1

Short Course Dosen Universitas Muhammadiyah Cirebon ke Amerika

6

 

   Bagi saya, bisa mengukir nama Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) di kancah international, dalam konteks program Short Course luar negeri (LN), merupakan suatu kebanggaan yang tiada tara.
Bagaimana tidak, setidaknya program ini sudah berjalan beberapa tahun terakhir, adapun untuk program Short Course bidang Spiritual Pedagogy itu tahun kedua, baru tahun/kali ini UMC bisa berkesempatan mengikutinya. Program Short Course merupakan program tahunan yang diinisiasi oleh Direktorat Sumber Daya Iptek Dikti Kementrian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti) bertujuan untuk meng update isu terkini, meningkatkan wawasan dan mendakan jejaring international. Peserta dari progam ini adalah seluruh dosen di lingkungan Kemenristekdikti Republik Indonesia baik dari perguruan tinggi negeri maupun swasta dengan syarat sudah ber NIDN, memiliki jabatan fungsional, berbadan sehat, memiliki sertifikat TOEFL/IELTS & TOAFL, serta memiliki izin pimpinan. Apakah mungkin seorang dosen swasta di daerah bisa mengikutinya? Untuk menjawab itulah, saya buat tulisan tentang “Short Course dosen UMC ke Amerika.” Keberangkatan saya ke USA ini adalah kali ketiganya mengikuti kegiatan formal dari pemerintah, sebelumnya pelatihan di IPG Kuala Lumpur & Turkey, serta pelatihan di Technogoly University of Tampere Helsinki Finlandia, dan sekarang pendidikan pendek (Short Course) via Hongkong di University of California, Riverside USA.

2

      Bagi dosen swasta di daerah, sudah bisa berangkat ke USA saja sudah luar biasa, why? Untuk menjawabnya, saya kisahkan tahap demi tahap, semoga pada tiap tahapannya dapat mengandung unsur pengalaman dan pembelajaran yang syarat makna bagi semua.
Tahap seleksi, bahwa program ini bernama Short Course LN bidang Spiritual Pedagogy. Dilihat dari bidangnya, tentu hanya sedikit saja dari para akademisi yang sesuai dengan bidang ini, ditambah lagi bidang ini mensyaratkan level doktoral. Jadilah hanya 29 orang dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia yang melamar program. Pelamar yang berjumlah hitungan jari ini harus melewati proses seleksi berkas online, pada tahap ini hanya 12 orang yang dinyatakan lulus berkas. Tidak behenti di situ, tahap berikutnya yang harus dilalui peserta adalah seleksi wawancara. Dari seleksi ini keluarlah 7 nama yang lolos di web Direktorat SDM dan Karir Kemenristekdikti. Setelah dilihat, Alhamdulillah nama saya ada di dalam list dari 7 nama tersebut. Tahap pengurusan Visa J-1, untuk kisah ini, saya sengaja mengutip tulisan kawan bernama Dr. Rika Astari; “Sekedar untuk berbagi pengalaman pelaksanaan program ini, ada baiknya kami sampaikan proses mendapatkan Visa J1 dari Kedubes Amerika Serikat. Adapun mengurus administrasi untuk mendapat visa J1 ini bermula dari pengisian Bioform U1501- 5 UCR yang kami kirim tanggal 5 Oktober 2018. Pada 18 Oktober, kami baru menerima surat appontment as visiting scholar, dilanjutkan mengisi isconline dengan membayar $500. Berikutnya, proses mendapatkan DS 2019. Kemudian DS 2019 ini ditandatangani tanggal 1 November 2019 di UCR. DS 2019 asli diperlukan untuk mendaftar dan dibawa saat wawancara visa di Kedubes Amerika. Sekitar 1 minggu kemudian, DS 2019 pun tiba di alamat masing-masing peserta melalui FedEx dari UCR. Pihak travel membantu dalam pendaftaran untuk mendapat jadwal wawancara visa. Tangggal 13 November, dari 6 peserta yang mengikuti wawancara di kedubes Amerika yang mendapat kartu putih (kartu putih = lolos, hijau = kekurangan berkas, kuning = peninjauan berkas kembali) secara mulus hanya Dr. Abdul Karim dan lainnya Dr. Choirul Mahfud sekalipun ia sempat terkendala sedikit di foto, baru menyusul 2 orang berikutnya setelah memperbaiki berbagai persyaratan.

3

 Dikarenakan sudah mendekati masa akhir perkuliahan di UCR, maka Rabu, 21 November 2018, dengan 4 orang peserta (Dr. Abdul Karim, Dr. Rika Astari, Dr. Choirul Mahfud, dan Firdaus Wajdi, PhD) diberangkatkan terlebih dulu menuju California dengan rute Penerbangan Jakarta-Hongkong dan Hongkong-Los Angles. Sedangkan 2 peserta lagi (Dr. Ika yunia Fauzia dan Dr. Nur Chanifah) menyusul dan tiba
di California pada 25 November 2018. Tapi, kami sangat sedih sekali karena 1 orang peserta dari UPI dan dosen pembimbing bidang Spiritual Pedagogy tidak berhasil mendapatkan visa sehingga tidak bisa berangkat ke USA” Dari kisah seleksi visa Amerika ini ada beberapa hal yang ingin disampaikan, siapkan berkas selengkap mungkin sesuai dengan persyaratan keduataan, bersikaplah santai ketika wawancara, serta memiliki pengalaman ke luar negeri sebelumnya, dan yang penting tidak benar bahwa nama Islamy, almamater islamy tidak bakal mendapat visa Amerika, selama semua syarat terpenuhi. “Sujud syukur” saya lakukan untuk mendapatkan visa dan bisa berangkat ke USA… Selain karena susahnya mengurus visa di kedubes USA, juga karena negara adidaya ini begitu berkesannya bagi semua orang di dunia, sehingga segala hal berasala dari Amerika sering menjadi standar bagi negara lain. Tahap Perkuliahan; saya ikut seat in di University of California, Riverside USA, salah satu kampus terbaik di Amerika bahkan dunia, di prodi middle east and religious studies. Suasana di kampus ini sangat kompetitif. Tidak ada satu mahasiswa pun yang terlihat santai, hampir semuanya belajar keras. Saya memahami bahwa jenis kelas di UCR ini terbagi ke dalam dua kelas yaitu Upper Deviation (UD) dan Lower Deviation (LD). Di kelas UD, jumlah mahasiswa sekitar 160 orang di ruangan yang sangat besar untuk mempelajari materi kuliah umum dan dasar. Di jenis kelas ini, saya belum menemukan makalah mahasiswa yang ada hanya ceramah dosen dan diskusi selama 1 jam. Susana kelas cukup kondusif dengan tingkat disiplin kehadiran cukup tinggi. Akan tetapi, ada hal menarik yang membuat tercengang yaitu dosen memberikan clicker question kepada mahasiswa di tengah ceramahnya atau sekitar ceramah untuk 3 slide. Kemudian, mahasiswa menjawab dengan meng klik pilihan atau tombol, A, B, C, atau D, jika pertanyaannya pilihan ganda. Jawaban mahasiswa akan muncul di monitor besar di depan kelas, baik prosentasi jawaban maupun ulasannya, subhanallah… Selain itu, tingkat disiplin mahasiswanya menghadiri perkuliahan juga cukup tinggi terlihat dari penuhnya bangku kuliah, banyaknya jawaban clicker question. Tidak hanya itu, disiplin tepat waktu baik masuk maupun keluar dari ruang kuliah. Terutama disiplin waktu keluar kelas yang membuat saya terkagum-kagum, mahasiswa akan otomatis keluar jika perkuliahan sudah berjalan 1 jam, amazing. Tahap kehidupan di USA; Betul apa kata orang, hidup di Amerika itu sangat hard. Selain ekstrim cuacanya, juga keras gaya hidupnya. Salah satu kunci untuk bisa bertahan hidup di USA adalah bahasa, terutama bahasa Inggris. Sekalipun itu tidak cukup, karena USA adalah negara imigran, hampir semua bahasa dunia ada di Amerika. Maka bahasa lain yang harus dimiliki adalah bahasa Arab, syukur-syukur bisa bahasa EROPA; Prancis dan Jerman. Kunci bertahan hidup kedua adalah skill dan kompentensi. Dan kunci lainya adalah wawasan dan pengetahuan. Ada beberapa nilai-nilai kehidupan USA yang ingin saya share yaitu bahwa kegiatan keagamaan harus ditangani oleh orang bersertifikat; seperti memotong hewan Qurban. Hidup bebas yang penting tahu hukum dan batas. Pertanyaan personal (privacy) tidak dibolehkan seperti pertanyaan tentang seks, agama, dan politik. Pernikahan sangat tergantung dalam kontrak keduanya, misal dalam kontrak seorang suami boleh jaga rumah dan tidak kerja, maka ada istilah House husband. Ada aturan “No smoke no joke.” Bagi student untuk membeli alkohol itu harus pakai ID dengan aidigium “minumlah dengan tanggungjawab.” Gunakan common sense untuk acuan berperilaku; contoh pornografi tidak boleh child pornography. Seks tidak boleh memaksa dan tidak boleh melakukan pelecehan. Orang Amerika sangat konsen dan butuh dengan space (jarak), alias tidak suka berdesak-desakan. UMC (1)

          Serta, tidak boleh mengulang permohonan, jika sudah menolak, tidak boleh ditarik lagi. Masih ada banyak tahapan lainnya, tidak cukup diceritakan di ruang ini, intinya lolosnya saya sebagai dosen UMC ikut seleksi program Short Course LN ke USA ini merupakan anugerah dari Allah SWT yang telah mendengar doa Ibu saya yang sedang sakit, serta do’a semua civitas akademika UMC, untuk itu saya ucapkan syukur Alhamdulillah dan tidak lupa terima kasih yang tak terhingga kepada Prof. Dr. Khaerul Wahidin, MAg selaku Rektor UMC, ibu WR 2, WR 1 dan WR 3, Dekan FKIP dan ibu prodi PGSD serta seluruh dosen dan mahasiswa. Saya doakan semoga kelak dosen UMC ada yang bisa menyusul mengikuti program tahunan ini, aamiin.

California, Desember 2018
Dr. Abdul Karim DS

Posted in Agenda, Berita, Pengumuman, Sambutan Rektor.