IMG_9808

Wisuda XXII Universitas Muhammadiyah Cirebon Menghadirkan Islam Dalam Konteks Millenial

Prof. DR. H. Khaerul Wahidin, M.Ag (Rektor UMC)

Prof. DR. H. Khaerul Wahidin, M.Ag (Rektor UMC)

  Bahwa gerakan Islam berjalan terkadang perlahan tapi pasti, terkadang cepat tapi tetap terkendali yaitu ketika pergerakan berbingkai Al-Qur’an dan Hadits, maka jaminannya adalah menghadirkan sebuah tatanan masyarakat yang tercerahkan dalam lintas zaman dan peradaban.

  Dalam buku yang pernah populer tahun 1966 seorang penulis Barat (Amerika Serikat) yaitu Lotrop Studdar dengan judul The New World of Islam, dan diterjemahkan menjadi Dunia Baru Islam, terdapat frase yang menyatakan bahwa Islam sejak awal kelahirannya merubah dari kehidupan yang gelap gulita menjadi terang benderang. Bagaikan kemerlip lampu cempor dengan cahaya kerlap-kerlip yang terkadang “pet-byar” (antara ada dan tidak ada), menjadi matahari yang menyinari siang dan bulan menerangi malam beserta bintang-bintangnya. Dan tidak hanya itu, juga memanjatkan peradaban ke seantero jagat raya di lima benua dan ke setiap penjuru lorong-lorong kehidupan manusia, karena munculnya para mujahid dakwah dan daripadanya berubahlah kehidupan dari Zero menjadi Hero. Inilah esensi suatu pergerakan yang melekat pada entitas Muhammadiyah.

  Bagi UMC bergerak lambat hal yang difahami sebagai kejumudan. Bergerak radikal juga kurang membawa maslahat, maka garis UMC dalam bergerak adalah tawassuth, dalam pemahaman teks Al-Qur’an tercermin dalam surat Al-Baqarah 143 yang dikaitkan dengan surat Al-Imron : 104.

  Secara kontekstual pergerakan Islam berkemajuan ditopang dengan kecintaan warga UMC dalam berkhidmat secara sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan bukan kepura-puraan bagi sebesar-besarnya kemajuan bangsa, maka Islam moderat (tawassuth) adalah berteman (toleran) dengan semua golongan dan kalangan karena sejatinya Islam tidak menyukai (mencintai) umatnya bercerai-berai, konflik  dan bermusuh-musuhan (QS. Al-Hujurat : 11-12).

  UMC sebagai amal usaha PP Muhammadiyah mesti memulai dengan exallance service, dalam hadits Nabi SAW disebutkan : “Tabassam fainnahu ibadatun minal ibadah”, yaitu tersenyumlah sebagai bagian ibadah, maka ketika senyuman bertebar  berarti menjauhkan kebencian dan tergoda oleh nafsu syaitan dan terlena oleh indahnya dunia. Lebih lanjut Nabi SAW, mengisyaratkan didiklah mahasiswa dengan ilmu yang benar dan hiasilah mereka dengan adab. Ilmu dan adab ternyata dua syarat utama naiknya martabat dan kemuliaan, disisi Allah SWT; sebutan dari adab adalah kecerdasan manusia, sebaliknya ketiadaan adab menyirnakan ilmu secara substantional menebar kesesatan bagi kemanusiaan.

  Menebar ilmu yang sesat (salah) mengakibatkan mahasiswa gagal faham tentang keislaman dan ilmu yang sungguhpun benar, tanpa dibarengi dengan adab, tidak akan mendatangkan  kemuliaan, maka sejatinya mendidik manusia adalah mengembalikan kepada kodrat dan fitrah kemanusiaan secara harmoni dan serasi bukan setara dan sama dalam keragamannya mereka. Laki-laki tidak mesti sama dengan perempuan, inilah fitrah kemanusiaan. Pandangan menyamaratakan manusia adalah faham yang radikal yang tidak cocok dengan filsafat pendidikan Islam.

  Peradaban zaman millenial berbeda dengan zaman kolonial. Manusia yang hidup dalam era millenial lebih suka santai tapi berbobot, mereka lebih suka bersenang-senang tanpa menghilangkan essensi belajar. Disinilah letak managemen budaya akademik dan SDM yang relevan dengan zamannya. Hal ini sesuai dengan ucapan Ali bin Abi Thalib : “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya”.

  Islam itu juga mengajarkan agar tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, maka UMC harus memiliki kampus yang megah dan gagah, UMC wajib berusaha tampil gagah dengan mengembangkan usaha-usaha produktif supaya bisa memberi dan menjaga marwahnya tidak menjadi peminta-minta, maka berdirilah kampus yang megah (menghadirkan surga di dunia), dimanjanya mahasiswa mencari ilmu pengetahuan dan menginginkan keridhaan Tuhan, maka mahasiswa adalah Tholib dan sekaligus murid.

  Nilai-nilai moral Islam, jika diterapkan dalam managemen perguruan tinggi  dan didukung oleh seluruh civitas akademika disertai dengan kemampuan bergerak dan melompat kearah kemajuan meniscayakan perguruan tinggi lebih banyak memberikan manfaatnya untuk bangsa ini.

  Tantangan millenial yang lebih menyukai humanis, atraktif dan efektif sejatinya juga Islam telah memberikan inspirasinya, bukankah Islam lebih suka keragaman daripada satu pilihan, bukankah  Allah juga mencintai dialog dengan hamba-hambaNya daripada memberi instruksi tanpa disertai argumentasi, maka berislamlah, menjadikan masa depan tercerahkan dan menghadirkan kedamaian ruhaniah, para pencari ilmu adalah manusia-manusia yang paling mulia dihadapan Khalik dan makhlukNya, karena cita-cita mereka adalah memberikan sebesar-besarnya kemakmuran bagi bangsa dari mereka adalah Inni Asaluka Ilman Nafian setelah berilmu berbakti kepada Tuhannya dan membahagiakan orang tuannya serta member manfaat bagi sesamanya.

  Semoga Allah memberi tambahan hidayah kepada wisudawan untuk mengamalkan ilmu yang diperoleh dari Universitas Muhammadiyah Cirebon, dan mampu merubah mainsetnya bahwa memberi pekerjaan kepada orang lain lebih baik dari mencari pekerjaan, lulusan Universitas Muhammadiyah Cirebon mudah-mudahan dicari orang untuk bekerja karena soft skill dan hard skill – nya unggul, dan akhirnya reteplah istiqomah dalam beribadah dan beristikhlaf untuk menjadikan Indonesia yang aman, damai dan berkemajuan.

Posted in Agenda, Berita, Pengumuman, Sambutan Rektor.