dfsdgergh

Seminar Nasional dalam Rangka Wisuda 2019 “Membangun Mutu Pendidikan di Era 4.0 Menuju Pendidikan Islam Berkemajuan”

  1. Iftitah

    Panitia seminar memesan judul diatas saya kira sangat penting, bahkan saking pentingnya menjadi tema besar. Setidaknya ada 3 point kajian yaitu Budaya Literasi Era 4.0 dan pendidikan Islam progresif. Asumsi saya masih terdapat masalah yang dihapi dunia pada era ini yang  bermuara pada pertanyaan mengapa pendidikan Islam masih konsevatif diduga kuat penyebabnya masih lemahnya kebiasaan umat Islam meningkatkan skillnya dalam memenuhi tuntutan umatnya terutama dalam skill inovasi teknologi informasi, padahal sprit progresivitas dan perubahan minset, mestinya mendorong warga ummat dan bangsa ini memiliki ghiroh addiniyah sekaligus giroh Al-Wathaniyah, supaya tidak kalah dengan umat lain dan bangsa lain.

    Umat Islam dan bangsa Indonesia sudah terbiasa ( berbudaya) segalanya menjadi taken for grented, sudah establish sehingga stagnant, karena lemah dalam membudayakan keteraksaraan (berliterasi), inilah pokok pangkal lemahnya syahwat kecemburuan terhadap kemajuan.

  1. Jiwa Memiliki Budi

    Dalam surat Assayaam ayat ke 7 , Allah bersumpuh tentang jiwa ( annafs) sebagai rangkaian akhir dari ,7 sumpah tentang masa dari 7 penjuru peredaran alam semesta, yang intinya pada diri manusia yang sangat perlu diperhatikan mendapat asupan disamping asupan jasmani adalah asupan hati agar menjadi lentara kehidupan sehingga dapat menginspirasi / menerangi kehidupan bagai matahari yang diiringi bulan sebagai sejoli yang tidak pernah lelah, tidak pernah mengeluh dan tidak pernah putus asa siang dan malam agar jiwa/hatinya memiliki akal budi memberi manfaat untuk dirinya dan sekitarnya, dengan kata lain tarbiyatul islamiyyah esesnsinya tanwirul qulum, menjadikan jiwa yang cemerlang, disinari ilmu pengetahuan dan teknologi.

    Dalam Islam urusan dunia tidak dapat dipisahkan antara dunia dan akherat, ketika orang mengisi kehidupan dunia dengan segala kemewahannya, Allah mengingatkan ada kemewahan lain yang melebihi kemewahan dunia (Al-Imran 14), dan ketika mempersiapkan kehidupan akhirat tidak boleh melupakan dunia ( Al-Qashas 77), dunia sama sekali tidak boleh diabaikan dengan hanya sekedar mengejar akherat, bahkan dengan menguasai dunia mengejar akherat menjadi ringan dan mudah, dan relatif orang yang menguasai dunia, dapat memungkinkan mendapatkan banyak bonus keutamaan akherat, maka sungguh keliru orang membenci dunia, tetapi juga Allah sangat benci pemuja dunia sampai melupakan Akherat, rusan dunia adalah urusan yang sepenuhnya diserahkan kepada kecerdasan akal manusia, maka jika kalah dalam keduniawiahan penyebabnya pasti karena tidak cerdas, baik intelektualnya maupun kecerdasan sosialnya.

    Keberhasilan dunia dipicu oleh etos keislaman yang disebut Al-Ghirah addiniyah, cemburu yang besar yang dipicu ajaran agama, yaitu merasa tidak mau kalah dengan kelompok-kelompok lain, terlebih spirit dan etos Keislaman sebagai khoiru ummatin, yang diperintah menyeru kepada Al-Khaer (tidak hanya baik, tetapi bentuk superlatif/terbaik). Semangat inilah mendorong kita kepada kemajuan, dan Idul Fitri sebagai momentum kebangkitan dan kemenangan, “Allahumma la taj’al Ramdlani aakhiran li’ibadati, wa in Ramanii akhiran fi sanatii, waj’al minal marhumiin, wala taj’al mial mahrumiin”, Ya Allah jangan Engkau jadikan Ramadlan (kemarin) sebagai yang terakhir untuk diriku, jika memang harus yang akhir dari umurku, maka jadikanlah aku orang Engkau kasihi, jangan menjadi orang yang Engkau benci, doa- doa hari kesucian sangat indah, bila dihayati, maka bagaimana doa-doa itu benar-benar menjadi berkemajuan lahir dan bathin (no nomery only but quality/kuantitas sekaligus kualitas) dan jika doa-doa itu memenuhi syarat, maka pasti menjadi kenyataan yaitu menjadi umat yang unggul.

Dalam surat Al-Baqarah187 , waidza sa’alaka ibadii,. disitu sampai akhir ayat, maka sayaarat untuk diberi selamat, ramat, berkah, panjang umur, dan lebih banyak rizqi yang berkuslitas dan unggul dari ayat tersebut ada 2 yaitu ;

  1. Istijabah memenuhi atau menjawab semua yang dikendaki Allah SWT (merespon qudariah dan iradahnya Allah)
  2. Menghindari banyak konflik, permusuhan, dan intoleransi sebagaiai otentisitas keimanan yaitu memperbanyak usaha-usaha memberdayakan orang yang beruntung dalam hidupnya mereka anak yatim, fakir miskin, dan orang-orang mustadlafin, seperti yang diperintahkan dalam surat Al-Maun dan Al-Balad, dengan berbagai kegiatan yang sekiranya maslahat dan menghadiri mudharat dengan kecerdasan sosial manusia. Inilah implementasi 220 Al-Baqarah, mulai dari 0 atau dari 22 menuju 0, past Allah meridhaimu. Amin.

     Pendidikan Islam menempatkan mental peserta didik untuk ditumbuh kembangkan sebagai tujuannya yang paling penting, walaupun tidak berarti aspek lainnya tidak penting. “kullu mauludin yuladu alal fitrah“, pendidikan kesucian hati merupakan penumbuhan dan pembangunan karakter kemanusiaan yang dilakukan orang tua sejak pranatal sampai akhir hayat (long life education), seiring dengan ritme perkembangan anak, orang tua dan guru mengawal setiap fase perkembangan motorik dan psikologis anak sehingga mereka memiliki kecerdasan intelektual-spiritual dan sekaligus kecerdasa dan moral-sosial, tidak hanya memiliki hard skill tetapi sekaligus soft skill, menurut sayaekh Rahman Nashir dalam tafsir bayanil quran, ada 4 golongan manusia;

  1. Fasiidun yaitu orang yang beribadah batin tapi tidak beribadah lahir, uzlah dan menyendiri tapi tidak silaturahmi.
  2. Munafiqun bergiat dalam bersosial tapi tidak berzikir dan shlat.
  3. Musayarikun tidak bersosial dan tidak berdzikir (ikhwan sayaaiton).
  4. Mu’minun yaitu qoimuna dzohiran wa bathinan, orang yang bertanggung jawab lahir bathin, fisik dan hati. Inilah makna selamat hari raya lahir dan bathin , jadi yang selamat itu Al-Mukminun saja. Semoga setelah berhalal bi halal menjadi halalan bisa meningkatkan sejahtera dan selamat lahiriyah maupun bathiniyah . Amiin.

    Pendididikan Islam memastikan hadirnya manusia yang bertuhan (beriman) untuk menegakkan kesalehan spritual dengan menginat Allah dan mendekatkan diri kepadaNya, dan menegakkan kesalehan sosial dengan menunaikan tugas-tugas kekhalifahan di muka bumi. Pendidikan Islam tidak mengharapkan lahirnya generasi matrialistis, sekularistis dan atheis, yang terbukti telah gagal menciptakan keadilan, kemakmuran dan kedamaian masayaarakat, terbentuknya masyarakat Islam yang sebenarnya adalah masayarakat yang tidak hanya tekun beribadah , tetapi sekalus menunaikan kewajiban-kewajiban sosial untuk mendorong masayaakat yang unggul (khairu ummah). Dan untuk itu diperlukan guru-guru yang unggul, demikian pula unggul dalam kurikulum, sarana, leadership dan standar-standar lainnya sehingga mampu menciptakan budaya literasi yang mendukung tercapinya lulusan yang unggul pula.

    Terkait dengan budaya keaksaraan, maka ada 10 mentalitas pembelajar tangguh, kesepululuh manhaj itu meliputi , attajamu, assabat, attadhahi, al fahmu, atta’ ah, al jamaah, al ukhuwah, al jihad, attarahum dan attaisir, Attajamu (bangga/menyayangi) tugas mengangajar (Al-Imran 14), assabat ( taat/disiplin) dalam mengajar (Al-Maidah 10), attadhahi (rela berkrbn) guru sebagai pahlawan (Al-Baqarah124) alfahmu (amati dan memahami ) kondisi siswa, assajadah 17. Al jamaah (solidaritas,/ kebersamaan) arra’du 11, al ukhuwah (menghindari konflik) Al-Maidah 48, Al-Jihad (niat mewujudkan bangsa yang sejahtera) Al-Hasyr 7, attarahum (berbasis cinta dan kasih sayang) Al-Hasyr 9 dan attaisir (Al-Baqarah286)

    Nabi Muhammad merupakan rool model dalam pendidikan Islam, sebagai best educator, best making dan telah melahirkan lulusan terbaik dijelskan surat Attaubah 128 – 129 dalam penjelasan tafsir muyassar typologi profetic teaching meliputi hebatnya guru dalam mengajar karena ikhtitiar dan tawakal (mengajar dengan ragawi dan hati) maka melahirkan lulusan yang dahsayaat kekuratan fisik dan mentalnya.

  1. Pendikan Islam di era Revolusi 4.0

    Pendidikan dan peradaban manusia dalam lintas zaman tidak dapat dilepaskan dengan budaya literasi sejalan dengan tuntutan masayaarakat pendukungnya, bilamana stagnan maka pendidikan , akan ditinggalkan masayaarakatnya, mereka akan mencari model pendidikan yang memiliki relevansi dengan zamannya.

    Istilah Revolusi 4.0, merupakan perubahan dari masayaarakat tradisional kepada mesin yang diintegrasikan dengan listrik, Setelah ditemukan mesin komputer, maka manusia menuhankan mesin (we happy with mecin), maka pada thn 1960an, manusia mengintegrasikan komputer dengan internet sebagai suatu perubahan terdhasyat yang cenderung distruptif dan berdampak besar terhadap pola pikir dan kebutuhan manusia, terhadap hal-hal yang bersifat sosial, apakah dengan demikian generasi manusia tidak perlu lagi orang lain, karena dengan kesendirian manusia akan dapat memenuhi segala kebtuhannya. Manusia di zaman ini tidak lagi membutuhkan kuantitas, tapi lebih kepada kualitas.

    Manusia yang menguasi teknologi informasi akan menjadi pemenang dunia, duisinilah urgensitas literasi manusia dalam mengatasi mega problematika kehidupan manusia. Kemampuan literasi media , literasi data, disamping literasi buku merupakan keniscayaan , bila pendidikan Islam masih ingin dibutuhkan pendukungnya. Pendidikan Islam wajib mengintegrasikan hard skill dan soft skill, sungguhpun secara konsep telah lama ada, namun prksisnya memerlukan inovasi yang menuju proses dan hasinya kearah yang lebih baik dari sebelumnya. Spirit ini ditemukan dalam term-term keislaman, seperti ahsanu amala , isti’dadu bi quwwah, muhasabah, dan istijabah serta lain sebagainya melalui iqra bismi rabbika , iqra bil qalam dan iqra dengan cara serta model multy approach, Pendididikan Islam normatifnys hadir sebagai Sholihun (solitif) atas problem-problem kemanusiaan dalam lintas zaman dan peradaban, untuk itu, membutuhkan generasi para pendidik dan unsur aktivis pendidikan lainnya yang konsen mencitrakan dan sekaligus mengawal nuansa pendidikan yang relevan serta memberi narasi literatif yang dapat memajukan kebutuhan lahiriyah dan mentalitas yang terintegratif.

edsgergg sgsfrewg

 

Posted in Agenda, Berita, Sambutan Rektor.