SONY DSC

Posisi Muhammadiyah Dalam Konstalasi Faham Keagamaan ( Islam ) di Indonsia

Pada tahun 1950-an, seorang antropologi dari Canada Meneliti Islam di Jawa, kemudian dibukukan penerbit Pustaka Jakarta, dengan judul Religion of Java, buku ini menjadi bacaan wajib bagi mahasiswa yang melakukan kajian sosiologi/antropologi terutama di UI.

Ciffort Geets peneliti tersebut memetakan idiologi muslim Indonesia pada 3 kategori yaitu, santri, priyayi dan abangan.

Pada ketiga kategori tersebut, terdepan varian-varian yang beragam, dan walau tidak secara keselurahannya, sampai saat ini masih relevan, walaupun disana sini tentunya terdapat corak yang mengalami infiltrasi dan korvergensi bahkan membentuk entitas yang militan.

Faham keagamaan sebai fenomena budaya tidak lain merupakan bluprint yang mempengaruhi sistem kehidupan para penganutnya.

Kategori dan varian-varian tersebut mengejarkan dalam sikap dan prilaku, serta pengelompokan-pengelompokan dalam satuan-satuan tertentu.

Secara garis besar satuan sosial tersebut adalah

  1. Islam puritan ( santri), terdiri Muhammadiyah, dan ormas keagaamaan dalam mainstrem paham wasyatiyah ( modernis )
  2. Islam puritan dalam mainstreem gerakan salafiyah, yang menciptakan kehidupan keagamaan

fondamentalis.

  1. paham keagamaan Islam intrumentalis, dan singkritis yang diwakili oleh kelompok priyayi dan abangan.

Dalam kelompok ketiga ini secara ritual keagamaan relatif ada kesamaan dalam sistem teologinya, bahkan kelompok abangan ini mempatronkan diri kepafa priyayi, maka secara sosial potik , merekapun cenderung sebagai satu entitas.

Sementara itu, kalangan muslim yang merupakan mayoritas diprihatinkan dengan kondisi sebagai berikut.

  1. Masih banyaknya jumlah yang miskin dan bodoh sebagai kegagalan negara mewujudkn cita-cita kebangsaannya, walaupun sudah ada gejala munculnya kelas menengah dari kalangan salaf.
  2. Kuatnya kecenderungan turut klaim dari masing-masing varian.
Posted in Agenda, Berita, Pengumuman, Sambutan Rektor.