Tadabur Harmoni Alam Dalam Falsafah Sunda

   Gunung kudu kuat, leuweng (hutan), kudu hejo, walungan (sungai) kudu herang, taneuh kudu subur, manusa kudu gunah mana kana welas asih, maka tercapai bagja rahayu kana kahuripan ( mawadah warohmah) artinya harmoni dan hati penuh kasih antara manusia dengan alam kunci ketentraman.

   Dalam surat Al-Ahzab 72 mengisyaratkan (Allah memberi nasehat) mengenai kemasalahan yang wajib ditegakkan sebagai perwujudan jiwa fitri manusia oleh siapapun juga, terlebih para pemimpinnya yaitu iqomah ila huquqillah wa hukuki makhluqotillah yaitu dengan salah satu kunci akhlak yang disebut amanah lawannya khiyanah, amanah adalah sifat para Nabi yang di kenal Al-Amiin, sebagai ciri dari ciri orang yang menang, pada ayat 73 Allah menjelaskan akibat para pengkhianat yang terdiri Al-Munafikun wal musyrikun dengan bencana dan malapetaka yang akan menimpanya, implementasi amanah dalam ayat diatas tidak hanya taat, tetapi menggerakkan aktivitas sebagai sarana mendapatkan keridho Allah.

   Seringkali fisabilillah dlam alfadzil Qur’an dikaitkan dengan jihad, hijrah, infak, tapi dalam arti yang luas seperti pendapat hamka adalah aktivitas-aktivitas yang menyampaikan kepada tegaknya semangat beribadah, termasuk fi sabillah adalah pemenuhan kebutuhan-kebutuhan sosial, personal, kesehatan, pendidikan yang sekiranya hal-hal tersebut menambah ketaatan kepada Allah , kullu shoolihun indannas, fayardhoka (apa saja yang dirasaknnya maslahat, kalau pun tidak bernapas, maka diridlai Allah swt)

   Fi sabilillah bila dilihat makna harfiyyahnya di jalan Allah, melakukan langkah kepada Allah yaitu Keridlaan Allah dengan  berusaha mendapat kerelaan manusia (ridla Allah fi ridla al walidain), maka ke duanya saling berkaitan. Sejalan dengan itu, kebaikan dan ketaqwaan dalam surat Al Maidah (3) dapat menjadi isyarat kepada fi sabililah atau fi sabililil hak dan sabili taqwa yaitu taawun, perbuatan jihad, hijrah dan infaq merupakan pengejawantahan taawun kepada dinullah melalui memberi pertolongan berupa kebaikan (Al-Birr) sehingga tegaknya hakimat Allah di muka bumi, maka segala bentuk kebaikan (Al-Birr) dan ketaatan (taqwa) keduanya saling berkaitan, tiada sampai kepada derajat taqwa tanpa disertai dengan Al-Birr, dalam surat Al-Baqarah 177 , ujung dari segala bentuk Al-Birr, kesalehan sosial dan personal dapat memastikan jalan taqwa  (fisabilillah), perbuatan fi sabilillh wajib ditunaikan secara sukarela, tanpa paksaan serta semata-mata karena Allah, berupa taawun, tasammuh, tadhahi, tarahum dan lain-lain adalah fi sabilillah seperti yang dicontohkan Nabi dan para sahabatnya, maka Allah menjamin kenangan atas pertolongannya, dan Allah pilih jalan terbaik untuk kehidupannya.

    Banyak jalan mewujudkan Islam damai, Islam toleran, Islam yang mensejaterakan dan membagiakan di dunia dengan bertawun alal birri wattaqwa dengan menghindari bertaawun dengan cara radikal, kekerasan, dan tindakan yang merusak persatuan tetannan kerukunan di masyarakat, karena merusak sendi keislaman tidak hanya membawah dosa personal tetap sekaligus dosa sosial yang semakin mejauhkan keberkahan umat Islam dan kekalahan umat Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Fisabilillah menuju jalan Allah bukan dengan perang fisik, bukan pula hijrah konfrontatif dan bukan pula dilakukan kalangan konglomeratif, tetapi dilakukan semua lapisan masyarakat dan umat untuk memerangi kebodohan, kemiskinan, dan kemrosotan mentalitas, dengan cara persuasif dan kompromistis menjaukan cara-cara egoistis dan konfrontatif, inilah Islam wasyatiyah yang membawah harmoni bagi alam semesta.

Posted in Sambutan Rektor.