Term Jihad Dalam Al-Qur’an Perspektif Ali Imran : 142

“Apakah kamu mengira memasuki surga padahal kamu belum berjihad dan bersabar dengan bukti-bukti yang diketahui Allah SWT.”

 

   Surga adalah simbol kenikmatan agung menjadi dambaan setiap orang, kenikmatan tiada akan diperoleh kecuali dengan meninggalkan kenikmatan, mendapatkan ikan di laut tidak diperoleh kecuali dengan ikan yang kita umpankan. Dengan demikian seseorang tidak akan mencapai puncak kesenangan dan kenikmatan kecuali dengan menangguhkan kesenangan/kenikmatan itu sendiri, bahasa sederhananya kalau ingin bahagia wajib tirakat dan prihatin. Tiada akan sampai ke hari lebaran kecuali dengan berpuasa.

   Mencari kebahagiaan tanpa dilalui jalan yang terjal dan penuh kesulitan adalah suatu yang mustahil, dalam ayat tersebut diawali dengan pertanyaan tentang sesuatu yang tidak lazim (Istifhamul inkari / Am hasibtum).

   Orang yang menuju akhirat, tidak akan terjadi tanpa melewati dunia, ketika di dunia tidak mau bersusah-susah mencari kebahagiaan akhirat, maka mustahil kebahagiaan dunia itu didapat. Berfoya-foya dan bersenang-senang di dunia pertanda sulitnya menjadi penghuni surga (al-Kahfi (18) : 103-105).

   Pada ayat tersebut, Allah SWT. menyindir kaum kafirin, munafiqin dan orang-orang hedonis yang hanya mengejar dunia dengan segala caranya tanpa memperhatikan al-Haq (kebenaran) dengan sungguh-sungguh (jihad) dan jihad menegakkan al-Haq  merupakan jalan yang penuh kesulitan (masyaqoh).

   Menuju jalan keridlaan Allah SWT bagaikan orang yang berjalan memikul beban yang berat di pundaknya, menempuhnya diatas jalan berdaki, berbatu kerikil yang tajam menusuk-nusuk telapak kaki, karena keridlaan Ilahi merupakan a’dzom al-matholib (cita-cita yang paling besar dalam kehidupan), maka besar pula perangkat yang diperlukan untuk menggapainya.

   Jihad yang besar itu digambarkan Nabi SAW adalah jihadun nafs (mengontrol hawa nafsu), hidup dengan melampaui batas terhadap diri mereka sendiri. Wadah pengendalian tersebut adalah Asshiyam yang terdapat di dalamnya juhdil imsyak, juhdil istighfar, juhdil istirja’ dan juhdil isti’bar, bersamaan dengan itu  dirajut dengan isthobir maka Allah SWT mendekatkan rahmatNya kepada hamba-hambaNya berupa solusi (makhroja) sebagai outcome berpuasa Ramadhan.

 

Posted in Agenda, Berita, Sambutan Rektor.