SONY DSC

Sambutan Rektor Dalam Pebukaan Idiopolitor Se – Jawa Barat

   Islam sebagai Agama terbesar jumlah pemeluknya di Indonesia, telah berabad-abad meresap dalam kultur kebangasaan, dan berinteraksi dengan banyak Idiologi lokal maupun internasional yang sangat beranekaragam, memstikan kedamaian, dan bila terjadi gesekan, disitulah Muslim memberikan solusi untuk meredamnya semata-mata untuk menjaga moral kemanusiaan agar tidak tercabik-cabik oleh segelintir orang yang dirasuki nafsu keduniaan. Itulah sejatinya entitas dinurrahmah wassalamah (Al-Anbiya 107, saba 18)

   Potensi Indonesia untuk membawa bangsa Indonesia menjadi negara termaju di kawasan Asia, bahkan sangat mungkin di tingkat dunia, adalah ada pada denyut jantung dan nafas kehidupan umat Islamnya, jikalau mereka memfungsikan akal-kalbunya sehingga beragama tidak sekedar instrumen memelihara warisan lama dan mengambilnya membabi buta tanpa disertai nalar islami yg berbasis nilai-nilai samawi, itulah sejatinya Islam sebagai dinul aqli

   Pada sisi lain, dalm perspetif sejarah, kesesuaian bergama di bumi indonesia sudah sejak lamanyaitu sejak awal kedatangannya, masa raja-raja Islam, pergerakan umat Islam mengusir kolonialisme, sampai kemerdakaan dan seterusnya mengisi kemerdekaan. Adanya keyakinan yang kuat bahwa Islam yang diamalkan tidak melulu mengandung ajaran dan amalan ukhrowiyah, walupun banyak orang gagal paham tentang Islam, atau pura-pura gagal paham, tidak ada sedikitpun indikasi untuk merusak idealisasi nilai kemanusiaan dengan cara bertindak brutal , karena sesungguhnya Islam yang sebenarnya adalah berada dijalan tengah (dinul wasatiyyah) Al-Baqorah 143

   Keseluruhan narasi tentang dinurrahmah, dinul aqlil hadlaiyah, dinul wasyatiyah sejatinya merupakan idiologi islam warga muhammadiyah sebagaimana yang ada pada pranata sosio relgio Bermuhammadiyah. Seperti yang termasuk dalam AD/ART termasuk mukoddimahnya,  yang muaranya adalah mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, dengan cara aarruju’ ilallah warrasul, terus brinovasi, ( bertajdid), berkepribadian sesuai dengan alakhlak annubwwah, sebagai identitas assholhin yang memiliki kesalehan individual dan sosial.

   Perjuangan mewujudkan masyarakat Islam dalam dinamika sosial politik indonsia, di wujudkan dengan cara-cara kontekstual dan elegan.

   Sisi kecil dari itu, menyongsong ramadhan ini marilah kita bersiap dengan sekuat tenaga agar warga Muhammadiyah mengisinya dengan berjihad melalui peningkatan kesalehan tersebut.

Cirebon,    April 2019

Penulis

Prof. DR. H. Khaerul Wahidin, M.Ag

Posted in Agenda, Berita, Pengumuman, Sambutan Rektor.