????????????????????????????????????

Jihad Kemanusiaan

Dalam perspektif Generasi 4.0 masa ini dikenal dengan istilah zaman disruptif. Suatu era dalam perubahan yang cepat dan sulit dideteksi. Di satu sisi, manusia diharapkan berkreasi melakukan inovasi. Pada saat yang bersamaan tekanan psikologi kehidupan semakin meninggi volumenya yang dapat membawa kecemasan akibat tantangan yang dihadapi.

Seiring dengan itu, masyarakat dihadapkan pula dengan pandemi COVID-19, yang berdampak negatif dalam berbagai sektor kehidupan. Akan tetapi sisi positifnya yaitu mengoreksi kapasitas diri manusia untuk kreatif mendapatkan peluang yang hanya terjadi di musim COVID-19 ini. Salah satunya peluang yang besar untuk berjihad bagi kemanusiaan.

Jihad dilihat dari asal katanya “jahada – yujahidu” identik dengan makna: Kuat , Usaha  dan Kesulitan. Artinya orang yang memiliki kekuatan daya untuk berupaya mengatasi kesulitan, dihubungkan dengan kemanusian, maka daya itu dikerahkan dengan sekuat tenaga untuk menyelamatkan kepentingan orang banyak dan bersikap bijak untuk tidak menuruti ego dan keinginan dirinya sendiri.

Terkait dengan kondisi pendidikan sebagai dimensi multikompleks. Maka dapat dipertimbangkan pandangan Ali bin Abi Tholib, tentang cara mendapatkan ilmu pengetahuan yaitu memerlukan pengorbanan yang besar, waktu, tenaga dan biaya. Bahkan Imam Syafii mensyaratkan keberkahan ilmu dengan adanya “bulghotun” yaitu derma yang dikeluarkan untuk meraih keutamaan ilmu pengetahuan. Maka janji Nabi SAW “Barang siapa yang tergerak menderma untuk pendidikan. Maka dimudahkan jalan menuju surga”.

 

Kepada orang tua yang melekat dalam dirinya haqquttarbiyah (mendidik anaknya), mari tegakkan jihad kemanusiaan untuk mengantarkan amanah Tuhan, buah hati qurrata a’yun, dengan sabar, cerdas, sungguh-sungguh, berbiaya (tidak pelit/itung ijir), menghargai para guru,  dan sadar bahwa belajar memerlukan waktu yang tidak sebentar.

 

Allah SWT. mengingatkan  pentingnya sifat Istar (memberi pertolongan) kepada sesama di saat-saat manusia “penggebug” (wabah), seperti dinyatakan dalam Al-Qur’an surat Al-Hasyr : 9, yang artinya : Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya”.
Dalam surat Muhammad ayat 7, artinya : Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”.

 

Dalam tafsir Al-Misbah, Quraish Shihab menjelaskan bahwa orang-orang yang lapang dadanya, murah hatinya dan dermawan dengan memberikan infak dan shodaqoh, maka Allah akan memberikan segala apa yang ia senangi (dicukupi segala keperluannya) dan itulah orang-orang yang beruntung dan sukses.

 

Dalam  tafsir Al-Muyassar tentang penjelasan  surat Muhammad : 7, Allah menjanjikan pertolongan kepada hamba-hambaNya baik di dunia maupun di akhirat, disaat sulit maupun lapang disebabkan karena ia mengokohkan agama Allah di muka bumi, maka Nabi SAW mengisyaratkan umatnya yang disukainya adalah umat yang mampu memberi “Al-yadul ‘ulya khoirun minal yadis sufla”/ memberi lebih disukai dari meminta.

 

Semoga Allah menuntun dengan hidayah-Nya, agar berinvestasi untuk masa depan generasi mendatang yang berkualitas dengan kebersamaan (itsar/saling memberi) orang tua dan sekolah. Semoga  Allah memberikan rezeki, keselamatan dan kesehatan dalam keluarga dan bangsa. Aamiin.

Posted in Sambutan Rektor.