan Muhammadiyah adalah Islam Berkemajuan dan untuk menjadi Muslim Hadlariyyah, memerlukan pendidikan yang berkualitas. Coba kita lihat negara-negara yang telah mengalami kemajuan, mereka mendidik  karakter bangsanya dengan kepribadian yang unggul. Maka amal usaha Muhammadiyah sejak awal pendiriannya adalah memberikan pendidikan unggul dan usaha-usaha lainnya. Selama diupayakan Muhammadiyah wajib memenuhi target unggul sehingga dapat mengambil peran kontributif kebangsaan.

Dalam Buku Konstruksi Pemikiran Politik Ki Bagus Hadikusumo (2018 : 236) dalam pandangannya dinyatakan bahwa bangsa Indonesia terbentuk karena hasil perjuangan umat Islam yang tiada mengenal lelah, ajaran Islam adalah sumber pemersatu bangsa dan sebagai pijakan dalam berkehidupan kebangsaan, sungguhpun demikian Islam tetap menjaga toleransi,  tujuh kata dalam rumusan sila pertama telah ditiadakan secara tekstual, akan tetapi umat Islam tidak lantas berhenti berjuang, melainkan terus berusaha menegakkan syariat Islam kultural, melalui usaha di parlemen, penegakkan perintisan syariah dalam berbagai aspeknya dan kenyataannya sekarang dirasakan manfaatnya seperti Ekonomi Syariah, Wisata Syariah dan lain-lain, dan pada akhirnya secara kultural (perlahan tapi pasti) syariat Islam diterima oleh segenap masyarakat Indonesia.

Pertanyaannya adalah bagaimana upaya umat Islam menuju kearah tersebut, apakah cukup hanya dengan melalui amal usaha pendidikan?, serta bagaimana memberi counter terhadap anggota parlemen yang melarang seluruh Perda Syariah diusulkan menjadi RUU untuk menjadi hukum mengikat setelah ditetapkan parlemen. Bagaimana pula kontribusi Muhammadiyah ketika RUU yang akan ditetapkan di parlemen justru bertentangan dengan syariat Islam.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi kerisauan bagi sebagian warga muslim Indonesia, yang memerlukan solusinya. Hal tersebut menjadi mustahil bilamana umat Islam diarahkan menjadi warga bangsa yang mati rasa dan buta terhadap politik.

 

  1. Konsep Politik dalam Islam

Pandangan Ki Bagus Hadikusumo diamini para ulama yang tergabung dalam PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), namun usaha-usaha mewujudkan kekuatan umat Islam Indonesia dalam aspek politik masih belum membuahkan hasil yang maksimal, padahal Allah SWT menegaskan dalam surat al-Anfal : 60 bahwa kekuatan umat (termasuk bidang politik) agar terus-menerus diupayakan, yaitu dengan menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu, memfungsikan otak secara maksimal, memperbanyak skill literasi, kemauan, inisiatif,  semangat, percaya diri, disiplin, menjaga solidaritas yang keseluruhannya merupakan pribadi yang kuat sehingga  dapat mengelola negara dan memajukan bangsa, sebaliknya ketika umat Islam lemah dalam membangun gagasan dan “solusinya”, maka selamanya umat Islam Indonesia akan dimarjinalkan, dibodohi dan dijahati oleh musuh-musuhnya.

Disinilah letak strategis pendidikan terutama menumbuhkan akal sehat dan keberanian mengemukakan kebenaran, jika selama ini hanya berfikir kesenangan dan berebut “duit”, maka selama itu pula umat Islam menjadi bangsa kuli yang mudah dikibuli. Tegasnya ketika Islam instrumental yang brutal dan ugal-ugalan menjadi faham umat, selamanya kemajuan hanya fatamorgana.

 

  1. Bulan Ramadhan sebagai Muhasabah

Allah SWT menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan perenungan sekaligus pergerakan dalam kerangka mempersiapkan masa depan yang lebih baik untuk kepentingan individual (prifat) dan sekaligus kepentingan kebangsaan, secara prifati kita dianjurkan untuk memperbanyak membaca al-Qur’an dan ibadah-ibadah lainnya, karena di bulan inilah pertama kali diturunkan al-Qur’an dengan ayat pertamanya agar umat Islam membaca.

Dalam arti yang lebih luas membaca adalah mengoptimalkan potensi akal  disertai niat yang suci dan bersih, sehingga dapat memproduksi gagasan-gagasan bagi kemaslahatan umat manusia.

Ternyata Ramadhan tidak hanya untuk berdiskusi dan olah fikir, tetapi juga dibangun usaha-usaha dan gerakan-gerakan nyata dalam bentuk program-program yang baik (amal sholeh) serta dilaksanakan program tersebut dengan bersama-sama (berjama’ah) sehingga fungsi eduksi Ramadhan menjadi efektif untuk memperkokoh kekuatan umat Islam dalam mengisi nilai-nilai kebangsaan dalam bingkai NKRI.

 

Cirebon,    April 2019

Penulis

Prof. DR. H. Khaerul Wahidin, M.Ag

IMG-20180310-WA0021

Gagasan Rekonstruksi Aik Pada Program Konsentrasi S2/S Pendidikan Agama Islam Di Perguruan Tinggi Muhammadiyah

  1. Pendahuluan

   Bahwa Mata Kuliah AIK sebagai IKON PTM, disepakati dalam bingkai 4 pilar Perguruan Tinggi Muhamamdiyah, seiring dengan tuntutan kebutuhan Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang rata-rata telah mengalokasikan 8 SKS bahkan lebih pada masing-masing Perguruan Tinggi Muhammadiyah dengan karakteristiknya, sudah tentu memerlukan SDM yang memenuhi kompetensi pendidikan pada perguruan tinggi.

   Pada sisi lain, PTAI pada umumnya juga memiliki program andalan yaitu mengupayakan tiada henti dalam integrasi Keislaman dengan ilmu pengetahuan pada umumnya dan pada sisi kebangsaan diperlukan pandangan-pandangan tentang Islam wasyathiyah yang menjadi subtansi gerakan Muhammadiyah yang mengusung paham Keislaman dan ke Indonesiaan bagi terwujudnya kemaslahatan sebesar-besarnya bagi rakyat dan umat.

  Dengan demikian, dalam kaitan ini tulisan singkat dimaksudkan menjawab, 2 (dua) tema utama bagaimana rekonstruksi AIK dalam relevansinya dengan ilmu dan sekaligus bagi kebangsaan yang menjadi kajian utama konsentrasi AIK pada S2/S3 Perguruan Tinggi Muhammadiyah.

  1. Integrasi AIK dengan IPTEK

  Seperti dimaklumi bersama bahwa Perguruan Tinggi Muhamadiyah identik dan PTN dalam pengembangan IPTEK, ilmu-ilmu yang dikembangkan di PTN juga dikembangkan di Perguruan Tinggi Muhamadiyah, mungkin berbeda terletak pada status penyelenggaraannya yang satu di selenggarakan pemerintah dan satunya diselenggarakan swasta (masyarakat).

  Adanya keragaman dalam kajian keilmuan, maka AIK yang diajarkan kepada para mahasiswa dibahasnya juga islam beragam sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuni mahasiswa.

  Prinsip AIK sejatinya memberikan wawasan tentang Al-Islam sebagai Al-Din yang mengandung nilai-nilai scientific dengan nilai-nilai etika ilmuan dalam berbagai disiplin ilmu, maka filosopi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan sekaligus sejarah intelektual muslim dunia menjadi bahan kajian dalam pengembangan AIK sebagai kontens kurikulum konsentrasi S2/S3 AIK.

  Pada sisi lain, kemajuan mengembangkan AIK dalam perspektif ortodiksi Islam juga unsur penting agar Dosen pengampu AIK mampu mengakses narasi ilmuan dan intelektual muslim dari bahan-bahan berbahasa Arab atau bahasa asing lainnya seperti bahasa Inggris, Persia dan India dan termasuk Mandarin, agar mahasiswa dalam menelusuri naskah-naskah klasik Keislaman dan bahkan aktif menelusurinya melalui rihlah ilmiah.

  Tentu tentatif kontens kurikulum kosentrasi AIK bagi S2/S3 dapat bervariasi, yang paling penting adalah lulusannya dapat mengatasi stagnasi pembelajaran AIK di Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang selama ini terjadi, sehingga Dosen AIK di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dapat mengembangkan literasi komprehenship dalam mewujudkan jati diri dan cita-cita Muhamadiyah sesuai dengan level pembelajaran dan tuntutan zaman dalam lintas peradaban dan mendorong Islam berkemajuan selaras dengan amanat Muktamar 47 Makasar.

  1. Integrasi AIK dengan Kebangsaan

  Identitas AIK adalah Islam sebagai Agama Rahmat bagi sekalian Alam Semesta, maka dari itu pembelajaran AIK mestinya relevan dengan kondisi lokal dimana Islam itu diumat maysarakat pengikutnya, dengan kata lain, AIK mesti dipromosikan dan konteks ke Indonesiaan.

  Narasi tersebut sebagai hal yang lazim karena ketika Islam turun pada masa permulaan dari sejarahnya bukan sebagai ajaran yang terlepas dari budaya masyarakat, artinya Islam tidaklah hadir dalam kehampaan budaya lokalnya.

  Pada sisi lain, konsep-konsep Islam yang diundang Muhammadiyah terus menyelami dinamika seiring dengan pemikiran para pengikutnya, maka pemikiran Islam dari zaman ke zaman terus dicermati oleh para ahli AIK lulusan kosentrasi S2/S3 bidang tersebut, intinya adalah metodologi pembelajaran sebagai sarana informasi itu AIK dikembangkan sedemkian rupa sehingga lulusan konsentrasi ini bukan hanya  mengingat dan menghapal kontens, tetappi memiliki kemampuan tingkat tinggi sebagai peneliti dan pemikir yang mampu memproduksi gagasan-gagasan penting tentang Keislaman dan Kemuhammadiyahan.

  1. Penutup

  Demikian butir-butir gagasan yang sekiranya bermanfaat dalam revitalisasi dan kontekstualisasi pembelajaran AIK di Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang dikembangan melalui S2/S3 dengan konsentrasi AIK.

  Pendapat sederhana ini disusun dalam rangka menyambut gembira Wrokshop konsentrasi AIK S2/S3 di Universitas Muhammadiyah Malang 26-28 April 2019.

  Semoga setiap PTM dapat mengikuti sentakan para dosen utuk berpartisipasi akti sebagai pembelajar sesuai dengan kapasitasnya sehingga AIK sebagai ikon Perguruan Tinggi Muhammadiyah, menjadi mata kuliah yang diminai mahasiswa di seluruh Perguruan Tinggi Muhammadiyah.

Cirebon, 18 April 21018

Penulis

IMG-20190420-WA0005

Beragama Dengan Akal Sehat

IMG-20190420-WA0006

Prof. Dr. H. Khaerul Wahidin, M.Ag

   Akal merupakan anugerah Allah SWT yang membawa kepada martabat manusia, bilamana akal tersebut digunakan selaras dengan kehendakNya, bukan akal menurut nafsu kemanusiaan yang cenderung akal-akalan untuk membenarkan  dirinya sendiri dan senang menyalah-nyalahkan  orang lain.

   Ibnu Sina dalam falsafah tentang akal menyatakan bahwa al-Aqlu al-Awwal sebagai penuntun (emanasi) dalam penciptaan alam dan tertibnya alam. Oleh karena akal itu telah dicerahkan dengan tuntunan wahyu Tuhan, yang berisikan tentang kebenaran (al-Haq).

   Para mahasiswa melakukan studi di perguruan tinggi, dilatih akalnya untuk bergerak (al-Aqlu al-Mutaharriqoh) dengan mengikuti hukum-hukum alam (sunnatullah) baik secara causalitas dengan metode deduktif ataupun induktif dan melahirkan narasi yang bersesuaian dengan akal sehat.

   Pandangan al-Qur’an tentang akal sehat terlihat dari pertanyaan yang berulang kali agar akal menjadi pertimbangan dalam melakukan tindakan (seperti afala ta’qilun), dari segi ontologi yang perlu difikirkan adalah tentang manusia dan alam yang sekiranya membawa manfaat bagi kemajuan IPTEK.

   Dengan demikian agama memberikan arah kepada manusia dalam petualangan intelektualnya bagi tercapainya kebenaran dan dalam prakteknya pencarian kebenaran tersebut diawali dengan asumsi atau hipotesa dan dibangunnyalah paradem yang berujung memproduk tentang dalil (teori).

   Proses petualangan intelektual seharusnya dapat mengeluarkan “kegelapan” hipotetik menjadi “kejelasan” dalil  (teori).  Untuk itu diperlukan data dan analisa yang disebutnya dengan metode scientifik.

   Keampuhan mahasiswa sebagai kaum intelektual adalah terletak pada integritas yang disebutnya dalam scientificly sebagai desire for truth (naluri untuk jujur) dan secara pribadi mereka adalah kaum intelektual honesty yaitu orang-orang yang memiliki kejujuran intelektual dan selanjutnya mereka pekerja keras kaum intelektual (courageous) (berani) atau researcher (para peneliti).

   Dalam aplikasi sosiologis para sarjana adalah orang-orang yang mampu memproduk narasi-narasi yang membawa kedamaian di tengah-tengah masyarakat.

Cirebon, 15 April 2019

Penulis

 

IMG_9808

Wisuda XXII Universitas Muhammadiyah Cirebon Menghadirkan Islam Dalam Konteks Millenial

Prof. DR. H. Khaerul Wahidin, M.Ag (Rektor UMC)

Prof. DR. H. Khaerul Wahidin, M.Ag (Rektor UMC)

  Bahwa gerakan Islam berjalan terkadang perlahan tapi pasti, terkadang cepat tapi tetap terkendali yaitu ketika pergerakan berbingkai Al-Qur’an dan Hadits, maka jaminannya adalah menghadirkan sebuah tatanan masyarakat yang tercerahkan dalam lintas zaman dan peradaban.

  Dalam buku yang pernah populer tahun 1966 seorang penulis Barat (Amerika Serikat) yaitu Lotrop Studdar dengan judul The New World of Islam, dan diterjemahkan menjadi Dunia Baru Islam, terdapat frase yang menyatakan bahwa Islam sejak awal kelahirannya merubah dari kehidupan yang gelap gulita menjadi terang benderang. Bagaikan kemerlip lampu cempor dengan cahaya kerlap-kerlip yang terkadang “pet-byar” (antara ada dan tidak ada), menjadi matahari yang menyinari siang dan bulan menerangi malam beserta bintang-bintangnya. Dan tidak hanya itu, juga memanjatkan peradaban ke seantero jagat raya di lima benua dan ke setiap penjuru lorong-lorong kehidupan manusia, karena munculnya para mujahid dakwah dan daripadanya berubahlah kehidupan dari Zero menjadi Hero. Inilah esensi suatu pergerakan yang melekat pada entitas Muhammadiyah.

  Bagi UMC bergerak lambat hal yang difahami sebagai kejumudan. Bergerak radikal juga kurang membawa maslahat, maka garis UMC dalam bergerak adalah tawassuth, dalam pemahaman teks Al-Qur’an tercermin dalam surat Al-Baqarah 143 yang dikaitkan dengan surat Al-Imron : 104.

  Secara kontekstual pergerakan Islam berkemajuan ditopang dengan kecintaan warga UMC dalam berkhidmat secara sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan bukan kepura-puraan bagi sebesar-besarnya kemajuan bangsa, maka Islam moderat (tawassuth) adalah berteman (toleran) dengan semua golongan dan kalangan karena sejatinya Islam tidak menyukai (mencintai) umatnya bercerai-berai, konflik  dan bermusuh-musuhan (QS. Al-Hujurat : 11-12).

  UMC sebagai amal usaha PP Muhammadiyah mesti memulai dengan exallance service, dalam hadits Nabi SAW disebutkan : “Tabassam fainnahu ibadatun minal ibadah”, yaitu tersenyumlah sebagai bagian ibadah, maka ketika senyuman bertebar  berarti menjauhkan kebencian dan tergoda oleh nafsu syaitan dan terlena oleh indahnya dunia. Lebih lanjut Nabi SAW, mengisyaratkan didiklah mahasiswa dengan ilmu yang benar dan hiasilah mereka dengan adab. Ilmu dan adab ternyata dua syarat utama naiknya martabat dan kemuliaan, disisi Allah SWT; sebutan dari adab adalah kecerdasan manusia, sebaliknya ketiadaan adab menyirnakan ilmu secara substantional menebar kesesatan bagi kemanusiaan.

  Menebar ilmu yang sesat (salah) mengakibatkan mahasiswa gagal faham tentang keislaman dan ilmu yang sungguhpun benar, tanpa dibarengi dengan adab, tidak akan mendatangkan  kemuliaan, maka sejatinya mendidik manusia adalah mengembalikan kepada kodrat dan fitrah kemanusiaan secara harmoni dan serasi bukan setara dan sama dalam keragamannya mereka. Laki-laki tidak mesti sama dengan perempuan, inilah fitrah kemanusiaan. Pandangan menyamaratakan manusia adalah faham yang radikal yang tidak cocok dengan filsafat pendidikan Islam.

  Peradaban zaman millenial berbeda dengan zaman kolonial. Manusia yang hidup dalam era millenial lebih suka santai tapi berbobot, mereka lebih suka bersenang-senang tanpa menghilangkan essensi belajar. Disinilah letak managemen budaya akademik dan SDM yang relevan dengan zamannya. Hal ini sesuai dengan ucapan Ali bin Abi Thalib : “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya”.

  Islam itu juga mengajarkan agar tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, maka UMC harus memiliki kampus yang megah dan gagah, UMC wajib berusaha tampil gagah dengan mengembangkan usaha-usaha produktif supaya bisa memberi dan menjaga marwahnya tidak menjadi peminta-minta, maka berdirilah kampus yang megah (menghadirkan surga di dunia), dimanjanya mahasiswa mencari ilmu pengetahuan dan menginginkan keridhaan Tuhan, maka mahasiswa adalah Tholib dan sekaligus murid.

  Nilai-nilai moral Islam, jika diterapkan dalam managemen perguruan tinggi  dan didukung oleh seluruh civitas akademika disertai dengan kemampuan bergerak dan melompat kearah kemajuan meniscayakan perguruan tinggi lebih banyak memberikan manfaatnya untuk bangsa ini.

  Tantangan millenial yang lebih menyukai humanis, atraktif dan efektif sejatinya juga Islam telah memberikan inspirasinya, bukankah Islam lebih suka keragaman daripada satu pilihan, bukankah  Allah juga mencintai dialog dengan hamba-hambaNya daripada memberi instruksi tanpa disertai argumentasi, maka berislamlah, menjadikan masa depan tercerahkan dan menghadirkan kedamaian ruhaniah, para pencari ilmu adalah manusia-manusia yang paling mulia dihadapan Khalik dan makhlukNya, karena cita-cita mereka adalah memberikan sebesar-besarnya kemakmuran bagi bangsa dari mereka adalah Inni Asaluka Ilman Nafian setelah berilmu berbakti kepada Tuhannya dan membahagiakan orang tuannya serta member manfaat bagi sesamanya.

  Semoga Allah memberi tambahan hidayah kepada wisudawan untuk mengamalkan ilmu yang diperoleh dari Universitas Muhammadiyah Cirebon, dan mampu merubah mainsetnya bahwa memberi pekerjaan kepada orang lain lebih baik dari mencari pekerjaan, lulusan Universitas Muhammadiyah Cirebon mudah-mudahan dicari orang untuk bekerja karena soft skill dan hard skill – nya unggul, dan akhirnya reteplah istiqomah dalam beribadah dan beristikhlaf untuk menjadikan Indonesia yang aman, damai dan berkemajuan.

H. Khaerul Wahidin

Materi kuliah subuh, dan 2 materi FGD

sdfsadtfgawdfWFADF

Hari ini kita memasuki bulan Rajab, bulan kemuliaan, Bulan yang menjadi nama telaga di makhsyar, nama terjadinya peristiwa besat , Isra Mi’raj, Nabi SAW.
1. Bulan Haram ( attaubah ; 39 ), mengingatkan waktu, yang menyertai kita, kapanpun dan dimanapun, seiring dengan perjalanan bulan dan matahari yang berjalan mengikuti kehendak ilahi.
2. Mengingatkan akan datangnya suatu hari kebangkitan dan berkumpulnya manusia di padang mahsyar ( Yasin 52)
3. Isra Mi’raj ( Al isra 1 ) kata Mi’raj itu sendiri berarti meningkat, setelah mendatar, meningkatnya keimanan setelah lulus ujian keduniaan ( Al-Insyirah 5 – 6) , ( Al-Ankabut 2 ) mengatasinya dengan sabar dan shalat ( Al-Baqorah 45)

Dengan demikian hidup yang realistis, seraya berharap bahagia dunia akherat, dengan mentalitas yang kuat ( konsisten) , disitu pasti terdapat jalan yang mudah meraih kemulyaan . Amiin.

Rajabiyah dan Imamiyah

Bulan Rajab yang didalamnya terdapat peristiwa Isra Mi’raj, merupakan persiapan menuju kepemimpinan ( Nabi Muhammad ) sebagai pemimpin Negara Madinah, maka di dalamnya terdapat inspirasi terkait dengan imamiah. Setidaknya ada 4 dimensi prioritas seorang imam.

1. Memiliki moralitas yang kuat, sebagai modalitas pemimpin. Disaat perstiwa Isra Miraj terjadi, disebutlah dalam sejarah sebagai ammul hujni, tahun kesedihan dalam kehidupan nabi saw, ketika istrinya dan disusul pamannya. Hal ini menunjukkan ketangguhan mental dalam menghadapi berbagai kesulitan.
2. Perjalanan Isra dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha melewati Yasrib, kota yang menjadi pusat pemerintahan dikemudian hari, seorang pemimpin harus memiliki wawasan tentang obyek yang akan dipimpinnya

3. Miraj merupakan penjelajahan Spiritual dari langit ke langit sampai Sidratul Muntaha, maka seorang leader menyadari, makhluk Tuhan sangat beragam ( Al-Mutanawwiat/sangat bineka), karakternya juga beragam, maka kolaboratif merupakan sikap utama, semua mengayomi dan mencintai, bukan arogansi dan konfrontasi.
4. Prilaku pemimpin adalah akrualisasi shalat dalam kehidupan sehari-hari.

Kita adalah pemimpin dan pemimpin adalah kita, semua manusia ditaqdirkan menjadi pemimpn. Inni jailun fil ardhi khalifah. Semoga terinspirasi dari Rajabiyah menuju Imamiyah yang adil dan memakmurkan.